Ian Kasolo ‘Dangdut TPI’ jadi kurir katering
Inilah korban mimpi yang dijual oleh stasiun tivi Indonesia. Memang ada yang sukses jadi penyanyi profesional, seperti Joy Destiny Tobing, tapi yang lainnya jadi apa? Siapa yang tahu kabar Ferry AFI?
Sekitar sebulan lalu harian Kompas memberitakan nasib Ian Kasolo, bekas bintang Kontes Dangdut Mania [KDI] di stasiun TPI, yang kini bekerja sebagai … pengantar katering ke rumah-rumah. Waktu ikut kontes, dia menghabiskan puluhan juta rupiah untuk mengirim SMS supaya dia jadi pemenang KDI. Di bawah ini Blog Berita mengutip cerita hidup Ian Kasolo dari suratkabar Kompas.
Setahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, Muhammad alias Ian Kasolo [39] tampil di televisi sebagai ”selebriti” yang tampak glamor. Kini, dia terpaksa bekerja serabutan sebagai pengantar makanan di sebuah usaha katering rumahan. Ini bukan cerita sinetron, namun sebuah kisah nyata. Ian Kasolo yang dulu sempat menjadi ikon acara kontes menyanyi Dangdut Mania I di stasiun TPI bersama Siti Pijat, Ju pri Asong, dan Agus Kenek, kini jauh dari dunia glamor. Hidupnya bisa dibilang terkatung-katung tanpa pekerjaan dan uang.
Kini, Ian menumpang di rumah Ucok Koki yang juga peserta Dangdut Mania I. Di rumah ini, dia membantu istri Ucok yang menjalankan usaha katering rumahan. Setiap pukul 05.00, Ian bangun dan membantu memasak. Sekitar pukul 07.00, dia keliling mengantarkan rantang berisi makanan pesanan ke pelanggan. ”Ya, beginilah kegiatan saya. Yang penting saya punya tempat berteduh dan bisa makan,” ujar Ian. Sebelum ditampung di rumah Ucok Koki, Ian sempat menggelandang dan tidak makan dua hari karena tidak mempunyai uang.
Bagaimana kehidupan Ian berubah drastis dalam setahun? Semua ini bermula ketika Ian melihat iklan kontes menyanyi yang seolah-olah bisa menyulap siapa saja menjadi artis terkenal dengan cepat. Ian yang merasa punya bakat menyanyi dangdut dan akting memutuskan ikut salah satu kontes itu. Pilihannya jatuh ke acara Dangdut Mania I.
Singkat cerita, bujangan asal Solo, Jawa Tengah, itu lolos audisi dengan menyingkirkan ribuan peserta dan berhak mengikuti kontes di Jakarta. Karena mimpi menjadi artis begitu besar, pemuda lulusan SMA ini rela meninggalkan pekerjaan tetap sebagai kurir di bank swasta di Solo yang memberinya penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan.
Awalnya semua berjalan sesuai mimpi. Di Jakarta, Ian dan 19 peserta Dangdut Mania lainnya diperlakukan layaknya artis. Produser Dangdut Mania I mengubah nama Muhammad menjadi Ian Kasolo karena wajahnya dianggap mirip vokalis band Radja, Ian Kasela. Penampilannya pun dipermak. Rambutnya dicat kuning acak. Dia juga diberi kostum dan kaca mata hitam seperti yang biasa dikenakan Ian Kasela. ”Kami juga diperlakukan seperti raja. Kami tinggal di sebuah vila. Mau makan di restoran mana saja tinggal bilang,” ujar Ian mengenang.
Kemewahan semacam itu baru pertama kali Ian rasakan. Pasalnya, kehidupan Ian selama di Solo jauh dari mewah. Dia tinggal berjejalan di sebuah rumah petak berukuran 3 x 4 meter persegi bersama ibu, kakak, dan seorang keponakan. Pengalaman bersentuhan dengan kemewahan itulah yang membuat Ian semakin bertekad untuk menjadi artis terkenal dan dia merasa pintu itu terbuka baginya. ”Bayangkan, setiap kali saya nyanyi, orang- orang memanggil nama saya. Ketika promosi, orang rebutan minta tanda tangan dan foto saya. Saya juga masuk koran,” kata Ian yang terkenal dengan ”goyang suster ngesot”.
Ian makin berbunga-bunga ketika mendengar isu pemenang Dangdut Mania I akan dikontrak menjadi artis TPI. ”Saya semakin bertekad memenangi kontes ini. Karena itu, tiap minggu saya ngebom SMS,” katanya. Ngebom SMS yang dimaksud adalah mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri agar perolehan suaranya terdongkrak. ”Saya bisa menghabiskan uang Rp 5 juta untuk beli voucher pulsa telepon setiap minggu. Kalau ditotal, selama acara ini saya habis Rp 30 juta,” kata Ian yang memperoleh uang sebanyak itu dari pinjaman keluarga dan lintah darat.
Hal itu dilakukan juga peserta lain. Ida Nyonya mengaku menghabiskan Rp 20 juta untuk ngebom. Hasilnya, nihil. Ian dan Ida akhirnya tereliminasi juga. ”Kalau tahu jadinya begini, saya tidak akan menghabiskan uang jutaan. Sekarang terkenal tidak, terlilit utang iya,” ujar Ian.
Manajer Humas TPI Theresia Ellasari mengatakan, pihaknya telah berkali-kali berpesan kepada peserta kontes menyanyi agar tidak usah berlomba mengirim SMS untuk dirinya sendiri. ”Itu tidak ada gunanya sebab pemenang ditentukan SMS kiriman pemirsa yang jumlahnya jutaan,” katanya.
