Detik menulis, Roy Suryo sesalkan hanya sedikit blogger vokal yang datang berdialog. Roy telah menunjukkan sikap yang bagus, sementara bloger lain masih cengeng bersungut-sungut.
Jarar Siahaan; Toba Samosir; Blog Berita
Selama ini banyak bloger Indonesia yang menantang Roy Suryo, baik melalui posting artikel maupun komentar, supaya mau bertemu dan berdebat dengan bloger; dan tidak sedikit bloger yang menilai bahwa Roy takkan mau bertemu bloger. Ternyata Roy Suryo meladeni ajakan itu. Dia sudah bertemu dengan bloger pada Jumat lalu di Universitas Budi Luhur. Ajakan pertemuan ini bermula dari pernyataan Roy di media pers yang sering menyebut bloger sebagai penipu, pembohong, dan blog bukan sumber informasi yang layak dipercaya.
Okezone menulis, acara dialog Roy dan bloger tersebut digagasi oleh seorang bloger, Riyogarta — yang menyatakan dirinya tidak mengatasnamakan seluruh bloger Indonesia pada acara tersebut. Menurut Detik, dialog berlangsung hangat, dan kursi yang disediakan sebanyak 250 terisi penuh. Hanya sedikit bloger yang hadir, umumnya adalah mahasiwa Budi Luhur. “Kemarin saya sudah gentle menanggapi tantangan dialog blogger, ternyata mereka yang selama ini vokal, sedikit yang datang,” kata Roy kepada Detik.
Sementara Wibisono Sastrodiwiryo, seorang bloger yang menghadiri dialog, menulis bahwa Roy telah menjawab pertanyaan soal statemennya yang menyebut bloger sebagai tukang tipu. “Penjelasan Roy sebenarnya panjang lebar tentang blogger dan tidak semuanya jelek, cuma di akhir pernyataan dia memang bilang ada blogger yang jadi tukang tipu. Lantas media mengutip hanya bagian akhirnya saja, sehingga mengundang reaksi dari para blogger,” tulis Wibisono.
Tentang pengakuan Roy Suryo ini aku bisa paham. Bahwa memang benar ada media, walau tidak semua, sengaja mengutip bagian-bagian tertentu yang “provokatif dan menjual” dari ucapan narasumber untuk dijadikan headline. Itu sudah jadi rahasia umum di kalangan pers. Tapi teknik “berjualan berita pisang goreng” seperti ini, menurut pengamatanku, sangat dihindari media sekelas Tempo dan Kompas. Namun banyak media nasional lainnya, apalagi koran terbitan daerah, yang suka mengutip “ekor” saja dan bahkan ada yang nekat memelintir ucapan narasumber.
Lalu soal pendapat Roy bahwa ada bloger tukang tipu dan ada blog yang tidak layak dipercaya, aku pun setuju. Hal ini relevan dengan tajuk pertemuan yang oleh Roy diberi label “Membuat blogger positif untuk Indonesia”. Tanpa harus meminta Roy menunjuk siapa bloger semacam itu, kita pun bisa dengan mudah menemukannya dengan berjalan-jalan via Google atau Technorati. Ini beberapa contoh bloger negatif menurutku:
- Bloger yang membajak nama orang lain untuk menulis posting dan komentar. Biasanya bloger macam ini membuat situs secara anonim. Bloger Cosa Aranda pernah dibajak namanya untuk berkomentar miring di blog lain. Namaku dan nama sejumlah kontributor blogku pun pernah dibajak untuk menulis komentar dan posting provokatif di sejumlah blog anonim. Karena kasus inilah aku memutuskan sejak tahun lalu untuk tidak lagi menulis komen di blog manapun, hingga hari ini.
- Bloger yang memposting informasi dan data pribadi orang lain tanpa seizin yang bersangkutan. Kasus seperti ini baru saja terjadi dan dikecam oleh “Bapak bloger Indonesia” Enda Nasution.
