Riko Himpal Panjaitan; Jakarta; Blog Berita
Jangan berjalan di belakangku, karena engkau bukan pengikutku. Berjalanlah di sampingku, karena engkau adalah teman sejatiku.
Ketika kita berbicara emansipasi, adalah bagaimana masing-masing (laki-laki dan wanita) dapat mengeliminasi sifat egois yang ada. Kaum laki-laki tidak menonjolkan kejantanannya (egoisnya) sebagai laki-laki, dan perempuan tidak melemahkan dirinya sebagai wanita. Laki-laki dan Wanita memang tercipta berbeda secara anatomi tubuh, tetapi untuk hal-hal mengenai sifat dan sikap tidaklah berbeda. Pekerjaan, profesi, tanggung jawab bagi laki-laki dan perempuan secara manusia adalah sama, kenapa kita harus membedakannya?
Kenapa orang memandang aneh, jikalau seorang perempuan bekerja sebagai kondektur, supir, buruh bangunan, kuli angkat, dan lain-lain, yang menurut pandangan umum pekerjaan itu hanya cocok untuk kaum laki-laki.
Kenapa orang memandang aneh jikalau seorang laki-laki melakukan pekerjaan memasak, mencuci, menyetrika, menggendong anak (bayi), menyapu, dan lain-lain, yang menurut pandangan umum pekerjaan itu hanya boleh di lakukan kaum perempuan.
Kenapa orang memandang aneh jikalau perempuan menggoda laki-laki sementara kalau laki-laki menggoda itu adalah biasa. Kenapa orang memandang aneh jikalau seorang pemudi (perempuan) yang duluan mengungkapkan perasaan suka/cintanya pada pemuda (laki-laki).
Kenapa orang memandang aneh jikalau perempuan berpakaian bikini/seksi hingga disebut porno, sementara laki-laki yang bertelanjang dada tidak disebut porno.
Kenapa orang memandang aneh jikalau ada perempuan yang menjadi pekerja seks komersil (psk), sementara laki-laki yang pergi ketempat pelacuran tidak dipandang aneh. Kenapa orang memandang aneh jikalau perempuan (istri) yang bekerja menghidupi keluarga, sementara si laki-laki (suami) tidak bekerja.
Kenapa orang memandang aneh jikalau ada perempuan yang merokok, minum-minuman keras (mabok), sementara kalau laki-laki yang melakukannya tidak dipandang aneh. Kenapa orang memandang aneh jikalau ada perempuan/istri selingkuh, sementara laki-laki yang melakukan selingkuh harus dianggap biasa.
Kenapa orang memandang aneh jikalau laki-laki menangis dianggap cengeng, sementara kalau perempuan menangis dianggap biasa. Kenapa harus dipaksakan perempuan yang selalu beremansipasi sementara laki-laki tidak beremansipasi.
Itu adalah karena sifat ego yang dimiliki, laki-laki dengan sifat ke”ego”annya harus selalu dipandang “lebih” dibanding perempuan, sementara si perempuan dengan sifat ke”ego”annya harus selalu dipandang “lemah”, juga pandangan/pendapat yang digeneralisasi: yang adatlah, agamalah, budayalah, kodratlah. Kenapa kita harus selalu terkungkung dengan argumen yang seperti ini!
Kaum perempuan, bangkitlah, jangan lemahkan dirimu dengan kewanitaanmu, yang kata orang banyak selalu mengedepankan perasaan dibanding logika, jangan biarkan itu tumbuh dan melilit dalam pikiranmu. Lepaskan ekspresimu, emosionalmu, kejiwaanmu, pikiranmu. Kodratmu hanyalah melahirkan dan menyusui.
Kaum laki-laki, terbukalah, lepaskanlah ego kejantananmu. Terimalah bahwa perempuan dan laki-laki adalah sama saja. Jangan kungkung pikiranmu bahwa perempuan adalah lemah. Jangan memandang perempuan sebagai kodrat.
Kita harus bisa open minded (terbuka). Mau melakukan dan mengerjakan apa, jangan pernah memandang karena laki-laki ataupun perempuan, tapi karena memang layak, mampu, bisa mengerjakannya.
“Jangan berjalan di depanku, karena engkau bukan ratuku. Jangan berjalan di belakangku, karena engkau bukan pengikutku. Berjalanlah di sampingku, karena engkau adalah patner/teman sejatiku.” Selamat Hari Kartini!

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















peRempuan dan laki_laki saling beremansipasi…….no pRoblem!!LaKi_Laki dengan kekuatannya dan peRempuan dengan kelembutan hatinya (buKan lemah)itu adalah sebuah keseimbangan hidup dan memang harus begitu adanya!!untuk saling mengisi satu sama lain!!dan bergerak menurut hak, kewajiban, serta kittahnya masing_masing!!Tempatkan semua sesuai dengan tempat dan porsinya!!
aku suka kalimat terakhirmu,
“Jangan berjalan di depanku, karena engkau bukan ratuku. Jangan berjalan di belakangku, karena engkau bukan pengikutku. Berjalanlah di sampingku, karena engkau adalah patner/teman sejatiku.”
tapi alangkah indahnya lagi jika “berjalanlah di belakang Ku”
K nya huruf besar
Pesan utama tulisan ini bagus, yaitu agar pria berusaha menghargai perempuan setara dalam segala aspek. Namun banyak fakta historis yang direduksi di sini, sehingga penulis berkesimpulan masalah utamanya adalah ego laki-laki. Apakah ego laki-laki itu bakat atau konstruksi sosial/budaya ?
Jangan lupa, peran pria sebagai penguasa juga didukung penuh oleh kaum perempuan. Di masyarakat batak, pria yang tunduk pada istrinya akan diejek oleh keluarganya dan masyarakat. Yang paling keras mengecam umumnya adalah kaum perempuan, terutama inong, ito, namboru.
Oh ya, ada satu trend penyimpangan yang ternyata luput dari perhatian, yaitu bahwa masyarakat moderen merancukan kesetaraan dengan KESAMAAN. Terjadi penyeragaman karena menganggap itu kesetaraan, dan kodrat perempuan diingkari karena menganggap itu kesetaraan. Tulisan ini juga cenderung ke arah sana : supaya perempuan SAMA dengan laki-laki. Ini berbahaya.
Ya, betul itu lae. Suami yang tidak ikut ‘marmitu’ juga diolok sebagi pria banci.
apapun alasannya saya ga pernah setuju klo seorang istri bekerja menghidupi keluarga,sementara suaminya tidak bekerja(tidak punya penghasilan).saat menganggur dulu saya harus pinjam motor tetangga
untuk saya pakai NGOJEG,malam harinya saya nongkrong d tempat billyar untuk mencari “ikkan mate/musuh yg tak sepadan”. memang penghasilan sehari tdk menentu,tpi setidaknya aku berusaha meskipun harus bermain judi billyar. kembali ke prin,,,sip. (tukul mode on)