<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Perbedaan pariwisata Singapura dan Sumatera</title>
	<atom:link href="http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/</link>
	<description>Blog berita terbaru Berita unik Artikel menarik Video terbaik dari Balige Kabupaten Toba Samosir oleh wartawan freelance Jarar Siahaan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 01 Jan 2010 01:36:17 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Escobar</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-1/#comment-4159</link>
		<dc:creator>Escobar</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 15:58:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4159</guid>
		<description>Sekali waktu seorang pejabat di daerah tapanuli memimpin upacara bendera, dan akan memulai hening cipta:
&quot;Untuk mengenang para pahlawan yang telah gugur ditangan penjajah Belanda ... (hening sejenak)... yang kejam... biadab...BANGSAT.... LAKNAT.... KEPARAT.... eehemm.. eemm... maaf saya emosi... (hening sejenak).. mari kita mengheningkan cipta.&quot;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sekali waktu seorang pejabat di daerah tapanuli memimpin upacara bendera, dan akan memulai hening cipta:<br />
&#8220;Untuk mengenang para pahlawan yang telah gugur ditangan penjajah Belanda &#8230; (hening sejenak)&#8230; yang kejam&#8230; biadab&#8230;BANGSAT&#8230;. LAKNAT&#8230;. KEPARAT&#8230;. eehemm.. eemm&#8230; maaf saya emosi&#8230; (hening sejenak).. mari kita mengheningkan cipta.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: darmadi</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-1/#comment-4140</link>
		<dc:creator>darmadi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 10:14:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4140</guid>
		<description>@ Jahutur

He..he..he...Belum apa2 udah ada &#039;contoh&#039; karakter yang beringasan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Jahutur</p>
<p>He..he..he&#8230;Belum apa2 udah ada &#8216;contoh&#8217; karakter yang beringasan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: si binyun</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-2/#comment-4107</link>
		<dc:creator>si binyun</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 18:53:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4107</guid>
		<description>Bang Jahutur..... 
Mungkin, bagi putra2 daerah SUMUT yang saat ini menetap di ibukota, atau kota2 lainnya bahkan bisa jadi yang tinggal di luar negeri,  SUMUT hanyalah tinggal sepenggal nama saja.  Sebuah kota KENANGAN, atau sekedar kota MUDIK, bagi mereka yang masih punya ikatan silaturrahmi dengan sanak keluarga dalam event2 penting seperti, lebaran, natal atau tahun baru.

Ane yakin, dulu ketika mereka belum menjadi siapa2, mereka sangat hapal sekali tentang kota2 pariwisata di SUMUT seperti Perapat, Pulau Samosir dengan Danau Tobanya, Berastagi, Pantai Cermin, dlsbnya. Tapi kini, setelah mereka sukses di rantau orang, setelah mereka sudah mengenal banyak kota2 pariwisata di belahan dunia lainnya,  bahkan bisa berkali2 berkunjung (bagi yang fulusnya tebal), memory tentang kota2 pariwisata SUMUT mendadak menjadi kabur, menjadi bayangan suram dan perlahan2 lenyap dari ingatan. 

Kalau sudah begini, siapa yang harus disalehin...? Padahal, kalau ditelusurin, banyak sekali orang2 SUMUT yang sukses di Jakarta. Dari Pejabat negara, Politikus, Pengacara, Pengusaha, Musisi, dlsbnya. Bisa peninglah kepala ini kalau dihitung satu2. Namun, ape mau dikate, tidak ada tande2 mereka ini berminat atau tertarik untuk mengembangkan atawa memajukan daerah asalnya. Bisa jadi sebagian besar dari mereka memang tidak dilahirkan di SUMUT, sehingga hubungan emosionalnya hanya sebatas sejarah leluhur saja. Atau kemungkinan lainnya, yang paling ekstrim adalah, mereka sudah melupakan daerah asalnya. Malinkundang modern.......

