Ini Medan, bung!

Orang Medan spontan dan terbuka. “Bahkan paritnya pun terbuka,” kata doktor antropologi UGM. Istilah Ini Medan, bung muncul pada 1965.

Dikutip Blog Berita dari majalah Tempo edisi tahun 1991.

Namun orang Medan tidak ingin dianggap enteng, sehingga muncullah istilah “gaya Medan” dan “Ini Medan, bung!” Padahal slogan ini bisa diartikan primitif. Orang medan itu spontan dan terbuka. “Bahkan paritnya pun terbuka,” kata Dr. Syafri Sairin, 46 tahun. Ia membandingkan dengan Yogyakarta. “Di sana paritnya tak ada yang terbuka. Artinya, orangnya juga tertutup,” katanya.

Doktor antropologi Universitas Gadjah Mada itu bicara di forum diskusi yang diselenggarakan Kelompok Koridor, dengan anggota dosen Fakultas Sastra USU, Medan, pertengahan November 1991. Selain dengan contoh tadi, ayah tiga anak itu menunjuk pemeo “Ini Medan, Bung” sebagai manifestasi “rasa tak aman” orang Medan. Ungkapan itu menyiratkan perilaku yang mengacu pada kekuatan fisik. “Menurut teori ilmu sosial, ini tergolong masyarakat yang masih primitif,” ujar anak Medan yang sudah 28 tahun merantau di Jawa ini.

Pengamatan itu, diakuinya, tak seluruhnya benar. “Dalam ilmu sosial tidak ada yang pasti. Ada warna lain di antaranya. Tapi ada yang menonjol, dan itu masalahnya,” katanya kepada Irwan E. Siregar dari TEMPO. Memang, ada kesan dari pemeo yang muncul sekitar tahun 50-an itu, bahwa orang Medan jangan dianggap enteng. Ini diutarakan M.Y. Effendi Nasution, 57 tahun, tokoh penumpasan PKI di sana, dan lebih dari sepuluh tahun memimpin organisasi pemuda yang banyak putus sekolah. “Celakanya, sikap tidak ingin dipandang enteng ini merebak ke soal yang pribadi juga, hingga konflik gampang disulut,” katanya kepada Affan Bey Hutasuhut dari TEMPO.

Potensi konflik itu tertanam sejak zaman Belanda. Pada masa itu wilayah permukiman dibagi atas dasar ras atau suku. “Dulu yang disebut warga Medan adalah mereka yang tunduk pada hukum kolonial,” kata Prof. Dr. Usman Pelly, 53 tahun. Menurut guru besar IKIP Medan itu, masyarakat dimaksud adalah keturunan Cina, Arab, India, dan Eropa -yang masuk ke sana sejak Jacobus Nienhuijs membuka perkebunan tembakaunya sekitar pertengahan abad ke-19. Permukiman mereka itu kelak yang menjadi pusat kota. Ini tampak pada arsitektur yang kini masih tersisa. Kawasan yang didiami keturunan asing ini disebut gemeente Medan.

Sedangkan yang pribumi, seperti Melayu dan Jawa, secara administratif tak tunduk pada kolonial. Mereka di bawah kuasa Sultan Deli, hingga permukimannya disebut “Wilayah Sultan”. Ketika sudah merdeka, Medan menjadi kota terbuka. Beragam etnis masuk ke sini. Mungkin, buat menyesuaikan diri, mereka pun membuat permukiman mengelompok. Lahirlah perkampungan Orang Karo, Batak Toba, Minangkabau, dan pelbagai etnis lain yang menggelembung hingga kini.

Sebelum 1950, kelompok Toba 0,3% dari penduduk Medan. Dan 30 tahun kemudian menurut survei Usman Pelly, jumlahnya menjadi 15%. Lambat laun permukiman Cina terkepung. “Mereka terpulau,” ujar Usman. Karena tak mampu berbaur seperti halnya orang Arab atau India, mereka pindah dan membentuk kantung permukiman baru. “Di sini mereka menunjukkan sikap eksklusif, misalnya membangun pagar mirip benteng,” tambah Usman kepada Munawar Chalil dari TEMPO.

