Mengapa bagiku menikah bukan keharusan

Riko Panjaitan; Blog Berita
Pada saat aku menulis ini, aku berumur hampir 32 tahun. Dan belum menikah.

Kenapa belum? Dan kenapa harus menikah? Ini dia pertanyaan yang sampai sekarang belum aku temukan jawabannya.

Karena dari logikaku berpikir, menikah tidaklah keharusan, tapi perasaanku menyatakan menikah adalah hal yang wajar. Ini tetap menjadi pertentangan dan perdebatan dalam diriku. Dari beberapa gadis yang ku kenal dan juga ada yang ku pacari, pandangan mereka tentang menikah adalah perasaan harus menikah, tanpa memikirkan apa dan bagaimana menikah itu. Juga dari beberapa orang yang aku kenal dan juga kenal samaku, ternyata alasan mereka menikah adalah karena perasaan juga, sudah dipacari, sudah berumur, sudah ini, sudah itu jadi wajar untuk dinikahi!

riko-panjaitan-kontributor-blog-berita-net Mengapa bagiku menikah bukan keharusanKetika beberapa alasan kuungkapkan pada seorang gadis yang pernah jadi pacarku, karena tidak menikahinya dengan segara, dia malah berpaling dari aku, dan bilang samaku bahwa selama ini aku tidak mencintainya. Tapi ketika aku bilang, ini bukan masalah mencintai atau tidak, tapi masalah menikah atau tidak. Dia tidak bisa menerima alasanku.

Ketika orang mengatakan alasan menikah untuk bisa menyalurkan hasrat biologis, aku jawab: kan ada tempat pelacuran yang bisa melampiaskan hasrat seks, dan ketika dia bilang: kan berdosa! aku jawab: kita tidak membicarakan masalah dosa atau tidak.

Ketika orang mengatakan alasan menikah adalah ingin mempunyai keturunan, aku jawab: kalau hanya ingin punya anak, sewa aja satu orang wanita, buat dia sebagai pabrik anak, bila wanitanya gak mau, aku kira pasti ada psk/pelacur yang mau di sewa untuk melahirkan anak, yang penting kita biayai wanitanya.

Ketika orang mengatakan alasan menikah untuk teman berbagi ataupun untuk curhat, aku jawab: kan ada teman-teman kita yang lain, teman kerja, sekampung, tetangga, sekontrakan dan teman-teman yang lainnya. Tinggal bagaimana kita bisa mendapatkan teman yang bisa dibuat jadi teman.

Ketika orang mengatakan alasan menikah adalah karena dianjurkan agama, lalu aku jawab: di agamaku (Kristen) tidak diwajibkan (hanya dianjurkan) untuk menikah (tidak menikah juga tidak apa-apa), dan dari beberapa orang yang beda agama samaku juga menyatakan di kitab suci mereka juga tidak diwajibkan (hanya dianjurkan) untuk menikah.

Ketika orang mengatakan alasan menikah adalah menyenangkan orang tua, aku jawab: tidak harus menikah bisa menyenangkan hati orang tua, masih banyak cara lain yang lebih, dari sekedar menikah.

Ketika orang mengatakan alasan menikah adalah untuk mewariskan harta benda yang dimiliki, aku jawab: masih banyak fakir miskin yang harus dibantu.

Ketika orang bilang samaku, kau banyak alasan, lalu aku jawab: itulah logika berpikirku tentang menikah!

Ketika orang bilang samaku jangan pakai logika, pakai perasaan, lalu aku jawab: aku ada, ketika aku berpikir, logika (pikiran) yang mengontrol perasaan, bukan perasaan yang mengontrol pikiran.

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

41 Responses to “Mengapa bagiku menikah bukan keharusan”

  1. Yap, itu pendapat anda, dan itu urusan anda mengatakan anda tidak harus menikah, mgkn saat ini anda belum dapat merasakan indahnya sebuah hubungan pernikahan. Tapi di saat tua nanti, anda baru sadari bahwa anda sedang menuju kepada sebuah kesunyian hidup, tidak ada canda tawa yang mengiringi hidup tua anda, tidak ada istri, anak ataupun cucu. Yang ada cuma kesepian, kesunyian dan bisu atau hanya ada suster2 di panti jompo yang hanya mau merawat anda karena tuntutan pekerjaan.

