Tadi siang massa FPI menyerang anggota Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan [AKKBB]. Gus Dur selamat karena ditelepon isterinya. Munarman atas nama FPI: “Jika tidak siap perang, jangan menantang.” Polisi tidak langsung tangkap FPI karena katanya bisa memperkeruh suasana.
Beginilah jadinya kalau Presiden SBY dan Kapolri Jenderal Sutanto tidak tegas sejak awal terhadap oknum-oknum Front Pembela Islam [FPI] yang melanggar hukum. Belum usang dari ingatan kita bagaimana Sekjen FPI ustad Sobri Lubis, dalam rekaman video yang bocor ke Internet, mengajak massa membunuh umat Ahmadiyah. “Bunuh Ahmadiyah di mana pun mereka berada. Bunuh! Bunuh! Allahu Akbar!” katanya — lihat videonya di sini. Apa reaksi polisi? Sampai hari ini, setelah beberapa bulan khotbah Lubis yang secara nyata melawan hukum itu, dia tetap saja tidak tersentuh hukum.
Tidak hanya polisi yang diam, pers juga secara umum diam atas kasus khotbah tersebut. Stasiun tivi tidak membuat talk-show atau liputan khusus seperti yang biasa mereka lakukan pada berita pilkada, isu parpol, maupun kenaikan harga BBM. Hanya sedikit media yang peduli pada kasus khotbah ajakan membunuh Ahmadiyah.
Blog Berita menilai, karena dibiarkan itulah mereka semakin menjadi-jadi. Minggu siang tadi kembali oknum FPI melakukan kekerasan dengan menyerang dan memukuli aktivis AKKBB di Monas, Jakarta, saat mereka berunjuk rasa damai mendukung kebebasan beragama. Tadi sore Kompas.com menulis judul FPI beringas, 10 anggota AKKBB terluka parah. Perkembangan terbaru diketahui bahwa aktivis AKKBB yang terluka lebih 20 orang, seperti diberitakan Metro TV pada Headline News pukul 9 malam barusan.
Di Kompas, Nong Dalrol Mahmadah dari AKKBB menyebutkan, anggota FPI menggunakan tongkat bambu mengejar dan memukuli anggota AKKBB. “Mereka datang mengacak-ngacak kami, ada mobil yang dibakar.” Kiai Maman Imanulhaq, aktivis AKKBB yang terluka, kepada Metro TV di rumah sakit mengatakan sekitar 10 orang FPI menendangnya sambil berteriak, “Kau Ahmadiyah? Bunuh!”
FPI: Kalau tak siap perang, jangan menantang
Kompas menulis, atas nama FPI, Munarman mengakui bahwa penyerangan terhadap unjuk rasa AKKBB memang dilakukan oleh FPI. Alasannya, AKKBB mendukung Ahmadiyah yang disebutnya sebagai kriminal. “Kenapa mereka mengadakan aksi untuk mendukung organisasi kriminal? AKKBB juga memasang iklan di koran untuk mendukung Ahmadiyah. Itu artinya mereka menantang kami lebih dulu. Jika tidak siap perang, jangan menantang,” kata Munarman.
Menurut Detik Com, sesuai jadwal seharusnya Gus Dur ikut dalam unjuk rasa AKKBB tadi siang di Monas, tapi dia keburu pulang karena ditelepon isterinya. Sebab itulah Gus Dur selamat dari amuk massa FPI. Namun Direktur Eksekutif International Centre for Islam and Pluralism [ICIP] Syafii Anwar dan Direktur Eksekutif Wahid Institute, Ahmad Suaedy, mengalami luka pada penyerangan FPI itu, tulis Kompas.
“FPI harusnya dibubarkan, Rizieq ditangkap. Dalam hal ini Habib Rizieq jelas bertanggung jawab,” kata Gus Dur.
Kata Gus Dur, dalam hukum Indonesia, warga sipil dilarang membawa senjata tajam. Demikian juga dengan FPI yang membawa tongkat dan memukuli aktivis kebebasan beragama, mereka harus dihukum. Kalau tidak, berarti Kapolri melindungi FPI, katanya.
