Perbedaan pariwisata Singapura dan Sumatera
Sepuluh perbedaan pariwisata Singapura dengan pariwisata di Sumatera. Kalau mau ditambahkan lagi, silakan.
|
|
Pariwisata Singapura |
Pariwisata Sumatera |
|
1. Potensi pariwisata |
Sangat terbatas, artificial, kurang variatif. |
Nyaris tak bertepi, mulai atraksi alam hingga petualangan. |
|
2. Sumber daya manusia |
Sangat terdidik, professional, penuh dedikasi. |
Umumnya buruk, sombong tapi pauk, tak punya spirit untuk maju. |
|
3. Lembaga yang mengurus pariwisata |
|
Dinas Pariwisata tingkat provinsi, seluruh Dinas Pariwisata tingkat kabupaten/kota, badan wisata daerah, dan banyak lagi yang mau ngurus tapi tak jelas pertanggungjawabannya. |
|
4. Akses ke objek wisata |
Bus eksekutif, speedboat, cable car, MRT, kendaraan wisata, dll. |
Bus wisata, bus ekonomi yang jorok, pesawat, becak, perahu nelayan, RBT, kapal tanpa standar keselamatan, dll. |
|
5. Infrastruktur |
Sangat bagus, modern, menjangkau semua tujuan wisata. |
Jangan dibandingkan, malu kita. |
|
6. Pengunjung |
Dari seluruh dunia, datang untuk belanja, bisnis, maupun bersenang-senang. |
|
|
7. Peran masyarakat |
Sebagai pelaku wisata aktif. |
Sebagai objek wisata yang partisipasinya sangat rendah, karena tidak dilibatkan dalam program-program pemerintah. |
|
8. Informasi wisata |
Semua turis “dibuat capek” menerima brosur dan informasi objek-objek wisata. |
Kendaraan bebas parkir di mana-mana termasuk di depan lampu merah. Sopir dan penumpang sama gebleknya. Polantas terlihat putus asa. |
|
9. Target kunjungan |
9,4 juta orang pada tahun 2006. |
Nggak berani pasang target bersama. Untung-untungan saja, siapa tahu banyak turis nyasar ke Sumatera. |
|
10. Tagline wisata |
Uniquely |
Gelap, terang, gelap, terang, gelap lagi. |
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

ahhahahahhaha, betul ini bang, sangat betull
wkakwakwkawk
[reply to this comment]
Saya sebagai pelaku pariwisata di Bali, terus terang miris melihat pariwisata di Sumatera, khususnya Sumatera Utara. Kita sering mempromosikan Sumut sampai berbusa-busa mulut kita ini agar pariwisata Sumut maju. Tapi apa? Masyarakatnya memang tidak mendukung. Mereka merasa bahwa tanpa pariwisata mereka bisa hidup. Memang di Bali penghasil devisa dan juga masyarakatnya pada umumnya bergantung dengan dunia pariwisata. Karena di Bali tidak ada perusahaan-perusahaan besar seperti pabrik2, karena akan menimbulkan polusi dan sebagian saja yang bisa menikmati dari berdirinya pabrik2. Di Bali saja yang provinsinya kecil, itu mempunyai sampai hampir seribu hotel banyaknya mulai dari yang punya ijin sampai yang tidak alias rumah2 penduduk juga di sewakan untuk tamu. Belum lagi Biro Perjalanan Wisata yang mencapai 500 di tambah lagi Biro yang tidak punya ijin, dan sampai individu2 sendiri bisa mendatangkan tamu. Cukup dengan mempunyai koneksi di bantu dengan satu buah komputer yang tersambung internet mereka sudah bisa mendatangkan tamu. Itulah gambaran bagaimana pariwisata merupakan hidupnya orang Bali. Sehingga ketika bom meledak, semua menangis. Lain dengan Sumut, yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah seperti perkebunan, pabrik2 besar dll. Sehingga kalaupun pariwisatanya hancur masih bisa hidup dari bidang2 lain. Tapi sebenarya, kalau pariwisata bisa berkembang baik, saya yakin perputaran uang sangat besar sekali, dibandingkan dengan bidang2 lain. Sebagai contoh : Di Bali tamu yang datang setiap hari dari Pintu gerbang International bandara Ngurah Rai itu setiap harinya sekitar 6000 orang per hari. Bila dalam sehari tamu itu menghabiskan uangnya rata2 US$ 100.00/hari maka (US$ 1 = Rp 9.300 jadi 6000 x 930.000 = Rp 5.580.000.000/hari uang berputar. Bila dalam sebulan sudah berapa? Belum lagi pendapatan dari VISA masuk.
Untuk pariwisata yang diperlukan sekali adalah keamanan, fasilitas yg baik seperti jalan, transportasi dan juga hotel2 dan resatauran yang bagus kalau bisa yang berkelas dan yang terakhir keramah tamahan masyarakatnya.
Di Sumut masyarakatnya kasar (memang tidak semua) khususnya sebagian para penjual barang2 suvenir. Di Sumut kalau kita melihat barang dagangannya dan tidak kita beli apalagi kalau sudah kita bongkar2 dagangannya seperti baju yang tersusun rapi mereka pasti ngomel2 dengan kasar. Tapi di Bali, kalo kita bongkar2 atau mau memilih2 pakaian contohnya, dan ternyata tidak ketemu yang sesuai dengan kita ingini dan tidak jadi membeli mereka tidak akan marah dan tetap tersenyum. Padahal pakaiannya yang tersusun rapi sudah berserakan di mana2.
Contoh yang lain lagi saya berikan. Ini pengalaman seorang guide di Bali, yang dulunya pernah menjadi guide di Sumut ( Sekarang ini banyak guide dari Sumut yang menjadi guide atau pindah ke Bali). Ketika itu tamunya ketinggalan kamera di tempat penjual souvenir. Tamu itu merasa dan ingat bahwa kamera itu dia letakkan di meja penjual souvenir itu. Tapi ketika ditanya kepada penjual souvenir itu mereka menjawab tidak tahu dan merasa bahawa tidak ada kamera yang tertinggal.
