Pengemis berpenghasilan Rp9 juta/bulan
Namanya Cak To. Mobilnya Honda CR-V. Rumahnya empat. Orangtuanya pun pengemis. Kini dia punya anak-buah 54 orang pengemis. Dengan uang hasil mengemis, Cak To ingin naik haji. Dia rajin menyumbang masjid. Cak To yang pengemis lebih terhormat ketimbang pejabat koruptor? “Yang penting halal,” katanya.
Koran harian Jawa Pos menulis feature berjudul Bos pengemis tinggal nikmati hidup pada edisi 12 Juni 2008. Kisahnya membekas di pikiranku, meninggalkan kesan beragam, campur-aduk seperti permen Nano Nano: kaget, geli, sedih, malu, kagum, geleng-geleng kepala, de-el-el. Blog Berita “bangga” karena Cak To tidak munafik, dia jujur mengakui asal-usul hartanya, tidak seperti [oknum] bupati hingga menteri yang jabatan sosialnya terhormat tapi mencuri uang rakyat dengan jalan korupsi. Tapi juga aku malu, aku malu membaca pengakuan Cak To, sesama muslim seperti diriku, bahwa uang hasil mengemis itu akan dipakainya untuk menunaikan ibadah haji. Kalau aku jadi Cak To, aku takkan mau naik haji. Memalukan! Menyedihkan!
Inilah artikel selengkapnya seperti dikutip Blog Berita dari Jawa Pos. Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ”karir”-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya. Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan.
Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta. Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang. Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.
Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik. Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ”orang mampu”. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.
Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ”Yang penting halal,” ujarnya mantap.
Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun, menurut dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI. Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ”Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,” ungkapnya.
Karena mengemis di Bangkalan kurang ”menjanjikan”, awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.
Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ”bakat” Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat. Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ”Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga.
Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ”Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet),” tegasnya.
Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ”Kami berpencar kalau mengemis,” jelasnya. Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.
Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.
Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya.
Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ”Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,” kenangnya.
Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah. Cerita tentang ”keberhasilan” Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ”Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng.
Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ”Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,” tegasnya.
Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur. Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan. Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.
Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan. Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.
Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.
Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ”Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,” ucapnya.
Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ”Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya.
Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ”Saya ingin naik haji,” katanya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti. [Sumber dan foto: Jawa Pos/ded/aza]
- Terima kasih kepada Andries Sibarani yang mengirim artikel ini ke Blog Berita.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

Wah wah wah…pantesan aja pengemis semakin banyak,gitu toh rupanya,kalau gitu saya ganti profesi sebagai pengemis aja deh.
Tapi duitnya jangan dipakai buat naik haji, soalnya kemahalan,mendingan milih yg paket murah aja kaya umroh.
[reply to this comment]
Edan!
Gila!
Lebih gila lagi orang-orang yang selama ini memberikan uang sedekah di jalan-jalan raya terhadap para pengemis!
STOP MEMBERIKAN UANG KEPADA PENGEMIS!!!
MEMBERIKAN UANG KEPADA PENGEMIS = ANDA IKUT SEMAKIN MENJERUMUSKAN BANGSA
Kebanyakan pengemis adalah orang-orang yang sehat fisiknya, hanya malas bekerja! (Lastri-Jkt)
[reply to this comment]
Pantes reply on 16 June 2008:
Wah,mbak…jangan ngomong gitu dong…ane udah bersiap-siap pengen jadi pengemis nih.
[reply to this comment]
darmadi reply on 17 June 2008:
@ Pantes
Ehh …sesama pengemis dilarang berantem.
[reply to this comment]
Pantes reply on 18 June 2008:
Oh iya bang…sorry bang,kita bertiga sesama pengemis memang tidak boleh berantam.
Agam reply on 16 June 2008:
@Lastri
Pengemis nggak malas bekerja, karena masih rela berpanas-panasan
Yang malas bekerja adalah orang yang tidur melulu atau pegawai yang hanya ngobrol, main game, internetan
[reply to this comment]
1) Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.
(Artinya Cak To telah melakukan penipuan, membohongi orang, heran, masih bangga & mengaku pekerjaan halal, menipu kok halal?).
2) Cak to mengakui, bahwa dia memakai kekerasan dalam pekerjaannya sebagai pengemis, memukul dan mempergunakan pisau.
(Orang Muslim seperti ini kah yang ingin naik haji?).
[reply to this comment]
rasanya terlalu berlebihan…..