- Bloger yang melakukan fitnah dan menyerang pribadi orang lain. Di blogku yang lama, Batak News, kasus ini pernah terjadi beberapa kali: Sejumlah bloger anonim menulis komen yang isinya cuma memfitnah dan menyerang pribadi para kontributor blogku. Tahun lalu juga dibahas di Batak News soal blog-blog anonim, sedikitnya empat blog, yang dibuat khusus hanya untuk memfitnah dan menyerang pribadiku — fotoku dipasang seperti kriminal, bahkan foto anak-isteriku diposting dengan teks yang melecehkan. Pemilik situs-situs itu anonim.
- Bloger yang memaki-maki orang lain, termasuk memaki Roy Suryo. Aku tahu, memaki adalah, atau bisa menjadi, bagian dari ekspresi kekecewaan. Aku sendiri menolerir ucapan memaki pada kasus-kasus tertentu, yaitu terhadap orang-orang biadab yang tidak berperikemanusiaan, semacam pembunuh, pemerkosa, dll. Pada 2007 aku pernah menulis satu [dan satu-satunya] artikel yang memaki-maki, yaitu pada tulisan soal Duaa Khalil Aswad, gadis Irak yang dibunuh oleh warga dan keluarganya sendiri dengan cara dilempari batu hanya karena dia pacaran dengan pria berbeda agama. Aku memaki orang-orang biadab yang tega melempari Duaa hingga tewas, yang merebut hak asasi Duaa untuk hidup dan untuk mencintai kekasihnya. Tapi memaki seorang Roy Suryo karena berbeda opini, karena dia menyebut bloger sebagai pembohong, bukanlah tindakan bloger positif.
- Bloger yang sengaja memuat materi pornografi, seperti cerpen porno dan foto porno. Pada poin ini aku membedakannya dengan “berita porno” seperti sering muncul di pers, misalnya berita sepasang mahasiswa universitas anu terekam kamera sedang ngeseks.
- Bloger yang melecehkan dan menghujat Muhammad, Yesus, Buddha, dll.
- Bloger yang sengaja membiarkan komentator saling memaki tanpa disensor. Bagiku hal seperti ini adalah negatif, tapi bloger lain bisa jadi menganggapnya sebagai kebebasan berpendapat.
Kalau ada bloger yang menyebut contoh-contoh kasus di atas sebagai bukan negatif, aku hanya akan berkata: “Belikan dulu teh botol dingin, lalu berehatlah untuk meneguknya sambil merokok, dan semoga engkau tidak lagi membohongi nurani dan akal sehatmu. Sayang tuh gelar sarjana tertempel di depan namamu, karena kau tidak bisa membedakan mana yang positif dan negatif. Sayang juga di KTP-mu tertulis agama yang kaupeluk, karena ternyata kau tidak tahu mana perbuatan terpuji dan tercela.”
Kalau kemudian ada bloger atau pembaca blog yang masih mendesak Roy untuk menjelaskan “siapa bloger positif” dan “siapa bloger negatif”, kupikir itu adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab oleh Roy. Janganlah kita mengaku bloger — yang sudah melihat segala hantu-belau di ranah Internet — kalau kita masih berpura-pura tidak tahu bahwa memang ada, dan banyak, bloger negatif.
Dari berita pertemuan Roy Suryo dan bloger ini aku memikirkan beberapa hal yang menurutku penting:
Karena Roy Suryo menyebut pers sering salah mengutip ucapannya, maka aku menyarankan wartawan supaya lebih berhati-hati ketika hendak mengutip wawancara dengan Roy. Bahkan, bila dirasa perlu, aku setuju pers tidak lagi mengutip Roy seperti dikampanyekan pada salah satu posting bloger senior Ndoro Kakung.
Roy Suryo sudah memenuhi tantangan bloger untuk bertemu, dan Roy telah menerangkan berbagai hal yang selama ini dikeluhkan kalangan bloger Indonesia, walaupun seperti dikatakan Wibisono Sastrodiwiryo bahwa jawaban Roy tidak memuaskan. Dengan pertemuan ini, menurutku sudah waktunya bloger berhenti menghujat dan memaki-maki Roy.
