Mustahil orang Kristen bisa menjawab

Posted by Jarar Siahaan on Apr 27th, 2008 and filed under Agama. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Sebelas pertanyaan oleh H. Insan L.S. Mokoginta. Berhadiah mobil BMW.

Jarar Siahaan; Toba Samosir; Blog Berita
Sebuah buku kecil yang terbit tahun 2005, judulnya Mustahil Kristen bisa menjawab. Pengarangnya, Insan Mokoginta, adalah seorang mualaf sepertiku. Di awal buku dia menulis:

Yesus adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah untuk menyelamatkan bangsa Israel dari jurang kehancuran. Beliau selalu menegakkan hukum Taurat Musa dan tidak pernah merobahnya sedikit pun. Tetapi kemudian ajaran Yesus yang selalu mengamalkan ajaran nabi Musa, ternyata dicampur-aduk dengan ajaran dan dogma dari Pagan (agama penyembah berhala) kuno yang sangat bertentangan dengan agama Tauhid yang dibawa oleh nabi Adam, Abraham (Ibrahim), Musa dan Isa (Yesus).

Buku ini tipis. Isinya bukan hal yang baru. Sebanyak 11 pertanyaan yang diajukan Mokoginta — sehubungan doktrin Kristen — adalah topik-topik yang sudah banyak dibahas di Internet maupun lewat perbincangan lisan. Bahkan menurutku, 11 pertanyaan Mokoginta “tidak ada apa-apanya” [baca: belum seberapa tajam] ketimbang pertanyaan yang sudah ramai ditulis bloger selama ini di Internet untuk mendebat agama Kristen.

Aku sendiri sudah sejak lama mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti diajukan Mokoginta. Dan bahkan aku juga tahu puluhan “pertanyaan mematikan” lainnya yang bisa dipakai untuk menyalahkan banyak hal dalam ajaran Kristen — yang hanya akan bisa dijawab dengan, “Iman tidak harus sejalan dengan bukti-bukti dan logika. Iman adalah percaya.” Sebaliknya, aku juga mencatat puluhan “pertanyaan mengerikan” yang bisa kupakai untuk menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang sempurna dan paling benar — yang juga hanya akan bisa dijawab dengan, “Itulah kuasa Allah, rahasia Alloh, dan saudara telah menjadi kafir ketika meragukan sebagian isi Alquran.”

ibn warraq why i am not a muslim Mustahil orang Kristen bisa menjawabTapi aku bukan hendak membahas apa isi pertanyaan-pertanyaan tersebut, atau pertanyaan kubu mana yang paling hebat — bila engkau ingin mengetahui apa 11 pertanyaan Mokoginta, cari saja di Internet, pasti ketemu, dan engkau pun bisa berdebat muncung dengan maniak-maniak agama soal pertanyaan itu. Yang menarik bagiku adalah kenyataan bahwa sebuah buku yang secara terang-terangan menyerang ajaran Kristen ternyata bisa dijual di Indonesia dan warga nasrani tenang-tenang saja.

Bila toko buku Gramedia menjual buku sejenis, berisi pertanyaan dan gugatan atas doktrin-doktrin Islam yang dinilai tidak baik dan tidak benar, yang ditulis seorang Kristen, apakah warga muslim Indonesia bisa menerima keberadaan buku itu dan tidak marah?

Aku tidak yakin. Sangat mungkin penerbit dan toko Gramedia akan diminta menarik buku tersebut dan dituntut sekian miliar karena melecehkan Islam; atau penulisnya didemo dan dihalalkan darahnya; atau massa bersorban-berjanggut turun ke jalan-jalan sembari membelalakkan mata menyerukan takbir “Allahu Akbar!” Benar yang sedang kaubayangkan saat ini, seperti yang sudah sering kita lihat di tivi-tivi itu: Kerumunan orang beringas yang berlagak seperti serdadu penjaga surga atau tangan kanan Tuhan.

Sisi inilah, kurang-lebih, yang juga diulas dalam suplemen Koran Tempo edisi Maret lalu, lewat sebuah artikel karya Ade Armando berjudul Buku dengan hadiah BMW. Di bawah ini kukutip secara lengkap tulisan kolom Ade Armando:

Buku kecil itu memang provokatif. Judulnya Mustahil Kristen Bisa Menjawab. Di bagian atas sampul depan tertera pengumuman: “Berhadiah Mobil BMW”.

Buku ini terdiri dari sebelas bab dengan sebelas pertanyaan mengenai Kristen. Si penulis tampaknya sangat yakin bahwa tidak ada satu pun orang yang bisa menjawab rangkaian pertanyaan itu. Ia kemudian mengiming-imingi uang Rp 10 juta bagi satu pertanyaan yang dapat dijawab. Bahkan untuk pertanyaan tentang Kebangkitan Yesus, penulis menyediakan hadiah BMW.

Bercanda? Kelihatannya tidak. Di halaman terakhir buku tertera nomor telepon dan handphone yang bisa dihubungi kalau memang ada yang tertarik untuk menanggapi tawarannya.

Saya membelinya di sebuah toko buku besar di Jakarta. Ia berdampingan dengan banyak buku agama dengan beragam tema. Di antara kerumunan itulah terlihat sejumlah buku yang bicara tentang hal-hal sensitif dalam keagamaan. Buku kecil ini, seperti bisa ditebak, berisikan materi yang berusaha membongkar kekeliruan doktrin-doktrin Kristen.

Ringkasan sederhananya ada di sampul belakang, berbunyi: ”Banyak sekali dogma Kristen tidak berdasar pada kitab sucinya. Kristen menciptakan ayat-ayat palsu untuk menopang dogma tersebut, dunia tidak bisa dibohongi lagi. Di antara dogma dusta itu: Kebangkitan Yesus, Perayaan Natal, halalnya babi, dll.”

Bahwa buku semacam itu tersedia secara terbuka dengan harga yang murah mungkin bisa dipandang sebagai perkembangan positif dilihat dari perspektif kekebasan berpikir dan berbicara. Dalam perspektif ini, ada kepercayaan bahwa sebuah ruang yang memungkinkan orang bertukar pikiran dan saling mendebat secara merdeka adalah selalu lebih baik daripada ruang tertutup yang mengharamkan perbedaan.

Jadi, orang Kristen mungkin sekali tersinggung dengan gugatan-gugatan si penulis, tapi mereka tak perlu dan tak boleh marah dan melakukan langkah-langkah pemberangusan buku — apalagi dengan kekerasan — karena yang diperlukan adalah jawaban balik. Bila diskusi di ruang publik bisa berlangsung secara terbuka, yang akan tercerahkan adalah masyarakat luas.

