Musuh sampai akhir zaman
Ada keheningan yang kaku setelah Soekarno mengatakan itu. Tak lama kemudian Nasser menjawab dengan singkat dan mengatakan ia tak dapat menerima undangan Soekarno. Selesai dengan jawaban singkat itu, Nasser membanting telepon.
Inilah bagian bagian ke-5 sekaligus terakhir dari rangkuman buku Portrait of a Cold Warrior: G.P. Putnam’s Sons karya Joseph Burkholder Smith, bekas agen Central Intelligence Agency, terbitan 1976.
Soekarno kembali dari Jepang sehari setelah para pemberontak mengumumkan pembentukan negara mereka yang memisahkan diri dari pemerintah pusat. Tapi kelihatannya ia penuh dengan rasa percaya diri, dan itu sangat mengagumkan kami. Hanya dalam waktu dua hari berikutnya, Angkatan Laut Indonesia melakukan blokade terhadap para pemberontak. Angkatan Udara mengebomi mereka, dan pasukan mulai dikerahkan dari Jawa ke Sumatera. Hanya dalam waktu dua bulan, Padang jatuh dan pemerintah PRRI harus pindah ke Bukittinggi. Bukittinggi jatuh pada 4 Mei, dan para pemimpin pemberontakan terpaksa menyingkir ke Sulawesi.
Hanya di Sulawesilah Kolonel Kawilarang, yang telah mengambil alih pimpinan tentara pemberontak, bersama dengan Kolonel Warouw benar-benar bertempur melawan pasukan pemerintah pusat. Malangnya, justru di sanalah pilot Allen Pope, yang disewa CIA, tertembak jatuh. Itu terjadi ketika ia baru saja selesai melancarkan pengeboman akibat salah lihat pada pagi hari Minggu, 18 Mei 1958. Sebagai akibatnya, sebuah gereja dengan para jemaatnya rata dengan tanah.
Warouw bertahan di Manado dan terus mengirimkan pesan-pesan permintaan bantuan kepada kami. Saya masih ingat kata-kata dalam pesan yang menolak permohonan itu. Pesan itu ditandatangani oleh Allen Dulles pribadi kepada agen kami di Manado, supaya Kolonel Warouw tidak minta bantuan lagi. “Katakan kepada Kolonel Warouw bahwa kami harus menarik diri,” demikian bunyinya. Masih diberi bumbu dengan puji-pujian atas keberaniannya.
Pasukan pemerintah pusat mendarat di suatu tempat sekitar 38 km dari Manado pada 16 Juni 1958. Saat itu kebetulan hari ulang tahun saya. Sepuluh hari kemudian Manado direbut dan para pemberontak terpaksa menyerah.
Pemerintah Indonesia memberikan angka statistik yang berbeda-beda tentang korban dalam pemberontakan daerah itu. Pada Juni 1958, angka yang diumumkan adalah 3.000 lebih. Tak lama kemudian mereka menaikkannya, dan sisa-sisa pasukan pemberontak terus mengadakan perlawanan sampai beberapa tahun kemudian. Apa pun yang terjadi, jumlah korban, baik orang maupun materi, pasti cukup banyak.
Sambil menghirup Johnny Walker Black Label, Ned dan saya ngobrol tentang pemberontakan itu. “Satu hal,” kata Ned, “orang-orang Sumatera itu kurang keberaniannya. Seorang muda mengatakan pada saya bahwa tak ada satu pun dari mereka yang mau bertempur. Pada suatu hari ia mengatur pasukannya untuk menerima dropping perbekalan yang dikirim CIA. Orang-orang itu lari terbirit-birit begitu mendengar suara mesin kapal terbang kami. Mereka menyangka itu pesawat angkatan udara Soekarno.”
Akhirnya, kami berdua setuju bahwa apa yang kami lakukan adalah operasi tambal sulam. Kami mendukung dan memberi bantuan kepada orang-orang yang tak kami kenal sama sekali. Pada mulanya kami mengharapkan akan bisa mengenal mereka ketika usaha bantuan sedang berjalan. Kami terlambat mengetahui kualitas mereka di medan pertempuran. Dan segalanya sudah terlambat.
Dari beranda rumah peristirahatan yang saya bangun bersama istri saya di Desa Tequisquiapan, kami dapat mengamati rumah yang digunakan CIA untuk menyembunyikan Raya Kiselnikova. Ia baru saja menyebarang ke pihak kami. Merekrut seorang perwira intelijen Uni Soviet merupakan tujuan nomor wahid di stasiun kami. Dan saya merupakan anggota dari kelompok perekrut tersebut.
