Gaji wah, karya bah

Posted by Jarar Siahaan on Jun 20th, 2008 and filed under Kutipan Media. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Banyak order, penulis sinetron mendapat honor hingga Rp45 juta per bulan, mereka pun menyewa apartemen mewah sebagai tempat menulis. Gaji wah dengan mutu sinetron yang kita semua sudah te-es-te, tahu sama tahu, sekelas dialog “Gue tahu odol Lo apa. Gue tahu pasta gigi Lo apa.” Bah!

Berikut ini artikel berjudul Dunia penulis sinetron yang gemerlap yang dikutip Blog Berita dari Koran Tempo terbitan tahun 2005.

Sebagai pemirsa setia sinetron Cinta SMU tayangan Indosiar, saya merasa kecewa atas jalan cerita khusus episode yang tayang pada 7 Oktober 2004. Saya merasa resah karena ceritanya nggak mendidik dan menyesatkan. Apa bisa manusia minta tolong kepada arwah gentayangan? Sementara itu, arwah tersebut bisa balas dendam kepada manusia yang masih hidup. Bahkan, bisa mencabut nyawa manusia. Apa tayangan tersebut layak ditonton jutaan pemirsa TV?

Surat protes dari Sri Mulyani, warga Desa Keling Rt 3/Rw 5, Jepara, Jawa Tengah itu dimuat di harian Suara Merdeka, Semarang. Inilah satu dari sekian respon pemirsa televisi terhadap produk industri sinetron belakangan ini. Sebagian dari pemirsa memang terang-terangan membenci sinetron seperti Cinta SMU. Sebagian lainnya bersikap benci tapi rindu. Sebagian lainnya jelas-jelas memuji sinetron yang popularitasnya menanjak gara-gara Faisal, pemeran utamanya, bolak-balik ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan lantaran kasus pemerkosaan.

Di milis portal cbn.com misalnya, remaja dengan nick name AT0nG memuji sinetron ini dengan kata-kata, ”Sinetron yang bagus, Sephia dan Cinta SMU. Pokok nya yang abege-lah.” Dan, posting AT0nG ini memperoleh dukungan dari remaja dengan nick name N3KaD Junior dengan kata-kata, ”Sinetron abege emang lebih enak!”

Di tengah beragamnya kritik itulah, Derry, salah satu co-writer Mia Amalia, penulis skenario Cinta SMU, menikmati harinya dengan berenang di kolam renang mewah di Apartemen Mitra Oasis, Jakarta Pusat. Derry bukan tidak peduli dengan serentetan kritik terhadap sinetron yang diangkat dari hasil tulisannya. Namun, aktivitas itu ia lakukan untuk mengisi kejenuhan di sela-sela waktu menulis kelanjutan sinetron yang kini sudah mencapai lebih dari 150 episode itu.

Bagi Derry, memanfaatkan waktu luang dengan berenang, nonton film, atau membaca merupakan sesuatu yang mewah. Soalnya, ketika waktu menulis kelanjutan kisah Cinta SMU tiba, dia harus mengerjakannya sesuai tenggat yang ditetapkan pihak Rapi Film, rumah produksi yang menggarap sinetron itu. ”Satu episode saya selesaikan dalam sepuluh jam,” kata Derry. Dalam sepuluh jam itulah Derry membuat draft pertama skenario yang terdiri dari sekitar 30-40 scene .

Berbagai gagasan awal dari produser, Mia Amalia, serta setumpuk kritik dan saran dari pemirsa dijadikan Derry sebagai salah satu dasar untuk menulis. Ketika naskah usai ditulis, Derry masih berjaga-jaga, karena biasanya dia diminta merevisi draft itu. Revisi bisa dilakukan sekali, dua kali, atau bahkan bisa tujuh kali untuk setiap eposide. ”Tiap kali revisi hanya saya kerjakan 3-4 jam,” kata Derry.

Seluruh aktivitas Derry memang lebih banyak dilakukan di apartemen mewah seluas sekitar 97 meter persegi itu, tiap hari. Apartemen ini sebenarnya dijual dengan harga sekitar Rp 675 juta, tapi sejumlah penghuni memilih untuk menyewa apartemen dengan dua kamar tidur, satu ruang kerja, dan satu ruang pembantu itu. Harga sewanya rata-rata Rp 5,5 juta per bulan. ”Fasilitas apartemen ini lengkap. Penyewa tinggal menempatinya,” kata salah satu pemilik apartemen kepada Tempo.

Angka tersebut masih ditambah dengan biaya perawatan Rp 400 ribu dan listrik yang biasanya mencapai Rp 600 ribu. Jadi total uang yang dikeluarkan penyewa selama sebulan sekitar Rp 6,5 juta. Derry tidak perlu memikirkan biaya sewa sebesar itu. Soalnya, biaya tersebut menjadi tanggung jawab Mia Amalia yang merekrut Derry sebagai co-writer .