Dalam masyarakat majemuk ini paling tidak enam kelompok etnis dan ras yang dominan. Menurut penelitian, 1981, Usman menemukan 29,3% warga Medan adalah etnik Jawa, 15% Batak Toba, 14% Cina, 13% Mandailing Sipirok, 11% Minang, dan 8% Melayu. Selebihnya, Aceh, Sunda, Karo, India, dan beberapa suku lain, masing-masing di bawah 5%. Mereka inilah sekarang yang disebut orang Medan.

Tak peduli asal etnik, mereka kini mengumandangkan idiom baru, yaitu “Anak Medan”, terutama di rantau. “Bila ditanya asalnya, mereka jawab: Anak Medan,” kata Usman. Dalam nada kelakar, ia menjelaskan, orang Medan itu tak mudah mempercayai orang lain. “Mungkin, karena ia tak gampang dipercayai orang.”

Curiga tak berkeruncingan ini membuat orang Medan terpulau jika di luar. “Kalau merantau, ia mesti disosialisasikan lebih dulu,” kata Usman. Contohnya, anaknya ketika mencari tempat kos di Bogor. Beberapa rumah didatangi, selalu dijawab tak ada tempat. “Mereka menolak karena anak saya bilang dari Medan,” cerita Usman.

Situasi konflik yang diwarisi dari zaman penjajahan itu, menurut Syafri, membuat orang Medan merasa harus mengukuhkan identitas grup etniknya. “Ini bukan mendorong integrasi, tapi konflik,” ujarnya. Namun, konflik itu diakuinya penting. Secara politis, memang, perlu stabilitas. Artinya, jangan ada konflik. “Sebetulnya, konflik itu perlu untuk memacu dinamika,” katanya kepada Irwan E. Siregar dari TEMPO.

Munculnya semboyan “Ini Medan, Bung” sekitar 1965, menurut Syafri, mengandung sikap lebih unggul dari orang lain. “Cuma, sayang, hebatnya di bidang fisik,” kata Syafri. Ia sekali lagi membandingkan dengan ucapan khas Yogya, “Ini Yogya, Mas.” Itu berarti harus sopan dan bersikap intelek. “Dan Ini Medan, Bung berarti jangan main-main. Nanti saya pukul you,” kata Syafri.

Kesannya memang seram berurusan dengan orang Medan, sampai ada sebuah bank asing di Jakarta masih enggan membuka cabang di Medan. “Kalau tak memahami gaya Medan, ya, seolah berusaha di sana risikonya tinggi,” komentar Nyoman Moena kepada TEMPO.

Menurut Dirut PT Surveyor Indonesia dan salah satu pemrakarsa Bank Muamalat Indonesia ini, pengusaha Medan yang terdiri dari beragam etnis itu membuat suasana bisnis di sana jadi dinamis. Tapi tak berarti mereka meninggalkan etika bisnis. Satu bukti, menurut Nyoman Moena, kredit macet di Medan justru lebih kecil dibandingkan di daerah lain.

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

31 Responses to “Ini Medan, bung!”

  1. apakah betul se- “serem” itu….? pasti tidak kan…

    [reply to this comment]

    darmadi reply on 19 May 2008:

    Loe yang asalnya dari Medan, yang nggak seram. Gue, aja yang orang Batak, tapi lahir di Jawa takut banget ke Medan. Seram dan sangar.
    Sedihnya, orang Medan senang banget, kalau banyak orang bilang Medan itu serem. Konyol, nggak.?
    Itu, baru Medan. Belum Pematang Siantar. Lebih seram lagi. Kalau malam, kotanya sepi karena warga aslinya aja merasa tidak aman berjalan malam hari.
    “Nggak usah, keluar malam di Siantar, banyak penodong”, kata saudara gue yang asli dan tinggal di Sintar. Makanya, gue malas ke sono. Padahal, famili gue banyak di sana.

    [reply to this comment]

    caius-x reply on 20 May 2008:

    Wah laek darmadi ini lah..

    Laek terlalu membesar²kan ttng medan,, skrang medan g seperti itu lagi kok lek,, jangan takut gitu donk..

    Apalagi Siantar,, itu dulu,, sekarang seh engga. Apalagi sejak kepemimpinan sutanto sekarang ini, preman yg namanya premanisme di medan g ada lagi,, atau kalau adapun palingan sembunyi2.

