Pedoman bagi pemimpin redaksi media

Dalam persaingan bisnis media, yang cerdik dan jernih lebih sering menang daripada yang jantan dan kesatria.

Oleh Nono Anwar Makarim; artikel ini disarikan Blog Berita dari buku “Pengetahuan dasar jurnalistik” terbitan Media Sejahtera, 1991.

Seorang pemimpin redaksi [pemred] harus memiliki pengertian mendalam terhadap tujuan, kegiatan, dan segala kesulitan teknis yang dihadapi bagian distribusi dan iklan. Pemimpin redaksi juga harus berperan aktif mengembangkan sektor manajemen medianya.

Pemred harus memilih sasaran publik yang terbatas. Tapi tidak terlalu terbatas sehingga korannya mati karena oplah kecil, juga tidak terlalu luas sehingga korannya mati karena isinya dianggap terlalu umum. Semakin rinci gambaran seorang pemred tentang publik sasarannya, semakin terarah pula dia mampu menggariskan kebijakan redaksional medianya.

Dalam tahap permulaan terbit, pemred hendaknya tidak terlalu ambisius memilih kota-kota pusat peredaran korannya.

Pemred harus mengamati secara teliti dan terus-menerus perihal “manusia” dan “lingkungannya”. Pengamatan yang cermat ini akan menjadi modal utama baginya untuk mengikuti perubahan di tengah masyarakat, dan kemudian diapakai menggariskan kebijakan korannya.

Dia harus mencari-tahu apa kebijakan redaksional koran-koran saingannya. Dalam bisnis media, kemenangan lebih sering diraih oleh media yang cerdik dan berpengalaman jernih ketimbang yang jantan dan kesatria.

Dia harus bekerja sama secara produktif dengan pemimpin perusahaan. Setiap hari pemred harus mengadakan rapat dengan setidaknya seluruh redaktur. Sedikitnya sekali dalam satu tahun dia harus mendesak pemimpin umum untuk menyelenggarakan survei pembaca.

Dia harus “memelihara” sumber-sumber berita yang menduduki posisi-posisi penting.

Pemred harus meminta koordinator liputan untuk mengembangkan berita-berita yang perlu bagi citra korannya, dan sebaliknya berita yang tidak mendukung image koran supaya tidak lagi dimuat. Dia harus mampu mengarahkan redaktur olahraga, redaktur feature, dan redaktur lainnya pada isu-isu penting.

Dalam pemberitaan konflik di tengah masyarakat, pemred harus mampu mengarahkan medianya untuk menyajikan tulisan yang menurunkan derajat emosi ke derajat akal sehat. Dia tidak boleh terbawa arus emosi publik, pun tidak menjadikan konflik sosial itu semata-mata sebagai kesempatan untuk meraih laba. Dia harus menghindari berita-berita yang “dibumbui”. Hal ini akan sangat tergantung pada kepribadian si pemred.

BLOG BERITA: Sebenarnya dalam buku tersebut terdapat banyak halaman sehubungan tugas pemimpin redaksi, tapi aku hanya mengambil intisarinya. Untuk menutup artikel ini, kuambil satu poin lagi dari tulisan Makarim:

Ilustrasi gedung bioskop terbakar. Berteriak “kebakaran!” akan menimbulkan panik, sedangkan diam akan mengakibatkan banyak penonton musnah terbakar. Pemimpin redaksi harus mampu memecahkan masalah seperti ini.

  • Catatan tentang penulis: Nono Anwar Makarim saat ini aktif di Yayasan Aksara dan sebagai penulis kolom majalah Tempo, pemimpin redaksi Harian Kami [1966-1973], mendapat gelar LLM dari Harvard Law School.
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

2 Responses to “Pedoman bagi pemimpin redaksi media”

  1. Bagaimana dengan Pemred Blogberita?? He..He…Maju Terus. Horas Lae…!!!!

    BLOG BERITA: nantilah…, aku belajar dulu jadi pemred. di blog berita, aku cuma pemilik merangkap penulis plus tukang posting atawa babu tinta. ;-)

    [reply to this comment]

  2. Satu pelajaran lagi yg saya dapat dari blog ini. Rasanya memang Jarar sudah bisa naik ke jenjang yg lebih lagi…(bacalah emailku ya)

    [reply to this comment]

Tulis komentar pada kolom di bawah

Tampilkan artikelmu di Blog Berita: berbentuk opini, feature, berita, tips unik, atau cerpen.