Bupati Monang Sitorus kampanyekan “gesbiba” sebagai penambah ekonomi rakyat, tapi DPRD tidak mendukung. “Masak babi lebih banyak daripada manusia,” kata wakil rakyat.
Balige; Blog Berita; Jarar Siahaan
Blog Berita mempertanyakan proyek gerakan sejuta bibit babi [gesbiba] kepada Pemkab Tobasa, lalu dijawab bahwa proyek itu tidak berhasil dan tidak lagi dilanjutkan. “Tidak jalan. Tak ada lagi itu sekarang,” kata Kepala Seksi Produksi dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Peternakan Perikanan Tobasa, Sopar Sitorus, Rabu kemarin di kantornya.
Proyek gesbiba dicanangkan Bupati Monang Sitorus tiga tahun lalu, tidak lama setelah dia dilantik sebagai bupati. Di beberapa kecamatan Bupati sempat menyerahkan bibit ternak babi kepada warga masyarakat. Dalam teorinya bibit yang diterima warga akan beranak-pinak dan digulirkan kepada warga lain, hingga suatu saat jumlah babi di Tobasa menjadi satu juta ekor.
Bupati pernah berkata kepada pers, proyek sejuta babi sangat bagus dan perlu didukung. Alasan Bupati, selama ini warga Tobasa sudah terbiasa beternak babi. Banyak orangtua terbantu dengan beternak babi, yaitu dengan menjual ternaknya sewaktu membutuhkan uang untuk menyekolahkan anak maupun kebutuhan mendesak lainnya.
Namun kampanye Bupati Monang Sitorus tersebut hanya berjalan beberapa bulan, dan pada tahun kedua tidak terdengar lagi. Mungkin, kata Sopar Sitorus, karena sekarang Bupati menggalakkan proyek jagung.
Kata Sopar, DPRD Tobasa juga tidak memberikan dukungan terhadap proyek sejuta babi, karena anggarannya tidak lagi ditampung dalam APBD. “Bagaimana mau jalan, Dewan saja ngomong kenapa jumlah babi lebih banyak dari manusia,” katanya.
Data yang diterima Blog Berita dari Dinas Pertanian Peternakan menyebutkan, saat ini kebutuhan konsumsi daging warga Tobasa masih belum bisa tercukupi. Total jumlah produksi ternak sapi, kerbau, babi, ayam, dan kambing di Tobasa pada tahun 2007 adalah sebanyak 360.206 kg dengan konsumsi 1.408.000 kg; defisit 6.660.656 kg. Kebutuhan daging per kapita/tahun adalah 8 kg, sementara yang bisa dilayani cuma 25 persen. Populasi ternak babi di Tobasa tahun 2007 tidak sampai 13 ribu ekor.

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















Gerakan sejuta babi ? Wow….babinya lebih banyak daripada penduduknya. Mungkin benar “sejuta” hanya illustrasi saja, namun sebelum satu program dimunculkan, seharusnya segala aspek harus dipertimbangkan dulu, sehingga tidak menjadi bahan olok-olokan. Seharusnya Pemkab Tobasa, lebih dahulu telah mempersiapkan program tersebut secara matang, kemudian dilaksanakan, baru ngomong.
Sekarang di Tobasa hanya kebanyakan program dimulut, kenyataan nol (ada sejuta babi, jagung dll). Pihak Eksekutif, Legislatif hanya memikirkan bagaimana menciptakan sesuatu yang dapat memberikan hasil buat diri sendiri.
Program babi dan jagung sudah sangat bagus, namun pada implemantasinya tidak didukung dengan perencanaan yang matang, sehingga semuanya jadi sia-sia.
Menjadi Bupati atau staff di Tobasa harusnya punya dedikasi, keperdulian yang tinggi terhadap Bonapasogit sehingga dalam menjabat tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri.
Gerakan sejuta Babi ?? ahh terlalu nipi itu. Andaikan semua APBD Tobasapun dialokasikan untuk proyek itu kayaknya gak cukup. Tapi klo sekedar alasan untuk korup, bisa-bisa aja. Soalnya gampang memplesetkan Babi jadi bagi-bagi ? Ya toh..
gimana program sejuta babi mau berhasil, sedangkan anggota DPRD saja sifatnya udah kayak BABI. apalagi bupatinya, lebih2 babi. gak usah panjang2 kasih komentar dech.
Cocokkah bila program pembangunan diungkapkan dengan kiasan? Pahamkah saudara-saudara kita di pelosok sana bahwa kata “sejuta” pada “Program Sejuta Babi” itu hanya sekedar ungkapan? Sekiranya dipilih “Seratus ribu babi”, itu masih realistis. Di Pulau Bulan saja (dekat Pulau batam), yang diperuntukkan khusus untuk beternak babi, mereka hanya sanggup memelihara ratusan ribu ekor.
Jangankan sejuta babi, bahkan program sejuta pohonpun entah bagaimana realisasinya.
Kasihan teman-teman yang bekerja di Dinas Peternakan sana, mereka bisa menjadi bahan olok-olokan masyarakat, pada hal belum tentu setuju dengan program “sejuta” nan fantastis tersebut.
@dian sidauruk
setuju bang…. kebanyakan kita2 yang disini selalu mengartikan dan mengkritik yang tidak mengerti ini permaslahan… asal cuap…