Apa perbedaan sari matua dan saur matua

Dian Sidauruk; Blog Berita; Bali

Apa perbedaan sudah dan telah?

Artikel ini sehubungan dengan artikel ‘Perbedaan cinta dan sayang’ yang ditulis Jarar Siahaan sebelumnya di BlogBerita.net.

Sepintas kedua kata ini bermakna sama. Tetapi bila kita menelisik lebih dalam maka kita akan menemukan perbedaan sangat mendasar dari kedua kata indah ini. Apa perbedaannya? Saya tidak bermaksud menjelaskannya tetapi bermaksud ‘bercanda’ dengan anda sambil merenungkan kedua kata tersebut dan berharap menemukan perbedaannya.

dian-sidauruk Apa perbedaan sari matua dan saur matuaKita sering menemukan kata-kata yang sama artinya di dalam bahasa Indonesia, tetapi bagaimanakah kita dapat mengetahui perbedaan bila kita hampir tak pernah berpikir atau bermaksud menemukannya?

Mari kuberi beberapa contoh di bawah ini:

Persamaan SUDAH adalah TELAH, tetapi apa perbedaanya?

Persamaan JAM adalah PUKUL, apa perbedaanya?

Persamaan ORANG adalah MANUSIA, lalu bedanya apa?

Persamaan SYAIR adalah LIRIK, tetapi apa perbedaannya?

Untuk sodara-sodara sebangsa dan setanah air Batak, apa perbedaan antara:

NAPINARSANGAPAN dan NANIPARSANGAPAN? NAHINALI dan NANIHALI?

Renungkanlah syair atau lirik lagu ini:

Nasonangdo hita nadua, saleleng ahu rap dohot ho.

Sahat tu na SARI MATUA sai tong ingotonhu do ho.

Mengapa bukan SAUR MATUA?

Tahukah anda perbedaan antara SARI MATUA dan SAUR MATUA?

Tahukah anda kejanggalan baris kedua lagu itu?

Mari kita berbagi pengetahuan. :)

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

14 Responses to “Apa perbedaan sari matua dan saur matua”

  1. menurut saya kalau dilihat dilagu tersebut hanya kebebasan berekspresi dari si penulis lagu saja karena jarang sekali seorang penulis lagu atau pencipta lagu memikirkan suatu kalimat apakah janggal atau tidak yang penting inti dari keseluruhan isi lagu tersebut.mauliate

    [reply to this comment]

    Dian Sidauruk reply on 28 April 2008:

    Andaikata pengarang lagu itu dapat mengarang lagu tidak hanya enak didengar tetapi juga syairnya saling menopang satu sama lain dan membentuk suatu rangkaian makna yang serasi, bukahkah hal yang demikian akan sangat menggugah, berkesan, cermat, matang dan cerdas dan pastilah akan mendapat pujian?

    Nasonang do hita nadua, saleleng ahu rap dohot ho.
    Rangkaian sayir ini memberitahukan kepada saya bahwa tak ada batasan ’sampai sari matua ataupun sampai saur matua’. Pokonya selama bersama, sampai ajal memisahkan, kita tetap sonang.

    Sahat tu na ’sari matua’ sai tong ingotonhu do ho.
    Ini mensyartakan bahwa hanya sampai ’sari matua’.
    Pertanyaan: Bagaimana kalau yang mencintai dan yang dicintai itu mencapai umur lebih daripada itu, misalnya ’saur matua’ atau sampai ’saur matua mauli bulung? Tidak sonangkah lagi?

    Baik dari teksnya maupun konteksnya kedua baris syair itu tidak akur.

    Mengenai SARI MATUA dan SAUR MATUA, lae Riko Himpal dan Juli Agus Napitupulu pakarnya. Salam horas selalu lae!
    Mari kita berbagai pendapat :)

    [reply to this comment]

  2. Nanti kutanya sama orang batak teman2ku, apa betul mereka orang batak? Kalau betul mereka pasti tau perbedaan SARI MATUA dan SAUR MATUA.

    Menurut saya, tidak ada bedanya SUDAH dan TELAH.
    Kalau JAM dan PUKUL bedanya JAM bisa dibuat untuk memukul tapi kalau pukul tidak bisa dibuat jadi menjam…hahahaha malu aku tidak tau ini :) dan memang aku tidak pernah memikirkan yang seperti ini. Tolong dong aku diberitahu termasuk ORANG dan MANUSIA dan SYAIR dan LIRIK!

