Siapa ‘bos kita semua’ dan siapa ‘Joker’

Posted by Jarar Siahaan on Jun 18th, 2008 and filed under Nasional. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Kejaksaan Agung tidak mustahil menjadi “sarang” koruptor. Kasus terakhir adalah rekaman telepon dua Jaksa Agung Muda, Untung Udji Santoso dan Kemas Yahya Rahman, dengan Artalyta Suryani — yang ketahuan memberikan suap Rp6 miliar kepada jaksa Urip Tri Gunawan.

Bayangkan, seorang Artalyta Suryani, kerabat pengusaha Sjamsul Nursalim yang terbelit kasus dana BLBI, bisa bertelepon secara mudah dan akrab dengan dua Jaksa Agung Muda [JAM] — jabatan tertinggi di Kejaksaan Agung setelah “The big boss” Jaksa Agung — untuk “mengurus” kasus Nursalim. Artalyta dalam telepon yang disadap Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK] memanggil kedua Jaksa Agung Muda itu sebagai “Mas” dan “Bang”, bukan “Pak”.

Yang paling bikin geram adalah justru JAM Tata Usaha Negara, Untung Udji Santoso, menyuruh Artalyta berbohong setelah KPK menangkap basah jaksa Urip menerima suap Rp6 miliar dari Artalyta; Untung mengajari supaya Artalyta mengatakan uang Rp6 miliar itu bukan suap melainkan dalam rangka hubungan dagang. Bahkan JAM Untung juga bikin skenario agar Artalyta ditangkap oleh kejaksaan, jangan sampai ditangkap KPK, dengan maksud supaya jejaring suap-menyuap mereka tidak terbongkar lebih dalam; tapi untunglah KPK lebih duluan menangkap perempuan itu.

Selain Untung Udji Santoso dan JAM Pidana Khusus, Kemas Yahya Rahman, masih ada satu lagi Jaksa Agung Muda yang disebut-sebut namanya dalam telepon tersebut, yaitu JAM Intelijen Wisnu Subroto. Dengan diperdengarkannya beberapa rekaman telepon itu di pengadilan, Untung Udji Santoso dan Kemas Yahya Rahman tidak bisa untuk tidak dijerat hukum. Namun pengadilan dan KPK juga harus mengungkap siapa itu “bos kita semua” dan “Joker” yang disebut-sebut dalam telepon Artalyta.

Mendengar kedua sebutan ini opini publik bisa saja langsung tergiring pada Jaksa Agung atau Presiden misalnya. Maka supaya menjadi jelas, Blog Berita mendukung upaya KPK membongkar sindikasi mafia korupsi di lembaga Kejaksaan Agung, bila memang ada, dan juga di lembaga hukum lain seperti Polri, kehakiman, dan kepengacaraan. Ayo KPK, “mainkan” lagi hingga ke kabupaten-kabupaten.

Transkrip rekaman telepon Untung Udji Santoso – Artalyta Suryani

Sumber: Detikcom

Untung (U): Memang dikasih berapa duit?
Artalyta (A): 660 ribu dolar.

U: 4 M (miliar – red)?
A: 6 M (miliar – red).
U: Lailahailallah!

A: Jadi bagaimana ini menyelamatkan itu semua, orang-orang kita?
U: Nggak iso ngelak kalau 6 M. Gila.
A: Jadi gimana?
U: Tak pikir enam atus juto (enam ratus juta-Red) gitu.
A: nggak, itu banyak. Gimana?
U: Itu untuk siapa?

A: Ah, ya udahlah. Sekarang kita jalan keluarnya gimana?
U: Adu biyung gimana?

A: Heh.
U: Sek…sek (sebentar – red). Kalau kayak gitu, susah itu.

A: Aku kena lho, Mas, kayak gini.
U: Lha iya.

A: Aku bilang kan ajudanku.
U: Ajudan kok duite samono gede ne. Soko ngendi? Ngarang ae. Yo wes. (Ajudan kok uangnya begitu banyak. Dari mana? Ngarang aja. Ya sudah – red). Gimananya caranya hubungi Antasari.

