Sepuluh perbedaan pariwisata Singapura dengan pariwisata di Sumatera. Kalau mau ditambahkan lagi, silakan.
|
|
Pariwisata Singapura |
Pariwisata Sumatera |
|
1. Potensi pariwisata |
Sangat terbatas, artificial, kurang variatif. |
Nyaris tak bertepi, mulai atraksi alam hingga petualangan. |
|
2. Sumber daya manusia |
Sangat terdidik, professional, penuh dedikasi. |
Umumnya buruk, sombong tapi pauk, tak punya spirit untuk maju. |
|
3. Lembaga yang mengurus pariwisata |
|
Dinas Pariwisata tingkat provinsi, seluruh Dinas Pariwisata tingkat kabupaten/kota, badan wisata daerah, dan banyak lagi yang mau ngurus tapi tak jelas pertanggungjawabannya. |
|
4. Akses ke objek wisata |
Bus eksekutif, speedboat, cable car, MRT, kendaraan wisata, dll. |
Bus wisata, bus ekonomi yang jorok, pesawat, becak, perahu nelayan, RBT, kapal tanpa standar keselamatan, dll. |
|
5. Infrastruktur |
Sangat bagus, modern, menjangkau semua tujuan wisata. |
Jangan dibandingkan, malu kita. |
|
6. Pengunjung |
Dari seluruh dunia, datang untuk belanja, bisnis, maupun bersenang-senang. |
|
|
7. Peran masyarakat |
Sebagai pelaku wisata aktif. |
Sebagai objek wisata yang partisipasinya sangat rendah, karena tidak dilibatkan dalam program-program pemerintah. |
|
8. Informasi wisata |
Semua turis “dibuat capek” menerima brosur dan informasi objek-objek wisata. |
Kendaraan bebas parkir di mana-mana termasuk di depan lampu merah. Sopir dan penumpang sama gebleknya. Polantas terlihat putus asa. |
|
9. Target kunjungan |
9,4 juta orang pada tahun 2006. |
Nggak berani pasang target bersama. Untung-untungan saja, siapa tahu banyak turis nyasar ke Sumatera. |
|
10. Tagline wisata |
Uniquely |
Gelap, terang, gelap, terang, gelap lagi. |
2. Klik-kanan lalu pilih Copy
3. Paste-kan ke blogmu dalam mode HTML

Konten Web ini boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik ke artikel yang dikutip. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!


















Bang Jack..
Idealnya memang begitu..dimulai dari setiap diri sendiri..keluarga..lingkungan..dst.Insya allah dunia akan tenteram damai sejahtera. Kalo saya melihat ungkapan itu hanya sebagai jargon motivator yang frustrasi atau pelipur loro.Namun kita harus melihat realita yang ada. Seberapa banyak sih anggota masyarakat kita yang sudah terdidik secara psikologis dan wawasan? Bukan yang dimaksud strata pendidikan lho. Kapan sih setiap individu itu bisa sama sama memahami sesuatu dari sudut pandang berbeda? Kembali ke Laptop..Mengembalikan reputasi kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata Internasional! Satukan persepsi! Pemerintah sebagai pembuat aturan (perda), penggerak (penyedia infrastruktur) dan penyelia (bal bal kalo ada yang kasar dan penipu)…yah tugas pemerintah yang benerlah.. Dan masyarakat sebagai pelakunya dididik secara perlahan. Satu lagi, Bagaimana cara kita kita dan pejabat yang berasal dari sana “merayu” agar pemerintah pusat mulai melirik untuk membangun SUMUT dan kepariwisataan Danau Toba khususnya. Namun semuanya itu sesuatu yang mustahak menurut saya..
Bang Jahutur…..
Mungkin, bagi putra2 daerah SUMUT yang saat ini menetap di ibukota, atau kota2 lainnya bahkan bisa jadi yang tinggal di luar negeri, SUMUT hanyalah tinggal sepenggal nama saja. Sebuah kota KENANGAN, atau sekedar kota MUDIK, bagi mereka yang masih punya ikatan silaturrahmi dengan sanak keluarga dalam event2 penting seperti, lebaran, natal atau tahun baru.