Tapi abang2 diatas, jangan berputus asa dululah. Suatu saat kelak, akan ada putra2 daerah yang akan mewujudkan impian ini. Entah kapan......, kite2 memang juga tidak tau. Tapi ane percaye..... akan datang saat itu nanti, meskipun kita tidak sempat menikmatinya (sudah keburu masuk liang kubur) he..he..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Jahutur&#8230;..<br />
Mungkin, bagi putra2 daerah SUMUT yang saat ini menetap di ibukota, atau kota2 lainnya bahkan bisa jadi yang tinggal di luar negeri,  SUMUT hanyalah tinggal sepenggal nama saja.  Sebuah kota KENANGAN, atau sekedar kota MUDIK, bagi mereka yang masih punya ikatan silaturrahmi dengan sanak keluarga dalam event2 penting seperti, lebaran, natal atau tahun baru.</p>
<p>Ane yakin, dulu ketika mereka belum menjadi siapa2, mereka sangat hapal sekali tentang kota2 pariwisata di SUMUT seperti Perapat, Pulau Samosir dengan Danau Tobanya, Berastagi, Pantai Cermin, dlsbnya. Tapi kini, setelah mereka sukses di rantau orang, setelah mereka sudah mengenal banyak kota2 pariwisata di belahan dunia lainnya,  bahkan bisa berkali2 berkunjung (bagi yang fulusnya tebal), memory tentang kota2 pariwisata SUMUT mendadak menjadi kabur, menjadi bayangan suram dan perlahan2 lenyap dari ingatan. </p>
<p>Kalau sudah begini, siapa yang harus disalehin&#8230;? Padahal, kalau ditelusurin, banyak sekali orang2 SUMUT yang sukses di Jakarta. Dari Pejabat negara, Politikus, Pengacara, Pengusaha, Musisi, dlsbnya. Bisa peninglah kepala ini kalau dihitung satu2. Namun, ape mau dikate, tidak ada tande2 mereka ini berminat atau tertarik untuk mengembangkan atawa memajukan daerah asalnya. Bisa jadi sebagian besar dari mereka memang tidak dilahirkan di SUMUT, sehingga hubungan emosionalnya hanya sebatas sejarah leluhur saja. Atau kemungkinan lainnya, yang paling ekstrim adalah, mereka sudah melupakan daerah asalnya. Malinkundang modern&#8230;&#8230;.</p>
<p>Tapi abang2 diatas, jangan berputus asa dululah. Suatu saat kelak, akan ada putra2 daerah yang akan mewujudkan impian ini. Entah kapan&#8230;&#8230;, kite2 memang juga tidak tau. Tapi ane percaye&#8230;.. akan datang saat itu nanti, meskipun kita tidak sempat menikmatinya (sudah keburu masuk liang kubur) he..he..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jahutur</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-2/#comment-4097</link>
		<dc:creator>Jahutur</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 16:19:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4097</guid>
		<description>Bang Jack..
Idealnya memang begitu..dimulai dari setiap diri sendiri..keluarga..lingkungan..dst.Insya allah dunia akan tenteram damai sejahtera. Kalo saya melihat ungkapan itu hanya sebagai jargon motivator yang frustrasi atau pelipur loro.Namun kita harus melihat realita yang ada. Seberapa banyak sih anggota masyarakat kita yang sudah terdidik secara psikologis dan wawasan? Bukan yang dimaksud strata pendidikan lho. Kapan sih setiap individu itu bisa sama sama memahami sesuatu dari sudut pandang berbeda? Kembali ke Laptop..Mengembalikan reputasi kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata Internasional! Satukan persepsi! Pemerintah sebagai pembuat aturan (perda), penggerak (penyedia infrastruktur) dan penyelia (bal bal kalo ada yang kasar dan penipu)...yah tugas pemerintah yang benerlah.. Dan masyarakat sebagai pelakunya dididik secara perlahan. Satu lagi, Bagaimana cara kita kita dan pejabat yang berasal dari sana &quot;merayu&quot; agar pemerintah pusat mulai melirik untuk membangun SUMUT dan kepariwisataan Danau Toba khususnya. Namun semuanya itu sesuatu yang mustahak menurut saya..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Jack..<br />
Idealnya memang begitu..dimulai dari setiap diri sendiri..keluarga..lingkungan..dst.Insya allah dunia akan tenteram damai sejahtera. Kalo saya melihat ungkapan itu hanya sebagai jargon motivator yang frustrasi atau pelipur loro.Namun kita harus melihat realita yang ada. Seberapa banyak sih anggota masyarakat kita yang sudah terdidik secara psikologis dan wawasan? Bukan yang dimaksud strata pendidikan lho. Kapan sih setiap individu itu bisa sama sama memahami sesuatu dari sudut pandang berbeda? Kembali ke Laptop..Mengembalikan reputasi kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata Internasional! Satukan persepsi! Pemerintah sebagai pembuat aturan (perda), penggerak (penyedia infrastruktur) dan penyelia (bal bal kalo ada yang kasar dan penipu)&#8230;yah tugas pemerintah yang benerlah.. Dan masyarakat sebagai pelakunya dididik secara perlahan. Satu lagi, Bagaimana cara kita kita dan pejabat yang berasal dari sana &#8220;merayu&#8221; agar pemerintah pusat mulai melirik untuk membangun SUMUT dan kepariwisataan Danau Toba khususnya. Namun semuanya itu sesuatu yang mustahak menurut saya..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jack@</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-2/#comment-4085</link>
		<dc:creator>Jack@</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 03:14:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4085</guid>
		<description>Bang Jahutur,