Ada alasan khusus mengapa Mia Amalia menyewakan apartemen. Di apartemen, kata dia, penulis bisa bekerja dengan tenang. Ketika mereka menemui kejenuhan, mereka bisa berenang, nonton, baca, atau sekadar jalan-jalan. ”Penulis harus bekerja di tempat yang senyaman mungkin agar bisa menghasilkan tulisan yang bagus,” kata ibu tiga anak ini.

Secara teori, kata Mia, penulis yang bergabung dengan dirinya harus siap bekerja selama 24 jam. Alasannya, jika sewaktu-waktu ada meeting dengan produser atau sutradara, penulis harus siap. Pada kenyataannya, kata Mia, masing-masing penulis hanya bekerja dua hari dalam seminggu. ”Namun, mereka kebanyakan tetap saja memilih tinggal di apartemen,” kata wanita kelahiran 1974 ini.

Mia mengaku mengerjakan 16 episode tiap bulan yang terdiri dari empat judul serial sinetron. Masing-masing judul yang berbeda itu ditayangkan setiap minggu sekali. Dari honor ke-16 epiosode sinetron yang diterima dari rumah produksi itulah ia merekrut empat co-writer dengan 13 kali gaji bulanan dalam setahun.

Mia tidak menyebut gaji yang diterima para co-writer. Dia juga hanya tersenyum ketika ditanya honor yang diterima dari Rapi Film. Namun sebuah sumber Tempo menyebut, gaji para co-writer minimal Rp 4 juta sebulan. Total penghasilan Mia sendiri juga cukup menggiurkan. Menurut sumber Tempo, sebuah skenario sinetron dengan durasi 1 jam rata-rata dibeli oleh rumah produksi dengan harga berkisar Rp 3-7,5 juta. Jika dalam sebulan ada 16 episode, penghasilan yang diperoleh Mia dalam sebulan tak kurang dari Rp 45 juta.

Penghasilan yang menjanjikan itu memang logis diterima di tengah kebutuhan akan penulis skenario sinetron di Tanah Air. Maklum, setidaknya delapan stasiun televisi swasta membutuhkan tayangan sinetron baru tiap harinya. Jika tiap stasiun televisi swasta menayangkan tiga sinetron saja, setidaknya ada 24 sinetron tiap hari. Dalam sebulan tak kurang dari 600 episode yang harus disediakan oleh rumah-rumah produksi yang kini muncul bak jamur di musim hujan. Ini belum termasuk kebutuhan untuk TVRI dan beberapa stasiun baru di daerah. Tak heran jika penulis skenario sinetron seperti Mia kebanjiran pekerjaan sehingga harus merekrut co-writer seperti Derry.

Selain Mia, penulis lain yang mengenyam nikmatnya dunia sinetron adalah Beng Irawan. Sejak 1988 Beng dikontrak oleh rumah produksi Tripar Multivision Plus. Kini dia masih terikat kontrak untuk menulis 208 episode sineron yang sudah dijalaninya selama beberapa bulan. ”Sekitar setahun kontrak itu biasanya habis,” kata Beng. Sebelum habis, biasanya Multivision sudah meminta kepastian Beng untuk melanjutkan kontrak atau tidak. Artinya, rata-rata 17 episode naskah yang harus diselesikan Beng setiap bulan. Dulu, pada 1998, honor yang diterima Beng tiap episode sinetron dengan durasi 1 jam hanya Rp 2 juta.

Beng tidak menyebut secara pasti berapa rupiah yang diterima untuk tiap episode. Namun, dengan angka rata-rata sekitar Rp 3-7,5 juta tiap episode, dalam sebulan tak kurang Rp 50 juta yang ia peroleh dari rumah produksi milik Raam Punjabi ini. ”Mudah mudahan di kontrak mendatang bisa Rp 7,5 juta tiap episode,” katanya sembari tertawa.

Untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak, Beng merekrut empat co-writer yang ia sebut sebagai rekanan. Mereka memang tidak diwajibkan tinggal di apartemen sebagai mana Derry, melainkan tinggal di daerah yang dekat dengan rumah Beng di kawasan Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. ”Kalau butuh untuk ketemu, kira-kira satu jam mereka sudah bisa sampai ke rumah saya,” kata penulis naskah sinetron Bidadari, Gengsi Gede-gedean, dan Panji Manusia Milenium itu.

Honor bagi para penulis tersebut cukup bervariasi sesuai dengan kemampuan mereka. ”Mereka yang baru bisa menulis sinopsis akan memperoleh honor yang lebih rendah dibandingkan mereka yang sudah piawai menulis skenario lengkap,” kata Beng. Pada umumnya masing-masing co-writer bisa memperoleh Rp 5-10 juta per bulan.

tafbutton blue16 Gaji wah, karya bah

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

13 Responses for “Gaji wah, karya bah”

  1. widi says:

    saya mau coba2 menjadi penulis skenario karena saya senang menulis, bagaimana caranya ya? apakah bisa dikerjakan dari rumah? saya ibu rumah tangga

    • Diah says:

      @ Mbak Widi

      Saya bukan seorang penulis apalagi untuk menulis skenario, wah… rasanya senang banget kalau bisa.
      Kalau mbak memang senang menulis, kenapa tidak mulai dicoba aja. Mengawali sesuatu memang rada2 sulit, tetapi begitu sudah dimulai, semuanya menjadi mudah dan lancar. Percaya deh….itu.