    Dan tolong jangan bilang kalau di agama kristen tidak di wajibkan tapi hanya di anjurkan, karena maksud Tuhan menciptakan Adam dan Hawa bukan untuk membiarkan manusia hidup sendiri-sendiri, tapi hidup bersama dengan cinta kasih dan beranak cucu.

    Jadi berbahagialah dengan kondisi yang seperti itu, karena setiap pribadi manusia memiliki konsep dan tujuan masing-masing untuk membuat manusia tersebut berbahagia. Logika dan pemikiran anda saya hargai dengan saya baca walau hati saya sedikit galau dengan cara berpikir dan beropini anda yang sedikit kurang bijak. Terima kasih :)

    [reply to this comment]

    Dian Sidauruk reply on 14 April 2008:

    Menikah itu indah dan ENAK lae :)

    [reply to this comment]

    Riko Panja reply on 16 April 2008:

    ” Dan tolong jangan bilang kalau di agama kristen tidak di wajibkan tapi hanya di anjurkan, karena maksud Tuhan menciptakan Adam dan Hawa bukan untuk membiarkan manusia hidup sendiri-sendiri, tapi hidup bersama dengan cinta kasih dan beranak cucu ”

    ….belum ada saya tau (mudah2an saya salah) atau ketemukan kalimat yang tertulis dalam bible: ” kamu wajib menikah”

    [reply to this comment]

  2. Tuhan bilang “penuhilah bumi,jagalah dan saling mengasihi diantara kamu”. Bila semua orang setuju dengan pendapat saudara riko, penduduk dunia 100 tahun lagi akan habis. Lalu siapa yang melestarikan ciptaan Tuhan? Siapa kawan curhat? Siapa yang menemukan teknologi?
    Manusia disamping berpikir logika, punya naluri alam yaitu proses produksi. Itulah kehidupan normal. Menikah adalah ibadah yang tujuan akhirnya dapat mengerti orang lain dan membahagiakan orang lain serta bertanggung jawab.Bilamana seorang pria bergaul dengan seorang wanita maka akan ada proses/keinginan yang lebih tinggi yaitu menikah, menciptakan keluarga, itulah kelompok kecil masyarakat elemen dari suatu bangsa.
    Bilamana proses berpikir hanya berdasarkan logika maka dunia ini menggeliat kaku tanpa nilai seni. Bila logika mengontrol perasaan ternyata perasaan memepengaruhi logika.Disitulah letaknya “keindahan”.

    [reply to this comment]

    Dian Sidauruk reply on 14 April 2008:

    Menikah itu adalah memenuhi bumi, saling mengasihi dan ENAK lae :)

    [reply to this comment]

    Riko Panja reply on 16 April 2008:

    apa dengan kawin aja gak bisa!

    [reply to this comment]

  3. kenapa aku menikah ….

    1. aku ingin bersenang2 dgn halal…
    2. aku ingin merasakan nikmat Allah yang terindah…
    3. Menikah adalah ibadah yang paling mudah …

    ini buat aku lho….

    [reply to this comment]

    Dian Sidauruk reply on 14 April 2008:

    Menikah itu bersenang-senang, nikmat Allah, ibadah dan ENAK lae :) eh sebelum lupa: KAWIN lae :)

    [reply to this comment]

  4. memang menikah bukan soal umur,hasrat biologis,punya keturunan,warisan atau sekedar menyenangkan ortu.
    tpi soal KESIAPAN,sekali lagi KESIAPAN.
    siap jika takdir tiba2 menjemput,
    siap jika hubungan sex dlm keluarga tdk terjalin dgn baik,
    siap jika tidak mempunyai keturunan,
    siap jika ga kebagian warisan,
    siap2 juga klo ortu ga suka atau ga setuju dgn pilihan kita.
    siap bukan berarti pasrah.