    Kalo emang mau di todong atau apalah… dimana aja kyknya seh bisa terjadi… jd,, yach.. main dunk ke medan

    Piss..

    [reply to this comment]

    Anak Siantar reply on 22 May 2008:

    ah lae ini terlalu percaya kali sama omongan orang…di siantar itu semua orang baik-baik lae, yang penting lae juga harus sopan lah…ingat, kejahatan muncul bukan karena keinginan tapi karena ada yang pancing…jadi kalau ke siantar jangan lah dipancing-pancing munculnya kejahatan…tul `gak…kalau ada yang ganggu lae di siantar bilang samaku, biar kita selesaikan…horas.

    [reply to this comment]

    darmadi reply on 22 May 2008:

    @ Anak Siantar
    Gue, pernah jalan kaki malam2 di Siantar. Sepanjang jalan 1 KM, gue ketemu 10 kali sama orang yang mabok sempoyongan. Pake ngancam dan mengganggu orang lagi.
    Gimana gue kagak trauma.
    Habis, setiap 100 meter ada kedai tuak. Nyanyi keras-keras sampai tengah malam. Kagak pake aturan lagi. Teriak2 nggak peduli orang lagi tidur.

    Gue, ceritain sama orang Siantar yang di Jakarta. Reaksinya sama. Tertawa terbahak-bahak.Senang.
    Aneh, kan.

    Evalina reply on 24 May 2008:

    Iya bang Darmadi, gak perlu takut gitu… saya lahiran Siantar dan tiap pulang kampung gak prnh ada masalah. Makanya kalo berkunjung ke kampung batak jangan pake “blangkon” ntar di teriakin :
    ” Hey.. sirabun…!!! he..he”

    Horas from Sydney

    [reply to this comment]

    darmadi reply on 26 May 2008:

    Gile, pake blangkon. Gue pake TAHULUK

    bArUs reply on 26 May 2008:

    Lae Darmad(j)i marga aha do hamu. Maccamnya “mendominasi” goar muna. Mau saya calonkan jadi “lurah” Blog Berita…

    darmadi reply on 28 May 2008:

    @ Barus
    Jadi lurah ?
    Jadi walikota aja gue ogah.

    asinaga reply on 21 August 2008:

    Siantar sekarang sudah jauh lebih amanlah. Buktinya ? Klo dulu tiap bulan ada korban pembunuhan terapung di sungai Bah Bolon, sekarang paling 1 mayat per tahun. Itu pun karena tergelincirnya, nggak bisa renang..hehehehe

    [reply to this comment]

  2. jadi klo medan, mo apa ??

    [reply to this comment]

  3. Awak tak mengterti soal Medan. Awak berangkat dari Balige Desember 1975 ke Jakarta via Belawan (Batak Tembak Langsung). Tapi setelah di Jakarta awak balik ke Medan biasa-biasa saja walaupun sebelumnya awak belum pernah ke Medan. Lain lubuk lain ikannya, lain tempat dan suku akan lain pula gayanya itu lumrah kurasa. New York bedalah gayanya dengan Miami, Bali dengan Subang dll. Istilah ini Medan Bung konteksnya menurut saya banyak kali. Di Balige Buang air besar bisa di ladang, di Medan mana adalagi ladang buat buang air besar. Etimologi kata-kata itu perlu juga lebih diteliti kalau memang dianggap penting. Buat Awak kalau boleh aku saranakan kepada Pemerintah di Medan itu pikkirkan jugalah cara bagaimana sampe lebih cepat ke kampungku di Balige sana, zangan kalian saza yang menikmati kemerdekaan itu, maccam mananya kalian itu, kayak orang tidak beragama sazanya kulihat kalian. Horas

    [reply to this comment]

  4. Medan itu dimananya Sibolga ya ??

    [reply to this comment]

    Jonharis reply on 22 May 2008:

    gibana sih loe ……! org batak kagak,,, kalau org btk makan dulu itu Anjing ya, biar tahu dimana medan ok..!