Kalo di Bali, bila ada barang tamu yang tertinggal, dua minggu lagi kita tanya apa benar ada barang yang tertinggal pasti mereka jawab ada. Itulah perbedaannya watak masyarakat Sumut dengan masyarakat Bali.
Dan pengalaman seperti itu sudah pernah saya alami. Dimana ketika saya belanja di Pasar ada belanjaan saya yang tertinggal. Dua hari lagi ketika saya kepasar barang itu masih ada dan mereka menyimpannya.
Jadi sifat masyarakat Sumut itu harus di rubah mulai dari sekarang. Apalagi Danau Toba sekarang mulai dikenal kembali setelah sudah masuk 20 besar nominasi 7 keajaiaban dunia.
Kepada lae Jarar, kebetulsn lae tinggal di hitaan. Tolonglah agar masyarakat Sumut sana bisa di beri pengarahan. Karena kalau pariwisata sudah mulai baik di Sumut. Akan banyak investor yang akan datang ke Sumut untuk menanamkan modalnya. Karena kalau banyak orang asing datang berwisata di Sumut, berarti keamanan di Sumut sudah terjamin.
Mudah2an keluhan2 saya ini dapat di baca oleh orang2 yang berkecimpung di dunia pariwisata. Karena keindahan alam Sumatera Utara itu tidak kalah dengan Bali. Malah saya melihat lebih bagus dan indah Sumut dibandingkan Bali.
BLOG BERITA: terima kasih opinimu, lae, aku suka membacanya.
[reply to this comment]
Cape deh..Bandingin Sumatera dengan Singapura. Tak tahu diri namanya.Sombong tapi Pauk. Kalo kamu bandingkan dengan Sabah baru diterima akal sehat. Kamu bandingkan dengan Singapura..dasar seteres lo..
[reply to this comment]
darmadi reply on 30 June 2008:
@ Jahutur
Benar. Memang kurang pas, membandingkan pariwisata Singapura dengan Sumatera (Sumut). Ibarat petinju kelas berat, di hadapkan dengan petinju welter ringan.
Tapi, untuk maksud2 positip,(pembelajaran) sah-sah aja.
[reply to this comment]
Jahutur reply on 1 July 2008:
Dar..
Kalo Kelas berat dengan welter ringan sih masih bisa diadu..coba nonton UFC..!
Yang OPA maksud kalo bandingin sesuatu.. yang wajar men. Ke Jogya aja dibandingkan sudah jomplang. Bandingin dengan Bali? Puihh..! Dan yang harus berperan disini adalah pemerintah! Kalo masih namanya Indonesia masih tetap begitu. Tujuannya memang begitu biar miskin semua penduduk sana dengan sendirinya merantau kemana mana. Masalah orang sana kasar kebanyakan disebabkan oleh kerasnya hidup demi sesuap nasi.
[reply to this comment]
wah, ini berarti tugas bagi mereka yang mengerti akan pentingnya pariwisata untuk memberikan semacam “penyuluhan”
[reply to this comment]
Negara2 Asia Pacific sebenarnya mempunyai masa depan yg cerah dalam kepariwisataan. Indonesia, sebagai salah satu negara di kawasan Asia-Pasifik, perlu bergerak cepat untuk memanfaatkan kesempatan ini, apalagi kita memiliki pesona alam melebihi negara lain.
Bahkan kabarnya Kamboja cuma punya Candi Ankor, tapi dalam waktu singkat berhasil menyedot wisatawan asing.
Memang banyak factor yg perlu kita benahi agar Indonesia dibanjiri wisatawan asing.
Pertama, infrastruktur, krn banyak lokasi pesona alam yang sulit dijangkau, di pedalaman / terpencil
Kedua, promosi, kita belum gencar melakukan promosi pariwisata ke mancanegara dibandingkan negara tetangga seperti Singapore/Malaysia.
Ketiga, soal komunikasi, kemampuan berbahasa asing penduduk kita di industri pariwisata memang masih rendah, sering menimbulkan salah pengertian .
Selain itu soal2 lain juga perlu dipelajari dari negara2 yg telah berhasil menarik turis dalam jumlah besar seperti Malaysia, Singapore atau Thailand.
Keberhasilan negara2 tsb juga berkat kesiapan pemerintah dan penduduk menerima kedatangan turis.
Semoga dengan program “Visit Indonesia 2008” dapat menjadi dewa penolong dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.
[reply to this comment]
Jack@ reply on 4 July 2008:
@ mbak Evalina
Saya melihat dari sisi yang lain, dimana saya juga pernah bertemu mereka dari kalangan pariwisata.
Kalo menurut saya, minimal ada dua yang menurut saya perlu juga diperhatikan
Pertama, masalah persepsi yang sama terhadap pengaruh yang mengganggu/menghambat dunia pariwisata.
Mungkin karena sering kita melihat ketidak tegasan aparat atau pemda dalam menyikapi fenomena yang terjadi. Sehingga fenomena-fenomena tersebut menjadi kebiasaan yang menjadi keburukan.
Sebagai contoh mungkin kita sering diperlakukan tidak menyenangkan saat kita di obyek pariwisata. ada yang memaksa mambayar parkir liar yang memberatkan. Ada kejadian yang sampai saat ini masih saja terjadi dimana untuk masuk saja pungutan-pungutan yang jumlahnya banyak sekali. Entah yang resmi atau yang liar.
Kadang kita sering dibuat jengkel oleh ulah pedagang yang menyebalkan. Setengah memaksa dengan menaruh dagangannya kedalam mobil, masuk ke lingkungan hotel dan sampai mengetuk pintu kamar dll.
Pernah suatu ketika, pelaku pariwisata mengeluh akan jalan yang rusak sehingga banyak turis mengeluh. Hal ini disampaikan ke pemda Kabupaten. Mereka menjawab, bahwa hal itu tugas Propinsi. Mereka lalu uber ke dinas BudPar propinsi. Mereka jawab bahwa jalan itu baru akan ditender kan 8 bulan lagi. (baru tender !). Padahal liburan sekolah tinggal 2 bulan lagi !
Namun saat ada kunjungan RI 1, seminggu kelar.
Saat ombak dibeberapa daerah di indonesia sedang tinggi tingginya, ada laporan “live” dari suatu daerah pantai. Sang kontributor mengatakan bahwa ombak mencapai 8 meter. Apakah anda membayangkan bahwa ombak setinggi 8m ??
