“Aku tidak terlalu suka membaca Alkitab dan Alquran, tapi kalau kau bisa menunjukkan padaku kitab agama mana yang menerangkan asal-muasal Tuhan, katakanlah, supaya aku menjadi tahu.” Kawanku membalas: “Kau mungkin kafir. Jangan bikin pertanyaan menyesatkan.” Ini dua pertanyaan tua, bisakah kau menjawabnya?
Balige; Blog Berita; Jarar Siahaan
Dalam semua agama, Tuhan diyakini sebagai Yang Maha Kuasa. Kekuasaan Tuhan tak terbatas. Dia tahu apa yang tidak diketahui manusia; Dia melihat apa yang tidak dilihat manusia; Dia mampu mengerjakan apa yang tidak mampu diperbuat manusia. Dia disebut Yang Maha Kuasa.
Tapi tidak sedikit orang sejak dahulu yang senantiasa “protes” dan mencari tahu apakah memang benar Tuhan itu ada dan maha-kuasa. Dari sekian banyak “gugatan” terhadap keberadaan Tuhan yang pernah kudengar, ada dua pertanyaan yang kusukai. Aku suka kedua pertanyaan ini karena aku belum bisa menjawabnya hingga hari ini.
1. Dari mana asal Tuhan, apakah Dia tiba-tiba ada?
Kalau ditanya mana duluan telur atau ayam, kujawab ayam, karena memang Tuhan pada mulanya menciptakan ayam, bukan telur. Kalau ditanya siapa yang menciptakan manusia, matahari, udara, api, air, tanah, dan semua planet, pasti kujawab Tuhan.
Kalau ditanya dari mana asal-muasal Tuhan, apakah Dia tiba-tiba ada, pernah kujawab pada seorang kawan: Aku tidak tahu.
Lalu dia berkata: Apakah agama yang dulu kaupeluk [Kristen] dan yang sekarang [Islam] tidak menjelaskan secara pasti siapa yang menciptakan Tuhan dan dari mana Dia berasal?
Kujawab: Aku tidak terlalu suka membaca Alkitab dan Alquran, tapi kalau kau bisa menunjukkan padaku kitab agama mana yang menerangkan asal-muasal Tuhan, katakanlah, supaya aku menjadi tahu.
Ternyata temanku itu tidak bisa menunjukkannya.
2. Mampukah Tuhan menciptakan sebuah benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya?
Kalau dijawab Tuhan mampu menciptakan benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya, berarti Tuhan tidak maha-kuasa — mengapa Dia tidak cukup kuat mengangkat benda itu.
Kalau dijawab Tuhan tidak mampu menciptakan benda berat tersebut, berarti Tuhan pun tidak maha-kuasa — mengapa Dia tidak bisa menciptakan benda terberat di dunia.
Aku sudah beberapa kali mengajukan kedua pertanyaan ini kepada kawan-kawanku, dan umumnya mereka tidak bisa menjawab. Beberapa kawan berkata: Itu rahasia Tuhan, hanya Tuhan yang tahu, kau jangan bikin pertanyaan menyesatkan, mungkin benar kau termasuk kafir, mungkin kau ateis, ketahuilah bahwa manusia tidak sanggup melihat Tuhan, sepintar-pintar manusia takkan tahu siapa sesungguhnya Tuhan dan di mana tempat untuk menemukan-Nya.
Satu-dua kawanku yang mengaku mampu menjawab, berkata, jawaban untuk pertanyaan pertama adalah “Tuhan tidak diciptakan oleh siapapun, pokoknya Tuhan adalah yang pertama dan terakhir,” sementara jawaban kedua ialah “Tuhan mampu menciptakan apapun, pokoknya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, titik.”
Mendengarnya, aku tersenyum. “Pokoknya…, pokoknya….” [blogberita.net]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















eh, klw mengenai masalah Tuhan, aku sich gak terlalu mendalam, tapi aku jg prnah meragukan apakah tuhan itu benar ada atau tidak, dan akhirnya aku tahu jawabannya bahwa Tuhan itu ada. Dari mana yah tentu dari hati terkecil kita, klw dipikir kan secara logika tentu tata surya ini terbentuk sendiri pasti ada Seseorang yang menciptakannya yaitu Tuhan. Semoga kamu mendapat jawaban
aku memang bukan orang yang beriman.. tapi yang aku tahu kita akan rugi bila tidak mengasihi Tuhan.. sebab Tuhan sudah lebih dulu mengasihi kita. kan sayang bila kita sia2kan kasih dari Tuhan?… Tuhan tetap sayang pada anda walau anda tidak sayang pada Tuhan sekali pun. GBU
wah, benar2 pertanyaan pintar
jawablah petanyaan ini! dan renungkan….
1. manakah yang kalian percaya, otak atau akal?
manakah yang bermanfaat, punya otak atau punya akal?
2. sekarang gambarlah otak? pasti itu mudah…
3. lalu gambarlah akal?….bisa gak?
pertanyaan kalian sepeti mencari bentuk akal….
akal ada pada setiap diri manusia,,,,,
Allah pun begitu, Dia Maha Ada, tapi tak bisa diliha…
lihatlah Ciptaan-Nya yang menajubkan…. itulah tanda-tanda Kekuasaan Allah.
cat: yang menyangkal kata-kata di atas berarti gak punya akal….