    [reply to this comment]

  3. Horas…
    Menurut saya PUKUL dan JAM berbeda, kalau PUKUL=menunjukkan waktu, tapi kalau JAM=model atau bentuk jam yang kita pakai, makanya setiap undangan yg dicetak selalu ditulis PUKUL dan bukan JAM.

    Molo SAUR dan SARI, sara itu sama aja, mungkin karena halak hita kadang-kadang ceplos saat mengatakannya, contoh: seperti ditempat tinggal saya sekarang, sy pernah ke Hulu Mahakam (dikampungnya), org tua disana pernah ceplos mengucapkan kata KOMBINASI, yg seharusnya KOMPLIKASI, tp pengertiasnnya sama saja…

    mauliate…..

    [reply to this comment]

    Dian Sidauruk reply on 28 April 2008:

    Horas lae Tuani Sianipar.
    SARI MATUA dan SARI MATUA, berbeda lae. Tanyalah sang pakar Riko dan Juli Agus.
    Just jocking ya lae agar tak cepat tua :)
    Salam horas ya lae!

    [reply to this comment]

  4. Sari Matua dan Saur Matua secara tekstual artinya sama. Tapi makna yang terkandung dan penggunaannya berbeda.
    Sari Matua ( di sarihon sampe matua = dipikirkan sampai mati): sebutan untuk orang tua yang meninggal dan masih ada anaknya yang belum menikah.
    Saur Matua (di saurhon sampe matua = dilepaskan sampai mati )sebutan untuk orang tua yang meninggal dan tidak ada lagi anaknya yang tidak menikah.

    [reply to this comment]

    JULI AGUS NAPITUPULU reply on 28 April 2008:

    sekedar tambahan, sarimatua, saurmatua adalah tingkatan upacara adat yang diberikan kepada orangtua yang meninggal. Sebenarnya ada lagi tingkatan diatas kedua item diatas yaitu : Saur matua mauli bulung yaitu upacara adat kepada orangtua yang meninggal dengan kondisi :marnini marnono dan belum ada anaknya yang meniggal duluan (dijoloi ianakkonna)

    [reply to this comment]

    Olanto reply on 29 October 2008:

    Horas lae Dian, ala lamo nggak basuo.
    Kok jadi serius ya ? Padahal inti masalah kita adalah konteks dan teks kedua bait lagu itu “tidak akur”. ( istilah dari lae Dian.) Menurut pendapat saya penggubah lagu ingin mengatakan ” sahat tu na mate ahu sai tong do ingoton hu “; bait kedua dibuat untuk menguatkan ( menstres bait pertama ), soalnya kalau dia meninggal duluan ( sari matua atau saur matua ) tidak ada lagi perasaan ” sonang ” karena mereka tidak bersama lagi, artinya perasaan senang itu ada selama mereka bersama ( saleleng rap ).
    Saya sependapat dengan Riko Himpal tentang beda antara Sari Matua dan Saur Matua dengan tambahan apabila orang tua yang meninggal ( sudah punya cucu )akan tetapi masih ada anaknya ( laki atau perempuan )yang belum menikah; akan tetapi anaknya / borunya sudah mandiri ( punya mata pencaharian )artinya ” ndang disarihon be ” malahan ” nunga manarihon natorasna “. Sering kejadian seperti ini dalam tonggo raja ( mangarapot ) diputuskan yang meninggal itu mate saur matua. ( bukan sari matua ). Jadi sai adong do surung-surung ni na saur matua sian na sari matua.
    Horas ma

    [reply to this comment]

  5. @ I Wayan Hartana dan
    @ Tuani Sianipar:

    Persamaan JAM adalah PUKUL.
    - JAM berapa anda berangkat? JAM lima.
    - PUKUL berapa anda berangkat? PUKUL lima.

    Perbedaannya:
    - Berapa JAM perjalanan anda? Lima JAM
    - Berapa PUKUL perjalanan anda? Lima PUKUL :)

    Dalam konteks do atas, JAM dan PUKUL adalah sama tetapi PUKUL tak pernah digunakan sebagai atau menjadi keterangan jumlah.

    Dalam konteks lain:
    JAM adalah kata benda.
    PUKUL adalah kata kerja.

    Kesimpulan:
    JAM adalah kata keterangan waktu, kata keterangan jumlah dan kata benda.
    PUKUL adalah kata keterangan waktu dan kata kerja.