Dalam konteks itu, dipercaya bahwa kalau kritik-kritik tersebut tak berdasar, kebohongannya akan dengan sendirinya terungkap dalam sebuah diskusi yang bebas. Masyarakat akan secara rasional menilai argumen mana yang lebih benar. Jadi, alih-alih merugikan, buku-buku semacam itu justru bisa memperkuat keyakinan umat Kristen dan mungkin sekali membuka mata banyak orang tentang ketidakbenaran kritik-kritik tersebut.

Sejauh ini tampaknya pendekatan ini yang diambil oleh umat Kristen di Indonesia. Lihatlah sekarang bagaimana toko-toko buku di Indonesia diserbu oleh beragam judul buku yang mempersoalkan kembali kebenaran ajaran dasar Kristen. Yang paling populer tentu saja Da Vinci Code. Meski berbentuk novel, buku ini mengajak pembaca membantah doktrin Kristen yang dipercaya selama ini tentang Yesus sebagai anak Tuhan, kematian Yesus, dan bahkan keselibatan Yesus.

Seusai Da Vinci, ada pula buku tentang makam Yesus yang kurang lebih sejalan dengan novel Dan Brown itu. Ada pula publikasi Injil Judas, Injil Thomas, Injil Maria Magdalena, yang semuanya tidak diakui oleh arus utama Kristen. Ada juga buku tentang korupsi Gereja Vatikan, petualangan seks para pendeta, rahasia bisnis gereja, kristenisasi berkedok kemanusiaan, bahaya kristenisasi, dan seterusnya.

Terhadap itu semua, kita tidak melihat adanya kemarahan umat Kristen yang mengemuka. Sebagian orang mungkin akan menganggap bahwa tentu saja umat Kristen tidak akan ”berani” memprotes karena beban psikologis kaum minoritas. Tapi, saya duga, diamnya umat Kristen punya landasan lebih mendasar.

Peradaban Kristen sudah belajar dari sejarah masa lalunya yang kelam sebelum masa pencerahan. Ketika itu, kita semua tahu, betapa petinggi agama berhak menentukan kebenaran secara absolut. Efeknya, Barat terpuruk dan agama menjadi sesuatu yang justru melahirkan penderitaan. Baru setelah katup kemerdekaan berpikir dicabut, kemajuan dicapai dan agama menemukan esensinya kembali.

Jadi, Kristen memang telah mengakui bahwa menghambat kebebasan berpikir adalah salah. Tak kurang dari Paus sendiri pada 1994 telah menyatakan permintaan maaf Gereja Katolik karena pernah melarang Galileo Galilei menyebarkan karyanya soal matahari sebagai pusat semesta pada 1642 — karya yang pada masanya dianggap sebagai bertentangan dengan Injil.

Dan lebih penting lagi, tak ada bukti bahwa segenap kemerdekaan itu menghancurkan Kristen. Jumlah pemeluk Kristen jauh melampaui pemeluk agama-agama lain di dunia. Memang, Barat semakin sekuler, tapi ajaran Kristen tetap bertahan kokoh.

Kalau begitu, buku berhadiah BMW yang disebut di awal tulisan ini sebaiknya disyukuri. Tapi, nanti dulu… ada sesuatu yang hilang di sini. Bukankah di negara ini yang mayoritas adalah umat Islam? Karena itu, kalau kebebasan berpikir itu hanya berlaku di kalangan Kristen, manfaatnya masih akan terbatas.

Dengan kata lain, tidakkah kalau kita mengizinkan buku-buku yang bertentangan dengan keyakinan Kristen, maka membiarkan buku-buku yang menggugat keyakinan Islam justru lebih penting lagi?

Indonesia bisa jadi memang lebih maju daripada negara tetangganya seperti Malaysia dan Singapura. Buku-buku kritis yang ditulis para penulis seperti Fazlur Rahman, Hamid Nasr Abu Zayd, Fatima Mernissi, Amina Wadud, dan sebagainya dengan mudah diperoleh. Belum lagi penulis-penulis Islam liberal domestik. Buku-buku ini secara tajam menggugat penafsiran-penafsiran baku para ulama, kerap dengan cara yang provokatif. Ini tidak dinikmati sesama muslim di negara-negara tetangga.

Tetapi dengan adanya gelombang fatwa sesat yang dikenakan terhadap pemikiran-pemikiran yang bergerak keluar dari arus utama beberapa tahun terakhir ini, bukan tidak mungkin tak lama lagi kita akan mendengar keluarnya fatwa pengharaman atas sejumlah buku tentang Islam di negara ini. Kemerdekaan menulis dan menerjemahkan yang dinikmati di Indonesia saat ini bisa jadi adalah buah dari kebijakan Orde Baru yang memang cenderung memerangi fundamentalisme agama. Ini belum tentu bertahan dengan sendirinya.

Selain itu, buku-buku kritis yang ada itu umumnya adalah semacam kritik ke dalam yang dilakukan oleh ilmuwan muslim sendiri. Bila kita merujuk pada buku kecil provokatif tadi, yang pantas dijadikan perbandingan adalah buku-buku yang ditulis oleh kaum non-muslim yang menggugat Islam. Persediaannya banyak. Sejak tragedi WTC 2001, banyak sekali buku karya penulis Barat yang bicara soal Islam. Sebagian dengan nada simpatik — seperti yang ditulis Karen Armstrong dan John Esposito — tapi banyak juga yang sangat negatif. Buku-buku semacam itu mungkin tidak menyenangkan kaum muslim, tapi harus diakui keberadaannya.

Saya bukan sedang mempromosikan ide menerjemahkan buku-buku anti-Islam. Itu sama sekali bukan pokok pikirannya. Yang penting adalah kesediaan kita untuk secara teguh mendukung gagasan kebebasan berpikir, bersoal jawab, dan berkarya.

Terbit dan beredarnya buku provokatif soal Kristen tadi mungkin sekali terjadi karena diskriminasi antarkaum mayoritas dan minoritas. Tapi kondisi itu fungsional bagi kita untuk menjustifikasi penerimaan prinsip kebebasan berkarya.

Dengan begitu kita bisa bilang bahwa bila ada yang menerjemahkan buku-buku seperti Why I am Not a Moslem (karya Ibn Warraq), mudah-mudahan umat Islam tidak buru-buru marah. Kalau kita membiarkan itu dilakukan pada keyakinan Kristen, mestinya kita membiarkan itu dilakukan pada Islam. Dan, seperti yang saya katakan tadi, kalau itu dibiarkan terjadi, mudah-mudahan yang mereguk manfaat adalah masyarakat secara keseluruhan.