Saat dikatakan dalam Al Qur’an bahwa adalah mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya, pernyataan tentang sidik jari manusia secara khusus ditekankan:
“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna.” (Al Qur’an, 75:3-4)
Penekanan pada sidik jari memiliki makna sangat khusus. Ini dikarenakan sidik jari setiap orang adalah khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki serangkaian sidik jari yang unik dan berbeda dari orang lain.
Itulah mengapa sidik jari dipakai sebagai kartu identitas yang sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh penjuru dunia.
Akan tetapi, yang penting adalah bahwa keunikan sidik jari ini baru ditemukan di akhir abad ke-19. Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai lengkungan-lengkungan biasa tanpa makna khusus. Namun dalam Al Qur’an, Allah merujuk kepada sidik jari, yang sedikitpun tak menarik perhatian orang waktu itu, dan mengarahkan perhatian kita pada arti penting sidik jari, yang baru mampu dipahami di zaman sekarang.
http://www.keajaibanalquran.com
cat: al-qur’an diturunkan oleh Allah(Tuhan pencipta alam semesta ini).. kalau kalian masih ragu, kalian bisa cek bahwa Al-Quran dari diturunkan sampai sekarang tidak pernah berubah… dari negara manapun Al-Qur’an tetap sama…
lalu siapa pembuat Al-qur’an? apakah Muhammad sehebat itu bisa mengalahkan scientist 13 abad setelahnya?
yang menciptakan adalah Pencipta Alam semesta Termasuk kalian ialah Allah SWT….
Kini, relativitas waktu adalah fakta yang terbukti secara ilmiah. Hal ini telah diungkapkan melalui teori relativitas waktu Einstein di tahun-tahun awal abad ke-20. Sebelumnya, manusia belumlah mengetahui bahwa waktu adalah sebuah konsep yang relatif, dan waktu dapat berubah tergantung keadaannya. Ilmuwan besar, Albert Einstein, secara terbuka membuktikan fakta ini dengan teori relativitas. Ia menjelaskan bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan. Dalam sejarah manusia, tak seorang pun mampu mengungkapkan fakta ini dengan jelas sebelumnya.
Tapi ada perkecualian; Al Qur’an telah berisi informasi tentang waktu yang bersifat relatif! Sejumlah ayat yang mengulas hal ini berbunyi:
“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.” (Al Qur’an, 22:47)
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Al Qur’an, 32:5)
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (Al Qur’an, 70:4)
Dalam sejumlah ayat disebutkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda, dan bahwa terkadang manusia dapat merasakan waktu sangat singkat sebagai sesuatu yang lama:
“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (Al Qur’an, 23:122-114)
Fakta bahwa relativitas waktu disebutkan dengan sangat jelas dalam Al Qur’an, yang mulai diturunkan pada tahun 610 M, adalah bukti lain bahwa Al Qur’an adalah Kitab Suci
http://www.keajaibanalquran.com/
Satu fakta tentang alam semesta sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an adalah bahwa langit terdiri atas tujuh lapis.
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Qur’an, 2:29)
“Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.” (Al Qur’an, 41:11-12)
Kata “langit”, yang kerap kali muncul di banyak ayat dalam Al Qur’an, digunakan untuk mengacu pada “langit” bumi dan juga keseluruhan alam semesta. Dengan makna kata seperti ini, terlihat bahwa langit bumi atau atmosfer terdiri dari tujuh lapisan.
Saat ini benar-benar diketahui bahwa atmosfir bumi terdiri atas lapisan-lapisan yang berbeda yang saling bertumpukan. Lebih dari itu, persis sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, atmosfer terdiri atas tujuh lapisan. Dalam sumber ilmiah, hal tersebut diuraikan sebagai berikut:
Para ilmuwan menemukan bahwa atmosfer terdiri diri beberapa lapisan. Lapisan-lapisan tersebut berbeda dalam ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya. Lapisan atmosfer yang terdekat dengan bumi disebut TROPOSFER. Ia membentuk sekitar 90% dari keseluruhan massa atmosfer. Lapisan di atas troposfer disebut STRATOSFER. LAPISAN OZON adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet. Lapisan di atas stratosfer disebut MESOSFER. . TERMOSFER berada di atas mesosfer. Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut IONOSFER. Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km. Bagian ini dinamakan EKSOSFER. .
(Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 319-322)
Jika kita hitung jumlah lapisan yang dinyatakan dalam sumber ilmiah tersebut, kita ketahui bahwa atmosfer tepat terdiri atas tujuh lapis, seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.
1. Troposfer
2. Stratosfer
3. Ozonosfer
4. Mesosfer
5. Termosfer
6. Ionosfer
7. Eksosfer
Keajaiban penting lain dalam hal ini disebutkan dalam surat Fushshilat ayat ke-12, “… Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.” Dengan kata lain, Allah dalam ayat ini menyatakan bahwa Dia memberikan kepada setiap langit tugas atau fungsinya masing-masing. Sebagaimana dapat dipahami, tiap-tiap lapisan atmosfir ini memiliki fungsi penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia dan seluruh makhluk hidup lain di Bumi. Setiap lapisan memiliki fungsi khusus, dari pembentukan hujan hingga perlindungan terhadap radiasi sinar-sinar berbahaya; dari pemantulan gelombang radio hingga perlindungan terhadap dampak meteor yang berbahaya.
