Lihat demo 5 handphone Nokia terbaru. Baterai 12 jam Netbook Terbaru. Lihat video UFO asli.

Pengemis berpenghasilan Rp9 juta/bulan

Posted by Jarar Siahaan on Jun 16th, 2008 and filed under Feature. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Namanya Cak To. Mobilnya Honda CR-V. Rumahnya empat. Orangtuanya pun pengemis. Kini dia punya anak-buah 54 orang pengemis. Dengan uang hasil mengemis, Cak To ingin naik haji. Dia rajin menyumbang masjid. Cak To yang pengemis lebih terhormat ketimbang pejabat koruptor? “Yang penting halal,” katanya.

Koran harian Jawa Pos menulis feature berjudul Bos pengemis tinggal nikmati hidup pada edisi 12 Juni 2008. Kisahnya membekas di pikiranku, meninggalkan kesan beragam, campur-aduk seperti permen Nano Nano: kaget, geli, sedih, malu, kagum, geleng-geleng kepala, de-el-el. Blog Berita “bangga” karena Cak To tidak munafik, dia jujur mengakui asal-usul hartanya, tidak seperti [oknum] bupati hingga menteri yang jabatan sosialnya terhormat tapi mencuri uang rakyat dengan jalan korupsi. Tapi juga aku malu, aku malu membaca pengakuan Cak To, sesama muslim seperti diriku, bahwa uang hasil mengemis itu akan dipakainya untuk menunaikan ibadah haji. Kalau aku jadi Cak To, aku takkan mau naik haji. Memalukan! Menyedihkan!

Inilah artikel selengkapnya seperti dikutip Blog Berita dari Jawa Pos. Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ”karir”-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya. Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan.

Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta. Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang. Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.

Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik. Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ”orang mampu”. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.

Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ”Yang penting halal,” ujarnya mantap.

Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun, menurut dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI. Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ”Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,” ungkapnya.

Karena mengemis di Bangkalan kurang ”menjanjikan”, awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.

Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ”bakat” Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat. Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ”Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga.

Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ”Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet),” tegasnya.

Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ”Kami berpencar kalau mengemis,” jelasnya. Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.

Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya.

Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ”Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,” kenangnya.

Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah. Cerita tentang ”keberhasilan” Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ”Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng.

Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ”Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,” tegasnya.

Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur. Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan. Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.

Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan. Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.

Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.

Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ”Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,” ucapnya.

Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ”Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya.

Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ”Saya ingin naik haji,” katanya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti. [Sumber dan foto: Jawa Pos/ded/aza]

  • Terima kasih kepada Andries Sibarani yang mengirim artikel ini ke Blog Berita.
tafbutton blue16 Pengemis berpenghasilan Rp9 juta/bulan

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

34 Responses for “Pengemis berpenghasilan Rp9 juta/bulan”

  1. smart says:

    Bertambahnya jumlah koruptor berbanding lurus dgn pertambahan jumlah pengemis. Kenapa? karena pengemis dan fakir miskin salah satu tool money laundry bagi koruptor…… :=)

  2. Ucok Lubis says:

    walah…! jadi pengemis sukses?! walaupun uangnya mau dikumpulin buat naik Haji tetapi mengemis merupakan perbuatan tercela bagi umat muslim. Tapi setuju saja sih kalau dibilang Cak To tidak munafik bila dibandingkan dengan pejabat koruptor, tapi masih banyak kan usaha yang bisa dilakukan selain hanya menengadahkan tangan meminta-minta kepada orang lain. Semoga aja generasi seperti Cak To ini tidak pesat berkembang, kalau yang kaya adalah pengemis jadi siapa yang bakal memberi?

  3. Margono says:

    Buju buneg…… . Sudah saatnya Warda Hafiz Koordinator Rakyat Miskin Kota belajar dari pengalaman Cak To.Apakah miskin itu sebagai identitas bangsa kita. Wallahuallam

  4. Diah says:

    Tidak lama lagi akan muncul Partai Pengemis (kalau dalam film silat namanya Kelompok Kaypang…..eh…bener gak sih). Kemudian mereka akan memilih ketua partai untuk dijadikan calon Presiden. Lalu mereka juga akan kampanye dengan memakai seragam tambal sana tambal sini. Dilanjutkan dengan melakukan kolaborasi dengan partai2 kecil. Matilah aku…….!

    Dalam melakukan mindset dan penduplikasian kepada kader cak To tidak perlu pakai bahasa ilmiah yang rumit.Dengan bahasa sederhana buktinya cak To bisa merekrut teman2 dari kampung dan nyatanya anggota bertambah terus. Artinya cak To sukseeessss…!

    Pertanyaannya adalah cak To yang pinter atau kita sebagai penderma yang keblinger? Bingung……kan……..!

  5. hapuzinside says:

    wah ternyata pengemis itu ada yang kordinasi ternyata benar adanya.Tapi kita tidak boleh memandang itu salah atau benar.bayangkan kalo kita sekarang berada di posisi bapak tersebut”cak to” apakah kita akan seperti itu juga,atau tidak,atau bahkan lebih dari itu..

  6. Herr says:

    Assalamu’alaykum,,,

    Mungkin hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berikut patut kita renungkan bersama. Beliau bersabda;
    “Demi Allah yang hidupku berada dalam genggamanNya! Seseorang yang mengambil seutas tali kemudian mencari kayu aker, lalu kayu tersebut diangkutnya diatas punggungnya, adalah lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada orang lain yang mungkin dia akan diberi atau ditolak.” (HR. Al-Bukhari)

  7. tiewie says:

    Q pkir pengemis terotganisasi cma isapan jmpol blaka trnyata banar adanya….

    pengemsi skrang udah jadi pkerjaan tatap yang bsa dijadikan sandaran hdup. kayaknya RAPERDA yg dicanagkan oleh pemkot SBY soal larangan memberikan uang pda pngemis wajib dipertimbangkan dan disahkan.
    tpi yang labih pneting bgaimana pmrintah membuat pembanguan n ksemptan krja yang lyak bgi orng2 yg kurng n hidpnya di desa

  8. Waduh cerita model begini kalau dibaca para pengemis jadi membuat mereka tambah semangat dunk, makin bejubun aja pengemis

  9. citra says:

    pengemis dan tukang mie ayam penghasilannya lebih besar pengemis adalah kenyataan. Dosen saya yang tergabung di suatu yayasan yang menangani kemiskinan, memberikan modal kepada sejumlah pengemis dan gelandangan untuk dijadikan usaha (mie ayam, bakso dan dagangan dalam bentuk gerobak lainnya). Gak sampe 2 bulan, modalnya dikembalikan karena menurut para pengemis dan gelandangan tersebut “jadi pedagang duitnya dikit euy Pak, masih enak ngemis di stopan.”
    Apa karena perut yang lapar jadi tidak sabaran untuk mendapatkan uang ato pengen punya hasil cepet tanpa harus keliling komplek untuk menjajakan dagangan?

  10. setyo says:

    tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Kemudian kita tidak bisa langsung melakukan suatu pembenaran terhadap sesuatu yang sekiranya dapat menjadikan apa yang kita lakukan menjadi ‘benar’. hal tersebut pada nantinya akan menjadikan hati kita menjadi lebih keras. Demikian komentar dari saya. Salam berantas korupsi dan kawan-kawannya di bumi indonesia

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.