A: Ya, coba Sampeyan telepon dulu.
U: Udah, mati teleponnya.

A: Mati? Dicari. Suruh nyari dong. Feri (Direktur Penuntutan KPK Feri Wibisono – red) suruh nyari.
U: Feri juga nggak ngangkat.

A: Jadi gimana? Ini kan mesti ngamanin bos kita semua.
U: (terdiam lama)

A: Aku jawabnya apa ya? Sekarang anakku kan masuk lewat belakang. Dia pegang juga. Dia masuk (tiba-tiba terinterupsi, Artalyta seperti menyuruh seseorang di rumahnya melakukan sesuatu).
U: Usahakan cepat you keluar. Nyari Antasari deh.

A: Ya, di mana dia rumahnya?
U: Di anu, di BSD. Waduh, tapi saya tidak tahu juga rumahnya. Tapi jangan, jangan ke rumahnya. Ketemu di mana, di hotel atau di mana gitu deh.
A: Ya, aku kan udah mau dibawa. Sampeyanlah yang kejar, yang nyari dia, Mas. Kan nggak kentara kalau sampeyan.
U: Ya, iya. Tapi teleponnya aku gak ngerti rumahnya (suara Untung terdengar gelagapan). Teleponnya gak diangkat, aku sudah minta Wisnu (Jamintel Wisnu Subroto – red).

A: Sekarang susulin.
U: Ta’ telepon dulu.

A: Sekarang sampeyan susulin, gerilya sama Wisnu.
U: Aku udah telepon Wisnu, demi Allah ini.

A: Kata Wisnu apa?
U: Aku sudah dibuka teleponnya. Aku juga nggak buka. Kamu punya nomor lainnya nggak? nggak punya, lah gimana? (Untung menirukan perkataan Wisnu padanya ke Artalyta)

A: Sekarang aku kan mau dibawa. Supaya keterangannya sama gimana? Nanti kan kena gimana? Kan jangan sampai kena semua.
U: Kenapa sih kok bingung gini? Aduh, gawean ae.

A: Makane. Makanya, aku dari luar Jakarta, dia (jaksa Urip – red) maksa (ambil uang US$ 660 ribu) hari ini.
U: Uhhh, kacau kabeh. (menghela nafas)

Transkrip rekaman telepon Kemas Yahya Rahman – Artalyta Suryani

Sumber: Detikcom

Artalyta (A): Halo.
Kemas (K): Halo.

A: Ya, siap.
K: Sudah dengar pernyataan saya? Hehehe.

A: Good, very good.
K: Jadi tugas saya sudah selesai.

A: Siap, tinggal…
K: Sudah jelas itu gamblang. Tidak ada permasalahan lagi.

A: Bagus itu.
K: Tapi saya dicaci maki. Sudah baca Rakyat Merdeka?

A: Aaah Rakyat Merdeka, nggak usah dibaca.
K: Bukan, saya mau dicopot hahaha. Jadi gitu ya…

A: Sama ini mas, saya mau informasikan.
K: Yang mana?

A: Masalah si Joker.
K: Ooooo nanti, nanti, nanti.

A: Nggak, itu kan saya perlu jelasin, Bang.
K: Nanti, nanti, tenang saja.

A: Selasa saya ke situ ya…
K: Nggak usah, gampang itu, nanti, nanti. Saya sudah bicarakan dan sudah ada pesan dari sana. Kita…

A: Iya sudah.
K: Sudah sampai itu.

A: Tapi begini Bang…
K: Jadi begini, ini sudah terlanjur kita umumkan. Ada alasan lain, nanti dalam perencanaan.

Siapa “si Joker”?

Sumber: Kompas

“Kalau begitu, siapa yang Anda maksud dengan si Joker?”

Mendapat cecaran tersebut, Artalyta kembali diam. Setelah agak lama, Artalyta menjawab, “Yang saya jelaskan, demi Tuhan, itu bukan Urip yang dimaksud,” ujar Artalyta.

Hakim Andi Bachtiar pun semakin bersemangat. “Kalau begitu siapa yang disebut dengan tujuan, terdakwa ungkapkan dengan si Joker. Kita paham siapa itu Joker. Pengunjung juga paham dengan Joker,” tegasnya.