    [reply to this comment]

    JoeS reply on 22 May 2008:

    oo..jadi harus makan (daging masak) anjing dulu baru tau dimana medan ya…

    [reply to this comment]

    darmadi reply on 22 May 2008:

    Kagak usah…kota besar yang banyak warung kopi dan banyak orang maen catur plus ngobrol politik ngalor ngidul alias kagak karuan, itu dia Medan.

    Di Jakarta, pengamat politik ada di TV dan koran. Di, Medan, cuman di warung kopi. Ngutang lagi.

  5. Saya orang medan, yang masih aktif bekerja. Dulu sama sekarang agak beda, sekarang medan udah jadi kota yang indah, kalo malam hari indah sekali di kota medan…seperti jakarta daerah selatan..tapi sedikit kalah modern dibanding jakrta, dan saya juga sering sekali pulang kerja tengah malam(jam 12-2 pagi) dan saya sangat menikmati perjalanan pulang di tengah malam di kota medan. banyak sekali tempat jajanan makanan di tengah malam.Mainlah ke medan nanti saya tunjukkan keramahan orang medan.

    [reply to this comment]

    darmadi reply on 23 May 2008:

    Baru dengar nih, orang Medan ramah. Kalo, galak, iya.

    [reply to this comment]

  6. Nimbrung lagi ach…mumpung koneksi gratis :P

    INI MEDAN BUNG !!! kata anak² medan, menurut gw sih sah sah ajah..sempet dia bilang INI BANDUNG BUNG !!! kata anak² medan masuk RSJ dia wkakwkakwa…
    Bahasa itu ada, ada banyak alternatif :
    1. Cuaca yg melebihi Puaanasnya Kota Jakarta
    2. Didikan para leluhur yg kelebihan ke DISIPLIN annya :P
    3. LOGAT bahasa di medan yg KERAS

    Menurut penelitian, 1981, Usman menemukan 29,3% warga Medan adalah etnik Jawa, 15% Batak Toba, 14% Cina, 13% Mandailing Sipirok, 11% Minang, dan 8% Melayu. Selebihnya, Aceh, Sunda, Karo, India, dan beberapa suku lain, masing-masing di bawah 5%

    DIMANA BUMI DIPIJAK DISITU LANGIT DIJINJING !!!

    Menurut penelitian, 1981, Usman menemukan 29,3% warga Medan adalah etnik Jawa, berarti meDok jawa nya hilang berganti menjadi INI MEDAN BUNG !!! TOP gw salut sama etnik tersebut.

    jadi banyak seperti bro darmadi nih yg bilang SIANTAR / MEDAN galak…???
    kalo menurut gw sih kita kurang biasa aja dengan lingkungan, karena kita dah tinggal di kota yg lebih dulu mengenyam pendidikan (jawa), so pasti beda sambutanya dan mungkin agak risih / kurang masuk dengan lingkunganya (butuh waktu untuk pengenalan lingkungan dan tidak instan)

    Jadi kalo orang batak lahir di jakarta pulang kampung bokap nyokapnya, jangan dibuat kebiasaan layaknya dikota jakarta, ntar keluar kata² INI MEDAN BUNG !!! wkakwkakwka

    gw ajah yg orang Batak (bukan Medan yah ^_^) masuk Banyuwangi Sesek nafas gw wakwkakwka kembali ketidakbiasaan tadi (kaku)

    Jadi mudah²an bisa dibedakan Kota² dan Etnik² yg ada di Indonesia. Kembali lagi kepada individu menangkap LOGAT bahasa masing² daerah/etnik.

    Sanes kitu akang-akang… teteh², sumuhun Plisss hahahaahah

    [reply to this comment]

    Evalina reply on 24 May 2008:

    Bang Turnip, kog panjang kali kommentnya??? Jangan terlalu seriuslah.. santai sikit.. ini kan cuma utk intermezzo..

    Horas sian Sydney

    [reply to this comment]

    Turnip (Turunan Nippon) Man reply on 25 May 2008:

    hahahahaha iya nya ito…(akupun santai kalinya ito, sambil bobo bobo ini wkakwkak…)

    tapi karena koneksi gratis itu da..bah.. jadi suka hati ngetik lama lama wkakwkakwkak…

    Horas Ma Jala Gabe !