Makasih bang komennya.
Emang berat sih.. tapi saya percaya hal itu bisa dilakukan. Setidaknya dilingkungan kita yang terkecil.
dan saya lebih percaya dengan sikap seperti itu masih banyak orang lain yang melakukan di komunitasnya.

Awalnya saya kwatir, mereka-mereka yang berpandangan seperti itu merasa &quot;sendirian&quot;.
Ternyata saya tidak sendirian dan jumlahnya semakin banyak... 

Bang Jahutur boleh ikutan kok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Jahutur,</p>
<p>Makasih bang komennya.<br />
Emang berat sih.. tapi saya percaya hal itu bisa dilakukan. Setidaknya dilingkungan kita yang terkecil.<br />
dan saya lebih percaya dengan sikap seperti itu masih banyak orang lain yang melakukan di komunitasnya.</p>
<p>Awalnya saya kwatir, mereka-mereka yang berpandangan seperti itu merasa &#8220;sendirian&#8221;.<br />
Ternyata saya tidak sendirian dan jumlahnya semakin banyak&#8230; </p>
<p>Bang Jahutur boleh ikutan kok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jahutur</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-2/#comment-4078</link>
		<dc:creator>Jahutur</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 19:02:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4078</guid>
		<description>Jack@ reply on 4 July 2008:

@ Bang Jahutur,

Menurut saya segala sesuatu, harus dimulai dari diri kita sendiri…

……….. ( lagi mikir)
……….. ( lagi mikir, apa iya ??)
……….. ( lagi mikir, apa mungkin ya…??)

kek kek kek….

@ OJACK
MIMPI KALI YEE..KALO MENUNGGU SEGALA SESUATU ITU DIMULAI DARI DIRIMU ATAU DIRI MASING2..KEBURU KIAMAT!! OJAK! OJAK! OJAK..BARU BACA BUKU STEVEN COVEY KAYANYA ENGKAU MAS...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jack@ reply on 4 July 2008:</p>
<p>@ Bang Jahutur,</p>
<p>Menurut saya segala sesuatu, harus dimulai dari diri kita sendiri…</p>
<p>……….. ( lagi mikir)<br />
……….. ( lagi mikir, apa iya ??)<br />
……….. ( lagi mikir, apa mungkin ya…??)</p>
<p>kek kek kek….</p>
<p>@ OJACK<br />
MIMPI KALI YEE..KALO MENUNGGU SEGALA SESUATU ITU DIMULAI DARI DIRIMU ATAU DIRI MASING2..KEBURU KIAMAT!! OJAK! OJAK! OJAK..BARU BACA BUKU STEVEN COVEY KAYANYA ENGKAU MAS&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jahutur</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-2/#comment-4077</link>
		<dc:creator>Jahutur</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 18:39:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4077</guid>
		<description>@ La Lutung la Lontong

