Jadikan rokok barang eksklusif seperti sedan Mercedes-Benz, supaya masyarakat miskin tidak terus-terusan menjadi budak nikotin.
Belum lama ini pemerintah menaikkan harga BBM karena kenaikan harga minyak di pasar dunia. Banyak orang tak setuju dengan keputusan tersebut karena akan menimbulkan kenaikan harga barang dan jasa. Saya termasuk orang yang kurang setuju dengan keputusan tersebut, walau akhirnya menerima dengan harapan dapat mengurangi sikap masyarakat yang kian konsumtif.
Salah satu sikap konsumtif yang membuat saya prihatin adalah kebiasaan merokok. Bagi kalangan rakyat kaya, saya tak peduli bila mereka merokok sepuluh bungkus sehari. Mereka punya banyak uang untuk membeli rokok dan membayar biaya berobat akibat efek merugikan dari rokok. Namun, bagaimana dengan kalangan rakyat miskin yang merokok? Saya lihat mereka lebih suka tak makan daripada tak merokok. Sebagian besar penghasilan digunakan untuk membeli rokok daripada memenuhi kebutuhan primer [sandang, pangan, dan papan]. Akibatnya, golongan miskin tak dapat memperbaiki kualitas hidup keluarga mereka karena mereka menjadi “budak nikotin”.
Saya memohon dengan sangat kepada Bapak Presiden dan Wakil Presiden, apabila Bapak berdua ingin mewariskan generasi penerus Indonesia yang sehat dan cerdas, harga rokok harus dibuat lebih mahal. Bila perlu, cukai rokok dinaikkan sampai 200 persen. Jadikanlah rokok barang yang eksklusif seperti sedan Mercedes-Benz.
Bila pabrik sedan Mercedes-Benz tidak bangkrut, apalagi rokok yang dapat membuat orang kecanduan. Pendapatan dari cukai rokok yang telah naik dapat digunakan pemerintah untuk meningkatkan subsidi salah satu kebutuhan primer rakyat, yaitu perumahan bagi kalangan miskin.
- Sumber: Koran Tempo/surat pembaca Rifza Adriansyah

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















Setubuh… eh setuju banget… 200% naek, sembako 50% turun. lagian gue bukan perokok hahaha jadinya ga amasalah.
@ pandu
Gue pengen sih berenti ngerokok. Tapi, kalo liat orang merokok gue jadi pengen.
wah… ini ide yg menarik…
saya termasuk candu rokok juga.. apalagi habis makan BPK (kek..kek..kek..) nikmat broo…
kalau cukai dinaikkan sampe 200% jg gpp, 500% asal harga2 sembako turun plg gk 50% dr harga sekarang…
Dan pabrik2 rokok yg tidak menjaga kualitas produknya (tembakau nya ecek-ecek) di tutup… jd..rokok yg beredar pun yg berkualitas, walau harga mahal. Dan dijamin jumlah perokok akan berkurang (walau sedikit), plg gk saya sendiri akan berhenti merokok..(daripada gk makan bro..hehehe..)
Bang Blog Berite,
ade satu care jitu buat nurunin jumla perokok secare drastis di Indonesia…
suru aje Majelis Urusan Iseng bikin Fatwa Harrrrrooommmmm buat rokok, perokok dan merokok… (kalu dirokok sih bole lah..)
naaa… kalu dah gitu, para buruh (nyang mungkin diPHK gare-gare omzet pabriknye anjlok) dan pare perokok, bise dimobilisasi bikin Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Berasap dan Bertembakau.
trus buat lawan tandingnye tinggal bikin Front Paru-paru Indah ame Laskar Sehat.
Okeh?
BLOG BERITA: oke jugalah.
hidup majelis urusan iseng! hidup front paru-paru indah!
Dasar three in one
kek .. kek ..kek
Dasar joki three in one
hue.. kek..kek..kek…
setuju,,tapi awas, seperti yang abang bilang ; ” mereka lebih suka tak makan daripada tak merokok “, bagaimana nanti tindakan rakyat miskin yang tidak bisa beli rokok, padahal mereka telah kecanduan terhadap nikotin ??? hal ini juga perlu diwaspadai…
Pecandu rokok memang posisinya paling lemah.
Tak ada satu badan/lembaga yang melindung kepentingan perokok.
Jumlah pecandu rokok jumlahnya jutaan.
Menaikkan cukai rokok, memperlihatkan tidak kreatifnya Pemerintahan SBY untuk pemasukan kas negara.
Satu2nya kenaikan cukai yang tidak pernah mendapat protes dari masyarakat adalah cukai rokok.
Bahkan praktisi kesehatan paling senang, bila pemerintah menaikkan cukai rokok.
Satu-satunye?
Cukai miras juge kalu naek kaga ade nyang porotes lah…
Kek..kek..kek..
@ riezieq
Sori. Kalo miras gue nggak tau naiknya. Soalnya kagak pernah beli. salam.
@darmadi
Huek… kek.. kek…
Makanye beli, jangan minta mulu…
Joking… joking…. take no offense okeh…