Raja Huta; Jakarta; Blog Berita
“Selamat ya kamu jadi juara Olimpiade. Perjuanganmu di final tadi hebat banget…”
“Ah, kebetulan aja…” (Khas Indonesia)
“Selamat ya kamu jadi juara Olimpiade. Perjuanganmu di final tadi hebat banget…”
“Terima kasih. Aku memang berjuang keras di final tadi…” (Proporsional)
Menerima pujian merupakan masalah tersendiri bagi orang Indonesia. Reaksi kita yang sangat umum adalah tersipu-sipu, salah tingkah dan mengucapkan kata-kata yang bermakna mengurangi bobot peranan kita dalam meraih prestasi yang dipuji. Kita bilang itu rendah hati, tapi jangan-jangan itu adalah sikap rendah diri atau munafik?
Kutipan percakapan khas Indonesia di atas adalah cuplikan peristiwa yang amat bersejarah, ketika Susi Susanti memenangkan medali emas Olimpiade dan kemudian diwawancarai oleh para wartawan Indonesia. Begitulah persisnya respon Susi ketika itu. Susi memang tergolong introvert, dan selalu merendah setiap kali dipuji serta ditanya kesan-kesannya setelah menorehkan prestasi hebat. Rekan-rekan wartawan sampai hapal betul jawaban-jawaban standarnya terhadap pertanyaan tertentu. “Ah biasa aja; ah kebetulan saja; saya mah merasa biasa-biasa aja…”
Bagi para wartawan masa itu Susi adalah sosok yang membosankan untuk diwawancarai; tapi terpaksa juga diwawancarai lantaran prestasinya memang hebat. Jangan harap wartawan akan mendapat penuturan yang bersifat personal dan aktual dari ratu bulutangkis dunia asal Tasikmalaya itu.
Faktor itulah yang membuat Susi kalah populer dibanding Yayuk Basuki; meskipun prestasinya lebih mentereng dibanding petenis kelas dunia asal Yogyakarta itu. Yayuk selalu punya jawaban yang spesifik dalam segala situasi; dan merespon pujian secara proporsional; namun tanpa kehilangan sikap rendah hati dan keramahan khas Indonesia. Yayuk adalah satu-satunya atlet Indonesia hingga detik ini yang telah diwawancarai oleh media-media internasional; termasuk jaringan televisi raksasa seperti CNN, CBS, BBC, ESPN dan Star; dan dia selalu bicara terbuka, open minded namun tetap rendah hati dan ramah.
Kenapa Yayuk berbeda dibanding Susi dan mayoritas orang Indonesia ? Rahasianya terletak pada mindset. Tadinya, sebelum menjadi petenis profesional kelas dunia, Yayuk pun selalu tersipu-sipu, salah tingkah dan memberikan respon “Khas Indonesia” ketika mendapat pujian. Dia berubah menjadi “Proporsional” setelah mindset-nya berubah. Dan perubahan mindset itu terjadi setelah dia mengunjungi banyak negara; bergaul dengan orang-orang dari berbagai bangsa; dan dari situ dia mendapat pencerahan.
Perubahan mindset atau pola pikir yang dimaksud menyangkut dua hal, yaitu sikap kita terhadap pujian dan cara kita menghargai perjuangan diri sendiri dalam meraih keberhasilan atau prestasi. Menurut aku, merendah dengan menyangkal peran diri sendiri dalam sebuah prestasi tertentu bukan saja tidak jujur dan tidak proporsional, tapi juga melecehkan usaha dan pengorbanan diri sendiri. Stop melakukan itu atau Anda akan menjadi badut atau orang munafik!
Perbedaan mindset khas Indonesia dan “Proporsional” adalah sebagai berikut:
Khas Indonesia
1. Menganggap pujian hanya basa-basi dalam pergaulan sosial
2. Pujian harus direspon dengan sikap merendah (menyangkal peran kita dalam prestasi yang dipuji) agar jangan dinilai sombong, dan supaya terkesan religius (sukses itu adalah berkat Allah semata).
Proporsional
1. Menganggap pujian sebagai apresiasi dan penghargaan yang tulus
2. Pujian harus direspon dengan sikap proporsional, yaitu menghargai perjuangan dan jerih payah diri sendiri, disertai ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung; dan mengucapkan syukur pada Tuhan.
Lalu, bagaimanakah respon yang proporsional terhadap pujian bersifat basa-basi atau pujian atas keberuntungan kita? Tunjukkan sikap senang, tersenyumlah yang ramah dan ucapkan terima kasih.
Nah, kalau Anda sudah bisa merespon pujian secara proporsional, sikap tersipu-sipu dan salah tingkah pasti akan hilang dengan sendirinya. Sikap canggung semacam itu timbul akibat konflik batin: di satu sisi senang mendapat pujian, tapi sebaliknya berusaha menekan dan menyangkal perasaan itu dengan sikap rendah hati yang dibuat-buat — karena takut dianggap sombong. Selamat mencoba!
Dikirim ke Blog Berita oleh Raja Huta [tobadreams.wordpress.com] dari Jakarta.

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