Kalau masih ada bloger yang memaki Roy, tak berlebihan menganggapnya sebagai bloger kanak-kanak, sekalipun gelar sarjana dan predikat hebat nongkrong di depan namanya. Karena orang dewasa tidak berdebat dengan cara-cara murahan dan tak beradab seperti itu. Khusus dalam hal ini aku memberi nilai plus kepada Roy Suryo, karena setahuku dia tidak pernah terpancing untuk membalas memaki.
Komentar Roy bahwa silakan saja bila wartawan tidak lagi mengutip ucapannya dan kutiplah tulisan bloger, menurutku patut dipertimbangkan oleh media pers. Hal ini perlu untuk membuktikan bahwa tidak semua bloger adalah pembohong, dan bahwa blog pun layak dan bisa dipercaya sebagai sumber informasi. Aku pribadi sangat mendukung weblog berikut ini untuk dijadikan sumber kutipan pers:
- Enda Nasution – Blogging
- Muhammad Ilham – Sepeda motor
- Antyo Rentjoko – Kehidupan sehari-hari
- Wimar Witoelar – Politik, ekonomi, masalah nasional
- Budi Rahardjo – Teknik, kampus, pendidikan
- Teguh Santosa – Politik, nasional, internasional
- Fatih Syuhud – Artikel berbahasa Inggris
- Monang Naipospos – Budaya Batak Toba
- Wicaksono – Opini umum
- Budi Putra – Blogging, berbahasa Inggris
- Andreas Harsono – Jurnalisme
- Ulil Abshar Abdalla/JIL – Islam, kebebasan beragama
- Anggara – Hukum, advokat
- Cak Moki – Kedokteran
- Dan masih banyak lagi yang tidak sempat kudata saat ini.
Bagiku, semua situs di atas dikelola oleh orang-orang bertanggung jawab, bukan “bloger taman kanak-kanak” yang cengeng dan mau memaki, serta menguasai bidangnya masing-masing, sehingga layak dijadikan sumber kutipan bagi pers.

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















I think NO…!
Parameternya bukan pada pertemuan ini.
Parameternya adalah, selama ia tidak buat pernyataan ngawur dan pembodohan-pembodohan masyarakat lainnya maka orang kritis (bukan hanya blogger) baru berhenti memakinya.
Terima kasih Pak Budi, mau ikut menanggapi Om RS yang sudah berbaik hati. semoga ke depannya tidak ada suara sumbang dan fals tt blogger.
@CakMoki: selamat ya Cak. kapan makan2nya?
Bagaimanapun, duduk bersama untuk berdialog dari hati-hati adalah langkah terpuji yang patut kita syukuri (menurut saya). Adapun jika pada akhirnya berakhir dengan keputusan “sepakat untuk tidak bersepakat”, tak lebih sebagai wujud toleransi terhadap perbedaan pendapat. Syukur jika berakhir dengan “saling memahami”.
Terimakasih, … blog saya dianggap layak sebagai sumber kutipan, walau sejujurnya belum layak untuk itu … sungguh, saya masih harus banyak belajar.
Vivat Blogger Indonesia…Semoga buah karyanya bermanfaat bagi sesama
Blogberita.net ini saya kira juga layak kutip karena pengelolanya sangat bertanggung jawab.
akhirnya..semua kesimpangsiuran yang sudah beredar jadi lurus, thx buat mas riyogarta yang udah menjadi penyalur aspirasi blogger,, semoga RS bisa paham dan nggak mo asal2 kasih gelas ama blogger
Saya tetap tidak setuju istilah blogger negatif. Ini opini saya.
Kalau dia mengeluarkan pernyataan yang ngawur lagi, boleh dikoreksi tidak?
Sebetulnya sebagian besar blog itu layak kutip. Bahkan blog yang saru atau suram pun bisa layak kutip, sepanjang relevan dengan isi tulisan di media — misalnya untuk contoh.:)
Benar sekali pendapat Paman.
Tergantung isinya bagaimana.