Jadi pedagang itu bisa dipelajari. Jadi orang sopan bisa diajari. Anjing saja bisa diajari sopan. Artinya kultur itu bisa dirubah...okey..! kepala keras itu juga bisa dilembekin pake bogeman..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ La Lutung la Lontong</p>
<p>Jadi pedagang itu bisa dipelajari. Jadi orang sopan bisa diajari. Anjing saja bisa diajari sopan. Artinya kultur itu bisa dirubah&#8230;okey..! kepala keras itu juga bisa dilembekin pake bogeman..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jahutur</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-1/#comment-4076</link>
		<dc:creator>Jahutur</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 18:27:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4076</guid>
		<description>@ La Lutung la lontong
Kek kau inilah yang tarsonggot. Memangnya kau tinggal Pondok Indah? Atau dipingiran kali Malang. Kau bilang Siantar tidak ada perobahan.Sok kali kau bah..Kalau kau tinggal di Barcelona..kau bilang lagi kau satu kos dengan Lionel Messi dan sering pergi ke Lapo dengan Ronaldinho.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ La Lutung la lontong<br />
Kek kau inilah yang tarsonggot. Memangnya kau tinggal Pondok Indah? Atau dipingiran kali Malang. Kau bilang Siantar tidak ada perobahan.Sok kali kau bah..Kalau kau tinggal di Barcelona..kau bilang lagi kau satu kos dengan Lionel Messi dan sering pergi ke Lapo dengan Ronaldinho.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jahutur</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-2/#comment-4075</link>
		<dc:creator>Jahutur</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 18:12:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4075</guid>
		<description>@ Wilton
Dengan sangat terpaksa saya harus menuliskan ini. Penyebab awal hilangnya pengunjung (Turis manca negara) ke Sumatera umumnya dan kawasan Danau Toba khususnya, awal tahun 90an terjadi pemberontakan GAM di aceh, Kabut asap pembakaran hutan dan penerbangan langsung KLM dari Amsterdam ke Polonia Medan dialihkan ke Bangkok, dalam hal pengalihan penerbangan KLM yang sepatutnya bisa dihindari bila kita punya aparatur pemerintahan yang pantas duduk pada posisi yang menangani hal tersebut, Sumatera tidak akan kehilangan potensi pengunjung yang diangkut Air Bus yang mencapai 200 an turis setiap hari. Efek dominonya sangat terasa kepada image Indonesia umumnya. Setiap turis yang mengeluh akan menceritakan kepada bakal turis yang lain. Dan diperburuk dengan lemahnya &quot;Courtesy&quot; aparatur negara, penduduk dan infrastruktur yang ada. Jangankan turis asing. Saya sendiri saja pulang kampung  bisa hampir pingsan dalam perjalanan dari Medan ke Danau Toba. Kebetulan dari SD saya sudah berinteraksi dengan Orang Barat. Saat jual Magic Musroom dll. Dan Saat SMA sudah bobok enak dengan Wanita Bule (Maap Dosa lama). Dan Bali!?!? Pemerintah daerah dan penduduk setempat sudah sangat menyadari betul bahwa potensi Bali yang paling gampang diolah hanya di Pariwisata. Mereka sudah kapok dengan menjadi nalayan perahu cadik.Yang cuma dapat 20 ekor sekali melaut. Bagaimana dengan Chiang May, Pattaya, Langkawi dll? (Uncomparable). 
Akhir kata, semua yang anda tuliskan tadi adalah cerita lama. Hanya yang kurang adalah stimulus dan tindakan nyata dari Pemerintah belum ada. Dan saya bisa memaklumi kegundahan dan keterkejutan anda. Sama halnya saya saat pertama kali mnginjakkan kaki tahun 90an dimana anda berdomisili sekarang.     
Marilah kita saling membantu yang lebih riil dengan tidak mengedepankan kekurangan orang Batak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Wilton<br />
Dengan sangat terpaksa saya harus menuliskan ini. Penyebab awal hilangnya pengunjung (Turis manca negara) ke Sumatera umumnya dan kawasan Danau Toba khususnya, awal tahun 90an terjadi pemberontakan GAM di aceh, Kabut asap pembakaran hutan dan penerbangan langsung KLM dari Amsterdam ke Polonia Medan dialihkan ke Bangkok, dalam hal pengalihan penerbangan KLM yang sepatutnya bisa dihindari bila kita punya aparatur pemerintahan yang pantas duduk pada posisi yang menangani hal tersebut, Sumatera tidak akan kehilangan potensi pengunjung yang diangkut Air Bus yang mencapai 200 an turis setiap hari. Efek dominonya sangat terasa kepada image Indonesia umumnya. Setiap turis yang mengeluh akan menceritakan kepada bakal turis yang lain. Dan diperburuk dengan lemahnya &#8220;Courtesy&#8221; aparatur negara, penduduk dan infrastruktur yang ada. Jangankan turis asing. Saya sendiri saja pulang kampung  bisa hampir pingsan dalam perjalanan dari Medan ke Danau Toba. Kebetulan dari SD saya sudah berinteraksi dengan Orang Barat. Saat jual Magic Musroom dll. Dan Saat SMA sudah bobok enak dengan Wanita Bule (Maap Dosa lama). Dan Bali!?!? Pemerintah daerah dan penduduk setempat sudah sangat menyadari betul bahwa potensi Bali yang paling gampang diolah hanya di Pariwisata. Mereka sudah kapok dengan menjadi nalayan perahu cadik.Yang cuma dapat 20 ekor sekali melaut. Bagaimana dengan Chiang May, Pattaya, Langkawi dll? (Uncomparable).<br />
Akhir kata, semua yang anda tuliskan tadi adalah cerita lama. Hanya yang kurang adalah stimulus dan tindakan nyata dari Pemerintah belum ada. Dan saya bisa memaklumi kegundahan dan keterkejutan anda. Sama halnya saya saat pertama kali mnginjakkan kaki tahun 90an dimana anda berdomisili sekarang.<br />
Marilah kita saling membantu yang lebih riil dengan tidak mengedepankan kekurangan orang Batak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Wilton Marbun</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-2/#comment-4068</link>
		<dc:creator>Wilton Marbun</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 10:25:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4068</guid>
		<description>Buat lae2 ku. Kalau memang sifat orang Batak tidak cocok dalam dunia pariwisata, kenapa dulu Sumut bisa menjadi tiga besar dalam tujuan daerah wisata di Indonesia, setelah Bali dan Jogja. Lae,   tahu gak, di Bali banyak orang Batak berkecimpung di dunia pariwisata. Ada yang punya BPW dan ada juga rata2 manager2 di hotel.  Nah, sekarang kenapa bisa pariwisata Sumut terpuruk apa yang membuatnya? Disinilah kita perlu mencari solusi.

