Bos intel yang pelupa

Mantan Deputi V/Penggalangan Badan Intelijen Negara, Muchdi Purwoprandjono, pensiunan mayor jenderal TNI, banyak menjawab “tidak ingat” saat diperiksa polisi dalam kasus pembunuhan aktivis Munir yang disangkakan padanya.

sampul-majalah-tempo-edisi-apakah-badan-intelijen-terlibat Bos intel yang pelupaKetika ditanya penyidik apakah Muchdi pergi ke Surabaya empat tahun lalu, dia menjawab, “Saya tidak ingat.” Polisi menanyakan hal itu karena polisi memiliki informasi bahwa Surabaya menjadi simpul hubungan Muchdi dengan Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda Indonesia yang dihukum 20 tahun dalam kasus ini. Di kota itulah pusat kendali sejumlah operasi intelijen dilakukan pada 2004, yang melibatkan keduanya. ”Istilah mereka, Surabaya itu tempat korlap, koordinator lapangan,” kata sumber majalah Tempo.

Dalam edisi terbaru majalah Tempo pekan ini ditulis, Muchdi dan Pollycarpus tetap mengaku tidak pernah saling kenal. Namun polisi memiliki data bahwa nomor telepon Muchdi tujuh kali berhubungan dengan nomor Pollycarpus pada 7 September 2004, hari ketika Munir terbunuh. Mereka total 41 kali berkomunikasi melalui telepon seluler, telepon rumah, atau telepon kantor.

Blog Berita: Tentu saja ini aneh, mereka mengaku tak pernah saling kenal tapi sering teleponan. Apa mungkin sopir Muchdi memakai telepon tuannya untuk bertelepon dengan pembantu rumah tangga Pollycarpus, ya? Telepon “selingkuh” gitu lho, kayak ringtone Jaksa Agung Muda dengan “mafia hukum” Ayin.

Meski menjawab beberapa “pertanyaan mudah” dengan “saya tidak ingat”, namun Muchdi ternyata bisa ingat ketika ditanya siapa pengelola keuangan di Deputi Penggalangan BIN. Tempo menulis: Kali ini Muchdi masih banyak mengingat. Menurut mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu, keuangan di kantornya dikelola oleh Direktur 5.1. [Perencanaan dan Pengendalian Operasi], yang pada 2004 dijabat Budi Santoso — kini bertugas sebagai diplomat di Pakistan. Muchdi mengatakan, pengeluaran uang bisa dilakukan atas permintaan jajaran bawah yang kemudian ia sahkan.

Tahun lalu pilot senior Garuda, Pollycarpus, tetap mengaku bahwa dirinya bukan agen BIN dan tidak pernah berhubungan dengan pejabat-pejabat BIN. Tapi penyidik dan kelompok aktivis yakin Polly berbohong, dan memang terbukti. Bahwa Polly adalah mata-mata BIN semakin kuat setelah polisi menemukan nama dan nomor telepon Pollycarpus tercantum dalam daftar agen yang disimpan pada komputer di markas BIN.

Blog Berita: Busyet kau, Polly, padahal bersaksi atas nama Tuhan [disumpah] di pengadilan. Semoga kau termakan sumpahmu sendiri. Amin seribu kali.

Tempo mewawancarai Abdullah Mahmud Hendropriyono, bekas orang nomor satu BIN, dan juga mewawancarai Muchdi. Oleh rekan-rekan seangkatannya di Akademi Militer, Muchdi dipanggil ”Django” — tokoh film cowboy yang kerap digambarkan berjaket panjang dan menarik peti mati. Berikut dua kutipan pertanyaan majalah Tempo kepada Hendropriyono dan Muchdi.

Tempo: Mungkinkah ada operasi intelijen yang dilakukan atas inisiatif bawahan Anda, Muchdi misalnya?

Hendropriyono: Susah ngomong-nya, ya, karena kami tidak 24 jam selalu sama-sama. Tapi orang yang sudah dididik dalam satu korps, berdisiplin, profesional, punya semangat dan tanggung jawab, rasanya [Muchdi] kok enggak sampai hati [membunuh]. Enggak mungkin.

