Dari 24,5 juta situs yang dimiliki penduduk Indonesia, lebih 1 juta adalah situs porno. Menurut data Google, Indonesia negara urutan ke-3 yang paling banyak mengetikkan kata “sex” di Internet.
Berikut ini data jumlah situs porno yang dimuat Koran Tempo beberapa hari lalu:
- 10 tahun lalu: 22 ribu situs
- Tahun 2000: Naik 10 kali lipat
- Tahun 2007: Lebih 100 juta situs
- Tahun 2008: Setiap 7 hari bertambah 2.500 situs porno baru
- Khusus di Indonesia, dari 24,5 juta situs yang dimiliki oleh penduduk Indonesia, lebih 1 juta adalah situs porno.
Sementara menurut statistik mesin pencari Google yang dikutip Blog Berita dari Detik, per tanggal 31 Maret 2008 Indonesia menempati urutan ke-3 di dunia sebagai negara yang pengguna Internetnya paling banyak mengetikkan kata “sex” di search engine, setelah Vietnam dan India. Untuk pencarian kata “kamasutra”, Indonesia juga menempati urutan ke-2 setelah Lithuania. Luar biasa, India, negara asal Kamasutra, justru kalah.
Aku cukup kaget melihat data itu. Kukira Amerika atau Perancis yang paling doyan seks di Internet, tapi ternyata Indonesia — negara yang selalu menyebut diri sebagai bangsa yang taat beragama dan berbudaya; pejabat-pejabatnya, mulai presiden hingga camat, tak pernah absen mengucapkan doa dan nama Tuhan bila berpidato; pemuka agamanya selalu berkoar-koar di tivi, radio, masjid, gereja, dll; warganya rajin kebaktian Minggu dan salat Jumat, tidak seperti umumnya orang bule yang ogah ritual.
Dan satu lagi: Sangat banyak warga Indonesia menulis tentang agama di Internet, baik di forum diskusi milis maupun blog. Mereka luar kepala mengutip ayat-ayat kitab sucinya. Mereka pintar mendebat bahwa ini salah dan itu dosa, pacaran juga dosa apalagi berciuman dengan yang bukan suami-isteri, dan bla-bla-bla. Singkat kata, orang Indonesia mengesankan diri taat beragama. Rupanya cuma kemasan!
Di tengah lingkungan masyarakat, orang Indonesia tampak alim. Tapi diam-diam, di Internet, kita doyan ke rumah bordil maya.
Blog Berita; Jarar Siahaan; Balige, Tobasa, Sumut.

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















Ya…!tentunya yang biasa internetan dong,kalau yang ndak biasa ginian ya,.tidak!
itulah Indonesia, klo tidak begitu bukan Indonesia namanya. Indonesia yang terbelakang yang tiap hari makin mundur.Pejabat dan kaum agamisnya hanya sibuk memeperebutkan kedudukan dan kekuasaan jadi tidak sempat memperhatikan rakyat dan umatnya.
Sejatinya,budaya Indonesia memang sarat sensualitas, sebagian bahkan cukup vulgar. Tidak perlu heran, karena bangsa agraris umumnya memang begitu, dan itu sinkron dengan agama lama yang dekat dengan alam.
Sampai sekarang pun, di Tano Batak, masih ada ruma yang bagian depannya dihiasi ornamen berbentuk payudara empat buah. Itu lambang kesuburan menurut agama lama. Dan di ibukota Jakarta, Monas itu adalah simbol kesuburan (lingga dan yoni) versi lama.
Dalam kehidupan sosial di Tano Batak sampai sekitar 20 tahun lalu, “tradisi” manghabia” masih berjalan diam-diam; biar pun masyarakat mulai merasa perbuatan itu menyalahi ajaran agama “baru” (Kristen dan Islam.
Lihatlah tarian-tarian tradisional di seluruh nusantara, semuanya mengandung bobot sensualitas yang kental.Dan perhatikan legenda-legenda warisan leluhur kita, hampir semuanya punya cerita incest.
Menurut agama atau kepercayaan lama, seks dan seksualitas adalah sesuatu yang natural, wajar dan jujur. Bahwa harus ada aturan moral mengenai perilaku seksual, ya, tapi bukan mengingkari sifat naturalnya atau menganggapnya sebagai sesuatu yang jahat.Di situ letak perbedaan agama lama dengan agama baru.
Aku tidak bermaksud membela kegemaran bangsa kita terhadap pornografi, tapi hanya ingin menyodorkan fakta sejarah mengenai tradisi sosial dan budaya kita, yang tampaknya belum bisa dihapuskan sampai sekarang oleh ajaran agama-agama baru (Kristen/Islam). Artinya, ini menjadi PR bagi para rohaniawan Islam dan Kristen, serta para pendidik dan orang tua.Bagaimana caranya memberantas pornografi tanpa menggunakan cara-cara yang porno yaitu hipokrisi.
Horas ma di hita sude.
Tidak semua orang Indonesia seperti yang Anda pikirkan. Kan banyak alasan mereka membuat situs porno. salah satunya pasti duit. Dengan banyaknya visitor yang banyak mereka bisa manfaaatkan untuk mendulang duit dari iklan2 yang ada di web/blog mereka.
Masih banyak orang Indonesia yang memiliki website/blog untuk suatu yang positif. Termasuk blog berita ini kan?
Horas…
Mejuah-juah!
makjaaaaanggggggggggg…. ngeri nai fuangg!!!!!!!!!
tutu do on ito?????
Yach, itulah bang. kita terlalu mempermasalahkan masalah sex ini, harusnya bukan situs porno yg di blokir, tapi masyarakatnya di berikan pembelajaran tentang sex dan akibat-akibatnya. Bagusnya sich di buat mata pelajaran tentang sex di sekolah, tapi kita tahu klo itu di buat, pasti pemuka2 agama gag setuju yang ujung-ujungkan akan mengeluarkan pernyataan yang sepihak.
Pemuka agama kan tidak tahu gimana prosedurnya memblok situs porno, tapi menteri kita lebih mendengar mereka daripada ahli-ahli IT yang lebih idealis di negara ini. ujung2nya apa? ya pekerjaan sia-sia tapi duit rakyat di kuras hanya untuk ngurusin hal-hal yang nggak perlu seperti itu. Yach, mudah-mudahan lah bang rakyat kita lebih pintar sehingga aturan-aturan yang nggak jelas dan gag perlu itu bisa di sisihkan dari kehidupan kita semua.
“… Kukira Amerika atau Perancis yang paling doyan seks di Internet, tapi ternyata Indonesia — negara yang selalu menyebut diri sebagai bangsa yang taat beragama dan berbudaya…”
Kata-kata jujur yg sudah sangat jarang saya jumpai tentang watak manusia Indonesia.
Horas!
Memang Itulah Indonesia……. Manis dari luar tetapi busuk didalam……
LAIN DI HATI LAIN DI MULUT
DI DEPAN MATA KAU BAGAI MALAEKAT
DI BELAKANG MATA, APA YANG AKAN KAU LAKUKAN?
allah orang negeri ini hanya mampu mendengar
dia memperhatikan mulut orang, maha senang dipuja-puji
allah orang negeri ini tak tahu letak hati yang menyembahnya
allah orang negeri ini dahsyat bertutur tentang surga; dengarlah itu berkumandang di tipi, di radio, di aula, di pasar-pasar dan di trotoar.
allah orang negeri ini mengecam inulogy (baca: ilmu goyang-menggoyang ala inul darastis) tetapi dia bilang: “aku suka sih, tapi jangan diketahui orang-orang”.