Timbul pertanyaan, berarti orang batak atau oarang Sumut di era 80an lembut2 kenapa sekarang menjadi kasar? 

Kalau mau pemerintah Sumut serius untuk membangun pariwisata, ajaklah orang perantauan yang diluar Sumut yang benar2 mengerti pariwisata. Untuk bertukar pikiran. Sehingga kita bisa menyusun langkah2 yang tepat untuk membangun pariwisata Sumut dengan ciri2 atau kekhasan daerah masing2 yang ada di Sumut. Tapi jangan sampai kita menghilangkan kekhassan kita demi memajukan pariwisata.

Oleh karena itu, sekali lagi saya katakan efeknya sangat besar sekali kalau pariwisata maju di Sumut. Ada efek positif dan pasti juga ada yang negatif. Saya ambil yang positifnya, kalau dilihat orang bule di Sumut itu banyak orang asing yang berliburan di sana, mereka pasti berpikir bahwa propinsi Sumut sangat aman bagi orang asing. Nah kalau sudah dipikiran mereka sudah aman di Sumut sana, saya yakin mereka akan berlomba2 untuk menginvestasi dana mereka ke Sumut. Sama seperti Bali banyak sekali orang asing yang mau inves di Bali, kalau bisa pabrik2 dapat ijin untuk di bangun saya rasa mereka akan bangun pabrik2 besar. Tapi karena pabrik2 biasanya banyak limbah nya maka ijin untuk mendirikan pabrik dilarang di Bali. Banyak orang akan mendapatkan keuntungan dari pariwisata. Dengan modal bahasa saja, seperti B. Inggris kita bisa dapat uang. 
Contoh teman2 halak hita yang di pinggir pantai Kuta itu mereka hanya modal nekat saja ditambah dengan bahasa Inggris yang marpasir-pasir mereka sudah bisa mendpatkan tamu. Malah ada yang menikah sama orang asing dan mereka dikasih modal lagi untuk buat usaha.