Baca juga:

tafbutton blue16 Mustahil orang Kristen bisa menjawab

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

505 Responses for “Mustahil orang Kristen bisa menjawab”

  1. Icehill says:

    sekali lagi saya kagum atas penelitian dan pengetahuan yang anda miliki. saya tidak bermaksud menyindir. sebagian muslim membenci atau tidak percaya kekristenan tapi mereka tidak tahu apa yang mereka benci atau yang mereka tidak percayai. sedangkan anda tidak percaya pada yang anda sudah ketahui. tapi kami menghormati anda dan kepercayaan anda, tidak seperti saudara2 anda lainya yang membenci kekristenan padahal tidak mengenal kekristenan itu.

    karena betapa malangnya seseorang bila mencintai sesuatu yang sebenarnya mereka tidak kenal dengan baik, dan betapa malangnya seseorang bila membenci sesuatu yang sebenarnya mereka tidak kenal baik.

    saya meminta anda untuk mengumpulkan ayat2 injil yang bagi anda direkayasa oleh murid2 Yesus. setelah itu anda akan menemukan ayat2 yang anda percaya diajarkan langsung oleh Yesus.

    Nabi anda mempunyai pemikiran yang sama persis dengan anda, beliau mempercayai sebagian dan tidak mempercayai sebagian. bukan nya saya bermaksud menyinggung anda dan Nabi anda, tapi Muhammad merasa tersentuh dengan ajaran2 Yesus tentang kasih sehingga Dia berkata pada pengikut2nya.

    (Qs.43 Az Zukhruf 61)
    (Qs.43 Az Zukhruf 63)
    (Qs.19 Maryam 34)
    (Qs.4 An Nisa 171)
    (Hadist Anas bin Malik hal.72)
    (Qs 19 Maryam 17)
    (Hadits Ibnu Majah)
    (Qs.21 Al Anbiyaa 91)
    (Qs.19 Maryam 33)
    (Qs.3 Ali Imran 55)
    (Qs.3 Ali imran 49)
    (Qs.5 Al maa-idah 110)
    (Qs.2 Al Baqarah 253)
    (Qs. 4 An Nisaa’ 156)
    (Qs.4 An Nisaa 159)
    (Qs. 5 Al Maa-idah 68)
    (Qs. 43 Az Zukhruf 4)
    Qs. 3 Ali Imran 45)

    Walau Muhammad tidak percaya Yesus adalah Firman Tuhan yang Hidup yang lahir kedunia untuk menebus dosa2 seluruh manusia. tapi Muhammad mengasihi Yesus, dan percaya bahwa Yesus adalah yang paling dekat dengan Bapa. saya kadang merasa aneh dengan orang2 muslim yang membenci umat kristen, padahal nabi mereka mengasihi Yesus.

    Kami menghormati kepercayaan anda dan ketidak percayaan anda, dan para murid Yesus sudah diperingatkan oleh Yesus bahwa Dunia akan membenci mereka karena nama Yesus.

    dan seperti 11 murid2 utama Yesus dimana 10 dari mereka sampai rela dibunuh karena mengabarkan bahwa Yesus lah yang disalib dan bangkit pada hari ketiga. walau saya bukan orang beriman besar, tapi kami memiliki bukti2 di hati kami yang tidak bisa dijelaskan dengan kata2 atau pemikiran duniawi. bahwa kata2 mereka adalah benar. seperti yang dikatakan Yesus
    (Yohanes 20:29) Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

    walau anda hanya menganggap Yesus hanya sekedar Nabi, tapi anda tidak bisa menghindari bahwa ajaran2 Yesus sangat indah dan luar biasa bukan?

  2. yahudi says:

    ELIA BUKAN YOHANES PEMBAPTIS

    Kitab Maleakhi meramalkan:

    4:1. Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka.
    4:2 Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.
    4:3 Kamu akan menginjak-injak orang-orang fasik, sebab mereka akan menjadi abu di bawah telapak kakimu, pada hari yang Kusiapkan itu, firman TUHAN semesta alam.
    4:4. Ingatlah kepada Taurat yang telah Kuperintahkan kepada Musa, hamba-Ku, di gunung Horeb untuk disampaikan kepada seluruh Israel, yakni ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum.
    4:5 Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.
    4:6 Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.

    Konon katanya, Maleakhi meramalkan bahwa menjelang datangnya hari kiamat (hari pembalasan) nanti akan datang seorang nabi yang bernama Elia yang akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya.

    Tentu saja, ia adalah sebuah nubuat yang secara harfiah belum terwujud!

    Namun demikian, jika nama Elia yang dimaksud Maleakhi di atas adalah seorang tokoh tertentu, maka siapakah tokoh yang paling sesuai atau mendekati untuk menggantikan posisi nabi Elia?

    Markus, Matius, dan Lukas , yang ketiganya dikenal sebagai injil-injil sinoptik , mengklaim bahwa Elia sebagaimana diramalkan dalam Maleakhi di atas adalah Yohanes Pembaptis. Berikut ini klaim mereka:

    Lalu mereka bertanya kepada-Nya: “Mengapa ahli-ahli Taurat berkata, bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan? Tetapi Aku berkata kepadamu: Memang Elia sudah datang dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka, sesuai dengan yang ada tertulis tentang dia.” (Markus 9:11-13)

    Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan–jika kamu mau menerimanya–ialah Elia yang akan datang itu. (Matius 11:12-14)

    Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Matius 17:10-13)

    ia (Yohanes Pembaptis) akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” (Lukas 1:16-17)

    Tentu saja, kita akan terkejut, karena kenyataannya, Yohanes Pembaptis tidak mampu berbuat sebagaimana diramalkan Maleakhi tentang nabi Elia, yakni “membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya”, bahkan ia harus mati dipenggal kepalanya oleh umatnya sendiri, sebagaimana catatan Alkitab berikut:

    Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Markus 6:25-29)

    Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. (Matius 14:8-12)

    Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan iapun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. (Lukas 9:7-9)

    Para pengarang injil-injil sinoptik sengaja menggenapi nubuat Maleakhi tersebut dengan sosok Yohanes Pembaptis agar cita-cita umat Yahudi akan datangnya kembali seorang mesias terpenuhi oleh sosok Yesus, karena konon katanya Elia akan mempersiapkan jalan terlebih dahulu sebelum datangnya mesias tersebut. Kenyataannya, dapat kita lihat sendiri bahwa Yohanes Pembaptis sama sekali tidak cocok dengan ciri-ciri nabi Elia sebagaimana disebutkan dalam kitab Maleakhi di atas.

    Berbeda dengan injil-injil sinoptik, Injil Yohanes secara tegas menolak bahwa Elia yang dinubuatkan Maleakhi tersebut adalah Yohanes Pembaptis. Berikut kesaksian Yohanes:

    Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!” (Yohanes 1:19-21)

    Ringkasnya, nubuat Maleakhi di atas sebenarnya merupakan ramalan yang tidak pernah terwujud!

