Suratkabar terbitan Siantar atau Ternate bisa tampil menarik dan modern saban hari.
Jarar Siahaan; Blog Berita; Balige
Mungkin kita belum lupa bagaimana wajah harian Kompas berubah drastis pada 2005 lalu. Ukuran kertasnya lebih ramping dari yang sebelumnya berformat sembilan kolom. Walau lebar kertas berkurang, namun desain baru Kompas menjadi lebih lapang dilihat, jenis hurufnya diganti dan lebih besar, warna-warni diperbanyak, foto dan ilustrasi diselipkan, beritanya lebih singkat dan lebih mudah dibaca karena tidak ada lagi “bersambung ke hal…” yang mengharuskan pembaca membolak-balik koran untuk membaca kelanjutan satu berita. Meniru wajah koran-koran negara maju seperti Amerika Serikat atau Inggris.
Untuk mempermak wajahnya, Kompas membayar Garcia Media, perusahaan konsultan desain media di Amerika Serikat.
“Para pengelola media cetak bingung. Sudah lama mereka tidak memerhatikan konsumennya. Mereka sangat jarang memberikan informasi penting melalui foto dan grafis karena mereka sudah lama melupakannya,” kata Mario R Garcia, bos Garcia Media.
Memang Kompas bukan pionir. Di Indonesia, koran yang pertama sekali menerapkan desain ramping adalah Jawa Pos dan puluhan koran anak-cucunya, jauh sebelum Kompas berubah rupa. Dalam hal desain, suratkabar Indonesia yang paling kusukai adalah Koran Tempo, saudara majalah Tempo. Tampilannya benar-benar segar setiap hari, tidak monoton dan membosankan seperti koran-koran terbitan daerah.
Koran terbitan daerah bisa saja memiliki wajah modern seperti Kompas, Koran Tempo, atau Daily Telegraph. Tidak harus menggaji Garcia Media. Manfaatkan saja fasilitas dan tenaga yang sudah ada di redaksi. Para redaktur dan layouter menggelar rapat, membahas wajah koran kita besok pagi, dan meneruskannya ke bagian pra-cetak. Fotografer digenjot untuk menghasilkan foto-foto berkualitas. Kartunis dimaksimalkan. Desainer diminta membuat satu-dua grafik menyertai berita utama.
Dari puluhan koran terbitan Medan, kulihat baru dua yang sudah tampil modern, yaitu harian Sumut Pos dan Harian Global — koran tempatku terakhir bekerja. Sisanya berpuas diri dengan mode tempo doeloe. Tidak mustahil koran kecil terbitan Medan tampil mewah layaknya koran yang dibaca warga di USA sana. Washington Post atau Media Indonesia didesain dengan Pagemaker dan Photoshop, software yang juga dipakai koran-koran daerah di Indonesia, jadi mengapa kita tidak bisa seperti mereka.
Buat para awak suratkabar yang ingin mempercantik tampilan media, ada satu sumber yang sangat bagus untuk dilirik: Newseum. Ini adalah museum berisi sejarah media cetak di USA. Setiap hari Newseum memuat wajah halaman depan 500-an koran internasional dari puluhan negara. Desainer koran tinggal menirunya dan menerapkannya. Kunjungilah situs Newseum dan lihat contoh tampilan koran-koran dunia.
Gambar: halaman depan Washington Post terbitan Minggu, 25 Mei 2008. Sumber gambar: Newseum


saya kurang tertarik dengan artikelnya karena masih sedikit tampilan gambarnya. mohon dipertimbangkan usulan saya.
Silakan bila ingin mengkritik, tapi pakai etika, karena begitulah manusia beradab. Blogberita.net akan menghapus komen yang tidak berkaitan dengan topik artikel, dan komen spam. Untuk menanggapi komentar sebelumnya, klik [reply to this comment], dan untuk membatalkan, tekan “click to cancel reply” di bawah tombol “Kirim”. SILAKAN HAPUS SEMUA PESAN INI, DAN MULAILAH BERKOMENTAR.
Tulisan-tulisan Mas Jarar tentang jurnalisme selalu menarik untuk dibaca, saya yang awam (bukan orang pers) jadi bisa memahami dunia pers secara lebih mendalam, bahkan say ajadi tertarik. Mengapa tidak cari pemodal saja Mas Jarar, buat koran sendiri? :)
BLOG BERITA: kalau ada pemodal koran yang tidak mendikte redaksinya, boleh kita coba. :)
Saya beruntung pernah berkunjung ke Newseum. Ini tempat yang bagus untuk belajar kekuatan dan pengaruh media dalam percaturan sejarah dunia. Di sini ada tugu peringatan juga untuk mengenang jurnalis yang gugur saat menjalankan tugas, nama-nama mereka terukir di tugu ini, termasuk Udin, wartawan koran Bernas Jogjakarta yang terbunuh beberapa tahun lalu. Anak-anak juga berakting menjadi reporter TV dan direkam untuk kenang-kenangan.
Kapan ya di Indonesia punya fasilitas seperti ini?