Namun, sebegitu jauh hasil yang kami peroleh hanyalah pembelotan Kiselnikova itulah. Raya Kiselnikova tadinya seorang sekretaris pada Misi Dagang Uni Soviet, yang semua anggotanya adalah KGB. Pada 1969, 49 dari 58 anggota staf Kedubes Soviet di Mexico City tak lain dari orang-orang intelijen. Tak satu orang pun dapat kami rekrut. Kiselnikova menyeberang karena alasan-alasan yang sangat pribadi.
Informasi yang kami dapat dari Kiselnikova terutama kami usahakan bocor kepada umum. Dalam dunia intelijen, itu disebut “membakar” atau “menghanguskan” (burning). Petugas KGB yang jadi sasaran kami untuk “dihanguskan” adalah Oleg Nechiporenko. Ia tiba di Mexico City pada 1961.Jadi, ketika Kiselnikova membelot, Nechiporenko sudah ada di sana selama sembilan tahun.
Kami putuskan agar membidikkan perhatian kepadanya lantaran telah lama ia jadi sasaran rekrut CIA, tapi sebegitu jauh tak pernah mempan. Karena ia tahan usaha rekrut, kami memanfaatkan pembelotan Kiselnikova untuk mempublikasikan bahwa ia adalah seorang perwira KGB. Kami juga menciptakan cerita bahwa ia adalah pencetus dan berdiri di belakang kerusuhan mahasiswa di Mexico City pada 1968. Dalam kerusuhan-kerusuhan tersebut, sejumlah mahasiswa dan demonstran tewas tertembak.
Nechiporenko adalah seorang operator yang sangat pandai, piawai, dan ternyata berdarah Spanyol. Mungkin saja salah satu dari kedua orangtuanya keturunan anggota Partai Komunis Spanyol, yang menyingkir ke Rusia ketika perang saudara berkecamuk di negeri itu. Wajahnya yang kelatin-latinan, lancar berbahasa Spanyol dengan segala kelicinannya, menyebabkan ia bisa bergerak dengan bebas di Mexico City. Ia malah pernah berhasil masuk ke Kedubes Amerika dengan berpura-pura minta visa. Kami tak tahu berapa banyak yang diketahuinya tentang kedutaan kami dan apa saja informasi yang didapatnya. Karena itulah dengan bahagia kami menempatkannya sebagai sasaran utama untuk “dihanguskan”.
Kami berhasil mengungkapkannya sebagai orang KGB paling berbahaya yang telah turut campur dalam urusan dalam negeri Meksiko. Pada saat hampir bersamaan, pemerintah Meksiko berhasil pula mengungkap sebuah kelompok rahasia gerilya kota, yang ternyata mendapat latihan di Korea Utara. Mereka pergi ke Korea Utara melalui Uni Soviet. Para penguasa Meksiko kemudian menyalahkan Nechiporenko sebagai operator yang mengatur mereka, dan kemudian mencapnya sebagai personanon-grata. Ia pun diusir dari Meksiko.
Pengganti Nechiporenko — juga calon sasaran rekrutmen kami — adalah seorang operator yang pintar. Cara mengerjakan tugasnya sangat efektif, dan dia pintar meniru kebiasaan-kebiasaan orang Amerika yang jadi sasarannya, dan sexy. Edward Saratov adalah seorang pria ganteng, jangkung, dan berusia tiga puluhan. Resminya, ia wakil kantor berita Tass di Mexico City, tapi orang yang pertama kali bertemu dengannya pasti akan mengira ia lulusan sebuah universitas Amerika. Dan betul.
Saratov pernah belajar di Universitas Yale, ketika ada pendekatan antara dua superkuat di akhir 1950-an, yang dikenal dengan sebutan “semangat Camp David”. Ia melakukan riset di Yale dalam ilmu politik. Walaupun tak memper benar, Saratov tak pelak lagi kelihatan sebagai seorang muda Amerika yang terdidik dengan baik. Aksen bicaranya Amerika betul, senang pada martini dan memiliki koleksi musik jazz Amerika. Keahliannya, tentu saja, merekrut orang Amerika.
