Benarkah Namru menyaru sebagai spionase? Wawancara Amien Rais soal kasus Ahmadiyah. Liputan khusus Tempo: fakultas-fakultas favorit dan profesi paling digemari sarjana Indonesia.
Laboratorium kesehatan milik Amerika Serikat di Indonesia, Namru, dicurigai sebagai lembaga mata-mata. Inilah cerita sampul majalah Tempo edisi terbaru yang sudah beredar. ”Mengapa laboratorium kesehatan di bawah militer?” kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Namru memiliki 175 personel, 19 di antaranya berkewarganegaraan Amerika dengan paspor diplomatik. Selebihnya merupakan tenaga profesional Indonesia, seperti dokter atau peneliti. Pihak USA membantah tudingan Namru menjadi spionase mereka. Cameron R. Humes, Duta Besar Amerika di Jakarta, memastikan lembaga itu bekerja secara transparan. Jika ingin melakukan kegiatan gelap, kata dia, Namru tidak akan beroperasi di lokasi milik Departemen Kesehatan.
Liputan lain yang sangat menarik disimak dalam edisi Tempo kali ini adalah hasil survei Pusat Data dan Analisis Tempo soal perguruan tinggi. Tempo mengulas fakultas favorit dan profesi paling digemari. “Bekerja di sektor pertambangan dan teknologi informatika, atau menjadi akuntan dan pengacara, kini menjadi idaman banyak sarjana baru,” tulis Tempo.
Bidang hukum ekonomi menjadi favorit mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia; bekal bekerja di firma hukum dengan gaji dolar. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tetap menjadi favorit; dokter senior bisa berpenghasilan Rp 400 juta sebulan. Perusahaan minyak mengijon mahasiswa perminyakan Institut Teknologi Bandung; seperempat lulusannya langsung bekerja di luar negeri dengan gaji sekitar Rp 50 juta. Banyak perusahaan sudah melirik mahasiswa Bina Nusantara sejak mereka masih di kampus; untuk bidang teknologi informatika, universitas ini termasuk pilihan.
Amien Rais, bekas Ketua MPR dan Muhammadiyah, diwawancarai perihal rekomendasi Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat kepada pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah — aliran yang tidak mengakui Muhammad sebagai nabi terakhir, dan karenanya mereka sering diserang oleh “kelompok Islam”. Seperti halnya sikap anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Adnan Buyung Nasution, Amien Rais pun membela Ahmadiyah supaya diberi kebebasan menjalankan kepercayaannya, karena hal itu dijamin dalam hukum kita.
Antara lain Amien Rais berkata pada Tempo: “Ahmadiyah sudah ada di Indonesia sejak saya kecil. Ketika saya masuk Universitas Gadjah Mada pada 1962, saya lihat beberapa tokoh universitas ada yang menjadi penganut Ahmadiyah. Yang terkenal itu Doktor Ahmad Djojosoegito. Mereka juga punya sekolah teknik menengah dan sekolah menengah atas di Yogyakarta.”
“Kalau dilarang akan menjadi preseden yang luar biasa. Kapan-kapan kalau ada sebuah sekte muncul dan tidak sesuai dengan selera serta pandangan keimanan mainstream, kembali akan dihajar, dengan diktum sebagai aliran sesat dan ramai-ramai akan dikeroyok massa.”
“Mengapa dalam dua tahun terakhir ini diributkan? Kalau Ahmadiyah dikatakan menyimpang dari akidah Sunni, sejak lahirnya, ya, sudah menyimpang.”
Semua liputan eksklusif itu, beserta puluhan artikel lain yang “enak dibaca dan perlu”, hanya bisa kaubaca di majalah Tempo. Ayo, beli. Jangan lupa untukku satu.