Tempo: Anda dituduh terlibat pembunuhan Munir. Komentar Anda?

Muchdi: Saya anggap ini hanya cobaan, suatu musibah, yang justru patut disyukuri. Mungkin ada hikmah di balik semua ini, yang merupakan rahasia Tuhan. Ini kan baru sangkaan dan dugaan, yang menurut saya merupakan hasil tekanan dari beberapa orang dengan mengatasnamakan masyarakat. Mungkin juga ini pesanan dari orang-orang asing untuk memecah belah bangsa kita.

Untuk membaca artikel-artikel selengkapnya mengenai kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, silakan beli majalah Tempo edisi terbaru. Ada juga satu artikel berjudul Kisah penyerang dari Kalak Ijo yang mengisahkan profil singkat Muchdi. Pun wawancara khusus dengan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi seputar pemberantasan korupsi yang gencar dilakukannya.

Apa jawabanmu atas judul sampul Tempo pekan ini, Apakah badan intelijen terlibat? Kalau aku sendiri menjawab terlibat — dugaan atau penafsiranku setelah mengikuti pemberitaan kasus Munir selama ini.

Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

17 Responses to “Bos intel yang pelupa”

  1. Malas ah beri komentar yang ginian. Karena akhir ceritanya sudah pasti ketebak. Karena kasusnya sendiri gelap………. Sudah beberapa tahun berputar2 disitu2 aja.

    [reply to this comment]

    srikandini reply on 1 July 2008:

    malasss kok masih jg kasih koment ….

    e tahe …. marbunnn…marbun….

    :))

    [reply to this comment]

    Wilton Marbun reply on 1 July 2008:

    Maksudnya malas kasih komen yang panjang lebar. Gitu loh…. gitu aja kok repot…..

    [reply to this comment]

    Jahutur reply on 1 July 2008:

    Srikandini..Srikandono dimana?

    [reply to this comment]

  2. Bisa dibayangkan betapa marah, terpukul & frustasinya perasaan Suciwati yg suaminya dibunuh dengan racun, tapi apa daya pelakunya dilindungi penguasa negri ini sehingga tak bisa ditembus hukum apapun juga.
    Bagaimana kalau hal yg sama menimpa kita??
    Munir melakukan perbuatan yang baik dan beramal menolong orang banyak malah menjadi tidak aman, hasilnya dia mati diracuni.
    Kasus Munir buka tutup buka tutup, hanya untuk mencari kambing hitam baru, tanpa ada penyelesaian yg jelas.
    Penguasa negri ini sangat sewenag-wenang terhadap rakyat sendiri.
    Sebenarnya pemerintah sudah tau pelakunya, tapi tidak ada yg berani menuduh.
    Semoga sipelaku segera dapat ganjaran dan perbuatannya akan mengirimnya ke neraka.

    [reply to this comment]

    Jahutur reply on 1 July 2008:

    Manusia adalah Harimau bagi Manusia..Maka jadilah Pelanduk atau Singa..Its your choice! Munir ga perlu diratapi!

    [reply to this comment]

  3. Barangsiapa melakukan kebaikan, ini demi keuntungan mereka,
    Dan barangsiapa melakukan keburukan, ini juga demi kerugian mereka,
    Dan barangsiapa melakukan kebaikan sebesar dzarah,
    Tuhan akan melihatnya,
    Dan barangsiapa melakukan keburukan sebesar dzarah,
    Tuhan akan melihatnya.
    Jika hukum dunia tidak dapat menemukan keburukan,
    Maka hukum akhirat yang akan mencengkramnya.
    Damailah segala kebaikan,
    Hancurlah segala keburukan.

    [reply to this comment]

    Jahutur reply on 1 July 2008:

    Everything can be explained by science..kata aktris favorit saya ASIA CARRERA. Tapi bukan saya berarti Atheis lho..