Ternyata yang terjadi adalah bukan tinggi tapi jangkauan sampai 8 m ke darat.!!
Kadang kebijakan daerah yang dituangkan dalam perda atau aturan kepala daerah, tidak sejalan dengan dunia usaha. Mereka (dprd atau pemda) ingin mendapat “sesuatu” secara instan. Ada potensi, langsung di pajekin.
Beberapa bulan yang lalu main ke kota palembang. Saya sempat kagum dengan Kota Palembang dimana saya melhat visit musi lebih “meriah” ketimbang visit indoneia year. Tampaknya pemerintah daerah mulai tergerak untuk mempercatik kotanya. Mereka mulai mengerti akan potensi pariwisata yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun kekaguman saya sirna saat saya mau pulang. Dibandara saya melihat ada tiga orang menggunakan seragam pemda yang berusaha memungut dari setiap penumpang skitar 2-3rb. Yang katanya sesuai dengan peraturan daerah (entah perda atau apa)
Kedua, dirigen.
Kita membutuhkan pemimpin yang berani untuk bertindak tegas. Baik dipusat maupun di daerah. Kadang kita sampai bingung, siapa yang menjadi pemimpin. Ketidak tegasan pemimpin membuat keadaan di pusat dan didaerah membuat “kekacauan” berlarut-larut. Sepertinya mereka para pemimpin, ingin amannya saja. Daripada melarang yang nantinya didemo, lebih baik diam atau parahnya mengikuti maunya mereka.
Ada sebuah hotel berkelas international berusaha untuk mendapatkan klasifikasi hotel MICE. Hotel tersebut sampai sekarang tidak berhasil karena didekatnya ada sekumpulan tenda biru (pedagang), yang tidak mau dipindahkan. Dan pemerintah daerah tidak berdaya mengatasi hal itu.
Sekelas menteri BudPar aja masih bersitegang dengan Garuda saat menteri meminta garuda memasang “visit indonesia year”. Nah apalagi kelas dibawah pak menteri…
—
Dari ketidak tegasan, kurang koordinasi, cara penyampaian media masa, leadership yg memble, laskar yang anarkis dll. apakah kita memang layak di bandingkan negara-negara tetangga ?
Apakah kita sudah mempunyai “bahasa” yang sama bahwa semua keburukan itu adalah gangguan untuk investasi, salah satunya pariwisata ?
Gitu mbak Evalina….
[reply to this comment]
Escobar reply on 4 July 2008:
@Jack
hhhhmmmmm mainan nya hotel nich…….
kabuuurrr…
[reply to this comment]
Jack@ reply on 4 July 2008:
@bang Escobar,
Kabur ???#@#
Ikut dong….
Jahutur reply on 4 July 2008:
@ Jack (Ojack)
Intinya sesgala sesuatu harus dimulai dari Pemerintah. Tidak peduli pemerintah pusat atau daerah. Buat apa namanya pemerintah kalau enggak bisa memerintah. Bubarkan saja! Kalo masalah banding bandingan mengenai pemerintah baru cucok bandingin INDONESIA:SINGAPORE.. bandingin sendiri deh..!
Jack..Kalo seandainya orang sana dikasih kebebasan menjalin kerja sama dengan negara Barat sana. Pasti banyak yang invest disana.Perternakan Babi,Asu,dan lain lain.
[reply to this comment]
Escobar reply on 4 July 2008:
Pemerintah pusat suka ke daerah. katanya sidak.
Pemerintah daerah suka ke pusat, katanya ada rapat pusat. Kalau pun ngga rapat pusat, tapi paling ngga, “rapat bawah pusat” lah.
Jack@ reply on 4 July 2008:
@ Bang Jahutur,
Menurut saya segala sesuatu, harus dimulai dari diri kita sendiri…
……….. ( lagi mikir)
……….. ( lagi mikir, apa iya ??)
……….. ( lagi mikir, apa mungkin ya…??)
kek kek kek….
Evalina reply on 4 July 2008:
Halo Jack.
memang itulah maksud saya dengan kesiapan pemerintah dan penduduk untuk menerima kedatangan wisatawan. Kesiapan pemerintah meliputi hal2 yg Jack maksud tetapi penduduk nya sendiri pun harus memiliki kesadaran untuk beretika & berprilaku yang baik, sehingga membuat para wisatawan merasa nyaman dan akan datang berkunjung kembali kemudian hari.
[reply to this comment]
@Bang Blog Berita & Bang Wilton Marbun
Wahhh Bang, terus terang ane protes berat ame tulisan dan komen Abang-Abang nih…. jangan gitu dong…. kate siape Sumatera kala ame Singapura (si Yahudi Asia itu?) Ane neh saksinye!!!! Berani sumpe, Sumatera jaoooooooooooooo lebi asiiiiik dibanding Singapura (just a small red dot in South East Asia!). Mo bukti? Niiiihhhh……….
Singapura: ade indoor roller coaster di Escape Theme Park, tapi kaga rame, keliatan boong, terlalu aman, pokoknye suck!
Sumatera: coba’in kalu pingin keringet dingin di siang bolong, naek mobil sewaan (biasanye minibus) ke Danau Toba, bener-bener menegangkan, asik, macu adrenalin, kaga pake sefti bel segale, ribet! keliatan kalu maut tuh ude di depan mata, roller coaster paling hebat di dunia juga kaga ade ape-apenye!! ini baru petualangan nyang sesunggunye!
Singapura: paling-paling muter di Merlion, Sentosa Island liat patung singa muncratin aer doang, kaga seru. cuman aer mancur, garing! anak kecil juga bisa!
Sumatera: ini baru okeh!! anak cucu Sisingamangaraja, orang beneran, ude gede-gede lagi! bukan patung! kalu lagi berantem di Pinang Baris ato Amplas, bise muntahin dare seger tuh.. (bukan boong-boongan, kaga ade trik-trik-an)!!!!
Singapura: mo ngeliatin penjare aje belagu bener, make dibagus-bagusin segale, suse-suse kudu ke Changi, puihhh… mana kaga ade tahanannye, diorama doang… garingggggg dan mahaaaallll (bise bobol Sing $ 30 tuh) kaga ade serem-seremnye….
