Nonton Piala Eropa jangan mabuk
Nyasar komentari agama.
Oleh Ricardo Simamora
Gendang pertandingan sepak bola Piala Eropa 2008 sudah ditabuh. Peluit sudah ditiup dan si kulit bundar pun mulai disepak oleh pemain berkaos warna warni. Kesana kemari di hamparan panggung rumput. Sayangnya sebelum kita menikmatinya (pemirsa TV RCTI yang pakai parabola), pihak RCTI sudah mengumumkan bakal mengacak jalur frekuensi gratisan ini.
Alhasil, aku harus berani keluar rumah. Dini hari pukul 01.00 WIB, dengan sepeda motor bebekku menempuh jarak dua kilometer menuju Warung Kopi yang memakai Indovision di kawasan Jalan Sisingamangaraja XII Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.
Setiba di sana. Seperti yang kuduga warung sudah penuh. Kursi sudah terisi dengan para pemilik wajah yang berusaha menghilangkan kantuk. Kebanyakan mereka menyeruput kopi. Tapi di sudut ruangan itu, ada pengunjung yang main catur. Suatu kombinasi yang hebat. Betapa tidak kedua pecatur ini hanya sesekali melongok melihat layar TV. Game pertama telah usai. Rep.Cheko berhasil meredam Swiss dengan kor 1-0. Pada Game kedua antara Turki dan Portugal suasana warung kopi tambah hangat. Beragam komentar terlontar. Apalagi melihat permainan si ChriRO 7 (Christian Ronaldo) yang bergaya seolah berdansa saat mendribble bola.
Semula komentar-komentar yang terdengar adalah lucu. Tapi mendadak penonton terkejut mendengar komentar yang sama sekali jauh dari lucu apalagi tidak ada hubungannya dengan sepak bola. Berikut cuplikan komentarnya. “*** (salah satu tim) adalah *** (salah satu agama). Aku benci *** (salah satu agama). Hayo siapa *** (salah satu agama) di sini?”
Rupanya ia adalah pemuda mabuk yang mendukung Portugal dengan cara salah. Mabuk sambil menilai sepak bola dari sudut yang lain. Sudut agama.
Untunglah semua penonton yang budiman tidak terpengaruh. Pemilik warung langsung menegurnya. Tapi dasar bandal, ia tetap saja mengoceh dengan mengulang perkataannya. Aku berharap tidak terjadi sesuatu yang menjurus ke masalah Suku, Agama dan Ras (SARA). Sebab di antara penonton Penonton tetap saja cuek dengan konsentrasi penuh ke layar RCTI ver Indovison.
Untung saja sihir bola lebih kencang daripada isu SARA dari mulut bau anggur itu. Sampai hasil pertandingan habis dengan skor 2-0 untuk Portugal. Penonton hepi dan bubar. Apalagi pemuja Chriro. Pendukung Turki terlihat lesu. Tapi mereka berkata, “Besok lagi kita nonton bola lagi ya.”
Aku juga senang. Selain enak dan puas melihat Chiro dan all player dari kedua kubu. Warung kopi ini juga tetap mematok harga standar segelas panjang kopi Rp.2000,- (padahal dari rumah aku sudah siapkan uang Rp.5000,- mana tahu ada harga khusus piala eropa), dan at last but not least, toiletnya bersih, harum karbol, tidak seperti toilet Pemkab Toba Samosir yang bikin muntah itu.
- Penulis Ricardo Simamora adalah PNS di kantor Camat Balige.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

betul bang..
nonton bola jangan sambil mabuk………
apalagi main bola sambil mabuk…….
[reply to this comment]
@ torasham
Kalo nggak mabuk, suka ngantuk mas. Jadi harus ada ‘doping’ dikit. Asal nggak berlebihan, gitu.
Namanya, juga pesta bola. Semua bisa merayakannya dengan berbagai cara.
[reply to this comment]