32 artikel Tempo soal kejayaan konglomerat

“Ah, nggak butuh,” kata bos Djarum saat disodorkan supaya bisa duduk dekat Presiden Megawati dalam sebuah acara.

tempo-sampul-majalah 32 artikel Tempo soal kejayaan konglomeratJarar Siahaan; Blog Berita; Balige; Sumut

Majalah Tempo edisi minggu ini menurunkan liputan utama berjudul Mengapa pemain lama berjaya. Sebanyak 32 artikel mengulas “kiat” kesuksesan para pengusaha nasional. Mulai keluarga Jusuf Kalla, Grup Bakrie, hingga Ciputra.

Para pengusaha tidak bisa menembus Presiden Yudhoyono secara langsung. Beberapa pelaku bisnis mencari celah yang berliku.

Sejumlah pengusaha bermasalah merapat ke Megawati saat berkuasa melalui Taufiq Kiemas. Ada istilah “jaringan Palembang”.

Bisnis keluarga besar Jusuf Kalla [JK] bertahan melewati badai reformasi. Mereka banyak tertolong oleh benteng usaha di Makassar. Halim Kalla, adik JK, mengatakan keluarganya berusaha agar Jusuf tidak tercemar namanya selama menjadi wakil presiden. Semua proyek yang mereka ikuti ditenderkan secara transparan. ”Seperti manusia lain, kami takut dengan para penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi,” ujarnya sembari tertawa. Bahwa kadang-kadang keluarga Kalla mendapat prioritas, kata Halim, itu ibarat menonton film di bioskop. ”Sementara yang lain harus antre panjang, kami bisa langsung masuk di urutan kedua atau ketiga. Tapi kami tetap beli tiket sesuai dengan prosedur.”

Satu dasawarsa silam nama Arifin Panigoro, bekas politisi PDIP, ”tidak terdeteksi” di daftar 77 orang terkaya versi Pusat Data Bisnis Indonesia. Kini ia bertengger di papan atas. Hartanya bernilai US$ 880 juta atau sekitar Rp 8 triliun. Tak aneh, ia mudah saja membuat para musisi kelas dunia manggung di rumahnya, termasuk peniup saksofon Dave Koz. Arifin menyebut ia sukses salah satunya adalah karena “kebetulan”; di saat harga minyak dunia melambung, bisnis minyaknya pun merambah hingga Libya dan Brasil.

Grup Bakrie bangkit dari kebangkrutan. Posisi Aburizal di kabinet membuat sepak terjang bisnisnya ditakuti pesaing.

Menurut Ciputra, 77 tahun, ”Dengan jiwa wirausaha, seseorang bisa mengubah rongsokan menjadi emas.” Orang yang tidak memiliki uang bisa menghasilkan uang. ”Kalian pikir Ciputra, Bakrie, atau Liem Sioe Liong punya modal (dana)? Modalnya, ya, entrepreneurship itu,” kata Ciputra.

“Kalian tidak perlu dikenal orang. Cukup barangnya saja yang dikenal orang.” Petuah Johannes Ferdinand Katuari, pendiri kelompok usaha Wings, ini telah menjadi filosofi perusahaan. Itu sebabnya tidak banyak yang diketahui tentang raja sabun Indonesia ini, meski keluarga Katuari sudah sejak 2006 masuk 10 besar pengusaha terkaya di Indonesia versi majalah Forbes.

Melewati krisis ekonomi, pohon bisnis Djarum justru semakin rimbun. Tetap menjaga jarak dengan kekuasaan. Robert Budi Hartono, 67 tahun, bos Djarum, bahkan menolak tawaran untuk bisa duduk dekat Presiden Megawati dalam sebuah forum bisnis di hotel mewah pada 2003.

Ada wawancara khusus Tempo dengan petinggi Petronas, perusahaan minyak Malaysia. “Kami dulu belajar dari Pertamina,” katanya. Selain liputan utama tersebut, seperti biasa, hadir pula artikel-artikel khas Tempo dalam rubrik-rubrik tetap.

Redaksi Tempo berkomentar soal edisi kali ini: “Kami sengaja memilih topik ini untuk menghindari rasa bosan: selalu saja reformasi ditulis dari angle politik. Cerita para konglomerat menjadi topik pilihan Tempo dalam edisi khusus sepuluh tahun reformasi ini merupakan semacam tinjauan sekilas ekonomi kita.”

Jangan lupa: Setelah membeli Tempo dan membacanya, simpanlah dengan rapi — jangan buang, karena setiap edisi majalah Tempo adalah buku eksklusif.

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

2 Responses to 󈬐 artikel Tempo soal kejayaan konglomerat”

  1. Gombal.. Kalau bilang, pengusaha jaga jarak dengan penguasa. Dari zaman VOC sampe sekarang, pengusaha Cina selalu menjilat penguasa.
    Dengan meminjam tangan penguasa, mereka bisa lakukan apa saja.
    Contoh kecil misalnya, bisnis judi di Jakarta tetap aman, karena di bekingi oleh Polisi dan aparat.
    Tragisnya, penguasa kita bisa dibeli oleh pengusaha.
    Kagak usah jauh-jauh. kasus Lumpur Lapindo….

    [reply to this comment]

  2. keberhasilan seseorang sudah di gariskan tuhan, tapi yang mengisi garisnya adalah kita,

    kita koreksi diri kita masing2, kita ambil teladan & yang positif dari mereka!

    jangan biarkan kita terpuruk oleh keadaan yang semakin tak menentu!

    bekerja…..bekerja……berarti menang!

    [reply to this comment]

Tulis komentar pada kolom di bawah

Tampilkan artikelmu di Blog Berita: berbentuk opini, feature, berita, tips unik, atau cerpen.