Investor proyek jagung Tobamas ‘lari malam’
Tanpa alasan jelas, investor Singapura menghentikan kerja-sama dengan Pemkab Tobasa dalam proyek jagung yang selama ini dibangga-banggakan Bupati Monang Sitorus.
“Investornya sudah lari malam,” kata anggota Komisi II DPRD Kabupaten Toba Samosir, Parulian Gurning, kepada Blog Berita pekan lalu di gedung Dewan. Komisi II telah menggelar rapat dengan Dinas Pertanian Tobasa membahas masalah ini.
Menurut Parulian, Dinas Pertanian mengatakan bahwa tidak ada penjelasan resmi dari pihak investor mengapa mereka berhenti. Alat-alat dari lapangan sudah diangkat. “Tinggal kontainer, itu pun sudah jadi besi tua,” katanya. Pemkab Tobasa telah mengadukan “kaburnya” investor ini kepada Pemerintah Provinsi Sumut.
Proyek jagung ini dimulai tahun 2007 dan diberi nama oleh Bupati Monang Sitorus sebagai “jagung Tobamas”. Pemkab telah menyediakan lahan 20 ribu hektare untuk ditanami jagung, dan hasilnya akan dibeli oleh investor Singapura. Pihak investor sendiri membantu menyediakan alat-alat pertanian dan tenaga ahli untuk melatih petani. Sedangkan Pemkab memberikan bibit jagung dan obat-obatan kepada petani.
Sejak ditekennya kerja-sama dengan investor Singapura tahun lalu, Bupati Monang Sitorus gencar mengajak masyarakat bertanam jagung. Pemkab juga memberikan bibit jagung kepada sejumlah lembaga, misalnya Polres Tobasa. Di koran juga sering diwartakan Bupati melakukan panen jagung pada lahan milik anggota DPRD Tobasa. Hingga Oktober 2007, kata Kepala Dinas Pertanian Horas Silitonga, pendapatan petani jagung di Tobasa mencapai Rp18,6 miliar.
Namun beberapa anggota DPRD termasuk LSM menilai proyek jagung Tobamas hanya manis di bibir. Bahkan ada LSM yang mengadukan proyek ini ke Polda Sumut. Dinas Pertanian disinyalir berbohong soal data lahan yang telah ditanami jagung. [Jarar Siahaan]
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

Berita Mengada-Ngada Kadang kala dibesar-besarkan di media massa, namun hasilnya ya seperti ini “Nol Besar”
[reply to this comment]
Kenapa tidak minta DL kalau hanya 20.000 hektar. Kecil itu. Misal perhektar biaya pengolahan 5 juta rupiah, kalau 20.00 hektar kan hanya 100M. Nanti masyarakat bisa kembalikan dengan bunga 10 % misalnya. Sama-sama untung, rakyat untung, DL untung. Dari pada hanya berita mengada-ada seperti kata si Alexander
[reply to this comment]
Solidaritas reply on 27 June 2008:
Betul itu, kenapa harus jauh-jauh cari investor ke Singapura, biasanya juga Pemkab Tobasa selalu mendahulukan Bang DL.(seperti BLK di Sibisa). Makanya bekerja itu ngak perlu digembor-gemborkan dulu sebelum berhasil, sama halnya dengan proyek sejuta babi di Tobamas cuma omong besar doang, ini sudah petengahan tahun 2008, kapan jadinya Tobamas 2010 kalau hanya dimulut saja, hancur Tobasaku.
[reply to this comment]
masyarakat peduli tobasa reply on 3 July 2008:
hancur tobasamu kau bilang, hahahahahah salah sendiri kenapa kau pilih si monag. makanya disogok uang kau mau. kecian dech loe
[reply to this comment]
@ Joko
Investor batal menanamkan modalnya, itu hal biasa.
Hari belum kiamat, kok.
Di beberapa Daerah, hal seperti itu sering terjadi. Mungkin Iklim Investasi di daerah tsb belum begitu mendukung.
Soalnya, belum apa2 udah banyak pungutan dalam pengurusan ijin dll.
[reply to this comment]
Kanai Ambo..Kena batunya juga di Tobasa! Hal begini sudah terjadi juga diberbagai daerah. Investor dari luar tidak semua punya itikad baik dan modal cukup.Ada juga modal pas pasan dan cuap cuap. Tidak jauh beda dengan istilah “SILOMPA LALI NAHABANG”. Hanya bagi orang yang terkait dipemerintahan perlu wawasan dan sedikit ilmu untuk memahami dan mendeteksi sebelum terjadi hal tersebut.
[reply to this comment]
Aduh… pak Monang, makanya anda gak usah sibuk2 mengurusi masalah Jagung dech… bkn dari jagung kabupaten Tobasa bisa maju, tetapi dgn memperhatikan sumber daya manusia yg ada spt PNS, mensejahterakan PNS dgn memberi Insentif 1 jt perorang, maka SDM tsb akan giat bekerja, terutama dokter dan petugas kesehatan di desa. mereka bertarung dgn nyawa orang, bok.. diperhatikan kesejahteraan mereka. jgn asyik jagung yg gak jelas hasilnya.
[reply to this comment]
darmadi reply on 3 July 2008:
@ Benci Monang
Kelemahan terbesar masyarakat TOBASA adalah tidak adanya rasa hormat pada pemimpin. Baik pemimpin spiritual dan pemimpin formal.
Semua merasa RAJA, dan merasa bisa menjadi RAJA/merasa hebat.
Di daerah lain, seorang Pendeta di hormati dan di puja. Di Tobasa, Pendeta bisa bisa jadi bahan olok2 di warung Tuak.
Sejelek apapun Bupati Monang, demi program kerja dan pembangunan daerah, semestinya di dukung.
[reply to this comment]
Pendatang reply on 17 July 2008:
Betul juga kata lae yg benci monang itu, yang iyanya si darmadi ini ada hubungan saudara dengan bupati, atau dia ada dikasih uang sama bupati makanya dia membela bupati… bagi2 dong duitnya lae darmadi.
[reply to this comment]