Ane yakin, dulu ketika mereka belum menjadi siapa2, mereka sangat hapal sekali tentang kota2 pariwisata di SUMUT seperti Perapat, Pulau Samosir dengan Danau Tobanya, Berastagi, Pantai Cermin, dlsbnya. Tapi kini, setelah mereka sukses di rantau orang, setelah mereka sudah mengenal banyak kota2 pariwisata di belahan dunia lainnya, bahkan bisa berkali2 berkunjung (bagi yang fulusnya tebal), memory tentang kota2 pariwisata SUMUT mendadak menjadi kabur, menjadi bayangan suram dan perlahan2 lenyap dari ingatan.
Kalau sudah begini, siapa yang harus disalehin…? Padahal, kalau ditelusurin, banyak sekali orang2 SUMUT yang sukses di Jakarta. Dari Pejabat negara, Politikus, Pengacara, Pengusaha, Musisi, dlsbnya. Bisa peninglah kepala ini kalau dihitung satu2. Namun, ape mau dikate, tidak ada tande2 mereka ini berminat atau tertarik untuk mengembangkan atawa memajukan daerah asalnya. Bisa jadi sebagian besar dari mereka memang tidak dilahirkan di SUMUT, sehingga hubungan emosionalnya hanya sebatas sejarah leluhur saja. Atau kemungkinan lainnya, yang paling ekstrim adalah, mereka sudah melupakan daerah asalnya. Malinkundang modern…….
Tapi abang2 diatas, jangan berputus asa dululah. Suatu saat kelak, akan ada putra2 daerah yang akan mewujudkan impian ini. Entah kapan……, kite2 memang juga tidak tau. Tapi ane percaye….. akan datang saat itu nanti, meskipun kita tidak sempat menikmatinya (sudah keburu masuk liang kubur) he..he..
Jack@ reply on 4 July 2008:
@ Bang Jahutur,
Menurut saya segala sesuatu, harus dimulai dari diri kita sendiri…
……….. ( lagi mikir)
……….. ( lagi mikir, apa iya ??)
……….. ( lagi mikir, apa mungkin ya…??)
kek kek kek….
@ OJACK
MIMPI KALI YEE..KALO MENUNGGU SEGALA SESUATU ITU DIMULAI DARI DIRIMU ATAU DIRI MASING2..KEBURU KIAMAT!! OJAK! OJAK! OJAK..BARU BACA BUKU STEVEN COVEY KAYANYA ENGKAU MAS…
Bang Jahutur,
Makasih bang komennya.
Emang berat sih.. tapi saya percaya hal itu bisa dilakukan. Setidaknya dilingkungan kita yang terkecil.
dan saya lebih percaya dengan sikap seperti itu masih banyak orang lain yang melakukan di komunitasnya.
Awalnya saya kwatir, mereka-mereka yang berpandangan seperti itu merasa “sendirian”.
Ternyata saya tidak sendirian dan jumlahnya semakin banyak…
Bang Jahutur boleh ikutan kok.
Buat lae2 ku. Kalau memang sifat orang Batak tidak cocok dalam dunia pariwisata, kenapa dulu Sumut bisa menjadi tiga besar dalam tujuan daerah wisata di Indonesia, setelah Bali dan Jogja. Lae, tahu gak, di Bali banyak orang Batak berkecimpung di dunia pariwisata. Ada yang punya BPW dan ada juga rata2 manager2 di hotel. Nah, sekarang kenapa bisa pariwisata Sumut terpuruk apa yang membuatnya? Disinilah kita perlu mencari solusi.
Timbul pertanyaan, berarti orang batak atau oarang Sumut di era 80an lembut2 kenapa sekarang menjadi kasar?
Kalau mau pemerintah Sumut serius untuk membangun pariwisata, ajaklah orang perantauan yang diluar Sumut yang benar2 mengerti pariwisata. Untuk bertukar pikiran. Sehingga kita bisa menyusun langkah2 yang tepat untuk membangun pariwisata Sumut dengan ciri2 atau kekhasan daerah masing2 yang ada di Sumut. Tapi jangan sampai kita menghilangkan kekhassan kita demi memajukan pariwisata.