    [reply to this comment]

    rizieq reply on 1 July 2008:

    @Jahutur

    Huek… kek… kek…
    Wah Bang Jahutur tuh ngingetin ane ame guru ane dulu PETER NORTH, die bilang: “Size does matter”

    [reply to this comment]

  4. Munir sangat paham resiko perjuangannya.Kematian menunggu dimana-mana. Kalo yang membunuh berkelit sana sini. ya itu perjuangan mereka juga…He..he.he..Selamat diskusi..! Jangan lupa cari mammam..!

    [reply to this comment]

  5. Tentu saja, bung sulit mengorek pengakuan dari Muchdi.
    Ia tokoh Intelijen. Bukan Intel Melayu, yang selalu menyebut identitasnya.

    Coba inget, waktu LB Murdani dalam kasus Pertamina versus Thaher di Singapura tahun 80 an. Majelis Hakim pusing tujuh keliling mengorek keterangan.

    [reply to this comment]

    rizieq reply on 1 July 2008:

    @darmadi

    ade benernye juge ente Bang.
    ‘Intelejen’ tuh kan dari kate ‘Intelligent’, jadi kudu pinter ame bernalar alias cerdas.

    juge kudu bise keliatan bodo, buktinye? jelas bukan pekerjaan orang cerdas kalu mo ngebunuh orang (apalagi korbannye seorang tokoh) dengan care diracun pake arsenik (nyang guampang banget dilacak dalem tubuh) dalem penerbangan menuju ke negare liberal nyang ude pasti bakal ngorek abis nape orang dateng ke negarenye kok ude dalem keadaan ko’it.

    keliatan mo sok keren-kerenan kaya di pilem-pilem Holiwud…

    laen kali kalu BIN mo bunu orang, sebaeknye minta adpis dulu ame penulis cerite pilem dari sonoh, biar kaga jadi konyol ginih…

    kesssiaannn…..

    [reply to this comment]

  6. @Bang Blog Berita

    “Mantan Deputi V/Penggalangan Badan Intelijen Negara, Muchdi Purwoprandjono, pensiunan mayor jenderal TNI, banyak menjawab “tidak ingat” saat diperiksa polisi dalam kasus pembunuhan aktivis Munir yang disangkakan padanya.”
    >Jelas kaga akan inget, die kan ude kebanyakan ngegalang orang buat masuk BIN. Mane inget atu-atu?

    “Ketika ditanya penyidik apakah Muchdi pergi ke Surabaya empat tahun lalu, dia menjawab, “Saya tidak ingat.” Polisi menanyakan hal itu karena polisi memiliki informasi bahwa Surabaya menjadi simpul hubungan Muchdi dengan Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda Indonesia yang dihukum 20 tahun dalam kasus ini. Di kota itulah pusat kendali sejumlah operasi intelijen dilakukan pada 2004, yang melibatkan keduanya. ”Istilah mereka, Surabaya itu tempat korlap, koordinator lapangan,” kata sumber majalah Tempo.”
    >Wajar lah, ane juge kalu ditanya dengan sopan bise aje bilang kalu ane lupa…’Kalau saya jawab tidak ingat, Anda mau apa???!!! Mau Anda ‘jabat tangan’ sama 300 anggota saya yang standby di luar kantor ini??!!”

    Dalam edisi terbaru majalah Tempo pekan ini ditulis, Muchdi dan Pollycarpus tetap mengaku tidak pernah saling kenal. Namun polisi memiliki data bahwa nomor telepon Muchdi tujuh kali berhubungan dengan nomor Pollycarpus pada 7 September 2004, hari ketika Munir terbunuh. Mereka total 41 kali berkomunikasi melalui telepon seluler, telepon rumah, atau telepon kantor.
    > Wuaduh, tuh HP sering amat ‘berhubungan’ ye? Trus telepon siape nyang hamil? Enak dong kali gitu bise buka konter HP di Roxy tuh bang Polly ame Bang Muchdi, POLDI Cellular….

