Tak cuma pengantin, mayat pun perlu perias
Mengurus mayat orang luar negeri lebih rumit ketimbang mayat “made in” Indonesia.
Merias pengantin, selebriti, atau orang yang hendak merayakan sesuatu, itu hal biasa. Namun merias mayat, itu luar biasa. Bayangkan saja, ia mesti berkutat mendandani mayat yang, boleh jadi, tidak keruan rupanya akibat penyakit yang diderita atau kecelakaan yang menimpa. Tak heran bila cuma sedikit yang menjalani profesi ini. Sudah tentu, perias mayat tak melulu bermodalkan keberanian. Ia juga mesti memiliki jiwa seni dan panggilan jiwa untuk menekuni profesi ini.
Karena inti dari pekerjaan merias adalah membuat obyek riasannya menjadi lebih indah, jiwa seni menjadi hal yang penting. Pasalnya, wajah setiap mayat memiliki kontur berbeda-beda. Nah, jiwa seni inilah yang bakal menuntun si perias dalam memoles wajah mayat agar tampak berseri-seri atau tersenyum. Dengan demikian, keluarga yang ditinggalkan tidak terlampau sedih.
Mungkin yang khusus adalah tempatnya. Sebab, tak sembarang tempat menyediakan fasilitas merawat mayat, mulai dari memandikan, merapikan semua organ tubuh jika keadaan tubuhnya rusak, hingga mendandani mayat tersebut supaya tampil layaknya ketika ia masih hidup. “Kami jamin pihak keluarga yang ditinggalkan akan puas,” ujar Rantje Langkun, Manajer Yayasan Pelayanan Pemakaman (YPP) St. Carolus. Fasilitas salon kecantikan “kematian” ini hanya bisa ditemui di rumah-rumah duka, misalnya, rumah duka RS St. Carolus di Salemba, Jakarta Pusat, dan RS Atmajaya di Pluit, Jakarta Utara.
Meskipun tugas intinya adalah merias, kata Daniel Rusmondo, satu dari lima orang perias mayat di rumah duka St. Carolus, “Tapi ada beberapa rambu yang mesti diperhatikan ketika akan merias mayat.” Pertama, sang perias harus memakai baju khusus seperti baju dokter, kaus tangan, sepatu karet, dan penutup mulut. Ini untuk menghindari bahaya infeksi atau tertular penyakit yang ditimbulkan dari mayat. Misalnya, mayat yang terkena penyakit kencing manis biasanya kondisinya mudah membusuk, kulitnya mudah terkelupas, dan mengeluarkan cairan dengan bau yang tak sedap.
Penjelasan Daniel tersebut diamini Maria Magdalena Lena Mulyana (Lena), perias mayat dari rumah duka Atmajaya. Selanjutnya si perias dengan dibantu staf, biasanya tiga orang, mempersiapkan peralatan mandi seperti sabun, sampo, wash lap, dan handuk. Setelah kondisi mayat bersih (baik dalam maupun luar tubuh), mayat diberi pengawet formalin agar tidak cepat busuk dan kulit tidak kisut.
Maka, dimulailah ritual merias: pemberian alas bedak (foundation), bedak, memperindah alis, hingga lipstik. Semuanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Agar wajah obyek tidak tampak pucat, terlebih dahulu dibaluri ramuan dempul seperti lilin buatan Switzerland. Bahan ini bisa tersamar dengan warna kulit. “Saya tinggal memoleskan foundation dan bedak, maka mayat akan tampak segar,” ujar Lena.
Boleh jadi, karena syaratnya seperti di atas, itulah yang membuat profesi ini agak langka. Sebagian besar orang yang menekuni profesi ini mengaku terperosok dan tidak ada pilihan lain di tengah sulitnya mencari pekerjaan. Simak saja pengakuan Daniel yang ditemui TRUST saat sedang merawat mayat yang baru tiba. “Saya terpaksa waktu itu. Di tengah susahnya mencari pekerjaan, saya coba melamar ke sini [rumah duka St. Carolus] dan ternyata diterima,” ujarnya. Mulanya ia sempat ragu untuk meneruskan pekerjaan ini. Namun, setelah berpikir dan merenung, akhirnya Daniel bisa menerima. Kini, setelah lima tahun berselang, ia sudah mahir merawat dan merias mayat dengan apik dan resik, baik mayat pria maupun wanita.
Bagaimana mengurus mayat orang asing? Baik Daniel maupun Lena sepakat bahwa prosesnya lebih rumit. Dimulai dari persiapan peti mati khusus yang harganya minimal Rp 9 juta, pengurusan dokumen, mengurus mayat, hingga mengantarkannya sampai ke negeri asal. Pengiriman mayat harus dilengkapi dokumen keimigrasian dan segel dari Bea dan Cukai.