Di Mexico City Saratov mengeksploatasi sikapnya yang simpatik ala Amerika dan berhasil menjadi Wakil Ketua Perhimpunan Koresponden Asing. Dengan cara itulah ia berhasil memperluas hubungan di kalangan wartawan dan para pejabat pemerintahan Meksiko. Di samping itu, ambisinya pun makin besar karena ia berminat menjadi ketua perkumpulan itu. Dalam kedudukan semacam itu, ia akan bisa memperluas pergaulannya di tingkat atas Meksiko, dan dengan demikian ia akan punya peluang lebih besar buat “membina” orang.
Tindakan kami yang pertama adalah memberinya umpan seorang wanita cantik. Tapi itu gagal. Karena itulah kantor pusat kali ini mengirim seorang agen yang ahli dalam merekrut spion Rusia untuk memusatkan usaha atas diri Saratov. Ia telah memutuskan apa yang akan dilakukannya buat merekrut Saratov, walaupun ia hanya tahu targetnya itu dari file yang dibacanya di kantor pusat.
Menurut rencananya, taktik yang digunakannya adalah “pendekatan dingin” (cold approach). Artinya, ia akan datang langsung menemui sasaran dan mengatakan kepadanya bahwa ia adalah seorang petugas CIA. Ia akan memberi uang yang banyak sekali kalau si sasaran mau bekerja untuk kami. Biasanya, apa yang disebut “pendekatan dingin” itu berhasil. Tapi kadang-kadang juga tidak. Teristimewa pendekatan semacam itu tak pernah mempan terhadap mata-mata Soviet.
Dalam pada itu, saya pun turut aktif dalam klub koresponden tersebut, berkat “samaran” saya di masa-masa lalu. Di samping itu, saya juga anggotanya, lantaran peraturannya begitu longgar supaya mendapat uang sebanyak-banyaknya untuk membiayai kegiatan. Perekrut ambisius yang dikirim dari Washington itu memutuskan akan bertemu dengan Saratov di klub koresponden dan meminta nasihat saya, kapan waktu terbaik untuk itu.
Saya pikir, gagasannya untuk menemui Saratov di sana sungguh buruk. Ruangan klub koresponden asing, yang menjadi bagian kompleks bangunan Hotel Hilton itu, jarang digunakan untuk kumpul-kumpul, kecuali oleh beberapa orang yang sering mengobrol di sana secara berkala. Saya tak pernah melihat ataupun bertemu dengan Saratov di sana, walaupun ia menjabat wakil ketua klub tersebut. Selain itu, walaupun orang tak ramai di sana, ruangan tersebut tak memiliki suatu sudut khusus tempat orang bisa ngobrol tanpa terganggu atau didengar orang lain.
Tapi si tukang rekrut kami yang penuh kepercayaan diri bersikeras dan mengabaikan saran saya. Ia memerintahkan agar beberapa pengawal membayangi Saratov dan memberi isyarat kepadanya kalau ia kelihatan dekat Hotel Hilton. Si ahli rekrut sendiri menempatkan dirinya di lobi hotel. Pada suatu hari menjelang malam, Saratov kelihatan di sana. Orang yang bertugas membayangi itu memberi tanda bahwa Saratov muncul di ruangan untuk wartawan itu.
Begitu si ahli rekrut melihat isyarat, ia langsung mendatangi Saratov. Sekarang dilihatnya keadaan ruangan yang tak memenuhl syarat buat ngobrol tanpa diperhatikan orang. Ia sadar, sehingga begitu bertemu dengan Sarartov, ia hanya mengatakan, ada pesan penting, lalu mengajaknya ke lobi. Pada mulanya Saratov ragu. Tapi akhirnya ia menerima undangan tersebut.
Di lobi, Saratov mendengarkan isi perut ahli rekrut kami. Tiba-tiba ia tampak marah dan merenggut leher kemeja agen kami itu serta mengatakan bahwa ia gila. Ia mengatakan supaya agen kami tak berbuat hal yang sebodoh itu dan kemudian ia keluar dengan bergegas.
Gagallah usaha kami, dan tak lama kemudian Saratov dipindahkan ke Santiago, Cili. Kami tak tahu tugas apa yang dipikulnya di sana, tapi orang-orang kami yang pernah bertugas di sana tahu, ia pasti akan senang tempat itu. Di belahan bumi bagian selatan, wanita Cili terkenal dengan gigitan cinta mereka ketika mencapai orgasme.
Tugas langsung yang diterima Joseph Smith untuk merekrut seorang mata-mata Soviet di Meksiko terjadi tahun 1972. Sasarannya adalah Valeri Nicolaenko, yang dikenalnya di klub diplomat (AMCOSAD).