Salah satu fungsi ini, misalnya, dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:
Atmosfir bumi memiliki 7 lapisan. Lapisan terendah dinamakan troposfir. Hujan, salju, dan angin hanya terjadi pada troposfir.
(http://muttley.ucdavis.edu/Book/Atmosphere/beginner/layers-01.html)
Adalah sebuah keajaiban besar bahwa fakta-fakta ini, yang tak mungkin ditemukan tanpa teknologi canggih abad ke-20, secara jelas dinyatakan oleh Al Qur’an 1.400 tahun yang lalu.
gini Ajah!!!!!!!!!
kamu renungkan saja “siapa dirimu sebenarnya”
maka kamu pasti tau!p
Dh,
kalo bisa, komentarnya bersifat sharing dong – bukan berhenti pada penilaian pribadi – akan lebih bagus lagi jika mampu menyentuh kepada hakekatnya dong.
Maaf ya
Siapa Tuhan Anda ?
Berdasarkan pengalaman setelah lahir setiap orang maka akan konsep hidup seseorang akan berbeda-beda satu dengan lainnya, baik terhadap pengetahuan keilmuannya, citra seni, dll., apalagi dalam “kesadaran” terhadap Tuhan Yang Maha Esa — betulkah Anda memahami keesaan itu? Judul di atas mungkin dianggap tidak aneh dilihat dari sudut nalar yang semakin kritis yang selalu menginginkan kejelasan nyata. Dengan semakin merosotnya kadar keyakinan manusia terhadap Tuhan adalah logis bila pemahaman dan kesadaran manusia mengenai Tuhannya semakin menyimpang/tersesat jauh; atau sebaliknya — karena kesadaran yang tidak lurus maka kualitas moral menjadi melorot. Akibatnya, manusia akan semakin sulit untuk berasimilasi dengan sifat hakiki Tuhan (atau alam semesta), dengan kata lain upaya untuk “mendekatkan diri kepada Tuhannya” juga semakin mustahil, atau untuk keluar dari lingkaran “tumimbal lahir” juga tak-bisa, atau untuk dapat menuju “moksah” juga adalah muskil — atau dengan menggunakan istilah yang agak tinggi: “manusia semakin sulit untuk diselamatkan” (diselamatkan dari apa dan kemana? Oleh siapa?). Dalam fenomena ini, terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara: moral yang merosot, keyakinan yang merosot, pemahaman dan kesadaran yang merosot, dengan kemustahilan untuk dapat “mewali sangkan paraning numadi”.
Banyak tafsir tentang “Tuhan”, yang bertentangan satu sama lain. Meskipun kepercayaan/keyakinan akan “Tuhan” ada dalam semua kebudayaan dan peradaban, tetapi definisinya lain-lain. Dalam istilah filsafat, eksistensi Tuhan itu dikenal sebagai absolut, distinct dan unique Bahkan blogberita.net telah menggelindingkan 2 pertanyaan tentang Tuhan, yaitu: 1. dari mana asal Tuhan, apakah Dia tiba-tiba ada? dan 2. mampukah Tuhan menciptakan benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya? Oleh yoyonb.multiply.com telah memperluas pertanyaan itu menjadi: bagaimanakah kriteria Tuhan yang Rasional? Mengapa Tuhan mesti Ada? Mungkinkan Kita melihat Tuhan? Apakah Tuhan terus mencipta? Dimanakah Tuhan berada? Benarkah nasib kita telah ditentukan? Bahkan ada teman yang berucap: “jika Tuhan itu ada lalu siapa bapaknya?”. Disadari atau tidak, sebagian besar dari kita juga mempunyai pertanyaan-pertanyaan seperti ini karena manusia biasa memang “bodoh” (baca: Saracamuscaya sloka 399-404). Semua pertanyaan di atas nampak memang usil tetapi menggelitik banyak orang telah ikut urun pemahaman walau sebagian besar pendapat mereka sangat dangkal, sempit, dan rendah; hal ini menandakan bahwa kesadaran manusia akan Tuhan memang benar-benar mengkhawatirkan. Rupanya, ketekunan dan kekhusukan beragama yang bahkan cenderung demonstratif belakangan ini tidaklah menjamin manusia benar-benar memahami Tuhannya secara jernih, lurus, dan benar.