    [reply to this comment]

    Dian Sidauruk reply on 14 April 2008:

    Menikah itu HUBUNGAN SEKS dan ENAK lae:)

    [reply to this comment]

  5. Aku suka membaca jalan pikiran lae Panjaitan ini dan dalam beberapa hal yg diungkapkannya, sependapat. Tetapi bagiku, biar lae tergiur menikah secepatnya :-), menikah (dan kalau bisa punya anak) tetap lebih menyenangkan dan membahagiakan (apapun defenisi kebahagiaan), ketimbang hidup melajang (aku menikah saat usia memasuki angka tiga). jadi, menikahlah lae. Carilah perempuan yang cinta kehidupan; bukan uang dan jabatan :-)

    [reply to this comment]

    Dian Sidauruk reply on 14 April 2008:

    Menikah itu MENYENANGKAN dan MEMBAHAGIKAN dan ENAK lae :)

    [reply to this comment]

    Riko Panja reply on 16 April 2008:

    terimakasih tuk suggesti nya..

    [reply to this comment]

  6. Jika orang-orang sebelum kita tidak menikah kita tidak akan ada
    kita tidak akan pernah mengenal komputer, mengenal mobil, laut, pesawat dan lain-lain
    boro-boro tau itu semua, kalo kita tidak pernah ada

    menikah itu penting buat regenerasi ciptaan Tuhan Yang MahaKuasa

    [reply to this comment]

    Riko Panja reply on 16 April 2008:

    kan tidak harus dengan menikah, dengan kawin aja bisa kan!

    [reply to this comment]

  7. Bro, aq juga sependapat dengan sebagian logikamu.

    Tapi… kita hanya bisa merasakan “itu-tu” dengan tanpa dosa hanya di dunia.

    Karena Alkitab bilang, kalo kita sudah diangkat ke Sorga, kita akan hidup seperti malaikat2. Wah, berarti di Sorga gak bisa merasakan “itu-tu” donk.. Karena tidak ada pernikahan di sana. (Meskipun kita akan hidup di Sorga tanpa derita, tanpa tangis, dan sangat bahagia..)

    [reply to this comment]

  8. Karena dengan menikah, maka kita bisa jadi orang yang luar biasa dan sangat dipercaya. Luar biasa karena menjadi orang tua yang bisa mengasihi, membesarkan dan mendidik anaknya dalam segala macam situasi. Saat kita harus menunjukkan bahwa seorang pahlawan tidak harus dalam medan pertempuran. Saat aku masih seorang gadis kecil, aku paling suka di gendong bapak ku dan saat itu aku merasa dia adalah pahlawanku yang sangat luar biasa karena seletih apapun dia tapi diusahakannya menggendong anaknya bukan hanya 1 tapi sekali semua… 5 anak…

    Sangat dipercaya, karena Tuhan memberi kesempatan bagi kita untuk melahirkan seorang anak dan menjadi darah daging sendiri walaupun yang mempunyai setiap anak adalah Tuhan. Tapi saat Dia percaya pada sepasang orang tua maka Dia akan memberi lengkap dengan segala tanggung jawab untuk masa depan si anak…

    Aku juga belum menikah tapi aku salut dengan orang yang bisa mengambil keputusan untuk menikah karena berarti mereka sudah mampu untuk menanggalkan keegoisan dan siap berbagi dengan pasangan hidupnya dan memberi dirinya untuk keluarganya. Jadi hidupnya bukan untuk diri sendiri lagi tapi sudah berbagi…

    [reply to this comment]

  9. kayaknya ini hanya pemikiran orang yg ud putus asa knp blm nikah2 jg..dan selalu mencari2 alasan…

    [reply to this comment]

    Riko Panja reply on 16 April 2008:

    bukan putus asa, hanya berpikir..:)

    [reply to this comment]

  10. Inilah sifat yang egois selalu memikirkan diri sendiri dan jangan pernah didekati orang yang seperti ini karena bakal dapat alasan yang macam-macam nanti yang membuat kita cepat naik darah tinggi dan tidak ada niat untuk memikirkan hari esok, tidak suka bergaul, apalagi kita sebagai orang batak yang lebih peduli masalah adat.

    [reply to this comment]

    Riko Panja reply on 16 April 2008:

    Setiap manusia, pasti punya sifat dan perasaan egois, tergantung ditunjukkan atau tidak.

