”Tidak ada pernyataan Presiden berbunyi, ’Saya berjanji tidak akan menaikkan harga BBM’. Iklan itu menyesatkan,” kata juru bicara SBY.
Silang pendapat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan mantan Panglima TNI Wiranto berlanjut. Seperti silang pendapat sebelumnya, Wiranto membuka babak baru polemik dengan memasang iklan di beberapa media massa. Mengambil momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional, dalam iklan berformat berita itu tertulis judul, ”Wiranto Masih Berharap SBY Penuhi Janji soal BBM”.
Wiranto yang menyebut diri sebagai tokoh nasional itu berujar, ”Sampai sekarang saya masih berharap SBY tidak ingkar janji. Dan saya akan terus mengingatkan dia agar memenuhi janjinya.” Janji yang dimaksud adalah tak menaikkan harga BBM.
Di tengah persiapan pengumuman kenaikan harga BBM, iklan itu menyita perhatian Presiden Yudhoyono. Menurut Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, Rabu (21/5) di Jakarta, Presiden memerintahkan untuk mencari rekaman pidato atau ucapannya tentang janji yang dijadikan bahan iklan politik itu. “Tidak ada pernyataan Presiden berbunyi, ’Saya berjanji tidak akan menaikkan harga BBM’. Iklan itu menyesatkan,” ujar Andi di Kantor Presiden, Jakarta.
Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa pun menilai iklan Wiranto itu tendensius. ”Jika tidak dijelaskan, iklan itu akan berlanjut. Besok-besok bisa muncul iklan ’SBY melanggar janji’,” ujarnya.
Iklan ”menagih janji BBM” merupakan seri iklan ketiga Wiranto. Iklan pertama bertutur mengenai makin sulitnya rakyat sehingga makan nasi aking. Iklan kedua bertutur tentang meningkatnya jumlah rakyat miskin di Indonesia dengan dasar data Bank Dunia. Terhadap kedua iklan sebelumnya itu, Presiden agak menahan diri berkomentar.
Komentar dan ”serangan balik” justru dilakukan kalangan dekat Yudhoyono. Lewat tabloid Sambung Hati 9949, Wiranto diolok-olok melalui karikatur. Meskipun menilai iklan Wiranto tendensius, Presiden tidak akan melakukan gugatan secara hukum. Yudhoyono pernah menjadi Kepala Staf Teritorial saat Wiranto menjadi Panglima TNI. [Kompas/inu]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















setujuh dengan vividtrader sapa yang nyangka minyak dunia bisa naek segitu, emang kalo pa wiranto jadi presiden dia bisa ga naikin bbm, please deh pa kalo mang mau bela rakyat jangan menuding presiden ingkar janji, mendingan ikutan bantu bantu rakyat miskin, ga cuma omdo, tuk pejabat2 yang laen jgan so ikut2 ikutan ga stuju dengan kenaikan bbm tapi realitanya liat orang miskin pada tutup mata…saya juga ga setuju bbm naik cuma kalo kebijakan pemerintah seperti itu yah mau diapain lagi…
Arab & negara Timur Tengah pastinya…untung gede… negara tambah kaya kalo harga minyak setinggi langit. Udah pernah ke Dubai ?
hahahaha.. betul2.. dubai mah keren sekali. tapi ya ini kan mumpung bahan bakar fosil masih available, jadi dinaikkan saja harganya.. kan katanya bahan bakar fosil sudah mau habis stoknya di dunia dalam beberapa waktu lagi? CMIIW
Dasar Wiranto!!!!! bisanya cari perhatian…. emang loe lebih pinter dari SBY apa???
SBY memang melanggar janji…. tapi emang siapa nyangka minyak bisa $ 130an per barel….
mana bisa begitu … contoh dong negara jepang … jadi pemimpin harus dijaga ucapannya … di jepang aja pemimpin tahu malu … mending sby mundur daripada membawa rakyat ini ke jurang kesengsaraan … “kerbau bisa dipegang tanduknya, harimau bisa dipegang tanduknya, manusia harus bisa dipegang mulutnya”
Yang nama nya janji, tetap janji!!!!
Klo ga bisa berjanji… Ga usah berjanji..
Anak sD pun tau itu
beritanya bagus, cuman kok kelihatannya salah ketik yah..?
mungkin yang benar “Sentil” kali, bukan “sintil”
BLOG BERITA: lae benar, aku salah tulis. segera kuperbaiki. terima kasih koreksi dari lae.
Dulu, Penyanyi Bob Tutupoli pernah nyannyi.” Memang lidah tak bertulang, Tak terbatas kata-kata. Tinggi gunung SERIBU JANJI, LAIN DI BIBIR LAIN DI HATI “….
Sutiyoso..kutunggu kiprahmu di blantika pilpres 2009
Sutiyoso pun berkata : Siape, loe. Sodara bukan, tetangga bukan…