“Nggak tahu saya,” lanjut Artalyta. [blogberita.net]

tafbutton blue16 Siapa bos kita semua dan siapa Joker

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

26 Responses for “Siapa ‘bos kita semua’ dan siapa ‘Joker’”

  1. olanto says:

    Blog Berita,
    Yang menjadi pertanyaan besar adalah ” kenapa KPK hanya menangkap penerima ( jaksa Urip ), logikanya agar adil dan berimbang maka penyuap juga harus ditangkap ( seperti alasan jaksa Wisnu Subroto). Terus ada rencana yang spontan dari pihak kejaksaan hendak menangkap pemberi suap, Arthalyta, sekalian mendahului KPK ( apa alasannya ? Arthalyta belum pernah diperiksa kejaksaan kan ??. Sepertinya KPK sengaja mengulur waktu untuk menangkap Arthalyta, KPK ingin mengetahui ” reaksi dari oknum jaksa-jaksa yang korup itu ” setelah Urip ditangkap. kalau memang seperti itu kayaknya masih ada rekaman pembicaraan telpon yang belum dibeberkan KPK di pengadilan; ini sebagai senjata pemungkas. Ramai juga ya ?

  2. dayat says:

    No comment lah,.

    Pokoknya tumpas habis para koruptor.
    bikin pasal yg bisa membuat para koruptor jera.

    hidup KPK…

  3. kevin says:

    Koooorupsi dimana mana…di kampung jeung di kota….!!!

  4. uyut says:

    aduhhh aduhh… bener2 mencoreng pemerintahan kita yaa… mudah2an ini awal dari akan ditegakkan keadilan yg seadil2nya..
    di daerah aja biaya dokumen 50ribu bisa jadi 5juta!!!… bayangin itu, gimana gak koruptor merajalela dimana2… sudah seperti lingkaran setan.. yg kaya semakin kaya, yg miskin semakin terpuruk..

    • darmadi says:

      @ Uyut

      Mahkamah Agung dan Kejaksaan Agung, Dua Pilar Hukum yang masih belum di Reformasi.

      Kalau semua pejabatnya diperiksa, entar yang tinggal cuma pesuruh dan tukang sapu/ tukang kebon.. Kayaknya,cuman itu doang yang jujur.

  5. Jack@ says:

    Bang BlogBerita,

    Saya ngga setuju dengan kalimat koruptor

    “Kejaksaan Agung tidak mustahil menjadi “sarang” koruptor. ”

    menurut saya, “konspirasi di Kejaksaan Agung” itu dianggap lebih tingkatannya dari pada koruptor. Pemakaian kata koruptor kesannya melakukan kejahatan yang biasa. Padahal kejadian ini adalah kejadian yang luaaarrr biasa di Negeri ini.

    Lae, Coba cari lagi kata-kata yg cocok…

    @Bang Rizieq,
    Bang, tolong dicariin dong kate-kate yang pas. abang khan jinius…

    kek kek kek

    BLOG BERITA: aku setuju denganmu, lae jack. ayo, bang rizieq, pilihkan istilah yang paling tepat. :)

    • Diah says:

      Kalau istilah sarang koruptor masih belum menggigit, ya…. ditambah aja dengan satu kata lagi yaitu Pengelola……. Mungkin sedikit lebih menggigitlah……….! Kalau Lae disuruh mikir lagi untuk mencari istilah yang lebih seram, kacian dong…!

    • rizieq says:

      Huek.. kek.. kek…

      Korupdinator? Koruptor sekaligus koordinator.
      Konspiruptor? Konspirator nyang juge koruptor.
      Kongloruptor? Konglomerat koruptor?
      Korjaktor? Koruptor ame jaksa boncengan satu motor?
      Jamtipikor? Jaksa Agung Muda Tapi Ingin Pamer jadi Ikut KORupsi?
      KAMASUTRA: Kemas Akan Memuaskan Ayin Soalnya Untung & Tri Ragu-ragu Action.