    [reply to this comment]

  11. Hihihi,setuju banget!!Gw sih walaupun sudah kawin dan gw sangat menikmati dan mensyukuri petualangan hidup gw sama suami gw berbeda dengan gw, (perlu diketahui buat para pembaca,nikah itu artinya ML,yang diserap dari bahasa Arab, sedangkan kawin ya marry),gw setuju banget kalo marriage is about choice. Gw gak mengenal baik adat Batak or even the Bible. But what I believe that God gives us free will untuk menentukan jalan hidup kita, dan semua pilihan kita dipakai buat kemuliaan Dia. Lagian siapa sih yg bisa bilang kamu dosa atau kamu tidak dosa? Walaupun Bible ngasih petunjuk ideal, but as human, gw rasa nggak ada di antara kita yg bener 100%, trus napa kita mesti ngehakimi orang lain yg berbeda pendapat dengan pendapat pada umumnya?

    Trus kalo mengenai adat batak, iya sih, emang bener kalo kita itu sangat kuat kekerabatannya, tapi karena sangkin kuatnya, ampe pada akhirnya sering ngomongin orang, ngejelek jelekin orang yg belom nikah(padahal kadang belom nikah di usia setengah baya bukan karena keinginannya sendiri, tapi karena belom nemu aja yg pas). Menyadari kalo kita manusia terbatas dan unik, mau suku apapun kita, dengan segala pikiran yang berbeda beda, aku rasa ada baiknya kalau kita belajar untuk mengerti orang lain, karena setiap orang pengalamannya beda beda.

    Aku sebagai orang Batak, aku ingin supaya orang Batak itu bisa lebih open, tolerant dan supportif.

    Buat Riko, thanks for this honest yet controversial blog. As Descarte, French philo said “Je pense donc je suis” yang artinya saya berpikir maka saya ada adalah benar. Jangan takut mengekspresikan setiap pikiran kamu. Karena justru dengan menceritakan pikiran kita dengan jujur, bisa jadi berkat buat orang lain.

    Buat sodara sodara Batak lainnya… trust me, by not judging other people, base on my experience, i feel a lot more happier and so release. God bless u all, guys!!

    [reply to this comment]

  12. Salam kenal lae….lae, yang saya pelajari di alkitab, kalau lae mau memilih hidup lajang, saya sarankan itu harus benar-benar adalah kehendak dari TUHAN secara pribadi ke lae, karena punya maksud-maksud tertentu, seperti Rasul Paulus, tapi kalau bukan, sebaiknya, Rasul Paulus bilang lebih baik menikah. BUKAN MASALAH LOGIKA ATAU TIDAK, tapi masalah keinginan bilogis itu adalah hal yg paling alami dalam diri manusia, DAN HANYA BISA DIKALAHKAN dengan kekuatan ROH KUDUS, selain itu (kemauan, logika,dlll), pasti gagal lae, dan kita tidak bisa bilang bukan masalah berdosa atau tidak.

    Saya sarankan lae bilang SAYA BELUM BERPIKIR MENIKAH,,,orang tidak menikah di usia yang sudah kepala 3, bukan berarti tidak akan menikah, bisa karena macam-macam, salah satunya BELUM TERPIKIR…

    yang sudah kepala 3, dan belum menikah, TIDAK HARUS BERKECIL hati karena belum menikah, karena konsep bahwa umur 30 harus menikah itu adalah konsep budaya di masyarakat kita, orang-orang yahudi pria-prianya menikah ideal umur 35-40 tahun..

    yang benar itu lae, HIDUP BUKAN UNTUK MENIKAH DAN MENIKAH BUKAN UNTUK PUNYA ANAK, TAPI UNTUK MENCAPAI TUJUAN HIDUP TERTINGGI KITA MENURUT SANG PENCIPTA…tetapi itu bisa dikerjakan, dengan atau tanpa menikah, sesuai kehendak SANG PENCIPTA lagi..

    salam

    [reply to this comment]

  13. he he he, banyak sekali lapis lae ini mengenai alasan tdk menikah, saya jadi kasihan sama lae, sepertinya dengan banyak alasan, saya meragukan kemampuan lae untuk *** [DIEDIT]

    BLOG BERITA: satu kalimat terakhir telah dihapus karena isinya kasar.