Pada saat awal-awal penyebarannya, ajaran/aliran Ketuhanan ataupun Agama masih bersifat lurus, murni, sejati, dan belum mengalami penyesatan (karena langsung diajarkan oleh Maha Resi yang bersangkutan); tetapi kini ketersesatan itu sudah membahayakan manusia sendiri (Kaliyuga); hal ini sudah pasti terjadi, karena :
a. awalnya, penyebarannya dilakukan secara lisan oleh Guru yang bersangkutan, dan setelah 500 – 1000 tahun kemudian barulah dituliskan; selama waktu yang panjang itu maka banyak informasi yang hilang atau salah dituliskan atau tersesat ditafsirkan, karena pemahaman penulisnya sudah tidak komplit dan tidak lurus-murni lagi;
b. munculnya berbagai sempalan baru (walau sumbernya sama) yang menganut aspek tertentu atau bahkan telah menyimpangkan ajaran aslinya semula.
c. sehingga jaman sekarang sudah tidak ada lagi ajaran yang asli, murni, sejati, dan lurus (orthodox) seperti di awal peradaban agama/aliran,
d. manusia sekarang sangat terikat pada sifat fisik duniawi sehingga membutakan mata batinnya akan kebenaran yang hakiki sehingga mengakibatkan kualitas moral ikut melorot (diukur dari kriteria sejati Tuhan).
Keadaan di atas akan semakin menjauhkan manusia dari Tuhannya, sehingga manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya dari kubangan dosa-dosa di bumi ini.
Ilmu pengetahuan di dalam riset perkembangannya hanya mampu menyentuh dalam batas dunia fisik, yakni ketika suatu peristiwa telah dimengerti barulah dilakukan riset; pengalaman hidup demikian ini telah menciptakan konsep hidup yang bersifat manusiawi yang jauh dari kebenaran/hukum Tuhan yang sangat supernormal dan tidak akan pernah mampu dijangkau oleh garapan ilmu pengetahuan itu. Sepanjang ilmu pengetahuan masih ngotot dan keras-kepala dengan pola-pikirnya sekarang (setelah terpikir atau terlihat baru percaya) dan tidak mau mendasarkan dan menyelami pengetahuan Alam-Semesta Supernormal, maka wajah asli alam semesta selamanya tetap menjadi legenda manusia; untuk itu kita perlu secara fundamental mengubah mentalitas manusia biasa. Buktinya: Ilmu kedokteran tidak pernah tahu apa penyebab hakiki dari sakit itu? Garapannya hanyalah mengobati symptom (gejala) pada tingkat molekul, dan tidak mampu menyelesaikan masalah sampai pada sumber asal penyakit itu.
Kita sudah terbiasa dengan istilah: “Tuhan itu maha Besar …, Tuhan itu Maha Pengasih …, Tuhan itu maha bijaksana …, … dsb”; tetapi tahukah kita apa hakekat di balik ungkapan itu? Ada banyak pertanyaan kritis yang mengikutinya, diantaranya:
• Tuhan yang mana (apakah yang maksud adalah sama dengan kekuatan/hukum/ dharma/dafa yang mengatur alam semesta maha cakrawala yang tak-terbatas itu, ataukah para Dewa-dewa di luar triloka, atau para Dewa yang ada di alam swah-lokam ?);
• dalam konteks maha besar/pengasih/ bijaksana itu seberapa maha, bagaimana kita bisa memahami bahwa maha itu adalah sedemikian maha, dst. dst.
Manusia memang tidak boleh dan tidak akan pernah mampu mengetahui Tuhan apalagi melihatNya, karena itu adalah rahasia langit (kalau ada orang yang mengatakan dirinya pernah melihat Tuhan, itu mustahil). Bayangkanlah bilamana manusia sampai berjumpa dengan Tuhan maka bisa-bisa dia akan memprotes dan berdebat kepada Tuhan bila keinginannya tidak terpenuhi; salah-salah dia akan merayu para Dewi, menjajah pada Dewa atau menjarah isi kahyangan (ini hanya joke); ini tidak akan pernah boleh terjadi.
Di atas telah dikatakan bahwa Tuhan itu bersifat: absolut, distinct dan unique; tetapi apakah manusia dapat memahaminya? Banyak yang mengartikan bahwa Triloka (bhur, bwah, swah) atau disebut “Jagat Tiga” (Gayatri Mantram juga hanya merujuk ke bhur, bwah, swah ini; mengapa begitu ya?). Jika demikian, Tuhan penguasa Triloka tentulah lebih rendah daripada Tuhan penguasa Saptaloka (Triloka + Mahah, Janah, Tapah, Satyam); dan jauh lebih rendah lagi dibandingkan dengan Tuhan yang telah “memicu” terjadinya ledakan besar “big bang” di awal penciptaan jagat raya maha cakrawala dari ketiadaan itu. Tuhan yang disebutkan “maha besar” tentulah berbeda dengan Tuhan yang dikatakan “maha pengasih”. Aapabila semua aliran/agama meyakini Tuhan adalah Sang Pemicu Big Bang maka barulah masuk akal bahwa Tuhan itu adalah Maha Esa ! Jadi, para Nabi dari Agama-agama itu melihat dan mengabarkan kebenaran sejati dari Tuhan Yang Maha Esa itu secara sebagian-sebagian dan tidak secara total; seperti kita melihat globe hanya dari satu sisi saja.
