<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Perbedaan pariwisata Singapura dan Sumatera</title>
	<atom:link href="http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/</link>
	<description>Blog berita terbaru artikel unik video terbaik</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Sep 2009 02:16:28 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Escobar</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-1/#comment-4159</link>
		<dc:creator>Escobar</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 15:58:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4159</guid>
		<description>Sekali waktu seorang pejabat di daerah tapanuli memimpin upacara bendera, dan akan memulai hening cipta:
&quot;Untuk mengenang para pahlawan yang telah gugur ditangan penjajah Belanda ... (hening sejenak)... yang kejam... biadab...BANGSAT.... LAKNAT.... KEPARAT.... eehemm.. eemm... maaf saya emosi... (hening sejenak).. mari kita mengheningkan cipta.&quot;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sekali waktu seorang pejabat di daerah tapanuli memimpin upacara bendera, dan akan memulai hening cipta:<br />
&#8220;Untuk mengenang para pahlawan yang telah gugur ditangan penjajah Belanda &#8230; (hening sejenak)&#8230; yang kejam&#8230; biadab&#8230;BANGSAT&#8230;. LAKNAT&#8230;. KEPARAT&#8230;. eehemm.. eemm&#8230; maaf saya emosi&#8230; (hening sejenak).. mari kita mengheningkan cipta.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: darmadi</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-1/#comment-4140</link>
		<dc:creator>darmadi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 10:14:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4140</guid>
		<description>@ Jahutur

He..he..he...Belum apa2 udah ada &#039;contoh&#039; karakter yang beringasan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Jahutur</p>
<p>He..he..he&#8230;Belum apa2 udah ada &#8216;contoh&#8217; karakter yang beringasan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: si binyun</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-2/#comment-4107</link>
		<dc:creator>si binyun</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 18:53:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4107</guid>
		<description>Bang Jahutur..... 
Mungkin, bagi putra2 daerah SUMUT yang saat ini menetap di ibukota, atau kota2 lainnya bahkan bisa jadi yang tinggal di luar negeri,  SUMUT hanyalah tinggal sepenggal nama saja.  Sebuah kota KENANGAN, atau sekedar kota MUDIK, bagi mereka yang masih punya ikatan silaturrahmi dengan sanak keluarga dalam event2 penting seperti, lebaran, natal atau tahun baru.

Ane yakin, dulu ketika mereka belum menjadi siapa2, mereka sangat hapal sekali tentang kota2 pariwisata di SUMUT seperti Perapat, Pulau Samosir dengan Danau Tobanya, Berastagi, Pantai Cermin, dlsbnya. Tapi kini, setelah mereka sukses di rantau orang, setelah mereka sudah mengenal banyak kota2 pariwisata di belahan dunia lainnya,  bahkan bisa berkali2 berkunjung (bagi yang fulusnya tebal), memory tentang kota2 pariwisata SUMUT mendadak menjadi kabur, menjadi bayangan suram dan perlahan2 lenyap dari ingatan. 

Kalau sudah begini, siapa yang harus disalehin...? Padahal, kalau ditelusurin, banyak sekali orang2 SUMUT yang sukses di Jakarta. Dari Pejabat negara, Politikus, Pengacara, Pengusaha, Musisi, dlsbnya. Bisa peninglah kepala ini kalau dihitung satu2. Namun, ape mau dikate, tidak ada tande2 mereka ini berminat atau tertarik untuk mengembangkan atawa memajukan daerah asalnya. Bisa jadi sebagian besar dari mereka memang tidak dilahirkan di SUMUT, sehingga hubungan emosionalnya hanya sebatas sejarah leluhur saja. Atau kemungkinan lainnya, yang paling ekstrim adalah, mereka sudah melupakan daerah asalnya. Malinkundang modern.......