    DUA ALASAN YAHUDI MENYALIB YESUS MENURUT INJIL YOHANES

    Setiap orang Kristen telah diindoktrinasi semenjak ia masih kanak-kanak bahwa kematian Yesus di tiang salib sudah merupakan rencana Yesus sendiri yang konon telah disampaikannya di hadapan murid-muridnya, dan oleh karenanya, harus digenapi.
    Apa sebenarnya yang melatarbelakangi kebencian orang-orang Yahudi kepada Yesus hingga mereka harus menyalibnya? Berikut ini dua alasan orang-orang Yahudi menyalib Yesus menurut Injil Yohanes.

    1. Alasan Perzinahan.

    Orang-orang Yahudi menuduh Yesus sebagai orang yang lahir dari hasil perzinahan Maria, ibunya, dengan laki-laki. Berikut kutipan ayat-ayatnya:
    Tetapi yang kamu (orang-orang Yahudi) kerjakan ialah berusaha membunuh Aku (Yesus); Aku seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri.” Jawab mereka: “Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah.” (Yohanes 8:40-41)
    Dalam kutipan ayat-ayat di atas, orang-orang Yahudi menyindir Yesus bahwa mereka bukanlah orang-orang yang lahir dari hasil perzinahan kedua orang tuanya. Kalimat ini merupakan sindiran terhadap Yesus yang mereka anggap sebagai orang yang lahir dari hasil perzinahan kedua orang tuanya.

    Konsekuensi dari tuduhan tersebut adalah orang-orang Yahudi menolak segala predikat baik yang melekat pada diri Yesus, baik sebagai guru, imam, pemimpin, raja, nabi, rasul, apalagi sebagai Tuhan.

    2. Alasan Klaim sebagai Anak Allah.

    Orang-orang Yahudi menuduh Yesus telah menghujat Allah karena dia konon telah menyatakan dirinya sebagai Anak Allah. Berikut kutipan ayat-ayatnya:

    Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau (Yesus), melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” ….masihkah kamu (orang-orang Yahudi) berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku (Yesus) telah berkata: Aku Anak Allah? (Yohanes 10:33,36)
    Dari tuduhan tersebut, orang-orang Yahudi bersepakat untuk membunuh Yesus, karena menurut mereka, hukuman bagi orang yang menghujat Allah adalah hukuman mati, sebagaimana perintah Tuhan dalam Kitab Imamat berikut ini:

    Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati.[/i] (Imamat 24:16)

    Berkenaan dengan hukuman mati Yesus di tiang salib, orang-orang Yahudi menganggap Yesus sebagai manusia terkutuk di muka bumi, sebagaimana catatan Kitab Ulangan berikut ini:

    “Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian [u]kaugantung dia pada sebuah tiang, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.” (Ulangan 21:22-23)

    KOMENTAR:

    Itulah dua alasan orang-orang Yahudi menyalib Yesus. Semenjak Yesus dilahirkan hingga dewasa, orang-orang Yahudi tetap berpendapat bahwa Yesus adalah orang yang lahir dari hasil perzinahan ibunya, Maria, dengan laki-laki –meski mereka tidak dapat membuktikan siapa laki-laki itu–, sehingga mereka menolak Yesus sebagai utusan Allah. Segala mukjizat yang ditunjukkan Yesus, mereka anggap sebagai tindakan sihir. Lebih jauh, jika orang-orang Yahudi harus menerima Yesus sebagai utusan Allah, maka konsekuensinya mereka harus menerima ramalan Yesus tentang kedatangan Penghibur setelah kepergiannya, yang akan membawa bangsa Israel menuju syariat baru. Tentu saja, kedatangan Penghibur yang diramalkan Yesus ini membuat para imam dan ahli taurat resah, karena ajarannya akan menghancurkan kebiasaan dan adat-istiadat nenek moyang bansa Yahudi. Oleh karenanya, para imam dan ahli taurat mencari solusi untuk tetap mempertahankan kebiasaan dan adat-istiadatnya, yaitu dengan cara membunuh Yesus dan menghancurkan segala ajarannya (Yohanes 11:47-53). Sebelumnya, secara berurutan, orang-orang Yahudi telah membunuh dua orang utusan Allah, yaitu Zakharia dan Yohanes Pembaptis (Lukas 11:51/Matius 23:35; Markus 6:27).

    Namun demikian, apakah yang disalib itu benar-benar Yesus, seorang utusan Allah bagi umat Israel? Ingatlah kembali dua nama orang yang disodorkan oleh Pontius Pilatus untuk dibebaskan, yaitu Yesus Kristus (Isa al-Masih) dan Yesus Barabas (Yesus bar Abbas atau Yesus Anak Allah), yang akhirnya konon Pilatus membebaskan Yesus Barabas (Yesus Anak Allah), seorang tokoh pemberontak paramiliter terkenal pada masa itu, dan menyerahkan Yesus Kristus kepada orang-orang yahudi untuk disalibkan. Mungkin sekali, Yesus Barabas inilah orang yang mengklaim dirinya sebagai Anak Allah, kemudian melemparkan klaimnya kepada Yesus Kristus. Dan ingatlah kembali mukjizat Yesus yang bisa merubah dan berubah wujud sebagaimana dijelaskan dalam Injil Risalah Kedua Set Agung.
    Bagaimanapun juga, kedua alasan Yahudi di atas, telah didistorsi sedemikian rupa oleh para the founding father Kristen (Paulus cs) –lebih dari 30 tahun kemudian setelah peristiwa penyaliban itu– sehingga seolah-olah kematian orang yang diduga Yesus di tiang salib itu merupakan rencana/nubuat Yesus yang harus digenapi, dan sekaligus untuk menebus dosa-dosa manusia. Nau’dzubillaahi min dzaalik!

    1. Alasan Perzinahan.

    Orang-orang Yahudi menuduh Yesus sebagai orang yang lahir dari hasil perzinahan Maria, ibunya, dengan laki-laki. Berikut kutipan ayat-ayatnya:
    Tetapi yang kamu (orang-orang Yahudi) kerjakan ialah berusaha membunuh Aku (Yesus); Aku seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri.” Jawab mereka: “Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah.” (Yohanes 8:40-41)
    Dalam kutipan ayat-ayat di atas, orang-orang Yahudi menyindir Yesus bahwa mereka bukanlah orang-orang yang lahir dari hasil perzinahan kedua orang tuanya. Kalimat ini merupakan sindiran terhadap Yesus yang mereka anggap sebagai orang yang lahir dari hasil perzinahan kedua orang tuanya.
    Konsekuensi dari tuduhan tersebut adalah orang-orang Yahudi menolak segala predikat baik yang melekat pada diri Yesus, baik sebagai guru, imam, pemimpin, raja, nabi, rasul, apalagi sebagai Tuhan.