    [reply to this comment]

    Riko Panja reply on 16 April 2008:

    :)silahakan ber opini..

    [reply to this comment]

  14. HORAS!

    “Ketika orang mengatakan alasan menikah untuk bisa menyalurkan hasrat biologis, aku jawab: kan ada tempat pelacuran yang bisa melampiaskan hasrat seks”

    di Bibble ada juga bilang Agar tidak jatuh kedalam pelacuran / PeZinahan maka Menikahlah. ( Diterjemah kan kedalam bahasa Prokem )

    Kecuali kalau lae kuat gak menikah dan kuat juga gak main2 ke Pelacuran. dan ikut Jalan Tuhan.

    Tapi Gw yakin sih gak kuat.. :D Karena kebutuhan Biologis lae kuat. ( Sorry Kalo benar ).

    Jadi masih mau coba gak Married lae ?

    [reply to this comment]

    Riko Panja reply on 16 April 2008:

    Lae ini tau aja..:)
    Bukan mau coba gak nikah dan kawin lae..

    [reply to this comment]

  15. Wah, sama kita lae.
    Aku juga “belum” siap menikah.
    Tapi didalam hati lae yang paling dalam pasti ada niat “menikah”, karena menikah itu adalah sebagian dari “naluri” dan sebagian dari “perasaan”.
    Semua manusia yang menyukai wanita (jika pria), dan menyukai pria (jika wanita) pasti memiliki naluri “menikah”.
    Masalah jadi atau tidak menikahnya, itu soal yang berbeda.

    Teruskanlah perasaan anda, karena memang tidak ada ajaran memaksankan menikah, bahkan sangat bagus jika anda tidak menikah “jika dan hanya jika” anda mampu menanggungnya.

    Tidak menikah adalah cobaan berat, tetapi anda malah mau menanggungnya dan malahan menganggap itu sebagai pleasure (kesenangan prinsipil). Nah, bagus sekali dong. Jarang-jarang ada yang seperti itu.

    Saya sendiri mencoba untuk tetap bertahan, namun jujur lae, kadang-kadang terbesit perasaan ingin menikah yang sangat besar juga.

    Saya percaya kok, kalo lae sebenarnya sangat paham dan mengerti mengenai pernikahan lebih dari yang lain, makanya lae bisa berprinsip seperti itu.

    Semua nasehat teman-teman diatas nampaknya sangat bermanfaat dan benar semua.

    Kalo boleh aku sedikit memprediksi, menurutku lae akan menikah suatu saat nanti, ga tahu kapan.

    Soal wanita yang sering lae temukan, yang umumnya mereka selalu berpikir untuk menikah, menurut saya disebabkan beberapa faktor, antara lain: wanita itu lemah dan mereka sangat butuh dijaga (dengan menikah), dan wanita itu semakin tua semakin lapuk, berbeda dengan pria, semakin tua semakin baik, meskipun suatu saat nanti akan lapuk juga.

    Menurutku lae adalah sesosok pria yang sangat percaya diri (baguslah itu), karena kalo kita punya “banyak kelemahan”, dan pengalaman hidup yang sangat susah cari pacar, pastilah kita akan cepat-cepat ingin menikah.

    Kalo saat ini lae mengetahui kenyataan (sedikit mengkhayal, tapi anggap saja benar) bahwa lae divonis tidak akan menikah, mungkin lae akan STRESS.

    Tidak Menghakimi, cuma Mengilhami

    [reply to this comment]

    Riko Panja reply on 16 April 2008:

    aku tidak ada mengatakan : tidak akan pernah menikah lae.
    thx untuk ilhamnya.

    [reply to this comment]

  16. Asyik kali membaca kalimat terakhir Lae Panjaitan, “Aku berpikir, maka aku ada,” Itu ungkapan Descartes tentang fenemonologi pengetahuan itu kan? Ah…, jangan terlalu membawakan rasio ke segala hal, Lae [termasuk cinta…]. So gabe sega hita…

    Aku ingat judul lagu “Deep Purple” [band hardrock legendaris itu]: “Love Conquers All” [Cinta Mengalahkan Segalanya], termasuk logika. Jadi, biarlah cinta itu mengalahkan logika Lae itu untuk hal yang satu ini.