[reply to this comment]
Wah.,…wah…15x. UEnak dong jd pengemìs… Bisa Ky bsa naik haji lagi. Kita hrs ber hati2 bila mau ngasih pada pengemis pilih2 klo memang cacat fisik baru kita ksh. Ato jngn di kash aja lah…
[reply to this comment]
srikandini reply on 17 June 2008:
cacat fisik di pengemis itu pun sekarang dah banyak yg cm trik doang…
yg benar adalah jgn pernah berikan ikan tapi beri kail nya…
[reply to this comment]
Saya jadi teringat dengan pengalaman saya waktu di kota Padang. Ketika itu saya masih kuliah disana. Waktu itu ketika jalan2 di pasar, saya diminta uang oleh seorang pengemis. Yach waktu itu saya kasih aja. Tapi alangkah terkejutnya saya waktu itu ketika beberapa jam kemudian saya melihat mereka makan di restorant yang mahal dengan lahapnya. DASAR PENGEMIS!!!
[reply to this comment]
namanya juga indonesia, kebnayakan rakyatnya bermental tempe…gak perlu rasa malu dan harga diri, yang penting bisa makan…Pejabat aja bayak seperti itu.apalagi rakyatnya. masih bangga pulak dia sebagai pengemis…
seperti pepatah ” lebih baik singa sehari daripada kambing seribu tahun” nyambung gak yah…he3x
[reply to this comment]
“Hei nggak malu oi. Bapa ibunya pengemis!”
“Apa? Biar pengemis asal kaya! Tau?”
[reply to this comment]
darmadi reply on 17 June 2008:
@ Dian
Nggak apa-apa jadi pengemis. Kagak usah malu.
Negara kita juga suka ngemis ke negara2 maju, untuk dikasih bantuan. Maklum, rakyatnya udah kagak makan.
Gue juga pengemis. Pengemis Cinta.
[reply to this comment]
Dia lebih terkesan seorang preman kejam dibanding seorang pengemis.
Semua pengemis yang ‘beroperasi’ di wilayah kekuasaannya wajib memberikan setoran kepadanya.
Disamping itu, dia mengorganisir penyandang cacat dan anak kecil dan dibina menjadi pengemis yang tunduk kepada kemauannya.
Sebenarnya, dia lebih jahat dibanding preman kejam.
Karena memeras rakyat kecil yang tidak berdaya.
[reply to this comment]
y ampyun..
saya juga bingung ya,,,mind set halal versi cak to itu opo toh?! setau saya, islam itu mengajarkan agar umatnya bekerja dengan ihktiar dan tawakkal..pekerjaan yang halal,,klo mengemis (apalagi jadi bos nya?!), sepertinya itu sama saja merusak moral individu yang mengemis itu sendiri,,islam mengajarkan umatnya untuk menjadi kaya agar isa berbagi dengan sesama, tapi kaya dengan cara mengemis??saya kurang setuju…sebaiknya dengan cara yang lebih “terhormat”..menggunakan pikiran, tenaga, dan segala anugerah Allah secara maksimal, bukan nungguin orang “nyetor”, yeah like jadi bosnya pengemis…ya Allah, bukankah lebih baik menciptakan lapangan kerja buat pengemis?maksudnya bukan dengan pekerjaan pengemis, tapi lebih ke hal yang bermanfaat dan berkualitas, seperti buka toko…buka jualan alat2 kerajinan tangan…atau hal lain yang lebih menggunakan skill ketimbang hanya gunain muka melas padahal badan sehat walafiat dan potensi dalam diri itu sebenarnya dapat dikembangkan dengan berbagai stimulus yang ada..
heuhuee…ya uwez da, seseungguhnya kebenaran datangnya dari Allah,,saya hanya berusaha menyampaikan apa yang saya tau,,moga2 bermanfaat dan buat cak to..ya, semngat da bersedekahnya n niat buat naek hajinya moga2 tercapai dengan rejeki yang diridhoi Allah..:)
semngaT!!;)
buat semuanya, semngaT!!;)
[reply to this comment]
tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Kemudian kita tidak bisa langsung melakukan suatu pembenaran terhadap sesuatu yang sekiranya dapat menjadikan apa yang kita lakukan menjadi ‘benar’. hal tersebut pada nantinya akan menjadikan hati kita menjadi lebih keras. Demikian komentar dari saya. Salam berantas korupsi dan kawan-kawannya di bumi indonesia
[reply to this comment]
pengemis dan tukang mie ayam penghasilannya lebih besar pengemis adalah kenyataan. Dosen saya yang tergabung di suatu yayasan yang menangani kemiskinan, memberikan modal kepada sejumlah pengemis dan gelandangan untuk dijadikan usaha (mie ayam, bakso dan dagangan dalam bentuk gerobak lainnya). Gak sampe 2 bulan, modalnya dikembalikan karena menurut para pengemis dan gelandangan tersebut “jadi pedagang duitnya dikit euy Pak, masih enak ngemis di stopan.”
Apa karena perut yang lapar jadi tidak sabaran untuk mendapatkan uang ato pengen punya hasil cepet tanpa harus keliling komplek untuk menjajakan dagangan?