    JAWAB :

    Dalam hal ini “tuduhan Yesus adalah hasil zinah” tidak pernah terbukti, semua adalah dugaan. Penghukuman karena zinah harus selalu bisa menunjuk pihak-pihak yang melakukan zinah. Siapa si laki-laki dan siapa si perempuannya. Dan anak hasil zinah, dalam hukum apapun tidak ikut dihukum di pengadilan (Ulangan 17:5 ; Ulangan 17:6).

    Orang-orang Yahudi yang menghendaki Yesus disalib memang tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah. Namun ketidak-percayaan mereka ini bukanlah fakta yang menunjukkan Yesus itu bukan Tuhan dan Allah.

    2. Alasan Klaim sebagai Anak Allah.

    Orang-orang Yahudi menuduh Yesus telah menghujat Allah karena dia konon telah menyatakan dirinya sebagai Anak Allah. Berikut kutipan ayat-ayatnya:
    Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau (Yesus), melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” ….masihkah kamu (orang-orang Yahudi) berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku (Yesus) telah berkata: Aku Anak Allah? (Yohanes 10:33,36)
    Dari tuduhan tersebut, orang-orang Yahudi bersepakat untuk membunuh Yesus, karena menurut mereka, hukuman bagi orang yang menghujat Allah adalah hukuman mati, sebagaimana perintah Tuhan dalam Kitab Imamat berikut ini:

    Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati.[/i] (Imamat 24:16)

    Berkenaan dengan hukuman mati Yesus di tiang salib, orang-orang Yahudi menganggap Yesus sebagai manusia terkutuk di muka bumi, sebagaimana catatan Kitab Ulangan berikut ini:

    “Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian [u]kaugantung dia pada sebuah tiang, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.” (Ulangan 21:22-23)

    Yesus dituduh orang-orang Yahudi/ ahli Taurat menghujat Allah karena Dia menyatakan diriNya adalah Anak Allah; Allah; dan Mesias. Dan Ia menyatakan kesetaraan diriNya dengan BapaNya di Surga. Namun tuduhan itu bukan suatu kebenaran bahwa Yesus bukan Allah.

    Seseorang/sekelompok orang bisa saja menuduh orang lain, namun ia (si tersangka) selamanya akan “tak bersalah/ innocent” sebelum kesalahannya terbukti (asas presumption of innocent / asas praduga tak bersalah). Itu berarti bahwa seseorang dianggap tidak bersalah sampai dibuktikan bersalah oleh pengadilan. Presumption of innocent adalah hak-hak tersangka sebagai manusia diberikan dan merupakan prinsip hakiki dalam hukum. Prinsip ini berlaku dalam semua fase proses hukum: baik di taraf kepolisian maupun di taraf kejaksaan dan juga di taraf pengadilan itu sendiri. Dalam Taurat sendiri ada aturan untuk tidak menghukum seorang “yang diduga bersalah” sebelum ia “terbukti bersalah” di pengadilan (Mitsvot ke-260: Bilangan 35:12).

    Dalam sidang yang menentukan Yesus Kristus akan dihukum mati atau tidak; justru tidak menyertakan delik tuduhan “menghujat Allah” karena pemimpin sidang tertinggi saat itu, yaitu Pilatus tidak menemukan kesalahan-Nya :

    * Matius 27:17
    27:17 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?”
    27:18 Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.
    27:19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.”
    27:20 Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati.
    27:21 Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: “Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?” Kata mereka: “Barabas.”
    27:22 Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!”
    27:23 Katanya: “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Namun mereka makin keras berteriak: “Ia harus disalibkan!”
    27:24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!”
    27:25 Dan seluruh rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!”
    27:26 Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.
    27:27 Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus.

    Pilatus tidak menemukan kesalahan Yesus Kristus (ayat 24) untuk itu ia “melakukan aksi cuci tangan” bahwa hukuman yang akan dilaksanakannya kepada Yesus Kristus ini atas permintaan “orang-orang yang dengki kepada Yesus” (ayat 18 ).

    Dengan demikian Pilatus dalam otoritasnya melaksanakan hukuman terhadap seseorang karena permintaan orang banyak “yang dengki”, bukan atas dasar “kesalahan yang diperbuat Yesus Kristus”. Pilatus melakukan ini untuk menghindari kekacauan di negeri dimana ia ditugaskan sebagai Wali-Negeri. Kemudian ia melaksanakan “hukuman terhadap Yesus” atas permintaan orang banyak, dan ia sendiri melakukan tindakan “mencuci-tangan” sebagai simbol bahwa hukuman itu bukan atas kehendaknya.

    Jelas sekali bahwa Yesus Kristus mengalami hukuman “tanpa delik tuduhan”. Sebagai Orang yang Benar, Ia bisa saja menolak hukuman itu. Namun hal tersebut tetap Ia jalani sebagai “cawan-pahit” yang secara rela ia minum.

    Kematian Yesus di Kayu Salib adalah “kematian-kurban”, karena Ia merelakan jiwanya sendiri untuk dikorbankan (masih bisa dihindari , tetapi Ia merelakan) demi kasih yang begitu besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang dikasihinya. Jenis kematian ini adalah total berlandaskan kasih, dan tidak diselewengkan dengan dalil-dalil manusia yang melekatkan kebencian dan dendam atas nama Tuhan atau ‘perjuangan’

    Meskipun Kristen dan Islam itu biasa disebut agama-agama Ibrahimi (abrahamic religions). Agama-agama di dunia lainnya misalnya Hindu dan Buddha juga tergolong dalam agama etika (ethical religion), yakni agama yang mengajarkan ethic, bahwa keselamatan manusia tergantung pada perbuatan baik dan amal salehnya. Ini berbeda dengan Kekristenan. Kristen adalah agama sakramental (sacramen religion) yaitu agama yang mengajarkan bahwa keselamatan itu diperoleh melalui Sang Penebus Dosa. Esensi kematian Yesus di kayu salib sering dipersoalkan oleh kalangan Muslim karena memang mereka tidak mengerti arti kematian kurban Yesus Kristus.

    Yesus merupakan ‘anak domba’ yang disediakan Allah untuk dikorbankan sebagai pengganti orang berdosa. Melalui kematian-Nya, Yesus memungkinkan penghapusan kesalahan dan kuasa dosa dan membuka jalan kepada Allah bagi seluruh dunia (Yohanes 1:29). Dalam Perjanjian Lama telah dikenal bahwa menurut ajaran Yahudi, perlu darah untuk pengampunan dosa, ini ditegaskan di PB dalam Ibrani 9:22. Oleh karena itu Allah menyediakan tubuh dari daging dan darah dan datang ke dalam dunia sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia (Ibrani 10:5). Allah sendiri telah datang ke dalam dunia karena selain dari Dia tidak ada juruselamat (Yesaya 43:11).

