Ikuti @KoranTapanuli Ikuti berita KORAN TAPANULI. Daftarkan email anda di kotak, tekan Enter. Klik verifikasi yang dikirim ke Inbox anda.

Karena Jaksa Agung bukan Mama Lauren

Posted by on Jun 24th, 2008 and filed under Majalah Tempo. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Polisi tidak berani menangkap tersangka pembunuh Munir: Mayjen TNI [Purn] Muchdi Purwoprandjono yang pernah pejabat teras BIN. Jika dia ditangkap, 300 prajurit Kopassus akan mengepung Mabes Polri. “Patriotisme adalah benteng terakhir para bajingan.”

Demikian ditulis majalah Tempo pada edisi terbaru pekan ini dengan judul sampul Menanti pengakuan Muchdi. Laporan utama Tempo adalah kasus pembunuhan aktivis HAM Munir yang diracun dalam pesawat pada 7 September 2004, dengan tersangka baru Muchdi Purwoprandjono, bekas komandan Kopassus, yang diberi judul Bingo, Mister Django. Majalah favorit Blog Berita ini menceritakan kisah “penyerahan diri” Muchdi kepada polisi, dimulai dari saat berkumpul dengan para pengacaranya di Restoran Dapur Sunda, di Mal Butik Bellagio, Mega Kuningan, Jakarta.

”Bismillah,” kata M Luthfi Hakim, satu di antara 14 pengacara yang hadir, kepada Muchdi. Wirawan Adnan, juga pengacara, menimpali, ”Tabah dan sabar, ya.” Muchdi menjawab kalem, ”Wis Mas, enggak apa-apa, aku sudah biasa mangkat [berangkat] perang, kok.”

Tempo menulis, Munir-lah yang mengakhiri karier Muchdi di Kopassus, yaitu saat Munir membongkar kasus penculikan aktivis mahasiswa pada 1997 yang melibatkan Kopassus. Komandan Kopassus kala itu, Prabowo, dipensiunkan dini, sementara Muchdi dan Kolonel Chairawan, perwira yang dianggap ikut bertanggung jawab, dibebaskan dari semua jabatan militer. Dua tahun ”diparkir” di Mabes TNI, Muchdi direkrut Abdullah Mahmud Hendropriyono, Kepala Badan Intelijen Negara, pada 2001. Tiga tahun setelah itu, Munir terbunuh.

Di negara modern, lembaga intelijen seperti BIN, tulis Tempo, dirancang sebagai tempat berkumpulnya para patriot sejati. Mereka bertugas mengumpulkan dan menganalisis informasi dari semua penjuru dunia untuk kepentingan negara. Untuk memastikan mereka tak menyalahguna­kan tugas rahasianya, lembaga intelijen biasanya diawasi oleh komisi khusus parlemen. Samuel Johnson, penulis Inggris di awal abad ke-18, sudah menyimpulkan perihal ini dengan baik: ”Patriotisme adalah benteng terakhir para bajingan.”

Artikel lain yang menjadi sorotan Tempo pekan ini adalah kasus “jaksa-jaksa busuk” di Kejaksaan Agung. Itu tuh, “telepon selingkuh” dua Jaksa Agung Muda dengan Artalyta Suryani, pemberi suap Rp6 miliar dalam kasus BLBI. Jaksa Agung Hendarman Supandji, yang baru-baru ini datang ke TB Silalahi Center di Balige, dituntut mundur dari jabatannya. Tempo mewawancarainya secara khusus.

Tempo: Apa langkah Anda menghadapi jaksa-jaksa yang melenceng?

Jaksa Agung: Ini yang membuat saya prihatin. Saya dituntut bisa membaca pikiran orang. Sehingga, jika anak buah saya mau berbuat kesalahan, saya segera tahu. Memangnya saya Deddy Corbuzier atau Mama Lauren, yang dapat meramal?

Kalau begitu, mari berkirim SMS ke Mama Lauren, di nomor nol-delapan-nol-sekian [awas pulsamu disedot]. SMS Blog Berita: “Mama Lauren, apakah Deddy Corbuzier bisa membaca pikiran Jaksa Agung? Dan apakah yang membaca artikel ini akan membeli majalah Tempo edisi terbaru?” :D

Daftarkan emailmu untuk berlangganan gratis artikel terbaru via email. Nanti terlihat kode anti-spam untuk anda ketik, dan kemudian klik verifikasi yang dikirim ke email anda. Layanan ini oleh Google Feedburner.

Masukkan email anda, lalu klik tombol TEKAN

6 Responses for “Karena Jaksa Agung bukan Mama Lauren”

  1. :) says:

    mungkinn ,,,maMA laurennn daLAh agung MuDaaa,,,,,,,,,

  2. si binyun says:

    Negara ini udah kayak benang kusut. Mau membereskan satu simpul malah muncul simpul2 lain. Capeeeek…….deh…….

  3. johanes says:

    Damai aja ah…

  4. willy says:

    wahhh mengerikan sekali negara kita ini kalo2 semakin seringnya terjadi pembunuhan seperti aktivis MUNIR.

    Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang adalah beranikah POLRI (Pak Sutanto) membongkar kasus ini sampe tuntas… tass

  5. La Tunrung La Tinro says:

    Ini, bukan zaman Soeharto, bung.

    Zaman Soeharto, Kopassus boleh bertindak semaunya. Bahkan, Panglima ABRI, mikir 2 x untuk mengusiknya.
    Kopassus zaman Orba, seperti ada negara dalam negara.
    Sekarang, citra Kopassus sudah jelek banget. Kalau dia bikin ulah lagi, rakyat bisa marah bung.
    Butuh waktu untuk memperbaiki citra. Jadi, jangan bikin ulah lagi.

  6. daeng limpo says:

    Mungkin Deddy Carbouzier dan mama Lauren Siap-siap menggantikan para Jaksa Agung Muda :)

Comments are closed

Advertisement

Klik Suka, ikuti beritanya di FB.

Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten blog ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Indonesia. Situs berita terbaru Artikel menarik Video terbaik.