    Jangan lupa lo, yang lain belum dijawab :)

    [reply to this comment]

  6. Sari artinya masih ada yang dipikirkan (diholsohon) pada saat mati. Matua menjadi tua dan bisa juga artinya meninggal pada saat umur tua. Saur (bukan makan sahur) artinya tidak ada lagi yang perlu dipikirkan pada saat mau mati-semua anaknya sudah menikah . Filosofina saya kira adalah dalam konteks upacara penguburannya dan hukum adat yang diterapkan pada saat orang tersebut meninggal. Bayi, remaja, dewasa, orang menikah (married person with or without child/-ren), kakek/nenek, kakek/nenek buyut dst, untuk orang batak prosesi penguburannya dan emosional orang Batak pada saat jenis orang orang tersebut meninggal ekspressinya akan berbeda. Orang Meninggal Saur matua mauli bulung akan dipestakan besar-besaran dan tak ada lagi ratap tangis disana. Semua yang hadir harus dijamu dan bergembira ria karena pencapaian umur kematian yang sangat maksimal.
    Sarimatua dan saur matua untuk konsep sekarang ini di kota-kota besar sudah banyak diimprovisasi. Orang tua yang meninggalkan anak belum kawin tapi anaknya dianggap sudah mapan sudah dianggap sari matua!!??.

    [reply to this comment]

    Dian Sidauruk reply on 2 May 2008:

    Betul NGAM, pejelasan anda semuanya betul.

    Saya menyatakan ketidak setujuan saya terhadap: “Orang tua yang meninggalkan anak belum kawin tapi anaknya dianggap sudah mapan sudah dianggap sari matua!!??”.
    Praktek ini tidak saja tidak melestarikan adat dan budaya tetapi juga menunjukkan bahwa si pelaku kurang atau tidak mengetahu arti dari SARI dan SAUR dalam konteks TUA.

    [reply to this comment]

    Dian Sidauruk reply on 2 May 2008:

    O ya sory, “Orang tua yang meninggalkan anak belum kawin tapi anaknya dianggap sudah mapan sudah dianggap sari matua!!??”. Ini benar bila yang meninggal itu sudah mempunya cucu walaupun anaknya masih ada yang belum menikah.

    [reply to this comment]

  7. Sari Matua dan Saur Matua hanyalah upacara seremonial orang batak na maradat. Benar kalau masih ada yang masih menjadi beban dalam kehidupannya, masih disebut sari matua. Tapi kalau sudah tidak ada disebut Saur atau mauli bulung. Ini semua tergantung kesepakatan raja adat yang masih hidup, terutama hula-hula dari yang meninggal ini. Apakah hula-hula yang meninggal ini menyetujui permintaan haha anggi yang meninggal ini untuk sebutan Saur Matua atau maulibulung, itu tergantung rapat (Martonggo Raja). Perlu kita ketahui bahwa Adat Batak itu ada karena ada kesepakatan untuk ditindaklanjuti generasi berikutnya. Jadi pada generasi sekarang, tinggal mengolah, jika ada kesepahaman yang lebih baik KENAPA TIDAK. Eme namasak digagat URSA, i namasa i taula. Sudah tidak relevan rusa di Bogor makan jerami. sudah tidak relevan apa dan situasi apa yang terjadi yang diikuti. Ya harus ada dong kesepakatan baru untuk lebih baik tanpa mengurangi makna dan tujuannya. Mauliate.

    [reply to this comment]

  8. @ Dian,
    Horas lae, ala lamo nggak basuo.
    Kok jadi serius ya ? Padahal inti masalah kita adalah konteks dan teks kedua bait lagu itu “tidak akur”. ( istilah dari lae Dian.) Menurut pendapat saya penggubah lagu ingin mengatakan ” sahat tu na mate ahu sai tong do ingoton hu “; bait kedua dibuat untuk menguatkan ( menstres bait pertama ), soalnya kalau dia meninggal duluan ( sari matua atau saur matua ) tidak ada lagi perasaan ” sonang ” karena mereka tidak bersama lagi, artinya perasaan senang itu ada selama mereka bersama ( saleleng rap ).

    [reply to this comment]

Tulis komentar pada kolom di bawah

Tampilkan artikelmu di Blog Berita: berbentuk opini, feature, berita, tips unik, atau cerpen.