Oleh karena itu, sekali lagi saya katakan efeknya sangat besar sekali kalau pariwisata maju di Sumut. Ada efek positif dan pasti juga ada yang negatif. Saya ambil yang positifnya, kalau dilihat orang bule di Sumut itu banyak orang asing yang berliburan di sana, mereka pasti berpikir bahwa propinsi Sumut sangat aman bagi orang asing. Nah kalau sudah dipikiran mereka sudah aman di Sumut sana, saya yakin mereka akan berlomba2 untuk menginvestasi dana mereka ke Sumut. Sama seperti Bali banyak sekali orang asing yang mau inves di Bali, kalau bisa pabrik2 dapat ijin untuk di bangun saya rasa mereka akan bangun pabrik2 besar. Tapi karena pabrik2 biasanya banyak limbah nya maka ijin untuk mendirikan pabrik dilarang di Bali. Banyak orang akan mendapatkan keuntungan dari pariwisata. Dengan modal bahasa saja, seperti B. Inggris kita bisa dapat uang.
Contoh teman2 halak hita yang di pinggir pantai Kuta itu mereka hanya modal nekat saja ditambah dengan bahasa Inggris yang marpasir-pasir mereka sudah bisa mendpatkan tamu. Malah ada yang menikah sama orang asing dan mereka dikasih modal lagi untuk buat usaha.
Nah, Sumut karena luas propinsinya maka itu bisa di bagi2 mana untuk daerah wisata dan mana daerah untuk bisa membangun industri2. Jadi kalau pariwisata itu cocok di daerah Taput, Tobasa dan Berastagi serta Nias. Kalau untuk industri cocok di daerah Binjai, Tebing, Belawan atau Asahan.
Semoga ini menjadi masukan bagi kita masyarakat Sumut di mana saja.
@ Wilton
Dengan sangat terpaksa saya harus menuliskan ini. Penyebab awal hilangnya pengunjung (Turis manca negara) ke Sumatera umumnya dan kawasan Danau Toba khususnya, awal tahun 90an terjadi pemberontakan GAM di aceh, Kabut asap pembakaran hutan dan penerbangan langsung KLM dari Amsterdam ke Polonia Medan dialihkan ke Bangkok, dalam hal pengalihan penerbangan KLM yang sepatutnya bisa dihindari bila kita punya aparatur pemerintahan yang pantas duduk pada posisi yang menangani hal tersebut, Sumatera tidak akan kehilangan potensi pengunjung yang diangkut Air Bus yang mencapai 200 an turis setiap hari. Efek dominonya sangat terasa kepada image Indonesia umumnya. Setiap turis yang mengeluh akan menceritakan kepada bakal turis yang lain. Dan diperburuk dengan lemahnya “Courtesy” aparatur negara, penduduk dan infrastruktur yang ada. Jangankan turis asing. Saya sendiri saja pulang kampung bisa hampir pingsan dalam perjalanan dari Medan ke Danau Toba. Kebetulan dari SD saya sudah berinteraksi dengan Orang Barat. Saat jual Magic Musroom dll. Dan Saat SMA sudah bobok enak dengan Wanita Bule (Maap Dosa lama). Dan Bali!?!? Pemerintah daerah dan penduduk setempat sudah sangat menyadari betul bahwa potensi Bali yang paling gampang diolah hanya di Pariwisata. Mereka sudah kapok dengan menjadi nalayan perahu cadik.Yang cuma dapat 20 ekor sekali melaut. Bagaimana dengan Chiang May, Pattaya, Langkawi dll? (Uncomparable).
Akhir kata, semua yang anda tuliskan tadi adalah cerita lama. Hanya yang kurang adalah stimulus dan tindakan nyata dari Pemerintah belum ada. Dan saya bisa memaklumi kegundahan dan keterkejutan anda. Sama halnya saya saat pertama kali mnginjakkan kaki tahun 90an dimana anda berdomisili sekarang.
Marilah kita saling membantu yang lebih riil dengan tidak mengedepankan kekurangan orang Batak.
@ La Lutung la Lontong
Jadi pedagang itu bisa dipelajari. Jadi orang sopan bisa diajari. Anjing saja bisa diajari sopan. Artinya kultur itu bisa dirubah…okey..! kepala keras itu juga bisa dilembekin pake bogeman..
Ngomong2 nih ye…..kenapa gak coba minta The Godfather sumut untuk merubah wajah danau toba dan sekitarnya menjadi kota pariwisata international. Kalau perlu the godfather minta ijin sama Sutanto untuk buat Genting van Indonesia. Daripada gambler2 indonesia lari ke macao, genting, vegas, kan lebih baik disekap di danau toba. Gitu lho……