Wikipedia menjabarkan istilah Tuhan merujuk kepada suatu Zat Abadi dan Supernatural, unik, dan absolut, yang biasanya dikatakan mengawasi dan memerintah manusia dan alam semesta atau jagat raya. Hal ini bisa juga digunakan untuk merujuk kepada beberapa konsep-konsep yang mirip dengan ini misalkan sebuah bentuk energi atau kesadaran yang merasuki seluruh alam semesta, di mana keberadaan-Nya membuat alam semesta ada; sumber segala yang ada; Kebajikan yang terbaik dan tertinggi dalam semua makhluk hidup; atau apapun yang tak bisa dimengerti atau dijelaskan. Penjelasan demikian belum dapat menjelaskan hakekat dari Tuhan itu secara jelas dan total.
Aliran Buddha Falun Dafa menyatakan bahwa alam semesta yang maha cakrawala yang besarnya tak-berhingga sehingga tak bisa dibayangkan oleh logika dan bahasa manusia, memiliki karaketer tertinggi sebagai: Zhen – Shan – Ren (Sejati – Baik – Sabar atau Truthfulness – Compassion – Forbearence); karakter hakiki inilah yang semestinya yang digunakan sebagai kriteria pengukur kualitas moral manusia agar dapat terselamatkan. Rumusan karakter alam semesta ini adalah rumusan yang paling komplit dan paling tinggi yang mencakup semua rumusan aliran orthodox seperti Aliran Buddha dan Aliran Tao (bukan agama Buddha atau agama Tao). Dilihat dari tingkat tinggi, semua agama akan mengelompok ke dalam aliran Buddha dan aliran Tao, sedangkan Falun Dafa mencakup keduanya .
Mengapa kesadaran akan hakekat Tuhan perlu ditingkatkan?. Hal ini telah dijawab di dalam Bhagawad Gita Bab 12 dari Sloka 12 yang tafsirnya: llmu pengetahuan itu lebih baik sifatnya daripada usaha konsentrasi yang terus-menerus, meditasi itu lebih baik daripada ilmu pengetahuan, dan yang lebih baik dari meditasi adalah persembahan semua hasil perbuatan karena setelah itu menyusullah kedamaian.
Artinya: meniti jalan ke arah kedamaian abadi (= krsna), yaitu melalui abhyasa (usaha dan konsentrasi) lalu menanjak ke ilmu pengetahuan, lalu naik lagi ke meditasi, dan lalu yang lebih tinggi lagi, yaitu pemasrahan secara total semua hasil dari perbuatan kita. (kita terlalu asik di tahap abhyasa seperti upacara, dan belum naik ke tahap ilmu pengetahuan Ketuhanan).
Di atas telah dijelaskan bahwa kesadaran kepada Tuhan dan peningkatan kualitas moral adalah berkaitan erat. Secara fundamental, kesadaran manusia akan Tuhan itu diakibatkan oleh adanya besar-kecilnya kadar dosa / kebajikan manusianya. Dosa yang semakin besar maka kesadarannya semakin rendah dan moralnya semakin merosot. Kedengarannya tidak masuk akal — dan memang tidak masuk akal bila dilihat dari kaca mata ilmu pengetahuan, tetapi sangat logis dari sudut pandang aliran Buddha Falun Dafa. Bahwa jiwa manusia memiliki perekam super-super presisi terhadap segala pengalaman hidup, yang termanifestasi dalam bentuk: substansi hitam yang merupakan takaran dari karma dosanya (sifat ke-butha-an/keiblisan), sedangkan substansi putih sebagai ukuran kadar kebajikannya (kadar sifat kedewaannya). Jika substansi hitamnya besar dan pekat maka sifat manusianya cenderung keiblisan (butha) bahkan tidak percaya Tuhan, dan konsekuensinya jiwanya menjadi sulit berasimilasi kepada karakter Tuhan. Sifat demikian akan tercermin sebagai kualitas moral yang buruk (sapta timiran dan saad ripu yang dominan yang kuat), seperti keadaan di dalam Kali Yuga ini. Keterikatan sifat duniawi (ini adalah sifat butha/iblis) yang biasa dipermanis dengan istilah “kegelapan”, yang menutup dan membelenggu sifat keDewaannya. Jadi, istilah Sang Suratma si pencatat dosa/kebajikan jiwa di alam Dewa adalah mitologis belaka (ingat: bila dicatat pihak lain, bisa salah catat lho !).
Karena itu, sudah waktunya untuk membangun dan meningkatkan kesadaran dan keyakinan kita kepada Tuhan, seiring semakin kritisnya pemikiran serta semakin merosotnya kualitas moral manusia di dalam Kaliyuga dimana seseorang tidak akan merasa dan tidak percaya kalau perbuatannya juga ikut merosot — karena semua manusia di kiri-kanannya sedang mengalami kemerosotan moral yang sama.