    Mencintai, berarti memberi. Setidaknya, seorang istri bisa menjadi tempat di mana kita mempertaruhkan kesetiaan cinta itu. Dan anak adalah buahnya. Terlepas dari birahi, mencintai itu adalah karunia. So, menikahlah, Lae [Atau, kubantu mencarikan jodohnya, Lae… Hehehee..]

    Aku aja, Lae… Kalau ada uangku sekarang, da nikah aku ini. Da pingin aku menggendong anak. Biar kuajari juga dia berfilsafat … [hahhaha]. Kalau mau dia, kulepas juga dia jadi jurnalis kayak bapaknya ini [Bah!]

    Horas!

    [reply to this comment]

    Riko Panja reply on 16 April 2008:

    Ah…, jangan terlalu membawakan rasio ke segala hal, Lae [termasuk cinta…]. So gabe sega hita…

    itu dia lae yang susah..!
    Boleh juga usulnya cariin jodoh:)

    horas,

    [reply to this comment]

  17. biasanya orang yang sudah berumur nggak menikah hanya ada satu alasan hehehehee
    nggak laku-laku… alias BULAK (BUjang LApuK) hehehehe
    just kidding bang….
    yang jelas aku sama dengan mu belum menikah sampai saat ini hihihihi….. jangan ngambeeeekkkk

    [reply to this comment]

  18. Huahaha…. artikel ini keren banget dan maknanya sangat mendalam. Semua alasan menikah yang diutarakan, bisa dibantah dengan tepat dan langsung ke sasaran. Great.

    Hmm… kenapa harus menikah? Pertanyaan yang juga menghantuiku ketika aku sangat ga suka dengan kata komitmen. Menikah itu justru menakutkan!!! Gimana nanti kalo ga punya anak? Gimana nanti klo ga punya anak laki-laki? Gimana nanti kalo suatu saat kami ga cocok lg? Gimana nanti…. duuuuuh ada sejuta lebih pertimbangan deh.

    But finally…, I fell in luv so deeply that I can’t resist living without him. Aku ingin dia seutuhnya milikku. Kata orang cinta ga egois. Aku bilang itu boong! Cintaku egois, aku ga ingin membagi dia dengan siapapun. Aku ingin seluruh dunia tau dan mengakui bahwa dia milikku. Dan ketika cinta menguasai, aku ingin merasakannya… merasakan dia seutuhnya dan aku jg ingin dia merasakan cintaku seutuhnya…

    So, Bang Riko Panja, mudah-mudahan suatu saat abang akan menemukan sebuah alasan yg tak terbantahkan untuk menikah. Karena sebenarnya tidak ada satu pun alasan untuk menikah yg dapat diterima oleh logika. Tp ketika jatuh cinta, bahkan logika pun tak berkutik :D

    [reply to this comment]

  19. terlepas dari masalah agama, yang aku rasain dari gaya bahasa dan tulisan anda, itu hanyalah sebuah kekecewaan, ketidakpuasan dan keputus asaan….coba anda renungi…tidak mungkin anda ada didunia ini kalo tanpa ada suatu proses pernikahan…kalo anda menghargai, menghormati orangtua anda…maka aku yakin anda akan mampu merenungi apa maksud ägama untuk “menganjurkan (mnurut anda) menikah..jgn putus asa…mungkin saat ini ada bisa berkata “sehebat”itu mngnai pernikahan, tapi suatu saat nanti ketika Tuhan memberikan kuasanya melalui wanita yg mencintai anda dan menytukan hati kalian dalam ikatan “pernikahan”maka anda akan merasakan bagaimana damainya hidup…(itu sih terserah pemahaman/penerimaan anda) tapi lepas dari semua kata2 anda, komentar orang lain thdp anda..aku hanya brhrp jangan bertindak ekstrim terhadap kuasa Tuhan..karena hidup dan jiwa anda hanya milik Tuhan…

    [reply to this comment]

  20. Dari analisa saya, anda itu punya satu kekurangan.
    KuRang ngaca kaleeeeeee…..

    [reply to this comment]