Kapolres: Seperti menangkap ikan, airnya tetap tenang
Dalam berita lain Detik menulis pernyataan Kapolres Jakarta Pusat mengapa polisi tidak langsung menangkapi massa FPI tersebut. “Kalau tadi ditindak justru bisa rusuh, itu malah memperkeruh suasana,” kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Heru Winarko. Tapi dia berjanji pada hari mendatang polisi akan menangkap mereka.
“Kita ingin seperti ibarat menangkap ikan, airnya tetap tenang,” kata Kapolres.
Blog Berita melihat pernyataan Kapolres ini sebagai “jawaban yang pintar”. Buat Pak Kapolres, aku ingin bertanya, seandainya korban penyerangan FPI adalah anggota TNI atau Polri, apakah polisi juga akan bersikap sama? Jangan bohonglah, Pak Kapolres, kujamin saat itu juga aparat akan menangkap FPI dan menghajarnya.
CATATAN: Komentar pembaca pada artikel ini supaya dibatasi pada topik tindakan kekerasan, kebebasan beragama, kebebasan berunjuk rasa, hukum dan kepolisian. Harap jangan berkomentar membahas ajaran Ahmadiyah atau ajaran agama mana pun, supaya tidak lari dari topik artikel.
- Ngaku panglima, tapi biarkan laskarnya ditahan
- Munarman: Silakan tangkap saya
- Video khotbah Sekjen FPI ajak massa bunuh Ahmadiyah

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















kayanya polisi juga takut sama FPI,atau apa kita jufa belum jelas.Pekerjaan utama buat Kapolri berikutnya adalah FPI
bagi saya adalah karena ketidak tegasan pemerintah dalam mengatasi permasalahan hukum akhirnya masyarakat tidak puas seperti halnya FPI.saya tidak membela FPI atau membela yang lainnya tapi disini kita harus bijaksana dalam menilai
jangan terpropokasi karena islam cuma jadi fitnah, teror dan di adudomba agar semua benci terhadap umat islam
saya kawatir kalau FPI tidak ada bangsa ini akan menjadi bangsa bebas
FPI tu sebenernya maksud dari visi dan misi nya bagus (ciele..ciele…sok tw bgt gw)
yaitu sebagai media dakwah dan memberantas kemaksiatan
(yang orang FPI mana?bener ga apa yang saya bilang)
yang saya tau nih..klo dakwah tu pake bahasa yang sopan.halus,tanpa kekerasan..
klo dah pake acara ngancem2..
acara ngejek2..
pa lagi bawa bambu,senjata tajam dan laen-laen..
na itu yang harus pertama diperiksa tu otaknya…
masi beres pa kagak
jangan ngaku islam deh klo masi bawa2 golok sambil teriak ngancem2…
jangan ngaku tau al Quran dan hadist serta mengikuti syariat
klo ga bisa nerima perbedaan,klo ga bisa toleran ma pandangan yang berbeda
klo ni negara dalam kondisi perang,gw bakal usulin ke pemerintah,agar orang2 model berada di garis depan,sebagai umpan peluru..wkwkkw..
klo mereka ada di garis belakang..gua yakin bakal ngacoin barisan n taktik perang..
la wong rencana nya gerilya.koq orang macem gitu ga sabar,nongol duluan,habislah satu pasukan,,
maap klo anda ga paham ma tulisan saya..
Berita terbaru dari Mapolda.
Tadi Habib Rizieq meminta Polisi untuk objektif, untuk menangkap 280 orang AKKBB dan Gusdur.
Nah kalo situasinya gini nih.
Copet, kena tangkap polisi, trus ngomong ke polisi.
“Pak, tolong bapak Polisi objektif untuk masalah ini, bapak juga harus menangkap ibu yang dompetnya saya copet tadi (AKKBB) dan juga bapak yang teriak copet (Gus Dur).”