Nah, Sumut karena luas propinsinya maka itu bisa di bagi2 mana untuk daerah wisata dan mana daerah untuk bisa membangun industri2. Jadi kalau pariwisata itu cocok di daerah Taput, Tobasa dan Berastagi serta Nias. Kalau untuk industri cocok di daerah Binjai, Tebing, Belawan atau Asahan.

Semoga ini menjadi masukan  bagi kita masyarakat Sumut di mana saja.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Buat lae2 ku. Kalau memang sifat orang Batak tidak cocok dalam dunia pariwisata, kenapa dulu Sumut bisa menjadi tiga besar dalam tujuan daerah wisata di Indonesia, setelah Bali dan Jogja. Lae,   tahu gak, di Bali banyak orang Batak berkecimpung di dunia pariwisata. Ada yang punya BPW dan ada juga rata2 manager2 di hotel.  Nah, sekarang kenapa bisa pariwisata Sumut terpuruk apa yang membuatnya? Disinilah kita perlu mencari solusi.</p>
<p>Timbul pertanyaan, berarti orang batak atau oarang Sumut di era 80an lembut2 kenapa sekarang menjadi kasar? </p>
<p>Kalau mau pemerintah Sumut serius untuk membangun pariwisata, ajaklah orang perantauan yang diluar Sumut yang benar2 mengerti pariwisata. Untuk bertukar pikiran. Sehingga kita bisa menyusun langkah2 yang tepat untuk membangun pariwisata Sumut dengan ciri2 atau kekhasan daerah masing2 yang ada di Sumut. Tapi jangan sampai kita menghilangkan kekhassan kita demi memajukan pariwisata.</p>
<p>Oleh karena itu, sekali lagi saya katakan efeknya sangat besar sekali kalau pariwisata maju di Sumut. Ada efek positif dan pasti juga ada yang negatif. Saya ambil yang positifnya, kalau dilihat orang bule di Sumut itu banyak orang asing yang berliburan di sana, mereka pasti berpikir bahwa propinsi Sumut sangat aman bagi orang asing. Nah kalau sudah dipikiran mereka sudah aman di Sumut sana, saya yakin mereka akan berlomba2 untuk menginvestasi dana mereka ke Sumut. Sama seperti Bali banyak sekali orang asing yang mau inves di Bali, kalau bisa pabrik2 dapat ijin untuk di bangun saya rasa mereka akan bangun pabrik2 besar. Tapi karena pabrik2 biasanya banyak limbah nya maka ijin untuk mendirikan pabrik dilarang di Bali. Banyak orang akan mendapatkan keuntungan dari pariwisata. Dengan modal bahasa saja, seperti B. Inggris kita bisa dapat uang.<br />
Contoh teman2 halak hita yang di pinggir pantai Kuta itu mereka hanya modal nekat saja ditambah dengan bahasa Inggris yang marpasir-pasir mereka sudah bisa mendpatkan tamu. Malah ada yang menikah sama orang asing dan mereka dikasih modal lagi untuk buat usaha.</p>
<p>Nah, Sumut karena luas propinsinya maka itu bisa di bagi2 mana untuk daerah wisata dan mana daerah untuk bisa membangun industri2. Jadi kalau pariwisata itu cocok di daerah Taput, Tobasa dan Berastagi serta Nias. Kalau untuk industri cocok di daerah Binjai, Tebing, Belawan atau Asahan.</p>
<p>Semoga ini menjadi masukan  bagi kita masyarakat Sumut di mana saja.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: La Tunrung La Tinro</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-1/#comment-4064</link>
		<dc:creator>La Tunrung La Tinro</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 09:00:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4064</guid>
		<description>@ Jahutur

Soal kultur dan karakter itu penting, mas.
Mengapa Cina dan Padang sangat dominan dalam dunia usaha dan perdagangan.