Sumatera: na…. ini baru asik, mo liat orang beneran dipenjare? digamparin? disiksa? 1 sel buat 30 orang? guampangggggggggggg, mureeeeeee lagi, cuman modal duit 25 rebu perak buat uang koordinasi, ame spik bombay dikit-dikit, kite ude bise berkunjung ke sel tahan di ampir tiap polsek berikut live show-nye… asiiik kaann…
Singapore cab driver says: “Yes Sir, we are proud to have BG LEE (Lie Hsien Loong) as our national leader”
>terlalu sopan, sok pormil, kesannye dibuat-buat, kage tulus…
Medan cab driver says: “Argo???!!!! No.. no… no….!!!Pikir pakai BIJILU bah!! Mana pulak ada argo zaman sekarang ! Setoran sudah naik, eh… kau turiz malah ngotot!!!!”
>naaaaahhhh….ini baru okeh, jujur, ape adanye, ekpresip getuuhhh…
Polisi di Singapura: “Fine Sir, Sing $ 50 for smoking on public areas!”
>dingin, kaga bersahabat, kebarat-baratan, sok iye banget…..
Polisi di Medan: “Fine-fine saja lah Pak. Tidak apa-apa lah… bebas lah merokok di sini, siapa berani larang bah! Ehmmm.. keliatannya nikmat ya…boleh kucoba satu batang Pak?”
>akrab bangeeeeet, mure senyum, bise ngertiin kebutuhan orang, ude nganggep keluarge sendiri, minte ape-ape ude kaga use sungkan-sungkan….
Singapura: mo cari tentara? wah…. jangan harep…. di sono tentaranye pengecut!!!! kaga ade nyang berani ngeliatin diri… suseeee banget mo cari tentara di sono. trus jarang orang sono nyang seneng atribut tentara, semuanye coward!
Sumatera: ini barruuu!!! buat nyang seneng army look, perang, muka sadis, rambut cepak, pistol, bedil de el el, kaga sala lagi, di sini tempatnye!!! dari sipil nyang hobi ngoleksi stiker mobil/motor nyang berlogo denpom lah, akpol lah, kodim lah, trus pasang tanda pangkat akmil di gantungan spion tengah (padahal nyang masuk akmil tuh teman adik angkat dari tetangga jao mantan pacar supir bosnya), trus ormas-ormas nyang pake atribut militer lah (belon perna di dunia ada seragam loreng model army nyang warnanye oranye, kaga tau deh buat nyaru kalu perang di kebon jeruk ato kebon wortel kali)wuihhh gagah banget mereka, lebi syereeemmm dari tentara aseli loh! mo tentara beneran? lebi gampang lagi, ade di mana-mana, nyang naek motor kaga pake helem, bawa mobil / truk sambil demo zig-zag ala stuntman show (nyang lagi show di ancol juga kala), trus nyang agak nyamar-nyamar jadi satpam diskotik… wah…. banyak deh… pokonye di sini tuh kite nyang seneng army things tuh dimanja’in ampe belel bise liatin tentara ato bau-bau perang sepuasnye..
Changi Airport: rame, tapi kaga asik. dingin, semuanye ude ketebak. orang-orangnye kaya robot. kaga ade faiting sepirit!
Polonia Airport: naaa, ini baru airport buat petualang sejati!!! panas, AC kaga ngaruh. mo ngerokok, nyoret-nyoret wc, ngeludah, wuiiiihhhh pokonye nyang asik-asik tuh kaga dilarang. bener-bener ngeharga’in turis nyang mo bebas berekpresi!! tau bener care manja’in orang! trus kite bise jadi selebriti dadakan, begitu keluar arrival gate, nyang namanye supit taksi… wwooowwwwww…. kaya fans crowd nyang ude kaga sabar nunggu bintang pelem pujaannya tiba… langsung nyerrbuuuu!! wah… pokonye kite tuh diharga’in bener. kaga dianggep miskin, semue tau kalu kite tuh be’duit…
benernye masi buanyaaak lagi kehebatan kite dibanding mereka Bang (buktinye mereka berhasil kite tipu buat beli pasir nyang kite jual ke sono, bodo kan? pasir kok dibeli…), telalu panjang buat ditulis semua….
jadi kesimpulannye? ane yakin seyakin-yakinnye, kalu ampe kite kala saingan di bidang pariwisate ame tuh Singapura, pasti karne die orang ade konspirasi jahat buat ngancurin pariwisata di Indonesia nyang keren abizzz inih. pasti di belakangnye ade persekongkolan licik Amrik tengik ame Inggris iblis… yakin ane… bener nyang si Sobri ngomong!
[reply to this comment]
darmadi reply on 1 July 2008:
riezieq
Loe memang paling bisa, bung rizieq.
Soal ‘ngeles’ loe emang biangnya. Ngomongnya nyelekit tapi alus banget. Hebat..hebat..
[reply to this comment]
rizieq reply on 1 July 2008:
Huek… kek.. kek…
makanye Bang Darmadi, dari kecil harus rajin belajar, jadi kalu dah gede bise cari tambahan duit dari ‘ngeles’-in mafiki.
pis…
[reply to this comment]
La Tunrung La Tinro. reply on 2 July 2008:
@ riezieq
“Ngeles’ kagak perlu sekolah. Itu ‘bakat’ dan penyakit.
Riezie memang punya penyakit ‘ngeles’ kronis.
Evalina reply on 1 July 2008:
Ikutan ngeramein yah bang.
Ada cerita lu nih:
Sepasang suami isteri setengah baya yang sama-sama dari kalangan profesional merasa penat dengan kesibukan di ibukota.Mereka memutuskan untuk berlibur di Parapat. Mereka akan menempati kembali kamar hotel yang sama dengan ketika mereka berhoneymoon saat menikah 30 tahun yang lalu.
Karena kesibukannya, sang suami harus terbang lebih dahulu dan isterinya baru menyusul keesokan harinya. Setelah check in di hotel di Parapat, sang suami mendapati pesawat komputer yang tersambung ke internet telah terpasang di kamarnya.Dengan gembira ia menulis e-mail mesra kepada isterinya di kantornya di Jalan Sudirman, Jakarta. Celakanya, ia salah mengetik alamat e-mail isterinya dan tanpa menyadari kesalahannya ia tetap mengirimkan e-mail tersebut.