Harapan menjadi artis terkenal sempat muncul lagi ketika Ian diajak TPI main sinetron, menyanyi pada acara off air dan jadi bintang iklan dengan bayaran Rp 500.000 - Rp 1.500.000. Namun, setelah itu masa-masa manis menjadi selebriti benar-benar berakhir. Tidak ada lagi order manggung dari TPI.
Setelah itu, Ian kadang ikut manggung di kampung-kampung bersama Ucok Koki atau Pardi Hallo, peserta Dangdut Mania I yang sekarang menjadi penyelenggara konser dangdut kecil-kecilan. Bayaran yang diterima Ian sekitar Rp 100 ribu-Rp 200 ribu sekali tampil. Namun order seperti ini tidak selalu datang tiap minggu. “Saya sempat frustrasi dan mau bunuh diri. Mau pulang ke Solo saya malu karena keluarga dan teman-teman sudah telanjur menganggap saya sebagai artis sukses yang banyak duit,” katanya.
Nasib serupa juga dialami Jupriadi alias Jupri Asong dan Ida Nyonya. Jupri mengaku, setelah menjadi juara II Dangdut Mania I, dia berhenti mengasong. ”Kata teman-teman, saya tidak pantas lagi mengasong sebab saya sudah jadi artis,” ujarnya.
Jupri Asong pun mencoba mengandalkan hidup dengan menyanyi. Namun, undangan menyanyi belum tentu muncul satu bulan sekali dengan bayaran paling besar Rp 500 ribu. ”Akhirnya, uang hadiah yang jumlahnya sekitar Rp 28 juta habis untuk makan keluarga. Sekarang saya benar-benar miskin. Mau ngasong lagi, saya tidak punya modal,” ujar Jupri yang harus menghidupi istri dan tiga anaknya.
Kini Jupri berniat menjual rumah tipe 21 miliknya di Tangerang yang merupakan harta dia satu-satunya saat ini. Uangnya akan digunakan untuk modal berdagang lagi. ”Saya benar-benar kapok ikut acara semacam ini. Saya kira pemenangnya akan diorbitkan jadi artis.”
Theresia mengatakan, TPI tak pernah berjanji mengorbitkan peserta Dangdut Mania I menjadi artis. ”Kami hanya memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil di televisi. Kalau mereka disukai penonton dan kemudian jadi artis, itu adalah bonus,” katanya.
Ya, inilah drama dari sebuah kebudayaan instan yang terus direproduksi televisi melalui kontes menyanyi, idola-idolaan, mama-mamaan, dan juga sinetron. Sebuah kebudayaan yang selalu memberikan mimpi bahwa sukses dan popularitas bisa diperoleh dalam waktu singkat. [Kompas; Budi Suwarna; Foto oleh Yuniadhi Agung]
BLOG BERITA: Menarik apa yang dikatakan pihak TPI, bahwa pihak tivi tidak pernah berjanji orbitkan peserta kontes untuk jadi artis. Maka inilah pelajaran buat remaja-remaja Indonesia:
- Jangan pernah bermimpi jadi selebriti hanya dengan menjuarai kontes menyanyi di tivi, apalagi kalau “hanya” ditentukan oleh jumlah SMS — yang bisa dibom — dan “jurinya” cuma sekelas Madam Irvan yang tidak tahu-menahu seluk-beluk seni tarik-suara.
- Untuk remaja yang sudah terlanjur ikut kontes di sejumlah tivi, simaklah baik-baik apa yang dijanjikan pihak tivi kepada kalian, dan mintalah kontrak tertulis.
- Ingatlah: Pada dasarnya tivi meraup banyak duit dari iklan para sponsor dengan “mengeksploitasi” suara kalian dan air mata penonton. Setiap urat di lehermu tampak di layar tivi saat melagukan nada tinggi, setiap penonton berkirim SMS untuk mendukungmu, setiap engkau didaulat mengisi paket acara lain di stasiun tivi itu, maka saat itu pundi-pundi uang tivi telah membengkak. Jangan bodoh! Minta bagianmu, tagih honormu, tuntut royaltimu.
- Untuk para orangtua, plis dong ah, jangan dorong anak-anakmu jadi kaya mendadak dengan kontes-kontesan, seperti halnya banyak orangtua menginginkan anaknya jadi PNS atau polisi. Hanya satu-dua pemenang “adu urat-leher” yang bernasib jadi kaya-raya, dan tidak mungkin PNS atau polisi bisa jadi kaya kalau tidak melakukan ko… - ko…. Tau’ ah, gelap.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

Sebenarnya ikut hal-hal tersebut nggak apa-apa. Namanya juga usaha toh. Tapi penting untuk mengukur kemampuan diri sendiri. Jangan jadi besar pasak daripada tiang.
[reply to this comment]
Pepatah mengatakan “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian” sangat tepat untuk melukiskan perjuangan yang kita harus lalui dari nol hingga kesuksesan yang kita capai pun akan terasa sangat luar biasa dan kalau Tuhan mengijinkan untuk selamanya. Segala sesuatunya yang dicapai secara instant tidak akan bertahan lama. Tapi kita juga tidak boleh menyalahkan pihak televisi yang mau memberi kesempatan buat seluruh masyarakat untuk merasakan hidup sebagai artis. Tinggal masyarakat saja harus bijak untuk menyikapinya.
[reply to this comment]
ya ilah, aku kirain tadi ian kasela vokalis radjaband..
[reply to this comment]