Bercanda. — Jarar Siahaan; Blog Berita; Toba Samosir

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















Apapun aliran,agama dan kepercayaan seseorang gak perlu dipertanyakan, dihujat, ataupun diadili kadar keimanannya. Kalo tutur kata, sikap, perilaku dan perbuatannya mencerminkan kehendak Illahi,pembawa damai bagi sesama. Terkutuklah mereka yang suka mengadili dengan pemaksaan kehendak, arogan, kekerasan,ataupun fatwa seolah-olah wakil dari Tuhan ?
Begitu saja kok repot, kalo memang belum paham ya mbok tanya, kalo ingin pinter ya mbok belajar, kalo pingin baca tempo ya belilah…..,kalo ingin …..ya…gitu saja kok repot….
BELI MAJALAH TEMPO. HABIS BACA, KASI AKU YA, JANGAN LUPA
Ayo langganan MAJALAH TEMPO, kayak awak yang sudah langganan ini. Delivery-nya on time boo, setiap senin pagi jam 07.30 sdh tiba. Majalahnya lugas dan mendidik…
@ anti TEMPO
Saya kadang bingung, koq kayaknya semakin banyak ya orang yang dengan mudahnya meragukan keislaman/keimanan seseorang???
Apa saja sih yang jadi kriteria ketidak islaman mereka? lalu apa dasarnya kita merasa “lebih islam” dari mereka? apa sih kriteria media yang AGAMAIS?
Bukankah kadar keimanan hanya Tuhan yang tahu? mungkin saja satpam kampus atau kantor kita jauh lebih beriman dari kita? gak ada yang tau kan?
bukankah ada hadits : “barangsiapa yang mengkafirkan (menuduh kafir)seseorang , sedangkan seseorang itu tidak kafir, maka justru kita yang kafir”
hadits itu sebenarnya mengajarkan kita untuk selalu bercermin diri dan tidak merasa lebih tinggi, sehingga tidak akan terjadi yang namanya saling menyalahkan, mengkafirkan, dsb.
Kalo begitu :
Saya juga heran menilai anda : Kok berani2 nya ya ngomong bingung menilai pendapat orang lain. Memang anda Tuhan ?
Pikirkan ke diri anda sendiri yang juga sok menilai orang lain.
Kaslo menurut anda orang yg mengkafir2kan itu salah, lalu apa alasan anda men-salah-kan dia ?
Dalil Al Qur’an dan hadist juga kan ? Emang anda Tuhan, yang sok tau seperti itulah maksud tafsirnya ?
Kalo begitu: MARI KITA BERBINGUNG RIA..
YA WAJAR AMIEN RAIS SAMA LAWYER BUYUNG NASUTION NGOMONG GITU, KE-2 ORANG INI KAN ‘NGGAK JELAS KEISLAMANNYA GIMANA??
JANGAN BELI TEMPO!!!!
TEMPO = MEDIA YANG TIDAK “AGAMAIS”, INGIN MEMBAWA INDONESIA MENJADI SEKULER SEPERTI BARAT.
BACA KORAN REPUBLIKA!!!!! (PROMOSI DULU BUNG ADMIN, SOALNYA GW LANGGANAN REPUBLIKA SOALNYA….)
Amin Rais dan Buyung dalam hal ini bertindak sebagai PEMBELA HAM.
Amein rais pengen menarik simpati massa saja.
Masih pengen jadi Presiden kali …
Bapak pembela HAM itukan GUS DUR, tau’.
Lihatlah di Partainya, betapa demokrasi dan kebebasan itu sedemikian dia sanjung setinggi-tingginya.
Apakah itu berarti gambaran para pengaku pembela HAM yang lain seperti GUS DUR itu juga ya ?
GUS DUR? Nggak usah dibicarakan. Semua orang tahu bahwa beliau adalah TOKOH, DEDENGKOT, MASTER, MOTOR, dan ROH pembela HAM. Darah keluarga itu adalah darah pembela HAM.
Amin Rais dan Buyung bertindak sebagai pembela dalam HAL masalah Ahmadyiah, tau’
Membela yang lain aku belum lihat.