Em-Ow-Yu anjing, kucing dan tikus
Oleh Dian Sidauruk — Tiga hewan bikin kesepakatan kerja-sama.
Apapun alasannya, Anjing, Kucing dan Tikus tak pernah akur. Jangankan akur, saling melihatpun sudah menimbulkan huru-hara. Ini takdir. O, ya?
Bukannya mereka tak menyadari hal itu bahkan tak hanya menyadari tetapi tahu pasti bahwa mereka tak akan pernah bisa berdekatan apalagi duduk bersama untuk sekedar ngobrol misalnya memperbincangkan hingar-bingarnya kesulitan memperoleh sembako.
Gerah juga mereka merenungi keadaan itu. Kegerahan ini membawa mereka ke suasana perenungan. Baik Anjing, Kucing maupun Tikus, entah oleh karena apa, hati dan perasaan mereka tiba pada suatu moment penting sadar akan pentingnya persatuan dan kesatuan. Mungkin mereka pernah membaca, ‘Bersatu Kita Bisa’ atau mungkin mereka pernah mendengar tentang persatuan, ‘Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh’. Mungkin juga.
Walau kalimat itu rancu tanpa makna dan arah bagi mereka, misalnya Bisa apa atau Teguh seperti apa, tetapi kedua kalimat ini nampak inpiratif di benak mereka. Inspirasi inilah yang akhirnya membawa mereka ke meja perundingan.
Suasana pemukiman itu terlihat rapi dan bersih. Dijaga para pengawal gagah berani dan berani mati. “Dua hari lagi akan ada perundingan di sini”. Demikian terdengar bisik-bisik ramai di antara penduduk terutama di kalangan kaum betina.
Benar. Anjing, Kucing dan Tikus hadir tepat waktu. Untuk kali ini mereka tak mau meniru budaya jam karet budaya tetangga. Setelah berdiskusi beberapa waktu lamanya, baik Anjing, Kucing maupun Tikus sepakat menandatangi suatu perjanjian. Mereka sepakat menyebut perjajian itu MOU.
Anjing yang merasa dirinya paling berkuasa merasa pantas jadi komandan. Tak juga dia sadar bahwa persatuan tak memerlukan kekuasaan. Dia menyuruh Kucing memandatangi MOU itu terlebih dahulu. Tetapi Kucing menolak dan menyuruh Tikus menandatangi terlebih dahulu. Si Kucing pun belum juga mengerti bahwa persatuan memerlukan kerendahan hati.
Tak ada alasan bagi Tikus untuk menolak. Kemudian Kucing membubuhkan tandatangan dan Anjingpun menyusul dengan tanda tangan gagah perkasa. Mereka bersalam-salaman, berpelukan dan cium-cium pipi.
MOU itu berisi antara lain:
- Kami saling menghargai.
- Kami akan berbagi apa saja termasuk sembako.
- Bersatu Kami Bisa.
- Bersatu Kami Teguh Bercerai Kami Runtuh.
- Hal-hal yang tidak tercantum di sini disesuaikan dengan norma-norma sosial.
Masing-masing pulang dengan hati lega. “Perdamain-perdamaian” Demikian bunga-bunga di dada mereka.
Di perjalanan ketika pulang dari MOU, tikus mendapat sebongkah kue kira-kira dua kali besar kepala naga kecil. “Ini mungkin jatuh dari truk yang melintas tadi”. Pikirnya. Dia merasa bahwa kesetiaan terhadap MOU sangatlah penting maka diapun dengan senang hati memberitahukan kue temuan itu baik kepada Anjing maupun Kucing.
Ketiganya bergegas melenggang ke tempat kue yang ditemukan. Tiba waktunya membagi kue tersebut. Anjing yang merasa diri paling besar dan berkuasa membuat garis di kue itu, garis tanda bagian masing-masing. Bagiannya sudah tentu dibuatnya lebih besar. Kucing tak setuju sebab merasa bahwa bagian itu terlalu besar. Dia kemudian menghapus garis yang dibuat anjing dan membuat garis baru. Tikus tak setuju sebab merasa bahwa dialah yang menemukan kue itu. Dia membuat garis baru.
Demikian mereka terus menerus garis-menggaris. Mereka berkeringat terengah-engah dan mulut mereka berbusa bertengkar habis-habisan. Suara parang dan tombak mulai terdengar berdenting.
Sore mendung, petir membahak. Kue lebur meleleh hanyut bersama deraian hujan.
MOU tak berguna. Kue pun lenyap. [blogberita.net]
- Penulis Dian Sidauruk adalah pekerja swasta di Denpasar.
- Baca juga artikel Dian: Apa perbedaan sari matua dan saur matua
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

Artikel ini adalah illustrasi tentang kejadian sehari-hari di muka bumi ini. Kesepakatan menjadi slogan belaka dan amburadul begitu kepentingan ‘berbicara’. Dan kejadian semacam ini tak akan pernah sirna.
[reply to this comment]
Seperti biasa, tulisan ‘babe’ menarik untuk disimak dan ada makna yang terkandung di dalamnya.
[reply to this comment]