    “Blog Berita: Tentu saja ini aneh, mereka mengaku tak pernah saling kenal tapi sering teleponan. Apa mungkin sopir Muchdi memakai telepon tuannya untuk bertelepon dengan pembantu rumah tangga Pollycarpus, ya? Telepon “selingkuh” gitu lho, kayak ringtone Jaksa Agung Muda dengan “mafia hukum” Ayin.”
    >Mungkin juge istri Bang Polly sering telepon-teleponan ame istri Bang Muchdi, tuker-tukeran resep bubur anik (ayam+arsenik), jus jerunik, sayur asnik, roti arseklat, de-el-el. Ma’lummm namanye juge ibu-ibu…. lumrah lah tuker-tukeran resep.

    Meski menjawab beberapa “pertanyaan mudah” dengan “saya tidak ingat”, namun Muchdi ternyata bisa ingat ketika ditanya siapa pengelola keuangan di Deputi Penggalangan BIN. Tempo menulis: Kali ini Muchdi masih banyak mengingat. Menurut mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu, keuangan di kantornya dikelola oleh Direktur 5.1. [Perencanaan dan Pengendalian Operasi], yang pada 2004 dijabat Budi Santoso — kini bertugas sebagai diplomat di Pakistan. Muchdi mengatakan, pengeluaran uang bisa dilakukan atas permintaan jajaran bawah yang kemudian ia sahkan.
    >Ade cerite usang tentang sekelompok ilmuwan Amerika nyang nemu’in mummi. Walopun ude diteliti pake peralatan super canggih, mereka kaga bise tau siape dan umur berape mummi itu. Trus tu mummi dibawa ke lab FBI buat diselidik, tetep kaga ketauan, trus ke lab CIA, eh…. sama juga hasilnye nol. Berhubung mereka penasaran, maka dibuatla sayembara, siape nyang bise tau umur berape dan siape nih mummi, dapet hadiah USD 1,000,000 cash. Respon paling cepet dateng dari POLRI, trus dikirimlah mummi tersebut ke Indonesia. Eh bukan dibawa ke lab, tu mummi cuman diangkut ke Polsek nyang paling deket ame Soekarno Hatta Airport. “Biar kaga repot ngembali’innye, maklum tol bandara kan sering banjir”, begitu keterangan salah satu anggota pulisi nyang bawa tuh mummi. Eh, kaga sampe 2 jam, langsung muncul keterangan lengkap, dari si mummi itu sendiri (!!!), pake Bahasa Indonesia EYD lagi, nyerocos tu mummi ampe 3 jam: “Perkenalkan, nama saya Tuttanlindung IV, anak haram dari Tuttankhamen. Hobi saya baca daun papirus dan berenang di Sungai Nil. Umurku hari ini tepat 3345 tahun, 2 bulan dan 14 hari. Saya…bla…bla..bla….!” Mendengar pengakuan tersebut gegerlah dunia, sampe ketika si Tutanlindung diboyong lagi ke Amrik, die diondang khusus buat jadi bintang tamu ame Oprah di talkshownye nyang beken itu, Oprah tanya: “So Mr. Tutanlindung, after all these looooong investigations, how come finally you made very very clear confession about yourself at a small police station in Indonesia?” Untung ade penerjemah di situ, trus si Tutanlindung jawab (sekarang pake bahasa prokem): “Ah lo Prah, so iye lo nanya, kaya kaga tau aje gimane cara polisi di sono mriksa orang… gua sih kaga mo cari stori ame die orang. Lo tau? Sejam pertama gua cuman suruh nontonin mereka ‘intrograsi’, trus waktu giliran gua ditanya, gua dah langsung ngaku aja, orang nyang badannye gede aje ampe dah ampun ampunan kaga tahan didzolimin ame tu pulisi, apalagi gue nyang tinggal tulang berbalut kulit gini….. ”
    nah…. moral dari cerita itu (ceileeee…. moral cing!) coba polisi berani mrikse Bang Muchdi pake ‘metode ilmiah’ yang sama kaya mereka mrikse si Tutanlindung… pasti kaga ade jawaban “Saya tidak ingat” melainkan: “Saya ingat, empat tahun yang lalu tepatnye hari Senin, 21 Juni 2004 saya ke Surabaya naik Garuda, pramugarinya bernama Ipah, Dewi sama Bella, pilotnya bernama Pollygamy, nginepnya di Sheratton, malamnya bertemu dengan Pollycarpus, dia pakai baju coklat, celana hitam, kolor abu-abu, sepatu Bally dari kulit rusa, bla… bla… bla… ”