Karena kultur dan karakter mereka memang di bidang itu. Sampai, botak pun orang Batak tidak bakalan bisa menandingi Cina dan Padang atau Makasar di bidang usaha.
Karena kultur kita yang keras kepala dan tidak mau merendah, tidak mendukung hal itu.

Tolong dong di pahami, kalau untuk pariwisata, kultur dan karakter kita yang keras, beringasan tidak mau mengalah sangat TIDAK COCOK.

janganlah terlalu memaksakan diri untuk bidang yang tidak sesuai dengan kultur dan karakter kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Jahutur</p>
<p>Soal kultur dan karakter itu penting, mas.<br />
Mengapa Cina dan Padang sangat dominan dalam dunia usaha dan perdagangan.</p>
<p>Karena kultur dan karakter mereka memang di bidang itu. Sampai, botak pun orang Batak tidak bakalan bisa menandingi Cina dan Padang atau Makasar di bidang usaha.<br />
Karena kultur kita yang keras kepala dan tidak mau merendah, tidak mendukung hal itu.</p>
<p>Tolong dong di pahami, kalau untuk pariwisata, kultur dan karakter kita yang keras, beringasan tidak mau mengalah sangat TIDAK COCOK.</p>
<p>janganlah terlalu memaksakan diri untuk bidang yang tidak sesuai dengan kultur dan karakter kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: La Tunrung La Tinro</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-1/#comment-4063</link>
		<dc:creator>La Tunrung La Tinro</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 08:51:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4063</guid>
		<description>@ bupunsu

Dalam Tinju ada istilah  &#039;shadow boxing&#039;?.

Si Petinju bertinju dengan segala jenis pukulan dan segenap tenaga, tapi sendirian. 
Dia, hanya bertarung dengan bayangan lawan dengan konsentrasi penuh. Seolah olah ada lawan.

Pariwisata Toba mungkin seperti itu. Ia bercita-cita menuju pariwisata Internasional. Tapi hanya bayangan/ seolah-olah. Dalam realitanya,  menjaring wisata domestik sudah ngos2an.

Untuk apa kita menghabiskan waktu dan energi, untuk cita2 pariwisata Internasional. Sementara kultur dan karakter kita tidak mendukung.

Mendingan, energi kita itu, ditaruh di potensi2 lain dalam masyarakat, yang ditopang oleh kultur dan karakter kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ bupunsu</p>
<p>Dalam Tinju ada istilah  &#8217;shadow boxing&#8217;?.</p>
<p>Si Petinju bertinju dengan segala jenis pukulan dan segenap tenaga, tapi sendirian.<br />
Dia, hanya bertarung dengan bayangan lawan dengan konsentrasi penuh. Seolah olah ada lawan.</p>
<p>Pariwisata Toba mungkin seperti itu. Ia bercita-cita menuju pariwisata Internasional. Tapi hanya bayangan/ seolah-olah. Dalam realitanya,  menjaring wisata domestik sudah ngos2an.</p>
<p>Untuk apa kita menghabiskan waktu dan energi, untuk cita2 pariwisata Internasional. Sementara kultur dan karakter kita tidak mendukung.</p>
<p>Mendingan, energi kita itu, ditaruh di potensi2 lain dalam masyarakat, yang ditopang oleh kultur dan karakter kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: La Tunrung La Tinro</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-1/#comment-4060</link>
		<dc:creator>La Tunrung La Tinro</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 08:36:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4060</guid>
		<description>@ Jahutur

Saya setuju banget, soal ungkapan tanaman labu itu.
Saya memang lahir dan besar di perantauan. Tahun 2005, saya pulang ke Pematang Siantar, tempat Opung saya. Terakhir berkunjung tahun 1995. Saya lihat sendiri, jarak waktu 10 tahun, tidak ada perubahan yang berarti. 