Selama ini masyarakat beranggapan bahwa keberadaan Agama adalah untuk mengatur kualitas moral manusia; ditinjau dari sudut pandang manusiawi/materiil-duniawi adalah benar, tetapi manusia lengah tidak niat mendalami akan hakekat Agama secara benar terhadap 3 unsur hakekat utama, yaitu:
1. manusia (hakekat tubuh manusia, sumber kehidupan, dan jiwa);
2. penghambaan/dedikasi (manusia mematut diri terhadap Tuhannya); dan
3. Tuhan (sebagai pencipta kehidupan dan dharma/Fa yang wajib dipatuhi manusia)
Ketiga hakekat di atas diajarkan secara lengkap dan mendalam di dalam Bhagawad Gita (jika belum memiliki bukunya, silahkan buka alamat web: http://wirajhana-eka.blogspot.com/ atau http://www.parisada.org). Mungkin, semua agama juga menjalan ketiga hakekat tersebut tetapi dalam tingkat kedalaman dan tingkat kelurusan dharmanya, serta ketuntasan dan kegigihan dalam menjalankan hukum/ dharma Tuhannya yang lurus (orthodox) yang berbeda-beda.
Untuk lebih mudahnya memahami tentang konsep Tuhan maka pemahaman akan konsep Alam-Semesta perlu lebih dahulu dimengerti.
Alam Semesta
Bilamana manusia berkeyakinan bahwa Tuhan adalah Pencipta dan Penguasa dari Alam Semesta yang maha-cakrawala itu maka konteks Alam Semesta sebagai materi (prakerti) perlu dipahami juga. Kita biasa mendengar ungkapan bahwa diri manusia disebut juga bhuwana alit (mikro kosmos) identik atau sama tetapi tidak serupa dengan alam raya yang disebut bhuwana agung (makro kosmos). Struktur materi dan demensi-ruang waktu dari bhuana agung dan bhuana alit) adalah berpadanan (tetapi bukan identik lho!) yang mengakibatkan adanya suatu hubungan yang relevan. Dalam tubuh manusia ada struktur Sapta Petala dan Sapta Loka dan di alam semesta juga ada susunan struktur itu. Misalnya, apabila kualitas moral manusia merosot dan berhati iblis (seperti situasi dalam kali-yuga) maka energi buruk ini akan mempolusi loka-loka yang lebih tinggi (atau lebih mikrokosmik), sehingga Para Dewa tak mampu berperan dan mengalami kesulitan untuk menyelamatkan manusia sehingga akibatnya para iblis dari tingkat lebih tinggi akan berusaha memusnahkan manusia karena dianggapnya bahwa manusia sudah memang sepantasnya untuk dimusnahkan (jadi, bukan Dewa atau bukan Tuhan yang memusnahkan manusia). Tetapi jika alam semesta ini memang sudah rusak secara toal maka tentu akan direka ulang.
Menurut Agama Hindu, alam semesta terdiri dari struktur : Sapta-Loka (7 lapis loka mikrokosmik, yaitu: Bhur, Bwah, Swah, Mahah, Janah, Tapah, dan Satyam loka), dan Sapta-Petala (7 lapis loka makrokosmik yaitu: patala, witala, nitala, sutala, tatala, ratala, satala),
Dari skema di atas, “jagat tiga” (yang termaktub di dalam Bhagawad Gita maupun Sarascamuscaya) yaitu Bhur, Bwah, Swah yang dikenal pula dengan istilah Tri Loka, jelas adalah bukan Alam Semesta. Bahkan, Satyam Lokam bukanlah yang tertinggi, dan masih ada tak-berhingga Satyam lokam – Satyam lokam yang lebih tinggi lagi. Cobalah renungkan; apabila kita berasumsi bahwa Tuhan itu adalah Penguasa Tri-loka lalu yang menguasai keseluruhan Saptaloka dan Saptapetala siapa? Kalau Sang Hyang Widhi yang dimaksudkan adalah Dewa Prajapati yang menciptakan manusia atas perintah Tuhan, maka Sang Hyang Widhi itu tentulah bukan Tuhan !?. Jadi, sesuai dengan pemahaman Anda, yang mana dan di mana Tuhan Anda itu? Silahkan tanyakan diri Anda sendiri!
Secara ilmu Fisika Partikel, sumber asal kehidupan baru bisa dijelaskan sampai tingkat quark saja oleh 3 orang pemenang hadiah Nobel 5 Oktober 2004 [David Gross (63 tahun); David Politzer (53 tahun); dan Frank Wilczek (53 tahun)]. Ilmu Fisika Partikel telah telah memahami bahwa Kombinasi proton-neutron-elektron (sub-atom) membentuk atom, kombinasi atom membentuk molekul, kumpulan molekul membentuk senyawa atau campuran ataupun larutan yang secara kasat mata bisa kita lihat. Strata yang lebih kecil dari sub-atom adalah quark atau pentaquark ; lalu, yang lebih mikrokosmik dari itu apa? Rupanya ilmu pengetahuan moderen belum mampu mendeskripsikan partikel mikrokosmik jiwa atau dewa di Sapta-Loka, apalagi yang mendekati demensi ruang-waktu yang absolut paling terminal. Dalam agama Hindhu sudah mengenal adanya “tirta kamandalu”, sedangkan di dalam Falun Dafa menyebutnya dengan “air-kehidupan” sebagai sumber asal kehidupan itu. Agama memang sudah mengenal adanya christ dan anti-christ, atau Dewa-Dewi, Purusa-prakerti, atau Yin-Yang, sedangkan ilmu pengetahuan moderen sudah mengenal adanya partikel dan anti-partikel, tetapi apa hakekat yang ada di dalamnya? Dari susunan struktur partikel materi di atas, lalu, Tuhan itu kira-kira bersemayam di mana? Apakah di Swah-Loka, atau di demensi Satyam Loka putaran pertama, atau di Satyam Loka dari putaran yang ke tak-hingga?