    “Tahun lalu pilot senior Garuda, Pollycarpus, tetap mengaku bahwa dirinya bukan agen BIN dan tidak pernah berhubungan dengan pejabat-pejabat BIN. Tapi penyidik dan kelompok aktivis yakin Polly berbohong, dan memang terbukti. Bahwa Polly adalah mata-mata BIN semakin kuat setelah polisi menemukan nama dan nomor telepon Pollycarpus tercantum dalam daftar agen yang disimpan pada komputer di markas BIN.”
    >Mungkin nama Polly di komputer BIN tuh tercantum sebagai agen… minyak tanah, sama kaya nama ane di BIN juga ade: Rizieq, agen minyak oplosan….

    “Blog Berita: Busyet kau, Polly, padahal bersaksi atas nama Tuhan [disumpah] di pengadilan. Semoga kau termakan sumpahmu sendiri. Amin seribu kali.”
    Amin.. amin.. amin.. amin.. amin.. kemane tuh anak? Amiiiiinnnnnn!!! Sini lu, jangan kurang ajar kalu dipanggil babe, beli’in roko sono, ngutang dulu di warung!

    “Tempo mewawancarai Abdullah Mahmud Hendropriyono, bekas orang nomor satu BIN, dan juga mewawancarai Muchdi. Oleh rekan-rekan seangkatannya di Akademi Militer, Muchdi dipanggil ”Django” — tokoh film cowboy yang kerap digambarkan berjaket panjang dan menarik peti mati. Berikut dua kutipan pertanyaan majalah Tempo kepada Hendropriyono dan Muchdi.”
    > Sekarang kaya’nye Bang Muchdi lebih cocok dipanggil ‘Djinggo’ - makin sering diisep, makin cepet masuk peti mati: Djinggo! Djinggo.. Djinggo!

    “Tempo: Mungkinkah ada operasi intelijen yang dilakukan atas inisiatif bawahan Anda, Muchdi misalnya?
    Hendropriyono: Susah ngomong-nya, ya, karena kami tidak 24 jam selalu sama-sama. Tapi orang yang sudah dididik dalam satu korps, berdisiplin, profesional, punya semangat dan tanggung jawab, rasanya [Muchdi] kok enggak sampai hati [membunuh]. Enggak mungkin.”
    >Wah, coba teliti dikit deh…kalimat: “Susah ngomong-nya, ya, karena kami tidak 24 jam selalu sama-sama” ya iyaaaaa lah… orang kumpul kebo juga kaga 24 jam nempelll terusss
    “……..rasanya [Muchdi] kok enggak sampai hati…………” rasanya..rasanya…. nyang penting rasanya Bung!!!
    itu kan ude jawaban nyang cukup jelas ya….(jawaban sumir alias ambigu, tipikal banget jawaban aparat)

    “Tempo: Anda dituduh terlibat pembunuhan Munir. Komentar Anda?
    Muchdi: Saya anggap ini hanya cobaan, suatu musibah, yang justru patut disyukuri. Mungkin ada hikmah di balik semua ini, yang merupakan rahasia Tuhan. Ini kan baru sangkaan dan dugaan, yang menurut saya merupakan hasil tekanan dari beberapa orang dengan mengatasnamakan masyarakat. Mungkin juga ini pesanan dari orang-orang asing untuk memecah belah bangsa kita.”
    >Huek… kek… kek…. ‘patut disyukuri’ kok ampe ‘dijemput’ Densus 88 segala…
    “Mungkin juga ini pesanan dari orang-orang asing untuk memecah belah bangsa kita” lebi lucu lagi, jawaban paling gampang buat ngalihin kesalahan ke pihak laen, jangan-jangan Bang Muchdi ditangkep atas suruhan allien dari Planet Mars…

    “Untuk membaca artikel-artikel selengkapnya mengenai kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, silakan beli majalah Tempo edisi terbaru. Ada juga satu artikel berjudul Kisah penyerang dari Kalak Ijo yang mengisahkan profil singkat Muchdi. Pun wawancara khusus dengan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi seputar pemberantasan korupsi yang gencar dilakukannya.”
    >Huek.. kek.. kek… Promosi niyeeee… bole pinjem Tempo-nye Bang Blog Berita? Tempo mahal neehh… duit ane abis buat masuk anak sekola….