Dilain tempat di daerah Cinere, seorang wanita baru kembali dari pemakaman suaminya yang baru saja meninggal. Setibanya di rumah, ia langsung mengecheck e-mail untuk membaca ucapan-ucapan belasungkawa.
Baru saja selesai membaca e-mail yang pertama, ia langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri. Anak sulungnya yang terkejut kemudian membaca e-mail tersebut (tak lama kemudian jatuh pingsan juga), yang bunyinya :
To: Isteriku tercinta
Subject: Papah sudah sampai Mah !!!
Date: 29 Juni 2008
Aku tahu pasti kamu kaget tapi seneng dapat kabar dariku. Ternyata disini mereka udah pasang internet juga, katanya biar bisa berkirim kabar buat orang-orang tercinta di rumah. Aku baru sampai dan sudah check-in.
Katanya mereka juga sudah mempersiapkan segalanya untuk kedatanganmu besok. Nggak sabar deh rasanya nungguin kamu. Semoga perjalanan kamu kesini juga mengasyikkan seperti perjalananku kemaren.
Love you Mom,
Papah
PS: Disini lagi panas-panasnya. Kalau pada mau, anak-anak diajak aja
[reply to this comment]
rizieq reply on 1 July 2008:
Huek… kek… kek… LOL!!!!! kuereeennnn Mbak!
[reply to this comment]
Evalina reply on 3 July 2008:
@rijiek
jangan sengrius tengrus ,mengsti bangnyak humor, biar gak cengpat sengtress
ha..ha..ha LOL!
Ok bang gtg (got to go!)
Satu lagi, kalau belanja di sambu, nawar2 pake pegang2 barang jualannya segala, tapi ga jadi beli…..
udah deh, disumpahin kita sama penjual nya….
“gua sumpahin loe, tujuh turunan mandul”….
bayangin aja, tujuh turunan mandul…… gilee apa…
[reply to this comment]
srikandini reply on 1 July 2008:
GIMANA CARANYA MANDUL 7 TURUNAN ?????
lha kalo generasi pertamanya aja dah mandul … pegimane ada generasi ke2 ????? hihiiihihihihii…. tetangga ikutan kali yahhh nyumbang …hehehehehehhehe
[reply to this comment]
darmadi reply on 1 July 2008:
Srikandini
Maksud loe, nyumbang ke loe.
[reply to this comment]
Saya pernah nulis features satu halaman penuh, ttg komparasi pariwisata Sumut dan Bali, dgn judul”Bali Memang Bukan Balige”. Sekdapropsu, Pak Muhyan Tambusai waktu itu, sampai menyuruh membingkai tulisan itu, agar dibaca di Dinas Pariwisata.
Lae Wilton benar sekali, keunggulan Bali yang terpenting adalah karakter masyarakatnya, yang memang sangat menyadari bahwa pariwisata adalah pohon kehidupan mereka, dan oleh karenanya mereka memeliharanya dengan segenap hati.
Dalam feature itu saya ceritakan, bagaimana supir taksi membawa saya melewati jalur-jalur alternatif yang tidak saya tahu. Melihat mimik saya yang agak curiga, si supir bilang, “Tenang, Mas, saya ambil jalan pintas, biar lebih cepat sampai.” Dan benar saja, argonya nyaris cuma setengah dari yang saya perkirakan.
U/ Lae Jarar, mohon izin komen Lae Wilton dan Habieb Rizieq, saya republish di tempat saya. Terlalu bagus, terlalu lucu, dan terlalu justru.
[reply to this comment]
Jahutur reply on 2 July 2008:
@ Toga
Berbusa busa sampeyan menulis “features” berjilid-jilid kalau tidak disuntik langsung “Urat ni Sahit i” percume..Ratusan hingga ribuan tulisan di buku, koran dan internet sudah ditulis oleh yang amatiran maupun professional. Tetapi kalo tidak ada “Action Taken”..Walah…! Yang diawali dari SBY-JK administration..kemudian dari “Sibalga Igung” yang photo yang di atas dan kurcaci yang ditepian danau Toba.. Tentu dengan menggunakan kebijakan “Cemeti”..Penjarakan yang tidak ikut aturan..(tentu yang memihak masyarakat umum dunk)Ahhh cape deh..Siapa peduli.
[reply to this comment]
@ Toga
Setiap suku/etnis di Indonesia punya kelebihan dan kekurangan.
Untuk etnis Bali, mungkin kultur dan karakternya ‘pas’ dengan iklim pariwisata.
Tapi, tak usah berkecil hati. Etnis Batak punya kelebihan karakter dan kulurnya di ‘bidang’ lain.
Menurut gue, kita terima aja, kelebihan Bali, untuk pariwisata.
Kita pacu ‘kelebihan’ kita di bidang yang lain sesuai kultur dan karakter kita.
[reply to this comment]
Wilton Marbun reply on 3 July 2008:
@ La Tunrung
Benar yang anda katakan bahwa setiap etnis ada kekurangan dan kelebihannya. Tapi alangkah baiknya kekurangan itu kita perbaiki sehingga kekurangan2 itu lama kelamaan habis. Dan itu memang butuh proses. Apa kelebihan dan kebaikan suatu etnis yang lain itu harus kita contoh. Agar kita lebih maju lagi. Orang Batak katanya keras. Tapi menurut orang Batak yang tinggal di Bandung, benar atau tidak? orang Batak di sana bisa jadi lembut. Malah kadang lebih lembut dari orang Sunda. Tapi sifat keterus terangan orang Batak itu tidak dihilangkan. Karena dengan berterus terang dan sifat yang spontan hitam yach hitam putih yach putih yang merupakan ciri khas orang Batak itu sangat dibutuhkan dalam dunia sekarang ini. Itulah pendapat saya. Saya dulu orangnya kasar, tapi setelah berkecimpung di dunia pariwisata Bali sifat itu lama kelaman mulai hilang. Malah saya takut sekali melihat orang Batak yang ada di Medan sana. Padahal saya lahir dan besar di kota Medan.
