Kapolda wanita pertama Brigjen Rumiah

“Saya berharap lebih bisa bersinergi dengan Ibu Gubernur. Mungkin perasaan seorang ibu itu bisa sama.” Gubernurnya perempuan, kapoldanya juga perempuan. Hebat.

Kapolda Banten, Brigjen Rumiah, menyatakan sebagai kapolda wanita pertama di Indonesia dia akan bekerja lebih keras agar tidak mengecewakan para polwan yunior. “Jangan sampai nanti dengan kinerja saya yang dinilai kurang baik akhirnya yunior-yunior saya nanti tidak mendapatkan kesempatan,” kata Brigjen Rumiah dalam wawancara dengan BBC.

kapolda-brigjen-rumiah Kapolda wanita pertama Brigjen RumiahKomisaris Besar Rumiah dilantik sebagai Kepala Kepolisian Daerah Banten oleh Kepala Kepolisian Negara RI, Jenderal Sutanto tanggal 23 Januari 2008. Dengan pengangkatan tersebut, pangkat Rumiah naik menjadi Brigadir Jendral. Dia sekaligus mencetak lembaran sejarah baru sebagai kapolda wanita pertama di Indonesia.

Dia menambahkan wajar apabila kinerjanya sebagai kapolda wanita pertama di Indonesia akan senantiasa diawasi dan mungkin akan dijadikan barometer bagi pengangkatan-pengangkatan polwan berikutnya. Munculnya Brigjen Rumiah sebagai Kapolda Banten ini menyusul terpilihnya wanita sebagai Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiah.

“Saya berharap lebih bisa bersinergi dengan Ibu Gubernur. Mungkin perasaan seorang ibu itu bisa sama,” kata polwan lulusan IKIP Surabaya itu.

Menurut catatan Indonesian Police Watch saat ini terdapat sekitar sembilan polwan yang menjabat posisi strategis memimpin kewilayahan seperti polres dan polsek, meski baru Brigjen Rumiah yang menjabat Kapolda. Jumlah ini mungkin relatif sedikit, mengingat jumlah polwan di seluruh Indonesia sekitar 3,25 persen dari sebanyak 374.526 anggota Polri.

Sumber artikel dan foto: BBC

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

4 Responses to “Kapolda wanita pertama Brigjen Rumiah”

  1. Perlu waktu untuk melihat, apakah dia seorang pemimpin yang teruji.

    Jangan hanya semata-mata dispensasi jatah jabatan untuk wanita.

    [reply to this comment]

    bSrUs reply on 11 June 2008:

    Achh! Sirik aja kau darmadi!

    [reply to this comment]

  2. Banten memang unik. Tanpa ribut-ribut, kendati propinsi ini berusaha menampilkan citra agamis, cukup banyak jabatan publik di Banten diduduki oleh kaum perempuan.

    Boleh jadi, penolakan terhadap perempuan untuk menjadi pemimpin adalah siasat politik dari kaum pria, yang takut kalah bersaing.

    Bravo perempuan Indonesia. Kalian mampu kok, asalkan tidak dihalang-halangi. Tapi tolong beri kami nilai lebih, yaitu kepemimpinan yang relatif bersih dan berpihak pada rakyat miskin.

    [reply to this comment]

  3. Nice.
    Inilah yang diharapkan RA.Kartini.
    Ada yang salah dengan perayaan Kartini sekarang ini. Wanita2 di kebayain / di kondein, lalu lenggak lenggok diatas pentas untuk dipilih sang juaranya, lho.. ? Bukankah Kartini berjuang supaya wanita (khususnya di Jawa)itu dikasih kesempatan sekolah biar cerdas, smart, dan diberi kesempatan bekerja seperi Pria ? Tapi jangan angkat2 balok or batu ya… gak kuat… :-)

    [reply to this comment]

Tulis komentar pada kolom di bawah

Tampilkan artikelmu di Blog Berita: berbentuk opini, feature, berita, tips unik, atau cerpen.