    * Ibrani 9:22
    Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.

    * Ibrani 10:5
    Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: ‘Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki — tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.’

    * Yesaya 43:11
    “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.”

    Perbuatan baik tidak memaafkan seseorang dari dosanya. Lukas 18:18-27 menulis ada seorang kaya menganggap ‘perbuatan baik dapat menyelamatkan’ (beroleh hidup kekal), namun kebenaran yang dijelaskan Alkitab, perbuatan baik tersebut tidak menyelamatkan. Keselamatan hanya dengan darah. Darah itu telah disediakan oleh Yesus Kristus, sehingga kepada setiap orang yang percaya kepadaNya, dia akan diselamatkan.

    Di sepanjang Perjanjian Lama, sejak mulanya Allah sudah memberikan gambaran kisah datangnya Tuhan Yesus Kristus sebagai “kurban penebus dosa” sejak kitab Kejadian. Mulai dari analogi ‘cawat-kulit’ dari tertumpahnya darah binatang, yang kulitnya dipakai untuk menutup aurat Adam. Kemudian analogi ‘kurban anak Abraham’ yang diganti dengan ‘domba yang disediakan Allah’. Peristiwa ‘darah paskah’ yang membebaskan Israel dari tulah ke 10 pada zaman Musa. Dan nubuat-nubuat para nabi pada Perjanjian Lama akan datangnya Mesias yang memberikan darahNya untuk keselamatan manusia. Perjanjian Lama, walaupun spesifik ditujukan untuk orang-orang Yahudi (Yudaisme), namun Perjanjian Lama tetap merupakan Firman yang sangat berharga bagi umat Kristiani. Dan tidak dipungkiri bahwa Yudaisme ini adalah akar dari Kekristenan. Dan penekanan Kekristenan itu ada dalam Perjanjian Baru. Hal itu amat berharga bagi umat Kristiani. Konsep harga yang harus dibayar terhadap perbuatan dosa, penebusan dosa dengan darah, keselamatan dengan darah (inti pengertian paskah) adalah merupakan hal yang pokok.

    Dalam hukum Taurat, hampir segala sesuatu disucikan, dan diampunkan dengan darah (yang dianggap nyawa), dan “tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan” (Ibrani 9:22). Ini dilakukan lewat domba yang dikorbankan diatas mezbah, berulang-ulang untuk setiap kali pengampunan hingga digenapi oleh Sang Mesias. Datangnya Allah dalam manusia Yesus yang menyediakan ‘darah’ bagi pengampunan, adalah selaras dengan prinsip Taurat tadi, dan benar Dia sedirilah yang menggenapinya. Hadirnya Yesus ke dunia, mati disalibkan, bangkit dan naik ke Surga dan kedatanganNya yang kedua kali nanti adalah pokok dari iman Kristiani. Yesus dengan gelar Mesias/Kristus, dan sebutan Juruselamat kepadaNya, semuanya bukan hanya sekedar memberikan pengajaran, melainkan justru memerankan fungsi penyelamatan “Allah Juruselamat” (Yesaya 45:21).

    Pembuktian kematian Yesus disalib serta kebangkitanNya, tidak terkira kokohNya, internal maupun external. Itu sudah banyak sekali ditulis oleh para ahli tanpa ada sanggahan yang layak. Kematian-kurban memang exist bagi Mesias, dan itu bukan bikinan atau diada-adakan oleh manusia. Ia sungguh telah dijanjikan Tuhan dari Firman yang keluar dari mulutNya dan/atau dari tanganNya sendiri dan diteruskan turun-temurun sejak manusia-pertama!.

    Pengertian keselamatan dari Allah ini, memang tidak selaras dengan ketentuan yang berlaku di agama-agama lain, sehingga serangan-serangan yang ditujukan kepada iman Kristiani dengan mempersoalkan kematian Yesus jika dipandang dari kepercayaan mereka yang menganggap keselamatan dari amal-ibadah, tentu saja tidak akan dimengerti ataupun diselaraskan. Dan perbedaan ini sangat prinsip, tidak bisa diperdebatkan. It just different….

    Quote:
    Berkenaan dengan hukuman mati Yesus di tiang salib, orang-orang Yahudi menganggap Yesus sebagai manusia terkutuk di muka bumi, sebagaimana catatan Kitab Ulangan berikut ini:

    “Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.” (Ulangan 21:22-23)

    JAWAB :

    Yesus yang tidak berbuat dosa dan kesalahan itu yang menanggung kutuk-dosa umat manusia, untuk itulah Ia mempunyai gelar yang menandakan hal ini yaitu gelar Anak Domba Allah. Hal ini juga tidak dikenal dalam kepercayaan Muslim, sehingga penuduh dari kalangan Muslim ini seringkali mempersoalkannya.

    Mengenai ayat yang dipersoalkan, yaitu Ulangan 21:22-23, Rasul Petrus menjelaskannya kepada kalangan Yahudi, esensi kematian Yesus yang “digantung” pada kayu itu sbb :

    * Kisah 5:30
    LAI TL : Adapun Allah Tuhan nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang sudah kamu ini bunuh dengan menggantungkan Dia pada kayu itu.
    TR : ho theos tôn paterôn hêmôn êgeiren iêsoun on humeis diecheirisasthe kremasantes epi xulou

    Kematian dengan cara digantung itu di sebuah tiang kayu, (Ibrani ‘ETS), adalah lambang suatu kutuk. Penulis Kitab Kisah Para Rasul (Lukas) mencatat perkataan Petrus dalam Kisah 5:30, istilah khusus yang diucapkan Petrus ini yang sudah dikenal dalam pengajaran Yudaisme, bahwa orang yang mati dengan cara digantung adalah dikutuk oleh Allah (bandingkan dengan Kisah 10:39, Galatia 3:13).

    Konteks Petrus mengucapkan kata-kata itu adalah dihadapan Sanhedrin (Mahkamah Agama Yahudi), baca selengkapnya Kisah 5:26-42.
    Petrus menggunakan rujukan Tanakh-Ibrani dalam menjelaskan kematian Yesus dengan cara digantung “TALAH” di kayu yang merupakan lambang kematian terkutuk.

    Dalam kesempatan ini pula Petrus mewartakan kematian Yesus, bahwa Yesus memikul kutuk dosa manusia dalam kematianNya dengan cara “digantung”/ “TALAH” itu. Dan kemudian menjelaskan dihadapan Sandherin itu misi kematian Yesus adalah sebagai anak-domba kurban dosa bagi seluruh umat manusia :

    * Kisah 5: 31-33
    5:31 Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.
    5:32 Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia.”