[reply to this comment]
Waduh cerita model begini kalau dibaca para pengemis jadi membuat mereka tambah semangat dunk, makin bejubun aja pengemis
[reply to this comment]
Q pkir pengemis terotganisasi cma isapan jmpol blaka trnyata banar adanya….
pengemsi skrang udah jadi pkerjaan tatap yang bsa dijadikan sandaran hdup. kayaknya RAPERDA yg dicanagkan oleh pemkot SBY soal larangan memberikan uang pda pngemis wajib dipertimbangkan dan disahkan.
tpi yang labih pneting bgaimana pmrintah membuat pembanguan n ksemptan krja yang lyak bgi orng2 yg kurng n hidpnya di desa
[reply to this comment]
Assalamu’alaykum,,,
Mungkin hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berikut patut kita renungkan bersama. Beliau bersabda;
“Demi Allah yang hidupku berada dalam genggamanNya! Seseorang yang mengambil seutas tali kemudian mencari kayu aker, lalu kayu tersebut diangkutnya diatas punggungnya, adalah lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada orang lain yang mungkin dia akan diberi atau ditolak.” (HR. Al-Bukhari)
[reply to this comment]
wah ternyata pengemis itu ada yang kordinasi ternyata benar adanya.Tapi kita tidak boleh memandang itu salah atau benar.bayangkan kalo kita sekarang berada di posisi bapak tersebut”cak to” apakah kita akan seperti itu juga,atau tidak,atau bahkan lebih dari itu..
[reply to this comment]
Tidak lama lagi akan muncul Partai Pengemis (kalau dalam film silat namanya Kelompok Kaypang…..eh…bener gak sih). Kemudian mereka akan memilih ketua partai untuk dijadikan calon Presiden. Lalu mereka juga akan kampanye dengan memakai seragam tambal sana tambal sini. Dilanjutkan dengan melakukan kolaborasi dengan partai2 kecil. Matilah aku…….!
Dalam melakukan mindset dan penduplikasian kepada kader cak To tidak perlu pakai bahasa ilmiah yang rumit.Dengan bahasa sederhana buktinya cak To bisa merekrut teman2 dari kampung dan nyatanya anggota bertambah terus. Artinya cak To sukseeessss…!
Pertanyaannya adalah cak To yang pinter atau kita sebagai penderma yang keblinger? Bingung……kan……..!
[reply to this comment]
Buju buneg…… . Sudah saatnya Warda Hafiz Koordinator Rakyat Miskin Kota belajar dari pengalaman Cak To.Apakah miskin itu sebagai identitas bangsa kita. Wallahuallam
[reply to this comment]
walah…! jadi pengemis sukses?! walaupun uangnya mau dikumpulin buat naik Haji tetapi mengemis merupakan perbuatan tercela bagi umat muslim. Tapi setuju saja sih kalau dibilang Cak To tidak munafik bila dibandingkan dengan pejabat koruptor, tapi masih banyak kan usaha yang bisa dilakukan selain hanya menengadahkan tangan meminta-minta kepada orang lain. Semoga aja generasi seperti Cak To ini tidak pesat berkembang, kalau yang kaya adalah pengemis jadi siapa yang bakal memberi?
[reply to this comment]
Bertambahnya jumlah koruptor berbanding lurus dgn pertambahan jumlah pengemis. Kenapa? karena pengemis dan fakir miskin salah satu tool money laundry bagi koruptor…… :=)
[reply to this comment]
Wah ga nyangka ya tyta byk bgt pgemis gadungan,duh dosa ga siy dya sm yg diatas? Udh diksh tubuh yg smpurna eh malah blaga dicacatin,ga bsukur bgt ya..pdhl byk org cacat yg mau punya tubuh sempurna! Tp,biarlah allah yg mengadilinya.
[reply to this comment]
si binyun reply on 14 July 2008:
@ Nila………..
Aduh….. kalo buat kalimat jangan pelit dong,
ane kagak ngerti maksudnya.
Maklum…….ane generasi jadul.
[reply to this comment]
Mengemis……. apapun itu adalah tindakan yang memalukan.
Apalagi sampai mau naik haji dengan uang hasil meminta-minta, tidak malukah dengan Allah…
Terus ngaku kerjanya halal.. tapi bohong dengan pura-pura sakit dan gak mampu kerja. Masya Allah….
Semoga Allah mengampuni dan memberi hidayah bagi orang-orang seperti itu!
[reply to this comment]
binyun reply on 17 July 2008:
@Chika
Aminnnnnnnnnnn…………….
[reply to this comment]
Wadoh….mantap juga jadi pengemis berpenghasilan 6-9jt/bln.
Udah ada yang Usul belum ke dirjen P&K supaya dibuat kurikulum Teknik dan Seni Mengemis yang baik dan benar.Kayaknya perlu tuh buat study banding antara pengemis dan Koruptor ato riset bisa juga lah. gimana, cocok klen rasa?
[reply to this comment]