Sekarang, cobalah dibayangkan: jika diasumsikan bahwa partikel molekul ada di bhur loka, sedangkan partikel mikrokosmik milik Tuhan ada di satyam loka, maka bisakah power/energi di Bhur Loka masuk ke dalam kuasa supernormal satyam loka ? Mustahil, bukan?! Artinya, dewa di loka yang lebih rendah tentu tidak mampu melihat kebenaran di loka yang lebih tinggi (seperti halnya manusia maupun makhluk berjiwa yang tak punya badan juga tidak bisa melihat kebenaran di tingkat dewa, bukan?!). Jika manusia memuja butha, tentulan bhuta itu menganggap kebenaran bahwa dirinyalah penguasa manusia karena mereka tak tahu ada dewa di atasnya, dan dewa tidak akan menghiraukan manusia demikian; ini sangat membahayakan manusia itu. Lalu, siapa sesungguhnya bhuta itu?
Lalu, apa artinya istilah “kosong tetapi tidak kosong” itu; Kira-kira penjelasannya begini: bila manusia melihat Satyam Lokam itu dari posisi bhur-lokam adalah kosong; tetapi, apabila manusia mampu mengkultivasi jiwanya dan tidak terikat lagi oleh segala sifat di bhur-lokam (duniawi/ manusiawi) maka jiwa itu akan dapat masuk ke dalam bwah-lokam, dan demikian seterusnya hingga mencapai kepada posisi satyam-lokam (langit ke tujuh); dan ternyata di sana suasananya sama seperti di bhur-lokam kembali tetapi super murni, harmonis, indah, damai, adil, dan bahagia, dst. …. dst. Jika terus dilanjutnya dalam kelipatan tak-berhingga sekali pun tidak akan pernah sampai ke ujung. Cobalah dibayangkan; jika yang kita maksud Tuhan itu adalah Yang bersemayam di tempat ini, bagaimana manusia dapat memahaminya dengan menggunakan nalar manusiawinya — pasti tidak akan pernah bisa, seperti yang sudah didharmakan di dalam Bhagawad Gita Bab 10 sloka 2: “Bukan saja para dewa tetapi para resi yang suci dan agung pun tidak tahu akan asal-usulKu, karena semua dewa-dewa dan orang-orang suci itu datang dariKu”. Karena itu, bila berpegang atas pikiran manusia yang bersifat relatif ini maka tidaklah akan pernah bisa memahami sesuatu yang bersifat absolut seperti Tuhan itu. Kita hanya cukup puas dapat memandang Tuhan itu sebagai idealisme spiritual yang tertinggi, dan untuk itulah manusia wajib mengkultivasi jiwa agar dapat berasimilasi dengan karakter tertinggi Tuhan/ Alam-Semesta, yang dirumuskan sebagai: Maha Benar, Maha Pengasih, dan Maha Bijaksana. Aliran buddha ortodox Maha Hukum Alam Semesta (Falun-Dafa) menyebutnya dengan: Zhen – Shan – Ren (Sejati – Baik – Sabar).
Untuk apa “Mewali Sangkanparaning Numadi” ?
Berbicara alam-semesta sekaligus kita sedang membahas Tuhan dan pada saat yang sama kita wajib memahami hakekat jiwa/spirit yang menghidupi manusia; dan untuk dapat berasimilasi/ mendekati sifat Tuhan (bukan mendekati Tuhan yang bersangkutan — apalagi menyatu dengan Tuhan). Konsekuensi dari ketiga aspek hakekat itu maka timbullah kewajiban berdedikasi kepadaNYA. Caranya adalah: manusia wajib berikhtiar untuk “mewali sangkan paraning dumadi”; aliran Tao dan Buddha menyebutnya dengan: “balik ke asal ke jati diri yang asli”. Bila pengertiannya disederhanakan sesuai dengan dunia nyata adalah: mampukan manusia untuk kembali ke sifat/keadaan seperti saat bayi baru lahir, dimana tidak tercemar/ dipengaruhi/ diikat/ dibelenggu oleh konsep-konsep hidup yang diperoleh selama pengalaman hidup setelah lahir hingga mati itu? Artinya: mampukan manusia melepaskan diri dari seluruh ikatan oleh konsep hidup setelah lahir itu? Jangankan mampu, kemauan pun tak hendak karena “masih ingin menikmati indahnya hidup ini” walaupun diketahui harus menumpuk dosa lebih besar untuk mencapai kenikmatan itu.