[reply to this comment]
Jahutur reply on 5 July 2008:
@ La Lutung La Lontong
Om..Otak saja bisa “dicuci”..Alasan kultur itu memang ada. Tetapi nomor kesekian. Tahu tidak!?! orang Batak itu senang disebut “Keras”. Suka disanjung, Apalagi kalau disebut bersuara emas dan pintar-pintar..Hidungnya memuai seratus persen! Ada lagi satu ungkapan bahwa orang Batak seperti ibarat Tananaman Labu, berbuah jauh dari dimana ditanam. Kampung halamannya dibiarkan melarat sedangkan mereka kaya diperantauan. Sah sah saja kaya diperantuan..Tapi perhatikan dong kampung halamannya kaya Jusup Kelik (JK).
[reply to this comment]
bupunsu reply on 5 July 2008:
@La Tunrung La Tinro La Wiro Sableng La Shinto Gendeng
Benar kata bang Jahutur “Otak saja bisa dicuci” la wong kultur batak sekarang banyak berubah, la orang-orang batak yang kaya-kaya di perantauan banyak yang sudah cuci otak, ngak mau tau dengan masalah dikampungnya,maunya yang enak-enak saja, tapi bukan berarti nyalahin orang-orang seperti itu, itu urusannya mereka, kalau memang orang disana mau mengerti arti pariwisata itu buat mereka sudah seharusnya mereka mau belajar dan memperbaiki sikap dan infrastruktur pariwisatatanya sehingga pariwisata tsb dapat mereka gunakan untuk jalan hidupnya, bukannya pasrah menerima kondisi seperti kata abang.
[reply to this comment]
La Tunrung La Tinro reply on 5 July 2008:
@ bupunsu
Dalam Tinju ada istilah ’shadow boxing’?.
Si Petinju bertinju dengan segala jenis pukulan dan segenap tenaga, tapi sendirian.
Dia, hanya bertarung dengan bayangan lawan dengan konsentrasi penuh. Seolah olah ada lawan.
Pariwisata Toba mungkin seperti itu. Ia bercita-cita menuju pariwisata Internasional. Tapi hanya bayangan/ seolah-olah. Dalam realitanya, menjaring wisata domestik sudah ngos2an.
Untuk apa kita menghabiskan waktu dan energi, untuk cita2 pariwisata Internasional. Sementara kultur dan karakter kita tidak mendukung.
Mendingan, energi kita itu, ditaruh di potensi2 lain dalam masyarakat, yang ditopang oleh kultur dan karakter kita.
La Tunrung La Tinro reply on 5 July 2008:
@ Jahutur
Soal kultur dan karakter itu penting, mas.
Mengapa Cina dan Padang sangat dominan dalam dunia usaha dan perdagangan.
Karena kultur dan karakter mereka memang di bidang itu. Sampai, botak pun orang Batak tidak bakalan bisa menandingi Cina dan Padang atau Makasar di bidang usaha.
Karena kultur kita yang keras kepala dan tidak mau merendah, tidak mendukung hal itu.
Tolong dong di pahami, kalau untuk pariwisata, kultur dan karakter kita yang keras, beringasan tidak mau mengalah sangat TIDAK COCOK.
janganlah terlalu memaksakan diri untuk bidang yang tidak sesuai dengan kultur dan karakter kita.
La Tunrung La Tinro reply on 5 July 2008:
@ Jahutur
Saya setuju banget, soal ungkapan tanaman labu itu.
Saya memang lahir dan besar di perantauan. Tahun 2005, saya pulang ke Pematang Siantar, tempat Opung saya. Terakhir berkunjung tahun 1995. Saya lihat sendiri, jarak waktu 10 tahun, tidak ada perubahan yang berarti.
Bahkan semua bangunan yang saya lihat tahun 1995, masih sama dan saya kenali karena tidak ada perubahan di tahun 2005.
Saya berpikir, jika Siantar yang Kotamadya aja pembangunannya ’stagnan’. Apalgi di desa dan pelosok.
[reply to this comment]
Jahutur reply on 6 July 2008:
@ La Lutung la lontong
Kek kau inilah yang tarsonggot. Memangnya kau tinggal Pondok Indah? Atau dipingiran kali Malang. Kau bilang Siantar tidak ada perobahan.Sok kali kau bah..Kalau kau tinggal di Barcelona..kau bilang lagi kau satu kos dengan Lionel Messi dan sering pergi ke Lapo dengan Ronaldinho.
darmadi reply on 7 July 2008:
@ Jahutur
He..he..he…Belum apa2 udah ada ‘contoh’ karakter yang beringasan.
Escobar reply on 7 July 2008:
Sekali waktu seorang pejabat di daerah tapanuli memimpin upacara bendera, dan akan memulai hening cipta:
“Untuk mengenang para pahlawan yang telah gugur ditangan penjajah Belanda … (hening sejenak)… yang kejam… biadab…BANGSAT…. LAKNAT…. KEPARAT…. eehemm.. eemm… maaf saya emosi… (hening sejenak).. mari kita mengheningkan cipta.”
@Jahutur.
Nick Lae Jahutur, namaku Toga, janganlah kita marsampeyan-sampeyan.
Dalam posisi sebagai jurnalis, hal utama yang bisa saya lakukan memang menulis Lae. Jika tidak ada dampaknya, berarti aku harus terus menulis. Kalau aku sampai terlibat membangun infrastruktur atau perhotelan, posisinya bukan wartawan lagi, tapi sudah hartawan.
Sudah demikian skenario dari Sang Mahasutradara Lae, kita menjadi penghuni negeri yang seperti Lae gambarkan itu. Tugas kita adalah berbuat sesuai posisi dan kemampuan kita masing-masing, atau selamanya negeri ini hanya menjadi bahakn olok-olok dalam pergaulan internasional. Jadi prinsipnya saya rasa, bukan keluhan semacam boha bahenon (apa boleh buat), tapi tolema tabahen (marilah kita buat). Lae Jahutur, ayo kita hutur (guncang) ketidakberesan itu, dengan semangat yang tak pernah luntur.
