Ali Sadikin mau sobek majalah Tempo

Posted by Jarar Siahaan on Jun 5th, 2008 and filed under Majalah Tempo. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Sejak awal redaksi Tempo sudah wanti-wanti jangan sampai didikte oleh pemodal.

Terbitnya majalah Tempo pada 1971 tidak lepas dari peran Ali Sadikin. Sang gubernur meminta PT Pembangunan Jaya, perusahaan yang bekerja sama dengan pemerintah Jakarta, membantu sekelompok jurnalis muda yang cekak modal. Para jurnalis ini ingin membuat majalah baru setelah dipecat dari majalah Ekspres.

“Kelompok itu punya potensi, punya bakat,” ujar Bang Ali dalam biografinya. Pemimpin Yayasan Jaya Raya sekaligus PT Pembangunan Jaya, Tjie Tjin Hoan alias Ciputra, pun mengangguk.

Perundingan antara Ciputra dan tim jurnalis rupanya berlangsung alot. Ada segunung persyaratan yang diajukan jurnalis, terutama soal independensi. Sang taipan sampai kebingungan. “Saya sudah sering bernegosiasi dengan Jepang, perusahaan besar seperti Mitsubishi, tapi tidak serumit berunding dengan jurnalis seperti kalian,” kata Ciputra seperti ditulis Janet Steel dalam bukunya, Wars Within.

Goenawan Mohamad, pendiri Tempo, mengenang jalannya perundingan. “Kami baru dipecat dari Ekspres, jadi harus hati-hati agar jangan dikontrol dan didikte,” kata Goenawan dalam percakapan telepon, Jumat lalu. Akhirnya, kesepakatan tercapai. Melalui bendera Yayasan Jaya Raya, Ciputra menggelontorkan Rp 18 juta rupiah sebagai modal penerbitan. Tak ada titipan pesan dari pemodal. Secara implisit, Ciputra menekankan pentingnya profesionalisme wartawan.

Jangan terima amplop, karena dia sebagai pengusaha capek dimintai uang oleh wartawan,” kata Goenawan. Saat itu tak ada yang menyangka Tempo akan sukses. “Kalau Ciputra anggap Tempo akan sukses, tentu dia sudah menaruh uangnya sendiri,” kata Goenawan sambil tertawa.

Sejak nomor awal, Tempo tak segan menyajikan berita yang kritis. Pemerintah Jakarta tidak luput dari kritik. Berita penggusuran 500 rumah nonpermanen di Kalimati dan 300 keluarga di lahan Kedutaan Besar Uni Soviet di Jalan Thamrin, misalnya, menjadi menu edisi awal. Lusinan program Bang Ali tak luput dari sorotan. Misalnya, tambahan 500 bus kota yang telah menggusur oplet, maraknya kelab malam, parkir liar di badan jalan, hingga banjir di Jakarta. Tak jarang berita-berita ini membuat Ali meradang.

“Maunya saya robek ini majalah,” katanya saat meresmikan kantor Tempo di Pasar Senen, Maret 1977.

Menjadi seorang gubernur memang harus siap dikritik. “Kalau pejabat tidak mau dikritik, jangan jadi pejabat,” katanya. Pernah beredar kabar bahwa Bang Ali, yang juga Ketua Dewan Pengawas Pembangunan Jaya, secara pribadi adalah pemodal Tempo. Bang Ali membantah hal ini. “Tapi, ya, saya memiliki Tempo,” Bang Ali melanjutkan, “dalam arti setiap minggu menjadi santapan rohani bagi saya.”

Dikutip BlogBeritaNet dari Koran Tempo edisi 24 Mei 2008

tafbutton blue16 Ali Sadikin mau sobek majalah Tempo

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

1 Response for “Ali Sadikin mau sobek majalah Tempo”

  1. torasham says:

    jadi inget omongannya soe hok gie dalam film gie..
    “orang yg tidak mau dikritik, pantas masuk keranjang sampah”.

    salut buat tempo.

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video

Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.