Puisi seorang isteri soal kekerasan suaminya

Posted by Jarar Siahaan on Apr 28th, 2008 and filed under Inspirasi, cinta. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Aku mendapat bunga hari ini
meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku.
Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar
dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya
karena hari ini ia mengirim aku bunga.

air mata wanita Puisi seorang isteri soal kekerasan suaminyaAku mendapat bunga hari ini.
Ini bukan ulang tahun perkawinan kami atau hari istimewa kami.
Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku
Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya
karena ia mengirim bunga padaku hari ini.

Aku mendapat bunga hari ini,
padahal hari ini bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain.
Semalam ia memukuli aku lagi, lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu.
Aku takut padanya tetapi aku takut meningggalkannya.
Aku tidak punya uang.
Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam,
karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.

Ada bunga untukku hari ini.
Hari ini adalah hari istimewa: inilah hari pemakamanku.
Ia menganiayaku sampai mati tadi malam.
Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya,
aku tidak akan mendapat bunga lagi hari ini….

PS: Tolong di-forward ke perempuan di belahan dunia manapun.
Kadang wanita terlalu lemah dan menerima saja untuk disakiti.

STOP KEKERASAN PADA WANITA!

Jeritan hati berbentuk “puisi” di atas diterima Blog Berita lewat kiriman email seorang pembaca di Jakarta, MW, yang mengutipnya dari blog Chiclicious, dan blog tersebut mengutipnya dari sumber lain. Setelah mencari di Google, aku menemukan bahwa kisah ini sudah dikutip banyak situs selama beberapa tahun terakhir. Penulisnya tidak memakai identitas alias anonim.

Untuk isteri-isteri yang mengalami kekerasan oleh suami, jangan takut mengadukannya. Datangi kantor polisi terdekat, atau LSM pembela perempuan di kotamu, atau Komnas Perempuan, atau setidaknya ceritakan pada keluarga dan sahabatmu.

Komnas Perempuan is an independent National Commission that promotes women’s human rights by working to create an environment conducive to the elimination of all forms of violence against women in Indonesia.

Sebarkan kisah ini kepada teman-temanmu, klik Kirim artikel ini ke teman yang terdapat di bawah kotak pencari Google.

Baca juga: Kelamin isteri disundut rokok

tafbutton blue16 Puisi seorang isteri soal kekerasan suaminya

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

12 Responses for “Puisi seorang isteri soal kekerasan suaminya”

  1. zuni says:

    Kalau kita ingin di hargai hargai lha calon suami entar, Tuntut lha ilmu untuk anak-anak kita atau mengantikan posisi suami dengan suatu alasan mereka tidak bisa menjadi tulang punggung kita lagi (bukan malah mencari yang baru), bukan untuk menjadi wanita karir yang melupakan peranannya dirumah dan klo dha kekerasan dalam rumah tangga yang kita bisa menyelesaikan dengan bijak

  2. ogim says:

    bagus juga kok //^/_\^\\

  3. KitriDewi says:

    Saya paling geregeten dengan cerita sejenis ini, bukan pada pihak suami, tapi pihak perempuan yang salah menempatkan diri dan terjebak dalam persepsi yang salah mengenai berbakti pada suami.

    Istri wajib berbakti kepada suami, ok, tapi ini tidak hanya sebatas mencintai, melayani, dan memastikan suaminya bahagia. Yang tidak kalah wajib adalah termasuk mengingatkan bila suaminya melakukan kesalahan serius yang melanggar kode etik tata susila dan nilai-nilai kebenaran yang sebenarnya justru menjadi kewajiban sekaligus kehormatannya untuk menegakkannya sebagai imam dan pemimpin keluarga . Jadi bukan hanya dalam rangka menyelamatkan dirinya tapi untuk kepentingan yang lebih besar, bahwa suami ini role model bagi anak-anaknya dan punya peranan mutlak sangat penting bagi pembentukan karakter mereka hingga dewasa.

    Banyak wanita/kaum ibu yang lebih mencintai diri sendiri daripada keluarga seutuhnya dalam perspektif yang lebih besar. Berkali-kali sudah saya mendengar cerita seorang ibu yang membiarkan dirinya dianiaya di depan anak2nya, bahkan ada yang lebih tragis, membiarkan suami memperkosa anak kandungnya sendiri berulang-ulang hanya karena takut. Tidak peduli bagiaman perasaan dan trauma si anak yang penting diri sendiri aman. Gila!

    Ibu/wanita jenis ini lebih mementingkan rasa takutnya daripada keselamatan anak-anaknya, dan itu sebabnya saya bilang lebih mencintai diri sendiri daripada anak-anaknya. Biarin anak2nya melihat contoh yang merusak karakter mereka bila dewasa nanti daripada diri sendiri yang sudah sengsara tambah sengsara. Biarlah anak2 menyaksikan kekerasan dari figur idola mereka daripada diri sendiri harus hidup dengan status menjanda dan cari makan sendiri.

    Egois! Dan itulah yang melemahkan mereka. Cinta diri itulah yang membuat mereka lumpuh dan kehilangan keberanian untuk paling tidak untuk do something untuk membuat keadaan berbeda.

    Saya sama sekali tidak terharu dengan puisi di atas, saya hanya memikirkan anak-anak yang ditinggalkannya dengan bapak model seperti itu. So stupid and selfish. Anak-anaknya yang jadi korban. Itu puisinya wanita egois dan bodoh.

    Saya lebih menghargai wanita/ibu yang berani mengambil resiko apapun for the best interest of their children dan masa depan mereka, termasuk resiko harus kerja membanting tulang menghidupi anak-anaknya sendiri, menerjang sejuta badai rintangan dan citra buruk hidup menjanda, daripada yang mengedepankan selfish interest menjaga keutuhan rumah tangga tapi jelas-jelas mengorbankan kepentingan lahir dan batin anak-anaknya.