Tapi abang2 diatas, jangan berputus asa dululah. Suatu saat kelak, akan ada putra2 daerah yang akan mewujudkan impian ini. Entah kapan......, kite2 memang juga tidak tau. Tapi ane percaye..... akan datang saat itu nanti, meskipun kita tidak sempat menikmatinya (sudah keburu masuk liang kubur) he..he..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Jahutur&#8230;..<br />
Mungkin, bagi putra2 daerah SUMUT yang saat ini menetap di ibukota, atau kota2 lainnya bahkan bisa jadi yang tinggal di luar negeri,  SUMUT hanyalah tinggal sepenggal nama saja.  Sebuah kota KENANGAN, atau sekedar kota MUDIK, bagi mereka yang masih punya ikatan silaturrahmi dengan sanak keluarga dalam event2 penting seperti, lebaran, natal atau tahun baru.</p>
<p>Ane yakin, dulu ketika mereka belum menjadi siapa2, mereka sangat hapal sekali tentang kota2 pariwisata di SUMUT seperti Perapat, Pulau Samosir dengan Danau Tobanya, Berastagi, Pantai Cermin, dlsbnya. Tapi kini, setelah mereka sukses di rantau orang, setelah mereka sudah mengenal banyak kota2 pariwisata di belahan dunia lainnya,  bahkan bisa berkali2 berkunjung (bagi yang fulusnya tebal), memory tentang kota2 pariwisata SUMUT mendadak menjadi kabur, menjadi bayangan suram dan perlahan2 lenyap dari ingatan. </p>
<p>Kalau sudah begini, siapa yang harus disalehin&#8230;? Padahal, kalau ditelusurin, banyak sekali orang2 SUMUT yang sukses di Jakarta. Dari Pejabat negara, Politikus, Pengacara, Pengusaha, Musisi, dlsbnya. Bisa peninglah kepala ini kalau dihitung satu2. Namun, ape mau dikate, tidak ada tande2 mereka ini berminat atau tertarik untuk mengembangkan atawa memajukan daerah asalnya. Bisa jadi sebagian besar dari mereka memang tidak dilahirkan di SUMUT, sehingga hubungan emosionalnya hanya sebatas sejarah leluhur saja. Atau kemungkinan lainnya, yang paling ekstrim adalah, mereka sudah melupakan daerah asalnya. Malinkundang modern&#8230;&#8230;.</p>
<p>Tapi abang2 diatas, jangan berputus asa dululah. Suatu saat kelak, akan ada putra2 daerah yang akan mewujudkan impian ini. Entah kapan&#8230;&#8230;, kite2 memang juga tidak tau. Tapi ane percaye&#8230;.. akan datang saat itu nanti, meskipun kita tidak sempat menikmatinya (sudah keburu masuk liang kubur) he..he..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jahutur</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-2/#comment-4097</link>
		<dc:creator>Jahutur</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 16:19:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4097</guid>
		<description>Bang Jack..
Idealnya memang begitu..dimulai dari setiap diri sendiri..keluarga..lingkungan..dst.Insya allah dunia akan tenteram damai sejahtera. Kalo saya melihat ungkapan itu hanya sebagai jargon motivator yang frustrasi atau pelipur loro.Namun kita harus melihat realita yang ada. Seberapa banyak sih anggota masyarakat kita yang sudah terdidik secara psikologis dan wawasan? Bukan yang dimaksud strata pendidikan lho. Kapan sih setiap individu itu bisa sama sama memahami sesuatu dari sudut pandang berbeda? Kembali ke Laptop..Mengembalikan reputasi kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata Internasional! Satukan persepsi! Pemerintah sebagai pembuat aturan (perda), penggerak (penyedia infrastruktur) dan penyelia (bal bal kalo ada yang kasar dan penipu)...yah tugas pemerintah yang benerlah.. Dan masyarakat sebagai pelakunya dididik secara perlahan. Satu lagi, Bagaimana cara kita kita dan pejabat yang berasal dari sana &quot;merayu&quot; agar pemerintah pusat mulai melirik untuk membangun SUMUT dan kepariwisataan Danau Toba khususnya. Namun semuanya itu sesuatu yang mustahak menurut saya..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Jack..<br />
Idealnya memang begitu..dimulai dari setiap diri sendiri..keluarga..lingkungan..dst.Insya allah dunia akan tenteram damai sejahtera. Kalo saya melihat ungkapan itu hanya sebagai jargon motivator yang frustrasi atau pelipur loro.Namun kita harus melihat realita yang ada. Seberapa banyak sih anggota masyarakat kita yang sudah terdidik secara psikologis dan wawasan? Bukan yang dimaksud strata pendidikan lho. Kapan sih setiap individu itu bisa sama sama memahami sesuatu dari sudut pandang berbeda? Kembali ke Laptop..Mengembalikan reputasi kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata Internasional! Satukan persepsi! Pemerintah sebagai pembuat aturan (perda), penggerak (penyedia infrastruktur) dan penyelia (bal bal kalo ada yang kasar dan penipu)&#8230;yah tugas pemerintah yang benerlah.. Dan masyarakat sebagai pelakunya dididik secara perlahan. Satu lagi, Bagaimana cara kita kita dan pejabat yang berasal dari sana &#8220;merayu&#8221; agar pemerintah pusat mulai melirik untuk membangun SUMUT dan kepariwisataan Danau Toba khususnya. Namun semuanya itu sesuatu yang mustahak menurut saya..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jack@</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-2/#comment-4085</link>
		<dc:creator>Jack@</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 03:14:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4085</guid>
		<description>Bang Jahutur,

Makasih bang komennya.
Emang berat sih.. tapi saya percaya hal itu bisa dilakukan. Setidaknya dilingkungan kita yang terkecil.
dan saya lebih percaya dengan sikap seperti itu masih banyak orang lain yang melakukan di komunitasnya.

Awalnya saya kwatir, mereka-mereka yang berpandangan seperti itu merasa &quot;sendirian&quot;.
Ternyata saya tidak sendirian dan jumlahnya semakin banyak... 

Bang Jahutur boleh ikutan kok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Jahutur,</p>
<p>Makasih bang komennya.<br />
Emang berat sih.. tapi saya percaya hal itu bisa dilakukan. Setidaknya dilingkungan kita yang terkecil.<br />
dan saya lebih percaya dengan sikap seperti itu masih banyak orang lain yang melakukan di komunitasnya.</p>
<p>Awalnya saya kwatir, mereka-mereka yang berpandangan seperti itu merasa &#8220;sendirian&#8221;.<br />
Ternyata saya tidak sendirian dan jumlahnya semakin banyak&#8230; </p>
<p>Bang Jahutur boleh ikutan kok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