    [reply to this comment]

    darmadi reply on 25 May 2008:

    @ Turnip ( Turunan Ponji)

    Loe, ngerti kagak apa itu Ponji. Ponji itu pohon kapuk. Yang sering turun dari pohon Ponji adalah, ular keket atawa ulat bulu…hi..hi…hi…

  7. Bah..Bah..bah..Mengapa pula si Darmadi ini takut ke Medan dan Siantar?.Masak orang Batak takut pulang kampung”..
    Memang kalau orang Batak lahir di Jawa sudah lain ceritanya.
    Asal tau aja ya…Kalau di Batak itu ”Tulang yang makan anjiing”
    Kalau di Jawa kan..” Anjiing yang makan Tulang”
    Saya juga par Siantar nya.Horas bah..
    Salam dari Jerman.

    [reply to this comment]

  8. Ya, nih ito. Masih trauma ama Preman Terminal Parluasan.
    Kali aja kalo di temani ito Hanna, gue jadi berani.

    Gue, kalo ke Siantar ada di Jl. Pattimura/ Santiago.

    [reply to this comment]

    Hanna Stolz-Shmbg reply on 25 May 2008:

    Kena pa trauma ito Darmadi ?.
    Emang pernah diganggu ama preman di Parluasan ya..
    Ah.. jangan takutlah.
    Orang Batak itu ngak makan orang kok !..Itu dulu ..
    sekarang ngak lagi.
    Cuma wajahnya aja yang sangar 2dan Serem,kalau hatinya lembut kok !selembut salju.
    Kalau ito Darmadi ke Siantar, kalau ada gangguan di jalan, sebut saja namaku , pasti amanlah.
    Kalau Sekitar Pattimura, lap bola, kp karo,toba, daerah kota, Timbang galung, Parlusan, Simarito,Tomuan ya.. masih wilayah kita2 kok.Horas dan Tabe dari Jrman ya..

    [reply to this comment]

    darmadi reply on 26 May 2008:

    Gue, udah nyebut name loe.

    Semua, pada kenal. Katanya, ito tukang sorong di Pajak Horas. Kalo, sorong lagi sepi, kadang nyopet juga.
    Bukan, kata gue lho. Kata teman2 loe itu.

    [reply to this comment]

    Hanna Stolz-Shmbg reply on 26 May 2008:

    Nah… ‘Tul…kan.
    Gue kate juge ape…
    Jadi lain kali ke siantar jangan takut lagi ya..
    Kalau rasa takutmu mulai datang, sebut saja namaku 3x.
    amanlah sudah kemana pun kau pergi.

    darmadi reply on 26 May 2008:

    @Hanna

    Kayaknya, loe hafal banget nama2 kampung di Siantar. Emang, loe dulunya tukang becak.

    [reply to this comment]

    Hanna Stolz-Shmbg reply on 26 May 2008:

    Bukan tukang beca, sonder Kusir delman alias ”PAR-SADO
    ( naik kuda )
    Sekarang juga ,masih sering naik kuda .
    dan mungkin mau ikutan lomba ketangkasan naik/ tunggang kuda .
    Doain aja ya.. siapa tahu pemenangnya par Siantar.
    Horas bah……

  9. @ Hanna
    Gue, rada curiga nih, kalau cewek senang berkuda.
    Tapi, gak apa apa. Urusan maen kuda-kudaan, abang gurunya.
    Kalo, kagak keberatan, gue ajarin.

    Ehh, par Siantar juara kuda ? udah banyak tuh. Marga Sianipar.

    [reply to this comment]

  10. Geli mendengar ada orang yang ketakutan datang ke siantar. Siantar itu kota yang sangat bersahabat. Memang, seperti juga di kota-kota lain di jagad raya ini, ada sebuah resep agar kita sebagai pendatang jangan sampai diganggu orang. Caranya, bersikap biasa-biasa saja. Jangan sok jago. Tapi jangan pula bak orang kebon masuk kota. Nah, orang seperti ini makanan empuk bagi preman Siantar. Jair, kata mereka. Jadi, bersikap biasa-biasa aja .

    [reply to this comment]

Tulis komentar pada kolom di bawah

Tampilkan artikelmu di Blog Berita: berbentuk opini, feature, berita, tips unik, atau cerpen.