Bahkan semua bangunan yang saya lihat tahun 1995, masih sama dan saya kenali karena tidak ada perubahan di tahun 2005.
Saya berpikir, jika Siantar yang Kotamadya aja pembangunannya &#039;stagnan&#039;. Apalgi di desa dan pelosok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Jahutur</p>
<p>Saya setuju banget, soal ungkapan tanaman labu itu.<br />
Saya memang lahir dan besar di perantauan. Tahun 2005, saya pulang ke Pematang Siantar, tempat Opung saya. Terakhir berkunjung tahun 1995. Saya lihat sendiri, jarak waktu 10 tahun, tidak ada perubahan yang berarti. </p>
<p>Bahkan semua bangunan yang saya lihat tahun 1995, masih sama dan saya kenali karena tidak ada perubahan di tahun 2005.<br />
Saya berpikir, jika Siantar yang Kotamadya aja pembangunannya &#8217;stagnan&#8217;. Apalgi di desa dan pelosok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: bupunsu</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-1/#comment-4059</link>
		<dc:creator>bupunsu</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 08:25:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4059</guid>
		<description>@La Tunrung La Tinro La Wiro Sableng La Shinto Gendeng

Benar kata bang Jahutur &quot;Otak saja bisa dicuci&quot; la wong kultur batak sekarang banyak berubah, la orang-orang batak yang kaya-kaya di perantauan banyak yang sudah cuci otak, ngak mau tau dengan masalah dikampungnya,maunya yang enak-enak saja, tapi bukan berarti nyalahin orang-orang seperti itu, itu urusannya mereka, kalau memang orang disana mau mengerti arti pariwisata itu buat mereka sudah seharusnya mereka mau belajar dan memperbaiki sikap dan infrastruktur pariwisatatanya sehingga pariwisata tsb dapat mereka gunakan untuk jalan hidupnya, bukannya pasrah menerima kondisi seperti kata abang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@La Tunrung La Tinro La Wiro Sableng La Shinto Gendeng</p>
<p>Benar kata bang Jahutur &#8220;Otak saja bisa dicuci&#8221; la wong kultur batak sekarang banyak berubah, la orang-orang batak yang kaya-kaya di perantauan banyak yang sudah cuci otak, ngak mau tau dengan masalah dikampungnya,maunya yang enak-enak saja, tapi bukan berarti nyalahin orang-orang seperti itu, itu urusannya mereka, kalau memang orang disana mau mengerti arti pariwisata itu buat mereka sudah seharusnya mereka mau belajar dan memperbaiki sikap dan infrastruktur pariwisatatanya sehingga pariwisata tsb dapat mereka gunakan untuk jalan hidupnya, bukannya pasrah menerima kondisi seperti kata abang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jahutur</title>
		<link>http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/comment-page-1/#comment-4047</link>
		<dc:creator>Jahutur</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 02:49:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/2008/06/29/perbedaan-pariwisata-singapura-dan-sumatera/#comment-4047</guid>
		<description>@ La Lutung La Lontong
Om..Otak saja bisa &quot;dicuci&quot;..Alasan kultur itu memang ada. Tetapi nomor kesekian. Tahu tidak!?! orang Batak itu senang disebut &quot;Keras&quot;. Suka disanjung, Apalagi kalau disebut bersuara emas dan pintar-pintar..Hidungnya memuai seratus persen! Ada lagi satu ungkapan bahwa orang Batak seperti ibarat Tananaman Labu, berbuah jauh dari dimana ditanam. Kampung halamannya dibiarkan melarat sedangkan mereka kaya diperantauan. Sah sah saja kaya diperantuan..Tapi perhatikan dong kampung halamannya kaya Jusup Kelik (JK).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ La Lutung La Lontong<br />
Om..Otak saja bisa &#8220;dicuci&#8221;..Alasan kultur itu memang ada. Tetapi nomor kesekian. Tahu tidak!?! orang Batak itu senang disebut &#8220;Keras&#8221;. Suka disanjung, Apalagi kalau disebut bersuara emas dan pintar-pintar..Hidungnya memuai seratus persen! Ada lagi satu ungkapan bahwa orang Batak seperti ibarat Tananaman Labu, berbuah jauh dari dimana ditanam. Kampung halamannya dibiarkan melarat sedangkan mereka kaya diperantauan. Sah sah saja kaya diperantuan..Tapi perhatikan dong kampung halamannya kaya Jusup Kelik (JK).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