@ amad
Menurut saya, seorang pemimpin Laskar yang besar seperti FPI, disamping seorang pemuka agama,sebaiknya, juga seorang intelektual dan punya wawasan yang luas.
Saya, sedih dalam beberapa kali muncul di TV, argumen yang di lontarkan Habib Rizieq sering jadi bahan tertawaan.
Karena, dari ucapan yang terlontar, terlihat wawasan yang sangat dangkal dan kualitas rendahan
Akibatnya, cita2 yang murni dari seorang Habib Riezieq, jadi berbuah kontra produktif. Masyarakatpun jadi antipati.
@ amad
Ha ha ha km cerdas banget bikin perumpamaan… !!! saluuuut deh ! !
bung darmadi,
pertanyaan sederhana dari saya,marahkah anda kalau diprovokasi? anda dituduh yang bukan bukan??
pertanyaan sederhana anda akan saya coba jawab.
Saya akan mencontoh Junjungan saya Nabi Besar Muhammad SAW.
Saya akan tersenyum dan mendoakan mereka. “Ya Allah SWT, mereka tidak tau apa yang mereka lakukan, karena mereka hanya manusia. Tidak luput dari kesalahan. Maka tunjukkanlah mereka Ya Allah. Jalan yang Engkau ridhoi. Amin.”
@andi
mungkin mara, tapi kalu gare-gare mara jadi nyiksa seh laen lagi kasusnye.
@ Bung andi
Cita2 dan idealisme FPI untuk memberantas maksiat, judi dan penyakit sosial masyarakat lainnya, sangat bagus. Dan, masyarakat Indonesia pun mendukung.
Namun pada prakteknya, cara2 anarkis dan mengedepankan kekerasan untuk setiap tindakannya, membuat masyarakat menjadi antipati (kalau tidak ingin di katakan ‘muak’).
Mungkin, dalam merekrut anggota FPI, sebaiknya lebih terseleksi. Bukan, pengangguran yang mangkal di Pasar Induk atau Terminal Lebak Bulus.
Sehingga, dalam menyampaikan pesan moral ke masyarakat lebih berbudaya dan bermartabat. Ingat, dalam Laskar FPI itu ada kata ” Islam”. Ini tanggung jawab yang sangat berat untuk memikulnya.
hmm … kalo yg provokasinya orang gila …
capek deh .. ngapain diurusin entar disangka gila
juga entar saya …
katakan .. mas, saya kurang jelas dengar omonganmu …
maklumlah telinga saya agak terganggu …
mas, ngomonk ama assisten saya aja dolo ya …
ini ahli penerjemah bahasa (seekor monyet) saya…
Dunia ini akan maju jika ada orang2 nyentrik, “aneh” dan ekstrem. Semua penemuan2 besar dan mutakhir dalam berbagai bidang (teknologi,sosial,politik,agama) didunia ini berawal dari keanehan, kegilaan, dan keekstreman mereka.
Keberadaan mereka akan membuka pikiran / menyadarkan kita yg lain. Sebagai contoh, Keberadaan aliran baru membuat yang lain lebih intens membuka kitab suci dan semakin byk menggali info ttg mana yg benar dan mana yg salah; versi si A atau si B. Tanpa komando, mereka memaksa kita untuk berpikir dalam lg tentunya.
Begitu pula reaksi keras dari kelompok tertentu. Kadang saya membayangkan, sepertinya Tuhan sedang tersenyum melihat umatnya yg lagi ribut. Yg jelas DIA akan menilai, siapa yang paling bijak menyelesaikan masalah. Salah atau Benar Umat_Nya, hanya DIA yg menilai. Begitu pula ganjarannya, itu hak_Nya.
Ahmadiyah adalah Ahmadiyah, Kekerasan adalah Kekerasan.
Masalah tindakan FPI di Monas, silahkan pembaca menilai sendiri.
Mohon maaf kalau ada kata yg tidak berkenan,
Mari berbuat baik untuk orang2 disekitar kita.
Kita semua bersaudara!!!