      Soal tempat, bisa dimana saja. Bisa dirumah, dikantor, di dapur, bahkan dikamar mandi. Kalau menurut saya, begitu gairah menulis datang, jangan dilewatkan. Gairah menulis datang tidak hanya ketika hati lagi senang tapi bisa juga ketika hati lagi sedih.

      Suer, saya benar2 tidak punya pengalaman tentang menulis. Justru mbak bisa bertanya dengan Lae Jarar. Dia pakarnya. Pakar banget, malah.

      Coba mbak gugat lae Jarar agar mau sharing.
      Dijamin halal ilmunya….he…he….he….
      Dan jangan lupa, bagi2 saya juga kalau udah dapat.

  2. smart says:

    Media inilah salah satu penyumbang terbesar penyebab degradasi moral anak bangsa

    • Diah says:

      Menurut penulis buku “Mengasuh Anak dengan EQ”, Maurice J. Elias,cs, sebenarnya, jika orang tua tidak menetapkan batasan untuk anak2, anak2 akan berpikir bahwa orang tua tidak peduli. Meskipun mereka (anak2) tidak menyatakannya, mereka membutuhkan orang dewasa untuk menetapkan batasan dan pedoman. Mereka ingin orang dewasa benar2 menjadi orang dewasa, yang berarti memegang tanggung jawab untuk kesejahteraan anak2, dan membuat keputusan serta pilihan berdasarkan kebijaksanaan, pengalaman, dan nilai2 kita. setiap orang tua perlu menetapkan beberapa hal yang tidak bisa ditawar-tawar, terutama ketika anak-anak memasuki usia remaja dan menghadapi berbagai keputusan dengan konsekuensi yang sangat serius.

      Masih kata Maurice, Orang tua dengan kecerdasan emosi mengetahui cara membaca sinyal2 dari perasaan sendiri dan perasaan anak2 mereka. Mereka tahu bahwa ketika ada tikungan tajam didepan, kecepatan harus dikurangi, menyetir dengan sangat hati2, dan mata tetap tertuju ke jalan dan kedua tangan pada kemudi.

      Oleh karena itu, hayoo…. mari kita belajar dari Maurice mumpung masih punya kesempatan dan belum terlambat.

  3. radi says:

    loe iri ya sama rejeki mereka …
    kalo sinetronnya kurang bermutu ..
    toh ratingnya bakal turun total …
    dan tentunya tidak diminati lagi pembuat sinetron tsb …
    tapi kenyataan .. malah digemari …

    hayo bilang aja loe ngiri :P
    jgn2 rejeki loe jeblok ya gara2 sinetron tsb ??…

    • rizieq says:

      Bang Radi,

      sinetron-sinetron dengan mutu seperti itulah nyang secare langsung ato pun kaga ikut berperan dalem proses pembodohan Bangsa.

      liat deh di luar, walopun ade soap opera tapi struktur cerite ame logikanye masi dipake.

      okeh Bang? Pis.

    • Jack@ says:

      @ Bang Radi,

      Bang, kalo saya coba melihat dari sisi yg lain.
      Fakta “ada” acara TV yang bermutu dan sedihnya ratingnya tidak sebagus sintron yang engga mendidik.

      Fakta film yang bermutu tidak otomatis penonton banyak.

      Kesimpulan sederhana :
      (sedih….)
      …emang masyarakat kita mayoritas, seleranya seperti itu ( ga mutu)

      (lebih sedih….)
      ….yang bikin sinetron ngikutin selera itu.

      (Yang paling menyedihkan..)
      dirumah dari jam 19 sampe jam 23, TV distel acara nya itu…

      Waaaa…. Waa…. Waaaaaaaaaaaa…

      (Sumpah di… gue ga iri)

    • pandu says:

      makanya dikamar gw ga pernah idupin tv… jam jam sempat nonton tv eh malah adanya cuma sinetron yang ga mutu itu… masa di jaman moderen pake sihir2… *pindah chanel… kerenan sinetron di dunia nyata, Kriminal, Demo, Korupsi, Pemerkosaan… hahahaha
      Peace

    • Diah says:

      Bung Radi, saya ikutan swear,…. kita bukan iri koq. Hanya prihatin….!

  4. darmadi says:

    Setuju, Bung Blog Berita

    Sinetron kita, cuman penjual mimpi.
    Tapi, bodohnya kita, laku banget.

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.