@La Tunrung La Tinro
Bukan maksudku mau mengolok-olok etnis Batak Lae. Sitongka mai (jauh-jauhlah itu). Blog Lae Jarar yang dulu sempat dilanda kehebohan gara-gara artikelku yang buat sebagian orang membela kebatakan dengan membabibuta.
Sampai ada kawan yang bilang, “Jika si Toga ini dipaksa memilih meninggalkan agamanya atau kebatakannya, dia akan meninggalkan yang pertama.” Aku tak memprotes statement sepihak itu, dan hanya mengatakan, “Yang jelas, siapapun mungkin akan bertukar agama, tapi tak akan bertukar suku”.
Jelas dikenal “superior” di berbagai bidang; hukum, transportasi, catur, dsb. Namun, walau mengandung kearifan, statemen Lae - Menurut gue, kita terima aja, kelebihan Bali, untuk pariwisata, kita pacu ‘kelebihan’ kita di bidang yang lain sesuai kultur dan karakter kita - agak kurang bisa kuterima.
Persoalannya, tanah Batak dikaruniai keindahan, bak sekeping sorga yang dilontarkan ke bumi. Pun kekayaan budayanya luar biasa. Itu dua modal dasar yang sangat penting untuk membangun industri pariwisata yang hebat.
Bila kita bisa belajar separuh saja dari apa yang dilakukan saudara-saudara kita di Bali sana, kemiskinan di pinggiran Danau Toba akan tinggal jadi sejarah.
@Wilton.
Terima kasih untuk izinnya. Horasma, Lae, Blih Wilton.
Maaf Lae, caraku mereplay komen ini, macam aku pula yang punya tulisan keren di atas itu.
[reply to this comment]
Ngomong2 nih ye…..kenapa gak coba minta The Godfather sumut untuk merubah wajah danau toba dan sekitarnya menjadi kota pariwisata international. Kalau perlu the godfather minta ijin sama Sutanto untuk buat Genting van Indonesia. Daripada gambler2 indonesia lari ke macao, genting, vegas, kan lebih baik disekap di danau toba. Gitu lho……
[reply to this comment]
Buat lae2 ku. Kalau memang sifat orang Batak tidak cocok dalam dunia pariwisata, kenapa dulu Sumut bisa menjadi tiga besar dalam tujuan daerah wisata di Indonesia, setelah Bali dan Jogja. Lae, tahu gak, di Bali banyak orang Batak berkecimpung di dunia pariwisata. Ada yang punya BPW dan ada juga rata2 manager2 di hotel. Nah, sekarang kenapa bisa pariwisata Sumut terpuruk apa yang membuatnya? Disinilah kita perlu mencari solusi.
Timbul pertanyaan, berarti orang batak atau oarang Sumut di era 80an lembut2 kenapa sekarang menjadi kasar?
Kalau mau pemerintah Sumut serius untuk membangun pariwisata, ajaklah orang perantauan yang diluar Sumut yang benar2 mengerti pariwisata. Untuk bertukar pikiran. Sehingga kita bisa menyusun langkah2 yang tepat untuk membangun pariwisata Sumut dengan ciri2 atau kekhasan daerah masing2 yang ada di Sumut. Tapi jangan sampai kita menghilangkan kekhassan kita demi memajukan pariwisata.
Oleh karena itu, sekali lagi saya katakan efeknya sangat besar sekali kalau pariwisata maju di Sumut. Ada efek positif dan pasti juga ada yang negatif. Saya ambil yang positifnya, kalau dilihat orang bule di Sumut itu banyak orang asing yang berliburan di sana, mereka pasti berpikir bahwa propinsi Sumut sangat aman bagi orang asing. Nah kalau sudah dipikiran mereka sudah aman di Sumut sana, saya yakin mereka akan berlomba2 untuk menginvestasi dana mereka ke Sumut. Sama seperti Bali banyak sekali orang asing yang mau inves di Bali, kalau bisa pabrik2 dapat ijin untuk di bangun saya rasa mereka akan bangun pabrik2 besar. Tapi karena pabrik2 biasanya banyak limbah nya maka ijin untuk mendirikan pabrik dilarang di Bali. Banyak orang akan mendapatkan keuntungan dari pariwisata. Dengan modal bahasa saja, seperti B. Inggris kita bisa dapat uang.
Contoh teman2 halak hita yang di pinggir pantai Kuta itu mereka hanya modal nekat saja ditambah dengan bahasa Inggris yang marpasir-pasir mereka sudah bisa mendpatkan tamu. Malah ada yang menikah sama orang asing dan mereka dikasih modal lagi untuk buat usaha.
Nah, Sumut karena luas propinsinya maka itu bisa di bagi2 mana untuk daerah wisata dan mana daerah untuk bisa membangun industri2. Jadi kalau pariwisata itu cocok di daerah Taput, Tobasa dan Berastagi serta Nias. Kalau untuk industri cocok di daerah Binjai, Tebing, Belawan atau Asahan.
Semoga ini menjadi masukan bagi kita masyarakat Sumut di mana saja.
[reply to this comment]
Jahutur reply on 6 July 2008:
@ Wilton
Dengan sangat terpaksa saya harus menuliskan ini. Penyebab awal hilangnya pengunjung (Turis manca negara) ke Sumatera umumnya dan kawasan Danau Toba khususnya, awal tahun 90an terjadi pemberontakan GAM di aceh, Kabut asap pembakaran hutan dan penerbangan langsung KLM dari Amsterdam ke Polonia Medan dialihkan ke Bangkok, dalam hal pengalihan penerbangan KLM yang sepatutnya bisa dihindari bila kita punya aparatur pemerintahan yang pantas duduk pada posisi yang menangani hal tersebut, Sumatera tidak akan kehilangan potensi pengunjung yang diangkut Air Bus yang mencapai 200 an turis setiap hari. Efek dominonya sangat terasa kepada image Indonesia umumnya. Setiap turis yang mengeluh akan menceritakan kepada bakal turis yang lain. Dan diperburuk dengan lemahnya “Courtesy” aparatur negara, penduduk dan infrastruktur yang ada. Jangankan turis asing. Saya sendiri saja pulang kampung bisa hampir pingsan dalam perjalanan dari Medan ke Danau Toba. Kebetulan dari SD saya sudah berinteraksi dengan Orang Barat. Saat jual Magic Musroom dll. Dan Saat SMA sudah bobok enak dengan Wanita Bule (Maap Dosa lama). Dan Bali!?!? Pemerintah daerah dan penduduk setempat sudah sangat menyadari betul bahwa potensi Bali yang paling gampang diolah hanya di Pariwisata. Mereka sudah kapok dengan menjadi nalayan perahu cadik.Yang cuma dapat 20 ekor sekali melaut. Bagaimana dengan Chiang May, Pattaya, Langkawi dll? (Uncomparable).