    “Apa jawabanmu atas judul sampul Tempo pekan ini, Apakah badan intelijen terlibat? Kalau aku sendiri menjawab terlibat — dugaan atau penafsiranku setelah mengikuti pemberitaan kasus Munir selama ini.”
    >Terlibat? Loh bukannye Bang Muchdi ame Bang Hendro ude bilang ‘Enggak’? Gimane seh Bang Blog? Lebih percaya allien ketimbang para pejabat kite nyang soleh dan agamis? Jangan-jangan Bang Blog nih……allien…

    BLOG BERITA: saja ada-ada rizieq bang ini. :D

    [reply to this comment]

    La Tunrung La Tinro. reply on 2 July 2008:

    @ riezieq

    Gue sering bingung, kenapa HUKUM kita sering mandul kalau menghadapi anggota TNI.

    Terakhir, ya pengadilan kasus Soeharto. Hukum bisa dipelintir menurut keinginannya.

    Orang Sipil, udah banyak di penjara kasus Korupsi. TNI belum ada, tuh.
    Padahal, untuk peradilan HAM, TNI paling banyak yang bermasalah.

    [reply to this comment]

    rizieq reply on 3 July 2008:

    @La Tunrung La Tinro

    Bang, hukum sering disimbolin ame sosok Dewi Keadilan dengan mata tertutup nyang megang pedang dan timbangan kan?

    Naaaaa, kalu di Indonesia, KEBETULAN kalu tuh Dewi lagi nanganin kasus nyang KEBETULAN nyangkut aparat, kain penutup matanye bise KEBETULAN kebuka dikit, jadi die bise liat pangkatnye tuh aparat ape?
    Trus timbangannye tuh bise KEBETULAN lupe dikalibrasi, jadi nimbangnye bise ngaco.
    Dan nyang paling sering adala KEBETULAN die nyabet si pelaku pake sisi mata pedang nyang tumpul, bukan nyang tajem, jadi boro-boro ketebas, paling geli-geli dikit.

    Jadi masalanye di sini bukan ‘kesengajaan’ kok, cuman KEBETULAN doang.

    Huek… kek…. kek……..

    [reply to this comment]

  7. Bicara soal KEBETULAN…..
    Ane ibaratkan HUKUM adalah KEPALE ORANG
    The man behind the scene adalah TEMBOK
    nah……sekarang…..coba diadu KEPALE ORANG ama TEMBOK
    ape jadinya…….? Nyungseeeeeeep………
    Hukum memang sial…… KEBETULAN ketemu tembok……
    Kum…….Kum……. kacian deh loe……..

    [reply to this comment]

    La Tunrung La Tinro reply on 3 July 2008:

    @ si binyun

    Sisi gelap/kelam, TNI dan Intelijen mulai sejak Orde Baru/Soeharto.

    Selama 32 tahun, TNI/Intelijen menjadi pilar penopang kekuasaan diktator Soeharto, disamping Golkar dan Birokrat (PNS).

    Sekecil apapun, geliat/riak politik di tanah air, langsung mendapat tindakan represif dari Orde Baru (TNI dan Intelijen).

    Tragisnya, TNI sudah mulai mereformasi diri, tapi Intelijennya belum.
    Intelijen kita masih menggunakan cara2 Orba, membungkam riak2 politik.

    [reply to this comment]

Tulis komentar pada kolom di bawah

Tampilkan artikelmu di Blog Berita: berbentuk opini, feature, berita, tips unik, atau cerpen.