Seragam siswi Malaysia diprotes bikin nafsu
Pemerintah Malaysia diminta supaya mengubah seragam pelajar perempuan di negara itu. Rok selutut dan blus putih dinilai bisa mengundang kejahatan seks. Hah?
Jarar Siahaan; Blog Berita; Balige
Koran Malaysia The Star hari ini memberitakan soal protes kalangan masyarakat di sana terhadap Menteri Pendidikan Datuk Seri Hishammuddin Tun Hussein. Menteri diminta mengubah seragam siswi di sekolah-sekolah negeri karena dinilai bisa memicu pemerkosaan dan seks pra-nikah, demikian pendapat Lembaga Asosiasi Pelajar Islam Nasional Malaysia.
Selama ini seragam siswi di sekolah negeri Malaysia adalah berupa blus putih dan rok setinggi lutut, tapi siswi bisa juga memakai baju kurung dan jilbab. Blus putih inilah yang diprotes, karena terkadang tampak transparan.
Jawaban sang menteri sangat mantap, bahwa mengubah seragam sekolah tidak otomatis mengurangi kejahatan seks. “Tidak adil menghukum kaum perempuan dan pakaian yang mereka kenakan atas munculnya pemerkosaan,” kata Menteri Pendidikan.
Aku setujulah, Datuk. Jangan perempuan yang disalahkan sebagai penyebab pemerkosaan. Di Indonesia pun sering muncul pendapat seperti itu. Contohnya bila ada berita pemerkosaan di koran atau tivi, wartawan bertanya pada si tersangka mengapa dia memerkosa korban, yang sering kali dijawab: “Karena perempuan itu berpakaian seksi, karena aku tak tahan melihat roknya tersingkap, karena payudaranya merangsang….”
Pakaian seksi dan tubuh montok sering dijadikan alasan pembenaran untuk memerkosa. Apakah wanita kantoran yang bekerja dengan rok ketat di atas lutut sah untuk diperkosa? Apakah karyawati hotel atau sekretaris kantor sah untuk diperkosa karena busananya seksi? Salahkah perempuan memiliki tubuh seksi, wajah cantik, bibir sensual, atau dada montok — karena dijadikan alasan untuk memerkosa?
Dasar lelaki yang lebih kuat nafsu kebinatangannya. Kok jadi perempuan seksi yang disalahkan.
Sering juga pers menulis narasi begini: “Karena terdorong nafsu setan, lelaki itu pun tega memerkosa putri kandungnya yang sedang tertidur lelap.” Bah, setan pula yang disalahkan.
- Gambar: Cuplikan video lucah alias video esek-esek siswi Malaysia berseragam sekolah yang pernah heboh di media negara itu. Sumber gambar: Pemuda Wilayah
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

Sontoloyo kali memang para penjahat kelamin itu lae.
Seharusnya berani berbuat, berani pula dihujat sebagai orang bejat. jangan pulak setan disalahkan dan difitnah.
Dengar-dengar kaum setan sudah palak kali sama manusia macam itu, tapi mereka menahan diri karena takut profesi mereka diserobot manusia hehehe….
Btw mantap juga jawaban Menteri Pendidikan Malaysia itu. Kurasa banyak belajar dia itu Ibu Meuthia Hatta.
[reply to this comment]
Ya ternyata di Malaysia gak jauh beda dgn kita di Indo.
[reply to this comment]
Warisan budaya Arab/ Timur Tengah. Menganggap perempuan sebagai objek.
Coba lihat TKI, kita di Arab Saudi, habis diperkosa dan di lecehkan.
Sumbernya, cara pandang budaya mereka yang melihat wanita sebagai objek.
Bicara budaya, susah mengikisnya.
[reply to this comment]
torasham reply on 26 May 2008:
sebelum arab/timur tengah masuk indo pun sudah banyak kasus pemerkosaan kok…contoh paling fenomenalnya ken dedes…
di jaman penjajahan belanda dan jepang lebih banyak lagi kasus pemerkosaan ini…
[reply to this comment]
Kagak usah heran…
Type Negara Islam. Memandang rendah perempuan. Sangat rendah.
[reply to this comment]
torasham reply on 26 May 2008:
“Kaum Eropa sangat heran akan kebiasaan arab-muslim yang sangat menghargai kaum wanitanya dibanding orang-orang eropa”
James Rameston - Crusade III
[reply to this comment]
amrozi reply on 27 May 2008:
yup…. sangat menghargai… dengan cara memaksa sang wanita membungkus seluruh tubuhnya supaya ga diperkosa dan dilecehkan…
[reply to this comment]
Hakim_Roda_Mas reply on 29 May 2008:
Jangan tanggapi Omongannya darmadi. Slalu aja bikin statement yg isinya memprovokasi.
Sudahlah, yakini kepercayaan masing2. Mo punya agama mo kagak, terserah.. dah pada bisa mikir….
Koreksi: Malaysia bukan negara Islam… hanya karena mayoritas muslim bukan berarti negara Islam. Malyasia masih termasuk negara kapitalis…
kevin reply on 9 July 2008:
@Darmadi
Jangan menilai output (perilaku) tapi input (kitab). Kalo ada yg salah dalam output bukan berarti inputnya salah tapi karena orang tidak memahami atau menjalankan input. Ada perintah dalam ajaran islam (input) agara wanita bepakain tertutup demi melindungi keamanan si wanita agar wanita tidak direndahkan. Tapi tentu saja perlindungan terhadap wanita tidak cukup oleh wanita itu sendiri dengan cara dengan berpakain tertutup saja tapi negara punya tanggung jawab penuh untuk melindungi wanita dari perbuatan senonoh kaum laki laki misalnya situs 2x porno ditutup sebagaiman dilakukan oleh negara cina, thailand dll, memberikan hukuman berat bagi pemerkosa sebagaimana dilakukan oleh negara amerika meski mereka sendiri memberika kebebasan bagi warganya untuk memproduksi film 2x cabul.
Saya kira bang Darmadi memahami ini ..kalo menghujat pelaku cabulnya silahkan tp kalo menghujat islamnya itu namanya provokator
[reply to this comment]
si binyun reply on 9 July 2008:
@ Kevin
Akuurrrrrrrrrrrrrrrrr……
Adeemmmmmmmm……….
[reply to this comment]
Istilah sosiologinya, victim blaming. Dan sering terjadi pada kasus kejahatan seksual, “dianya sih yang merangsang, jadi saya gak tahan” atau “saya yakin dia juga ikut menikmatinya”.
Why people blame the rape victim? Ada pembahasan singkatnya di sini: http://www.ibiblio.org/rcip//vb.html
[reply to this comment]
memang tidak salah wanita memiliki tubuh seksi, tapi buat apa dipamerin kalau bisa berakibat pemerkosaan???
mendingan ambil langkah preventif…
jangan bikin alesan untuk melegalkan berpakaian seronok (dalam bahasa indonesia) deh
[reply to this comment]
Sering juga pers menulis narasi begini: “Karena terdorong nafsu setan, lelaki itu pun tega memerkosa putri kandungnya yang sedang tertidur lelap.” Bah, setan pula yang disalahkan.
hahahahah…. sepertinya ada bagusnya lelaki di kebiri ….
[reply to this comment]