  21. Baca artikel bang riko ok juga. Selalu aja ada bantahan2 yang semuanya masuk akal.
    Aq juga lom nikah, tapi itu senua lebih karena aq lom nemuin orang yang benar2 bisa bikin aq yakin untuk menghabiskan sisa hidupku sama dia.
    Menikahlah bang….
    Kata orang nikah itu enak. Tapi aq sendiri punya ketakutan, maklum batak banyak ini itunya. Takut kalo ga punya anak, takut ga punya anak laki2, takut ngelanggar adat yang seabrek….
    Tapi hasrat nikahku tetap ada, cuma masih lom ada lawan mainnya nech ( Cariin donk bang…. he…he)
    Salam kenal ya bang riko…

    [reply to this comment]

    Riko Himpal reply on 21 April 2008:

    Salam Kenal jg..Nanti aku cariin..

    [reply to this comment]

  22. saya setuju aja, karena begitu banyak yang perlu dipertimbangkan selain alasan-alasan kenapa perlu menikah di atas.

    tapi kalo abang bilang nikah untuk menyalurkan hasrat biologis dan banyak tempat pelacuran untuk melampiaskannya, itulah bedanya manusia dengan hewan.. hewan juga nggak perlu menikah kalo cuma buat berhubungan seks aja.

    [reply to this comment]

  23. Dikebiri aja anunya biar bener2 nggak bisa dipake, trus jadi pastor kan pas alasannya.

    [reply to this comment]

  24. Menikah atau tidak menikah adalah pilihan hidup. Selibat, homoseksual marriage, heteroseksual marriage, Biseksual marriage, Kawin-cerai, Polygami, Monogami, Kawin punya anak/tidak punya anak dan lain-lain lifestyle adalah pilihan hidup. Kalau tidak salah, ilmu sosial tidak mengenal seharusnya one more time seharusnya!!!. Lho mau jadi ape kek menurut lho puas itu hak lho tapi resiko juga ada ditangan lho!. You decide what good for you!!. Janganlah coba-coba menjudge culture batak itu seharusnya begini, begitu. Culture itu adalah fakta dan itu akan berjalan sejalan dengan waktu. Jangan lu paksakan pemahaman Batak gua harus sama dengan kau demikian pula dengan aku sebaliknya. Karena kemampuan otakmu mengartikulasikan Budaya Batak bisa saja tidak sama dengan kemampuan otakku demikian sebaliknya.
    Cuma satu yang saya mau sarankan, janganlah engkaqu berandai-andai atau menganggap hidupmu adalah fiksi. Kau tidak akan pernah mengetahui pernikahan sebelum engkau mengalaminya. Khayalan tidak akan pernah sama dengan kenyataan. The dreams comes true ya tapi apakah persis banget wallahualam. Aku baru menikah setelah umur 49. Jujur saya bilang saya mengaku sekarang I’m a big looser alias pecundang berat!!! (This my opinion). Setelah kawan-kawan saya anak-anaknya udeh kuliah bahkan udeh ada nyang lulus dari ITB dan UI ane masih repot ngasih susu di malam hari untuk bacah yang sangat kusayangi.

    [reply to this comment]

  25. lae, pikiran lae hampir sama dgn pikiranku 5 tahun yang lalu.

    tapi saya berpikir saat itu, bukan pakai perasaan, gak ada untungnya buat saya,berleha leha dalam ke jombloan saya, sinamot, pesta, biaya hidup nantinya…saya pasrahkan sama DIA.

    apakah lae takut ditolak?. takut tak makan?. takut tak punya anak?, takut tak punya keturunan?. takut biaya pesta?. akhirnya lae menuliskan opini lae ini?. sepertinya kebatakan lae jadi kuragukan dgn membaca opini lae ini,
    saya menikah usia 30 tahun, dan baru punya anak 1 tahun 2 bulan setelahnya , anak temanku udah kelas 2 SMP sekarang, saya hanya tersenyum gembira.. lebih baik terlambat daripada gak ada…

    [reply to this comment]

Tulis komentar pada kolom di bawah

Tampilkan artikelmu di Blog Berita: berbentuk opini, feature, berita, tips unik, atau cerpen.