    Saya tahu pendapat saya ini kontroversial, tapi begitulah, ini pendapat jujur saya.

  4. elljodie says:

    ini nih yang gw kaga ngarti… isteri udah baek, setia, eh… malah disakiti, dianiaya lahir maupun bathin…
    padahal dulu waktu ketemu pertama kali bilangna bakal ngejaga, bakal ngerawat, bakal bla bla bla… akad nikahna pake atas nama Allah [syahadat dalam Islam]…
    eh… pas udah jadi bininya, malah disakitin… dah gitu makan dari gaji dia, numpang di rumah mertua…
    ini nih yang malu2in korps “PARA LELAKI”.
    dan, mereka bukan lelaki, tetapi “bencong sejati”… bapukkk… go to hell laki kayak ginih…
    yang bikin gw enek, bini udah disakitin, ehh… “dipake” juga…
    sialan dangkalan sialannn….
    masalahna, tu laki udah menutup kesempatan buat lelaki lain yang ga “bencong”… lelaki lain yang bakal bisa melindungi cewek itu, yang bakal ngebahagiain dia…
    so… “BUNUH KORUPTOR!!!” lhoo??? lha iya…, mereka sama aja kek koruptor, udah korupsi kesempatan laki2 laen yang lebih baik dari dia!!! damn him!!! dan yang pasti, mereka udah menyakiti ALLAH, yang notabene sebagai saksi dalam akad nikah tersebut. Tunggu aja azabmu, wahai “para bencong!!!”

  5. Dian Sidauruk says:

    Puisi seorang lelaki sinting tentang airmata wanita:

    Adinda, bening dan kilauan airmatamu,
    sejuk bagai air terjun di padang gurun.

    Tetes demi tetes mengalir merambati liku-liku pelipismu
    mengalir bagai bengawan

    dan, telah kunikmati pernak penik danau ini,
    mungkinkah ini terjadi tanpa airmatamu?

    Menagislah terus adinda agar danau kita semakin luas.
    Menagislah terus dinda agar ikan-ikan tak sesak nafas
    dan kelak mereka tersenyum dan berkata:
    TERIMAKSIH, AIR MATAMU ADALAH KEHIDUPAN KAMI.

  6. Saurma says:

    aku terharu baca puisi di atas, meski begitu aku salah satu wanita berbahagia yang mendapatkan suami yang baik hati. aku bersyukur banget, cuma ketika rame-ramenya bicara emansipasi wanita, masalah kawin cerai juga rame sekali di tv, apakah emansipasi wanita berdampak menjadi wanita jadi seorang pembrani (termasuk melawan suami), boleh-boleh aja minta perlindungan ke Komnas Perempuan, tapi bukan harus ceraikan? banyak artis yang kawin cerai dengan alasan “sudah tidak cocok lagi-tidak bisa disatukan lagi” tapi didepan publik masih bisa bersalaman, dan cium kening (sesuatu yang aneh).apa kalau di rumah pasangan tadi lempar kuali balas dengan lempar ember hikssss.

    • Dian Sidauruk says:

      Mengapa suamimu baik hati padamu? Karena kau telah menghormati dia dan memberi kebaikan padanya. Coba kalau kau tidak menghormati dia, misalnya kau marnonang dan bergossip, apa suamimu tetap baik padamu? Perlu dipertanyakan, jangan-jangan dia tak punya harga diri sebagai seorang suami. Di agama saya: Suami adalah IMAM di keluarga. Imam yang mendapat penghormatan sebagai IMAM maka dia akan bertindak sebagai IMAM. Kalau sudah dihormati dan diberi kebaikan, tetapi tetap berlaku kasar, maka: GANTUNG DIA, HAJAR sampai maliklik, ok? :)

  7. Farida Simanjuntak says:

    Bagiku, manusia paling rendah di dunia ini adalah seorang laki-laki yang mampu memukuli wanita apalagi istri sendiri yang sudah melahirkan anak-anaknya. Tapi memang tidak bisa dipungkiri keuangan menjadi masalah pokok yang membuat wanita hanya bisa pasrah. Juga rasa takut akan dipisahkan dari anak-anaknya. Dua hal ini membuat para lelaki yang “hanya berani dengan wanita”, menjadi merasa diatas angin dan berkuasa. Bagiku, sudah saatnya wanita bangkit. Kita juga punya akal pikiran dan tenaga untuk mencari nafkah. Biar sedikit yang penting kita boleh tunjukkan bahwa wanita juga memiliki martabat yang tinggi.
    Bagi lelaki pengecut, hentikan melakukan kekerasan pada wanita karena kalian pun terlahir dari rahim seorang wanita..

    • Dian Sidauruk says:

      Hormati suamimu maka kau akan dibuat jadi RATU nya. Bila kau sudah menghormati suamimu tetapi tetap melakukan kekerasan terhadapmu maka laporkan ke pada yang berwajib, suami seperti itu perlu diganjar.

      • Dian Sidauruk says:

        Tambahan ito: Kalau yang berwajib tidak mengganjarnya, ganjar sendirlah dia:
        RIBAK BUTUHANANA I. SOMAL..! :)

  8. Riko Himpal says:

    Stop Kekerasan pada wanita..

  9. siMunGiL says:

    terimakasih sudah berbagi, Bang!

    Saya senang bisa memberi sesuatu yang berarti bagi perempuan Indonesia. Semoga kaum lelaki juga bisa semakin menghargai perempuan.

    terimakasih yah, ini berarti banged!

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.