  3. Icehill says:

    wah mas… jangan kan pohon natal.. uang,mobil, rumah,hp,kartu kredit,sinetron,infotaiment,sampai pekerjaan juga bisa jadi berhala. pohon natal dihiasi bukan untuk disembah, seperti anda yang memugar dan merawat kabah, yang anda sembah bukanlah bangunan kabahnya yang terdiri dari bata bukan? tapi ruang pertemuan yang anda percaya sebagai tempat pertemuan dengan Tuhan, dengan demikian anda menyembah Tuhan, seperti kemah suci di jaman Musa, semua orang Israel menyembah ke arah kemah itu.

    Tentang orang kristen adalah kafir tentu saja kami memang kafir, karena itu kami mendengarkan Yesus dan mengikutinya.

    (Matius 9:11-13) Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: ” Mengapa gurumu makan bersama sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

    Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Ku kehendaki ialah belas kasihan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa”

  4. yahudi says:

    ALKITAB MENGUTUK POHON NATAL !!!

    Tidak ada perayaan Natal tanpa pohon Natal. Inilah yang saat ini dirayakan oleh orang-orang kafir dari golongan Kristen setiap tanggal 25 Desember. Padahal, sebagaimana dapat dibaca dari buku-buku sejarah, perayaan Natal dan pohon Natal sudah ada semenjak zaman dahulu kala, jauh sebelum Yesus dilahirkan. Perayaan Natal ini sesungguhnya merupakan tradisi lama dari para penganut penyembah berhala.

    Barulah pada abad keempat Masehi perayaan Natal ini diadopsi menjadi perayaan kelahiran Yesus oleh orang-orang kafir Kristen. Padahal, bukan saja tidak mungkin Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember, akan tetapi, tanggal 25 Desember itu sendiri diyakini sebagai tanggal lahirnya para berhala (tuhan-tuhan buatan manusia) yang disembah oleh orang-orang kafir pada masa jauh sebelum Yesus.

    Secara tegas, Alkitab/Bibel mengutuk keras perayaan Natal dan pohon Natal, berikut petikan ayat-ayatnya:

    Yeremia 10:2-4:

    “Beginilah firman Tuhan: “Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak, orang memperkuatnya dengan paku dan palu supaya jangan goyang.”

    Jadi, Alkitab/Bibel sendiri dengan tegas mengutuk keras pembuatan pohon Natal. Mengapa umat Kristen yang mengklaim Alkitab sebagai pedoman hidupnya malah justru menodai firman Tuhannya sendiri?

    Konteks dalam Yeremia 10:2-4 adalah mengenai adanya berhala yang dibuat dari pahatan kayu, dimana orang-orang kemudian memberhalakannya (menyembahnya). Dalam kebiasaan umat Kristiani yang merayakan hari natal, tidak pernah ada pemberhalaan suatu jenis barang/ kayu/ pohon natal sekalipun yang diperlakukan sebagai berhala.

    Umat Kristiani sangat mengerti bahwa kami tidak diperbolehkan menyembah berhala. Kesepuluh firman (Keluaran 20:1-17), diantaranya menulis demikian

    * Keluaran 20:1-6
    20:1 Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:
    20:2 “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
    20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
    20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
    20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
    20:6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

    Jelas sekali ada larangan “beribadah kepada ilah-ilah selain Allah”.

    Sekalipun artikel diatas yang menuduh bahwa kekristenan menyembah “pohon”, namun tidak ada data sejarah yang menunjang hal itu, selain bahwa pohon cemara merupakan simbol kekekalan. Adanya pohon natal sebagai hiasan, adalah bagian dari tradisi saja, tidak ada, tidak ada perintah merayakan natal juga tidak ada perintah memasang pohon natal.

    Bagaimana sampai terjadi bahwa pohon natal (pohon terang) dijadikan hiasan perayaan Natal?

    Adanya pohon natal ini adalah bagian dari tradisi di Eropa. Dalam iklim 4 musim seperti di Eropah dimana umumnya pohon-pohon mengalami perubahan sesuai dengan iklim yang terjadi, yaitu musim salju (pohon gundul), musim semi (pohon mulai bersemi/bertunas), musim kemarau (pohon berbunga), dan musim gugur (pohon daunnya berguguran), maka kita dapat melihat bahwa pohon cemara ini merupakan pohon yang tetap hijau sepanjang ke-4 musim itu. Maka dipakailah pohon cemara ini sebagai simbol menunjukkan simbol kekekalan di tengah ketidak kekalan pohon-pohon lain, dan kemudian dijadikan lambang bahwa Kebenaran Tuhan Yesus menggambarkan ajaran yang kekal di tengah dunia yang berubah-ubah dan tidak kekal. Kemudian untuk mempercantik pohon cemara itu dihiasilah pohon itu dengan berbagai hiasan, juga lilin atau lampu-lampu.

    Pohon cemara sendiri ada disebut dalam Alkitab, yaitu:

    * Yesaya 41:19
    LAI TB, Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya.
    KJV, I will plant in the wilderness the cedar, the shittah tree, and the myrtle, and the oil tree; I will set in the desert the fir tree, and the pine, and the box tree together:
    Hebrew,
    אֶתֵּן בַּמִּדְבָּר אֶרֶז שִׁטָּה וַהֲדַס וְעֵץ שָׁמֶן אָשִׂים בָּעֲרָבָה בְּרֹושׁ תִּדְהָר וּתְאַשּׁוּר יַחְדָּו׃
    Translit, ‘ETEN BAMIDBAR ‘EREZ SITAH VAHADAS VE’ETS SYAMEN ‘ASIM BA’ARAVAH BERUSY TIDHAR UTE’ASYUR YAKHDAV

    * Yesaya 60:13
    LAI TB, Kemuliaan Libanon, yaitu pohon sanobar, pohon berangan dan pohon cemara, akan dibawa bersama-sama kepadamu, untuk mempersemarak tempat bait kudus-Ku, sebab Aku hendak memuliakan tempat kaki-Ku berjejak.
    KJV, The glory of Lebanon shall come unto thee, the fir tree, the pine tree, and the box together, to beautify the place of my sanctuary; and I will make the place of my feet glorious.
    Hebrew,
    כְּבֹוד הַלְּבָנֹון אֵלַיִךְ יָבֹוא בְּרֹושׁ תִּדְהָר וּתְאַשּׁוּר יַחְדָּו לְפָאֵר מְקֹום מִקְדָּשִׁי וּמְקֹום רַגְלַי אֲכַבֵּד׃
    Translit, KEVOD HALEVANON ‘ELAIKH YAVO’ BROSY TIDHAR UTE’ASYUR YAKHDAV LEFA’ER MEQON MIQDASYI UMEQOM RAGLEY ‘AKABED

    Pohon cemara (Ibrani תאשור – TE’ASYUR), pohon kecil (buxus longifolia boiss), tingginya ± 7 meter, daunnya selalu hijau, kayunya keras sekali. Pada Pesta Pondok Daun, kalangan Yahudi, pondok-pondok itu dibuat dari kayu cemara.