      Dipili… dipili…

  6. Diah says:

    Kalau dalam permainan joker karo bukankah sosok joker mempunyai kekuatan sangat luar biasa. Dia bisa menjadi andalan kekuatan kartu apa saja. Mau King, Queen, As, Jack bhkn kartu bernilai paling rendah sekalipun kalau dipartnerin dengan joker bisa berbeda jalan hidupnya. Jadi bagaimana dengan joker di kasus Artalyta, apakah sama dengan di joker karo? Capeeekkk….deh…!

    • rizieq says:

      @Diah

      Rocker: ARE YOU READY TO ROCK ?????!!!!!
      Joker : ARE YOU READY TO JOKE ?????!!!!!

      Mbak Diah, piling ane sih ini bakalan jadi big joke…

      kek.. kek.. kek…

      • Diah says:

        Soalnya dari hari kehari kepale dan mata kita terus disuguhi berita dan peristiwa2 aneh bin ajaib. Jadi, dari pada pusing, ngotot sendiri (kagak ada yang peduli), senaf (sesak nafas), lebih baik kita tanggapi dengan ngejoke aje. Setujukan?

  7. Rio says:

    Akhir2 ini rekaman pembicaraan telepon Untung – Artalyta sedang populer menjadi ringtone.
    Saya mau dong kalau ada informasi alamat URL situs yg menyediakan file rekaman tersebut utk di download.

    • darmadi says:

      Perlu juga di periksa, Adnan Buyung Nasution, pengacara dari Syamsul Nursalim. Jangan2 dia yang ngatur, penyuapan ini.

      Gue heran, bisa2nya Si Buyung jadi pengacaranya si Syamsul Nursalim.

      Yaaa. zaman sekarang, semua bisa di beli dengan duit. Termasuk tokoh yang katanya punya integritas tinggi.

  8. rizieq says:

    hhhmmmm….

    Gud nyuws nye: kasus ini ude mulai terbuka. Kalu ade Joker, ade juge dong jack, Queen ame King-nye.

    Tumpas… kan beres. Syamsul Nursalim ude dipanggil beberape kali kok kaga dateng-dateng? Heibat buenerrr….

    He.. he… bau-baunye ‘bedol desa’ neh….

    Bagus lah…

    Inga.. inga.. keadilan akan terpejam kalu hukum sudah membuka matanya…

    • darmadi says:

      Gue ngasih apresiasi tinggi buat Pemerintahan SBY.

      Baru zaman SBY, ada Menteri, Gubernur BI, Gubernur Propinsi, Bupati, Anggota DPR yang di proses hukum dan di vonnis karena kasus korupsi.
      Kalo zaman sebelumnya, kagak ada tuh. Apalagi zaman Orba.

      Kagak apa-apa dalam bidang Ekonomi, rapor SBY merah, tapi dalam penanganan kasus korupsi, rapornya bagus, tuh.

      • aria says:

        Eitss… tunggu dulu bro…
        KPK itu lembaga independen. Kagak ada hubungan ama pemerintah SBY. Nah, dengan terbongkarnya percakapan para jaksa ini berarti rapor penanganan korupsi SBY juga ikut merah rah rah! Kenapa? Karena para jaksa ini ada di bawah subordinat SBY.

        • darmadi says:

          @ aria

          KPK tidak akan punya gigi, jika tidak di dukung secara politis oleh Pemerintah yang berkuasa.

          Bahkan, KPK pernah diancam akan di bubarkan oleh DPR, karena merasa terancam.

          Tanpa dukungan SBY, KPK mungkin tinggal nama.

    • Jack@ says:

      @ Bang Rizieq

      Bang, Jangan Gud nyuws nya aja yang diliat Bed nyuws juga di ikutin dong…
      Kayaknya udah dibelokin ke “pelanggaran etika”

      Nanti kalo bedol desa, kayaknya mereka cocok bergabung dengan srimulat… Semakin banyak omong semakin lucu.

      • rizieq says:

        Setuju Bang Jack,

        cuman kalu ngomong bed nyuws, ude jadi deyli nyuws tuh..

        masale Srimulat? so pasteee….

        kek.. kek…

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.