Adik pejabat anu jadi pejabat anu

Jangan jadi pejabat kalau tidak siap “dicubit” dan “dimata-matai” oleh media.

Ipar Presiden SBY jadi Danjen Kopassus, demikian salah satu berita di Detikcom hari ini. Tahun 1999 aku pernah menulis berita seremonial di koran tempatku bekerja dengan judul Adik Bupati Tobasa jadi Kadis PU Pengairan, dan Bupati Sahala Tampubolon marah karena tulisanku itu.

Oleh Jarar Siahaan; Balige; Blog Berita

“Mengapa harus dikait-kaitkan dengan jabatan saya sebagai bupati,” kira-kira begitu Tampubolon protes kepadaku disaksikan sejumlah wartawan.

“Karena Pak Tampubolon pejabat publik, dan karena nilai beritanya justru di situ,” jawabku.

“Begitulah kalian pers, sengaja membesar-besarkan judul supaya korannya laku.”

“Judul memang harus menarik, tapi kami tidak boleh merekayasa atau memutar-balikkan fakta.”

Walau sempat berdebat ringan, pada akhirnya Bupati Sahala Tampubolon bisa memahami dan menerima berita itu.

Beberapa bulan berselang, seorang anggota DPRD Tobasa protes karena aku selalu menulis nama Bupati sebagai Sahala Tampubolon. “Pak Bupati itu sudah orang tua lho, lagi pula kita ini orang Batak yang punya adat, kok si Jarar menulis Sahala Tampubolon, seharusnya ditulis S. Tampubolon. Unang digoari natua-tua [jangan tulis nama orang tua],” kata si anggota Dewan seperti diceritakan kawan wartawan padaku. Memang sudah menjadi kebiasaan orang Batak di kampung untuk tidak menyebut nama asli orang tua, melainkan cuma inisial namanya plus marga.

Dua contoh kasus kecil di atas adalah ilustrasi untuk menggambarkan risiko jadi tokoh publik: harus siap diawasi langkahnya oleh media. Kalau misalnya Gubernur Sumut terpilih Syamsul Arifin jajan bakso di warung kaki lima yang berjejer di sebelah Medan Plaza, maka dia “tidak boleh” marah ketika pers memberitakannya. Berbeda kalau seorang PNS “staf habis” di kantor gubernur tiba-tiba muncul dalam berita koran karena dia suka menonton di Studio 21 saban Sabtu malam, “PNS anu tiap malam Minggu nonton bioskop”, maka media itulah yang kurang kerjaan atau tidak memahami apa itu berita.

Di kalangan wartawan ada definisi terkenal tentang berita: Bila anjing menggigit orang, itu bukan berita; tapi bila orang menggigit anjing, itu baru berita, dan bila anjing menggigit seorang walikota atau artis, itulah juga berita. Memang terkesan hal-hal remeh pada diri seorang tokoh publik hampir selalu bisa dijadikan berita. Begitulah adanya.

Seorang abang becak meninju rekannya belum tentu jadi berita koran. Tapi Tamara Geraldine Tambunan memukul orang lain pasti jadi “makanan empuk” tabloid infotainment dan tivi. [blogberita.net]

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

9 Responses to “Adik pejabat anu jadi pejabat anu”

  1. wah wah bagus tuh

    [reply to this comment]

  2. Apanya yang bagus? Tulisan gitu aja koq bagus? Nggak bermutu! Ini blogger yang namanya Jarar Siahaan, dari dulu memang sok pintar, sok pamer, lihat tuh wartawan-wartawa Kompas, pintar, banyak S-2 dan S-3 nggak sok spt si Jarar ini!

    BLOG BERITA: :D

    [reply to this comment]

    ares reply on 11 June 2008:

    ah sama aja bro. mau s3, atau pun es campur, klo gag mau share ilmu seperti bang Jarar ini, sama aja kaco. Lagian sok pamernya dimana ya? wong orang mo share ilmu dan pengalaman kok di blng pamer. Ada-ada aja bahh…….

    [reply to this comment]

    rizieq reply on 11 June 2008:

    Bang Redaktur Medan,

    Komen tuh jangan pake esdua, estiga, esmosi lah, sualnye kalu pake esmosi apalagi kebencian, ‘mutu’ Abang juge keliatannye kaga lebih bagus dari Bang Blogger nyang Abang cela..

    Lagian gelar kan kaga ngejamin. Wartawan Kompas emang pinter-pinter, tapi kalu parameternye ‘gelar akademik’, kale dong ame pare pejabat kite, nyang kaga tau sekolanye kapan, eh taunye ude pake gelar dan embel-embel DR (Dalang Rusuh?), SH (Sok Hebat), MBA (Memangnya Beneran Ahli?) , MSc (Massyya Sich?), Ph.D (Parah Dech!), S3 (SD, SMP, SMA) de-el-el. Kesian kaaan ame mereka nyang ude suse-suse sekola..

    Okeh Bang? Pissss….

    [reply to this comment]

    Agam reply on 11 June 2008:

    Wuaduh, sampe segitunya ngebelainnya ? Maklum karena satu visi dan misi. Tapi kalau dibilang Three in One, satu lagi siapa yach ?
    Okeh ? Piss di pispot

    [reply to this comment]

    FLP Sitorus reply on 18 June 2008:

    Dikampung saya ada seekor kucing sakti. Kesaktiannya diajarkan oleh orang Batak, tetangga saya. Memiliki kebiasaan jelek. Setiap ketemu orang, baik orang pintar maupun orang bego; SD,SMP, SMA S-1, S-2, atau S-3,si kucing selalu bilang:”Meong, meong, meong”. Dia lupa, bahwa dia yang MEONG. He he he he he he.

    FLP Sitorus
    Gak suka merendahkan (setiap orang punya kelebihan. Tanpa mengakui kelebihan, dunia tidak mengenal kompetisi, maka dunia akan jadi sepi)

    [reply to this comment]

  3. Bagus, kalau bisa memahami. Apalagi karena seorang jarar siahaan pernah jadi “the real redaktur” . Bukan spt S1- yang saya tahu malah jadi wartawan tukang kompas.

    [reply to this comment]

  4. @ Redaktur Medan

    Kompas sekarang memang yang terbesar oplahnya, begitupun SDM nya.

    Tapi mesti diingat, awal berdirinya Kompas juga tidak langsung besar. Ia juga di mulai dari koran stensilan pada tahun 1960 an.
    Dengan oplah yang mungkin sekitar 1000 eksemplar.

    Lebih kecil dari pengunjung Blog Bung Jarar sekarang ini.

    Segala sesuatu, memang dimulai dari yang kecil. Sekecil apapun langkah awal itu harus dihargai.

    [reply to this comment]

  5. Sejak Otonomi Daerah (Otda) dan Pemekaran Daerah, banyak yang jadi ‘raja kecil’ di daerah.

    Jadi, maklum aja dalam suasana Eforia Otonomi Daerah.
    Hanya seringkali, perilaku ‘raja’ kecil ini, menyebalkan.

    [reply to this comment]

Tulis komentar pada kolom di bawah

Tampilkan artikelmu di Blog Berita: berbentuk opini, feature, berita, tips unik, atau cerpen.