Karena prosesnya yang rumit, sedikit sekali orang berpengalaman yang mengurus jenazah orang asing. Mungkin hanya Josaphat R. Ranuadmadja (Yosef) yang mampu melaksanakannya. Ia, yang kini berusia sekitar 70 tahun, menekuni pekerjaan tersebut sejak 1983 di Balikpapan, Kalimantan Timur, lewat Yayasan Kasimo. Orang asing yang menggunakan jasanya merupakan karyawan perusahaan modal asing dan lokal di situ.
Kasus Busang pada medio 1990-an meninggalkan kesan mendalam bagi Yosef. Ialah yang mengurus jenazah Antonio de Guzman, geolog penemu “cadangan emas” terbesar di dunia. Konon, de Guzman tewas bunuh diri meloncat dari helikopter ketika skandal terbuka. Mayatnya sudah rusak ketika ditemukan sepuluh hari kemudian. Pihak kepolisian kesulitan membersihkannya. Akhirnya, “Saya masukkan empat liter cairan Baygon lewat anus, dipompa dengan kompresor untuk mengusir belatung,” ujar Yosef. Ia ikut dalam proses evakuasi jenazah dari pedalaman Kalimantan Timur hingga mengantar ke Manila. [Sumber: Trust/Lutfi Yusniar/Budi Supriyanto]
- Nganggur? Klik lowongan kerja
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

Dari sudut tatanan sosial, hal ini memang perlu. Tujuannya banyak, al.: agar bersih, terurus dan para pelayat tak jijik.
Biaya orang mati sampai ke pemakan sering mahal. Biaya ini belum termasuk ritual agama dan adat.
[reply to this comment]
darmadi reply on 19 June 2008:
@ Dian
Toraja, Bali,China, Tapanuli (non Muslim) punya ritual yang banyak makan biaya untuk prosesi pemakaman jenazah.
Begitu besarnya biaya, sampai menyengsarakan orang yang hidup.
Artinya, untuk prosesi itu, keluarga terpaksa di bebani hutang yang besar.
Aneh.. orang mati masih menyusahin yang hidup.
Lebih aneh lagi, Orang hidup mau2nya di susahin oleh orang yang mati.
[reply to this comment]
@darmadi
tidak sedangkal yang kamu pikir…dan dan otaknya yang kosong langsung teriak2.jolo nidilat bibir asa nidok hata.
[reply to this comment]
@ nadeak
Apa yang gue bilang bukan pepesan kosong, bung.
Di Tana Toraja, Prosesi pemakaman kadang menyembelih 100 ekor kerbau (tedong). 1 ekor tedong harganya 7 juta rupiah. Coba hitung sendiri.
Belum lagi, yang disembelih, tedong bunga ( kerbau belang) harganya Rp. 50 juta seekor.
Itu belon di hitung, ratusan ekor babi yang di potong.
Makanya di Tana Toraja ada pepatah : Hidup dan bekerja untuk orang MATI. Karena seumur hidupnya, ia akan punya hutang untuk membayar biaya prosesi pemakaman keluarganya.
Belon lagi, prosesi pemakaman orang Tapanuli (Non Muslim), termasuk membangun tugu yang bertebaran di Tobasa.
Anak2 di Tobasa tidak pakai baju dan celana, tapi tugu nenek moyang mewah berkibar.
Anak2, tidak sekolah, tapi biaya pesta tugu bisa puluhan juta rupiah.
Hebaaaaat…Hebaaaat.
[reply to this comment]
@ darmadi
tulisan lo bisa bikin sakit ati orang lain…
walo sebenernya…make sense juga sih….
coba kalo yang keluarga yang ditinggalin kere….
kasian cari utangan…..
padahal di dunia lebih banyak orang kere dibanding yang mampu….
[reply to this comment]
Kematian adalah suatu proses yang alamiah dan pasti akan terjadi pada setiap orang. Kematian memisahkan kita dengan orang yang kita kasihi di dunia ini. Selayaknya segala hal terbaik kita berikan terhadap orang yang kita kasihi sebagai wujud kasih dan penghargaan yang mendalam.
Tetapi yang sering terjadi adalah kita tidak bisa memberikan yang terbaik kepada orang yang kita kasihi saat meninggal dunia, hal tersebut karena kematian datangnya tidak ada yang tahu dan biaya kematian yang tinggi menyebabkan kita tidak siap secara finansial.
Selanjutnya ; http://excellentkab.com
[reply to this comment]
Memang pada umumnya masyarakat tana toraja masih sangat identik dengan budaya. Namun aku bangga akan hal itu. Dengan adanya pesat yang memerlukan biaya yang besar membuat masyarakat toraja tekun dan mau berusaha (kerja) untuk mendapatkan uang. Hal tersebut semacam pendorong untuk berusaha. Tak ayal dimanapun masyarakat toraja berada tetap dan akan tetap terikat oleh adat dan istiadat tersebut.
[reply to this comment]