Camat Balige dan ‘nama sakti’
Camat Balige Budiyanto Tambunan tidak suka bila ada orang berurusan ke kantornya dengan “menjual” nama pejabat penting seperti Bupati Toba Samosir atau anggota DPRD.
Jarar Siahaan; Balige; Blog Berita
Dia menginginkan warga masyarakat yang datang ke kantor Camat Balige supaya mengikuti prosedur yang berlaku ketika mengurus sesuatu. Misalnya surat-surat lampiran agar dilengkapi sesuai peraturan. Kalau sudah lengkap, tanpa harus membawa-bawa nama pejabat penting, urusan warga pasti segera dikerjakan oleh pihak kantor camat.
“Janganlah dijual nama Bupati atau anggota Dewan,” kata Budiyanto di kamar kerjanya Senin kemarin saat Blog Berita menyambanginya. “Nama saya pun jangan dijual.”
Kemarin seorang stafnya melapor kepada Camat Budiyanto Tambunan, “Pak, katanya sudah dibicarakan dengan Bapak, katanya Bapak sudah setuju….”
“Apa? Kapan saya bicara sama mereka? Siapa yang bilang itu? Jangan dia jual-jual nama saya,” kata Budiyanto “marah”, spontan. “Sudah saya katakan sama mereka, ada staf saya yang tugasnya membidangi itu. Jadi diuruslah dengan kalian, bukan dengan saya.”
Sekretaris Camat Balige, Humisar Napitupulu, kepada web ini mengakui bahwa Budiyanto tidak pernah mengambil-alih tugas-tugas bawahannya. “Paling kalau kami tidak mampu memecahkan suatu masalah, atau misalnya akan memutuskan sesuatu yang bersifat kebijakan, barulah kami melapor sama Pak Camat untuk meminta masukan,” katanya.
Profil Budiyanto memang dikenal tegas dalam bekerja. Tapi dia bukan orang yang keras dan kaku. Malah sebaliknya, dia tidak “protokoler”, terbuka, dan — ini ciri khasnya — gampang tertawa. Dengan stafnya, warga masyarakat, jurnalis, aktivis LSM, dan siapa saja yang sudah mengenalnya dengan baik, Budiyanto sering saling “mengejek”. Dia akan terbahak-bahak bila “diejek”, lalu dia balas “mengejek”. Tapi, itu tadi, kalau dalam konteks pekerjaan, dia sangat serius dan teliti.
Kebiasaan kerja yang diterapkan Camat Balige seperti kisah pendek di atas mungkin terlihat sepele, tapi sebenarnya sangat positif. Membawa-bawa katabelece alias “surat sakti”, termasuk menyebut “nama sakti”, adalah kebiasaan dalam birokrasi Orde Baru yang tidak baik untuk diteruskan di masa kini. Surat sakti dan nama sakti, dalam banyak kasus, adalah jalan pintas yang dimanfaatkan untuk meraih sesuatu dengan melanggar aturan.
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

Saya kebetlan pekerjaan sebagai PNS di Medan, sebagai staf di sebuah kantor Dinas, saya sendiri sering merasa kesal kalau ada maskyarakat yang menjual nama pejabat-pejabat penting kalau mereka lagi mengurus berkas ke ruangan saya. Mentang-mentang kenal dengan pejabat, staf rendahan seperti saya menjadi tiak dihargai, malah sering dicuekin, dianggap tidak ada.
[reply to this comment]
darmadi reply on 24 June 2008:
@ Nia
Itu, gaya lama. Gaya Order Baru.
Kalau dulu, orang bawa nama ‘Cendana’ semua urusan jadi beres.
Susah mengikisnya, soalnya 32 tahun berkuasa, jadi pola pikir Orba masih mengakar.
[reply to this comment]
pelajar reply on 3 July 2008:
jangan salah di satu sisi pemerintahan orde baru ada burukny, tapi disisi lain indonesia aman, tentram dan tidak ada keributan tdk spt sekarang
[reply to this comment]
Orang seperti ini yang diperlukan tobasa sebagai pemimpin yang akan datang, bukan seperti yang ada sekarang. Maju terus Lae
[reply to this comment]
Pejabat-pejabat maupun PNS perlu ditiru sikap Pak Camat Balige ini. Salut!
[reply to this comment]
sepertinya, keadaan pak camat bukan hanya pada saat dia bekerja saja lho.
di rumah maupun dimana saja, pak camat balige ini memang low profile.
tegas dan sangat bertanggungjawab atas apa saja yg di kerjakan.
dan 1 yg perlu anda ketahui knp pak camat ini low profile, dengan background yg mewah (keadaan yg sebenarnya)mau terjun langsung ke masy yg mungkin di bwh garis kemiskinan & memberikan semangat untuk bekerja lebih giat lg kpd org2 yg msh kurang mampu.
so, mungkin ini hny sekedar share saya menjadi keponakan dr pak camat ini.
tp anda yg kembali yg membuktikanya.
mauliate.
[reply to this comment]