Apa yang biasa kita sebut moksah (tidak lagi mengalami proses lahir-tua-sakit-mati; dengan kata lain sudah menjadi Dewa, adalah tercapainya keadaan keluar dari kehidupan triloka dan masuk ke alam Dewa/Buddha di atas Triloka. Jika ini tercapai maka terputuslah jalur lingkaran “tumimbal lahir” itu, dan jiwa itu tidak akan dilahirkan kembali untuk menjalani kehidupan manusia. Situasi ini bisa dicapai jika dan hanya jika: jiwa manusia telah terlepas secara total dari seluruh ikatan sifat duniawi. Hal ini pasti tidak akan bisa dijangkau bilamana manusia masih punya sifat “cari untung” dan dengan ego manusiawi yang kuat. Pertanyaan sekarang: Apakah Agama Hindu menyediakan perangkat kultivasi/ penggembelengan jiwa di atas jalan Dewa seperti itu? Kalau tidak maka sesungguhnya moksah itu tak akan pernah dicapai. Adalah benar bila ada yang menyatakan bahwa Agama Hindhu menyediakan sorga tetapi tidak menjamin moksah. Kalau begitu, apakah ada ajaran/ aliran lain yang menyediakan jalan lurus dan lebar (jalan tol) untuk bisa keluar dari triloka atau moksah itu? Sepanjang pengetahuan penilis hanya aliran buddha Falun Dafa yang menyediakan jalan tol itu; tetapi ….. jaminan untuk mencapai buah statusnya ditentukan oleh manusianya sendiri, dan bukan oleh jalan yang disediakan walaupun itu adalah jalan by-pass.
Jiwa adalah percikan Tuhan
Benarkan pernyataan ini? Mari kita bahas. Seumpama anda menciptakan sebuah patung, maka patung itu tentu akan mengandung citra anda; adakah bagian dari unsur badan anda atau jiwa anda yang mengisi patung itu? Ini yang mustahil terjadi, bukan?!
Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah pemahaman penulis akan hakekat jiwa, setelah menjadi praktisi aliran buddha Falun Dafa dari Master Li Hongzhi. Dijelaskan bahwa di alam semesta ini ada banyak bahan-bahan dasar untuk menciptakan jiwa; Tuhan (Penguasa alam semesta) menciptakannya dengan meramu bahan-bahan itu, citra Tuhan terisi pada jiwa tersebut sehingga dia juga akan memiliki karakter fundamental Zhen – Shan – Ren; selanjutnya Tuhan mengisikannya dengan unsur kehidupan yang paling dasar yang disebut air-kehidupan agar jiwa itu hidup. Jadi, jiwa itu bukanlah percikan Tuhan, bukan?! Jiwa adalah materi, dan setiap materi memiliki bentuk prakerti dan purusa yang selalu berpasangan agar materi itu memiliki kuasa/power. Ilmu pengetahuan moderen telah mengenalnya sebagai Materi dan Anti-materi.
Lalu, untuk apa jiwa-jiwa itu masuk di badan manusia? Diajarkan pula bahwa setelah jiwa-jiwa tercipta banyak, tentu saja ada yang melanggar aturan (berbuat dosa) lalu dijatuhkan ke level alam semesta yang lebih rendah; demikian seterusnya sampai ke tingkat terbawah. Saat ini semestinya jiwa itu sudah pantas dimusnahkan, tetapi atas belas-kasih Sang Maha Sadar maka diciptakanlah manusia (oleh Dewa Prajapati ?) untuk menampung jiwa-jiwa yang jatuh itu. Melalui badan manusia yang bisa merasakan panas-dingin, salah-benar, baik-buruk, dsb., itu diharapkan jiwa akan bisa menebus dosa-dosanya sehingga mampu melompat kembali ke posisi semula di mana dia diciptakan (mewali sangkan paranning numadi) atau kembali ke alam dewa, dengan cara melepaskan segala ikatan Triloka secara total. Ternyata, tujuan kehidupan ini bukan untuk dinikmati, tetapi untuk mengembalikan jiwa itu ke posisinya semula. Penjelasan-penjelasan semacam ini hanya ada di dalam aliran Falun Dafa; yang berkenan memperdalam lebih lengkap silahkan belajar di http://www.falundafa.or.id/buku.htm
Terima kasih.
TUHAN???sy dl memiliki pertanyaan dlm hati sprtimu….sy sring argumen dgn guru2 ngaji…..yg ktnya alquran diletakkan ke gnung,gnungnya akan hancur..buktinya alquran lah yg hancur kena hjn/panas..hahaha pertanyaan anda sangat logis n msk akal…bukankah agama harus msk akal krna kt diberi akal untuk berpikir..ya kan….saya prnh kontroversi dgn para kyai di skitar sy gara2 menulis”TUHAN PERNAH MUDA….TUHAN PERNAH SEPERTI KITA TUHAN JUGA TAHU AKAN BERCANDA…..tp skrg sy menemukan jwbn yg tdk cukup di bahas di kolom ini…kamu tahu???TUHAN itu apa/siapa…ALLAH itu siapa…????knp LAILLAHAILLALLAH artinya tiada TUHAN selain ALLAH??????bukan tiada ALLAH selain ALLAH itu sendiri???????alquran adlh kiasan….ALIFLAMMIM knp para ulama mengartikan hanya tuhan yg tahu….bukan kah itu tulisan manusia jg….yg hrsnya org yg menulis jg tahu……atau YAASIN….????ahh capek nulisnya terlalu pjg…..daaaghhh niatkan hati n tuluskan mudah2an ditemukan jawaban tentang tuhan…amiennn