Akhir kata, semua yang anda tuliskan tadi adalah cerita lama. Hanya yang kurang adalah stimulus dan tindakan nyata dari Pemerintah belum ada. Dan saya bisa memaklumi kegundahan dan keterkejutan anda. Sama halnya saya saat pertama kali mnginjakkan kaki tahun 90an dimana anda berdomisili sekarang.
Marilah kita saling membantu yang lebih riil dengan tidak mengedepankan kekurangan orang Batak.
[reply to this comment]
Jahutur reply on 6 July 2008:
@ La Lutung la Lontong
Jadi pedagang itu bisa dipelajari. Jadi orang sopan bisa diajari. Anjing saja bisa diajari sopan. Artinya kultur itu bisa dirubah…okey..! kepala keras itu juga bisa dilembekin pake bogeman..
[reply to this comment]
Jack@ reply on 4 July 2008:
@ Bang Jahutur,
Menurut saya segala sesuatu, harus dimulai dari diri kita sendiri…
……….. ( lagi mikir)
……….. ( lagi mikir, apa iya ??)
……….. ( lagi mikir, apa mungkin ya…??)
kek kek kek….
@ OJACK
MIMPI KALI YEE..KALO MENUNGGU SEGALA SESUATU ITU DIMULAI DARI DIRIMU ATAU DIRI MASING2..KEBURU KIAMAT!! OJAK! OJAK! OJAK..BARU BACA BUKU STEVEN COVEY KAYANYA ENGKAU MAS…
[reply to this comment]
Jack@ reply on 6 July 2008:
Bang Jahutur,
Makasih bang komennya.
Emang berat sih.. tapi saya percaya hal itu bisa dilakukan. Setidaknya dilingkungan kita yang terkecil.
dan saya lebih percaya dengan sikap seperti itu masih banyak orang lain yang melakukan di komunitasnya.
Awalnya saya kwatir, mereka-mereka yang berpandangan seperti itu merasa “sendirian”.
Ternyata saya tidak sendirian dan jumlahnya semakin banyak…
Bang Jahutur boleh ikutan kok.
[reply to this comment]
Bang Jack..
Idealnya memang begitu..dimulai dari setiap diri sendiri..keluarga..lingkungan..dst.Insya allah dunia akan tenteram damai sejahtera. Kalo saya melihat ungkapan itu hanya sebagai jargon motivator yang frustrasi atau pelipur loro.Namun kita harus melihat realita yang ada. Seberapa banyak sih anggota masyarakat kita yang sudah terdidik secara psikologis dan wawasan? Bukan yang dimaksud strata pendidikan lho. Kapan sih setiap individu itu bisa sama sama memahami sesuatu dari sudut pandang berbeda? Kembali ke Laptop..Mengembalikan reputasi kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata Internasional! Satukan persepsi! Pemerintah sebagai pembuat aturan (perda), penggerak (penyedia infrastruktur) dan penyelia (bal bal kalo ada yang kasar dan penipu)…yah tugas pemerintah yang benerlah.. Dan masyarakat sebagai pelakunya dididik secara perlahan. Satu lagi, Bagaimana cara kita kita dan pejabat yang berasal dari sana “merayu” agar pemerintah pusat mulai melirik untuk membangun SUMUT dan kepariwisataan Danau Toba khususnya. Namun semuanya itu sesuatu yang mustahak menurut saya..
[reply to this comment]
si binyun reply on 7 July 2008:
Bang Jahutur…..
Mungkin, bagi putra2 daerah SUMUT yang saat ini menetap di ibukota, atau kota2 lainnya bahkan bisa jadi yang tinggal di luar negeri, SUMUT hanyalah tinggal sepenggal nama saja. Sebuah kota KENANGAN, atau sekedar kota MUDIK, bagi mereka yang masih punya ikatan silaturrahmi dengan sanak keluarga dalam event2 penting seperti, lebaran, natal atau tahun baru.
Ane yakin, dulu ketika mereka belum menjadi siapa2, mereka sangat hapal sekali tentang kota2 pariwisata di SUMUT seperti Perapat, Pulau Samosir dengan Danau Tobanya, Berastagi, Pantai Cermin, dlsbnya. Tapi kini, setelah mereka sukses di rantau orang, setelah mereka sudah mengenal banyak kota2 pariwisata di belahan dunia lainnya, bahkan bisa berkali2 berkunjung (bagi yang fulusnya tebal), memory tentang kota2 pariwisata SUMUT mendadak menjadi kabur, menjadi bayangan suram dan perlahan2 lenyap dari ingatan.
Kalau sudah begini, siapa yang harus disalehin…? Padahal, kalau ditelusurin, banyak sekali orang2 SUMUT yang sukses di Jakarta. Dari Pejabat negara, Politikus, Pengacara, Pengusaha, Musisi, dlsbnya. Bisa peninglah kepala ini kalau dihitung satu2. Namun, ape mau dikate, tidak ada tande2 mereka ini berminat atau tertarik untuk mengembangkan atawa memajukan daerah asalnya. Bisa jadi sebagian besar dari mereka memang tidak dilahirkan di SUMUT, sehingga hubungan emosionalnya hanya sebatas sejarah leluhur saja. Atau kemungkinan lainnya, yang paling ekstrim adalah, mereka sudah melupakan daerah asalnya. Malinkundang modern…….
Tapi abang2 diatas, jangan berputus asa dululah. Suatu saat kelak, akan ada putra2 daerah yang akan mewujudkan impian ini. Entah kapan……, kite2 memang juga tidak tau. Tapi ane percaye….. akan datang saat itu nanti, meskipun kita tidak sempat menikmatinya (sudah keburu masuk liang kubur) he..he..
[reply to this comment]