Saya bertemu dengan Valeri Nicolaenko untuk pertama kalinya pada suatu makan siang di AMCOSAD. Badannya ramping, berwajah serius dalam usianya sekitar 32 tahun. Ada dua hal yang membuatnya menarik. Pertama, ia berpangkat sekretaris pertama. Itu merupakan pangkat yang terlalu tinggi untuk orang semuda itu. Kedua, walaupun terbukti agen KGB, ia selalu menjauhkan diri dari agen-agen lain badan rahasia itu. Saya terkesan dengan sikapnya yang terbuka dan ramah, dan kami langsung saja bisa berteman dengan baik.
Beberapa kali saya makan siang bersamanya. AMCOSAD beberapa kali mengadakan acara bersama untuk mengunjungi tempat-tempat menarik di Meksiko. Pada 1972 kami pergi ke Yucatan. Saya bersama terus dengan Valeri. Sepulang dari perjalanan itu, saya merasa sudah tiba saatnya memulai sesuatu. Untuk itu, saya mengundangnya makan siang bersama yang pribadi sifatnya.
Saya belum bermaksud langsung merekrutnya, saya hanya ingin mengetahui apa reaksinya terhadap “manuver” saya yang sedikit “terang-terangan”. Saya mengajaknya makan di Klub Universitas (University Club). Itu merupakan tempat mewah dan saya pikir merupakan kesempatan baginya buat menyaksikan wajah masyarakat kapitalis. Langsung saja ia menerima undangan itu.
Saya berusaha menjaga agar tema pembicaraan kami — yang berlangsung tiga jam itu — tidak mempertentangkan kedua negeri yang kami wakili. Klub Universitas itu, buat saya, bisa menjadi kontras dari apa yang saya katakan kepadanya. Saya ingin semua keluar dari hatinya dengan tulus. Ia setuju bahwa baik Soviet maupun Amerika akan banyak menarik keuntungan dengan bekerja sama di pelbagai bidang.
Kami berdua setuju bahwa yang harus diatasi di dunia ini antara lain soal polusi, persediaan makanan, ledakan penduduk, dan soal-soal umum lain. Kami bicara tentang golongan muda yang sedang kebingungan. Dengan senang hati kami diskusi tentang golongan yang berbeda pendapat di Amerika dan juga Eropa. Saya mengetengahkan para pembangkang politik di Uni Soviet dengan Sakharov sebagai pemukanya yang utama.
“Saya setuju dengan Anda, kedua negara kita mesti, lebih fleksibel dalam berhubungan satu sama lain,” kata aleri, “Amerika dan Uni Soviet mesti duduk bersama dalam suatu perundingan untuk memecahkan soal-soal hubungan antara keduanya. Tapi, gagasan Sakharov, masyarakat kedua negeri kita harus merubah diri agar keduanya kurang lebih sama, merupakan suatu pendapat yang tak masuk akal. Orang itu pikirannya terganggu. Di Uni Soviet tidak ada pembangkang seperti di negeri Anda. Itu lantaran kami punya kepercayaan tebal akan apa yang kami anut. Itu tak bisa diubah. Secara ideologis, kami akan selalu menentang Anda.”
Ia telah mengguratkan garis pemisah. Ia ingin agar saya mengerti bahwa saya takkan mungkin dapat merekrutnya. Kami berdua bisa saja mengobrol tentang segala macam, sambil saling mengintip kelemahan masing-masing. Tapi pesannya jelas, KGB dan CIA telah terkunci ke dalam pertentangan yang terus-menerus.
Tiba-tiba saja saya merasa tua dan lelah. Saya katakan pada diri saya bahwa apa yang sedang saya kerjakan seharusnya dilakukan oleh orang yang lebih muda. Tiba saatnya saya memeriksa kembali ilusi saya. Selama ini saya merasa, ilusi itu tak pernah ada. Orang muda ini mengatakan dengan sopan bahwa saya tetap musuhnya sampai akhir zaman. [TAMAT/blogberita.net]
Artikel CIA sebelumnya:
- CIA ternyata juga lucu sekaligus tolol [bagian 1]
- Telegram gelap CIA untuk Jakarta [bagian 2]
- CIA berupaya masukkan buku-buku anti-komunis [bagian 3]
- Telepon Bung Karno disadap [bagian 4]
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

Tulis komentar pada kolom di bawah