    Sekali lagi tidak ada pemberhalaan bagi pohon cemara. Pohon natal ini dalam kehidupan umat Kristiani yang merayakan natal, selain sebagai hiasan saja yang menambah semarak perayaan natal. Sebagaimana halnya perayaan-perayaan lain yang ada di dunia ini seringlkali mengkaitkan simbol-simbol tertentu dalam perayaan suatu hari besar. Misalnya, di perayaan Paskah, ada telur Paskah. Di perayaan tahun baru Lunar (Imlek) ada lampion dan jenis-jenis barang tertentu. Dalam perayaan hari lebaran umat Muslim di Indonesia ini kita melihat ada hiasan-hiasan ketupat, dll. Namun, dalam perayaan-perayaan tersebut simbol-simbol itu bukan berarti suatu berhala/ dijadikan berhala.

  5. yahudi says:

    AJARAN PLIN-PLAN KRISTEN
    Sebagaimana hampir semua orang Yahudi tahu, bahwa agama Kristen mengklaim Perjanjian Lama sebagai bagian dari kitab-kitab mereka berdasarkan pernyataan Yesus dalam kitab Matius berikut ini:

    5:17. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

    Namun demikian, perlu diingat, Yesus tidak berhenti dengan perkataan itu saja, tetapi masih ada terusannya:

    5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
    5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
    5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

    Dengan jelas dikatakan oleh Yesus dalam ayat-ayat 18,19, dan 20 di atas, bahwa hukum Taurat wajib dilaksanakan oleh umat Yesus hingga hari kiamat tiba, dan Yesus mengancam mereka yang hidup keagamaannya tidak lebih baik dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, mereka tidak akan masuk ke dalam kerajaan sorga.

    Tetapi apa yang terjadi dengan umat Kristen? Mereka dengan tegas menolak perintah Yesus dalam ayat-ayat 18,19, dan 20 di atas dengan dalih pernyataan Yesus dalam kitab Lukas berikut ini:

    16:16 Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya.
    16:17 Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.

    Tampaknya umat Kristen tidak mau tahu dengan teks-teks yang ditulis oleh pengarang Lukas tersebut, mereka menjadikan ayat-ayat Lukas tersebut untuk dijadikan pembenaran atas penolakannya terhadap perintah Yesus dalam ayat-ayat Matius 5:18-20 di atas. Padahal, teks-teks Lukas tersebut sebenarnya merupakan kutipan yang salah arah dari sumber tertentu penyusun kitabnya (mungkin Q) 1. Hal ini bisa dikonfirmasi melalui pernyataan Yesus dalam kitab Matius berikut ini:

    11:12 Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya.
    11:13 Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes

    Jadi, menurut Matius, bukanlah hukum Taurat yang berlaku hingga zaman Yohanes (Pembaptis), tetapi nubuat Tauratlah yang berlaku hingga tampilnya Yohanes.

    Lebih jauh, pengarang Lukas sendiri dalam Lukas 23:55-56 (dikutip di bawah) berkisah tentang para pengikut Yesus yang mengkuduskan hari Sabat setelah menyaksikan mayat “Yesus” dibaringkan. Sebagaimana diketahui, pengkudusan hari Sabat merupakan bagian pokok dari hukum Taurat. Bagaimana mungkin hukum Taurat berlaku sampai kepada zaman Yohanes sementara para pengikut Yesus sendiri mengkuduskan hari Sabat justru setelah “Yesus” mati?

    23:55. Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya (Yesus) dibaringkan.
    23:56. Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat.

    Penting untuk dicatat, bahwa antara pengarang Matius dan pengarang Lukas, keduanya tidak saling kenal, tidak jelas identitas para penulisnya, dan masa penyusunan keduanya juga berbeda, 2 sehingga penolakan umat Kristen terhadap perintah Yesus dalam Matius 5:18-20 dengan dalih pernyataan Yesus dalam Lukas 16:16-17 adalah akal-akalan. Sebagaimana bisa dibaca, seringkali kita menemukan kontradiksi yang serius antara kedua kitab ini (misal: kontradiksi serius masa kelahiran Yesus, silsilah Yesus, dsb.), meski keduanya diduga kuat sama-sama mengambil sebagian narasumbernya dari Markus (atau mungkin proto-Markus), disamping Q, dan sumber-sumber lisan ataupun tulisan yang khas bagi masing-masing dari keduanya. 3 Ini menunjukkan bahwa masing-masing dari kedua pengarang kitab ini benar-benar independen.

    Demikianlah ajaran Kristen, di satu sisi ia mengklaim Perjanjian Lama sebagai bagian dari kitab-kitabnya berdasarkan pernyataan Yesus dalam Matius 5:17, tetapi mereka menolak perintah Yesus dalam Matius 5:18-20 dengan dalih pernyataan Yesus dalam Lukas 16:16-17 yang salah arah ini. Akhirnya, jika kita tidak dianugerahi akal sehat dan etika sopan-santun yang memadai, sudah barang tentu kita akan menertawakan keyakinan plin-plan seperti ini.

    Keterangan:

    1. Q adalah istilah Jerman Quelle yang berarti sumber. Ada tiga lapisan Q yang berbeda, yaitu Q1 (tahun 50 M), Q2 (tahun 65 M), dan Q3 (tahun 75 M). [A) Robinson JM (1971a) B) Robinson JM (1971b) C) Koester H (1971a) D) Mack BL (1996)]. Selengkapnya baca di sini.

    2. Kitab Matius dikompilasi sekitar tahun 85 M, sedangkan kitab Lukas dikompilasi sekitar tahun 95 M. [A) Duncan GB (1971) B) Sunberg AC (1971) C) Kee HC (1971) D) Leon Dufour X (1983) E) Mack BL (1996) F) Fenton JC (1973) G) Asimov I (1969) H) Baird W (1971)]. Namun demikian, Caird GB, pada tahun 1972 dalam bukunya yang berjudul Saint Luke, terbitan Penguin Books, Baltimore, menyatakan bahwa ada versi Lukas yang lebih awal, yang bisa disebut proto-Lukas, yang disusun sekitar tahun 60 M, dan yang dimulai dengan pembaptisan Yesus, sebagaimana dimiliki Markus.

    3. A) Mack BL (1996) B) Kee HC (1971) C) Filson FV (1971) D) Burch EW (1929) E) Baird W (1971).

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video

Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.