SMS pacar ancam bunuh diri
Seorang siswi SMA mengirim SMS kepada pacarnya: “Kalau kau tak datang, aku akan bunuh diri.” Pacarnya mengira cuma guyon, “Bunuh diri sajalah.”
Sebut saja namanya Kemboja. Dia adalah siswi salah satu SMA di Ubud, Gianyar, Bali. Suatu saat dia mengirim pesan singkat kepada pacarnya: ”Kalau kau tak datang, aku akan bunuh diri.” Sang pacar sebut saja Alex menanggapinya dengan gurauan, ”Bunuh diri sajalah. Emang orang bunuh diri itu enak?” Apa yang terjadi kemudian, sungguh di luar dugaan. Kemboja benar-benar pergi untuk selamanya.
Kemboja ditemukan telah tak bernyawa sehari setelah berkirim SMS. Dia mengakhiri hidupnya dengan seutas tali yang digantungnya pada salah satu bagian kamar mandi. Warga Ubud gempar. Alex pun tak memercayai kenyataan itu. Perasaan shock membuat semangat hidupnya ikut tanggal. Dia sempat mogok sekolah cukup lama. Keluarganya harus merayunya berkali-kali agar Alex mau kembali ke bangku sekolah.
Kemboja hanyalah salah seorang yang mengakhiri kehidupannya dengan cara tragis. Masih banyak warga pulau indah yang menjadi tujuan pelancongan itu yang nekat memilih jalan pintas untuk mengakhiri persoalan hidup. Bahkan trennya mengalami peningkatan.
Dalam lima tahun, mulai 2003 hingga Mei 2008, tercatat 952 orang bunuh diri, atau rata-rata tiga orang dalam dua hari.
Dari jumlah itu, 13,5 persen adalah remaja yang sebagian di antaranya memberi sinyal terakhir seperti Kemboja: memberi tahu orang dekatnya bahwa dia akan mengakhiri hidupnya.
Ahli Kesehatan Jiwa Universitas Udayana (Unud) Denpasar, Prof dr Luh Ketut Suryani SpKJ (K), mengingatkan para orang tua, khususnya di Bali, agar tidak menganggap enteng ancaman bunuh diri yang didengarnya. Dia meminta orang tua menanggapi serius ancaman itu. Sebab, memang banyak kasus menunjukkan, menganggap enteng ancaman itu dapat berakibat fatal.
”Bunuh diri sama sekali bukan jalan penyelesaian masalah bagi yang melakukannya, juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Tapi, jumlah orang yang mengambil jalan pintas ini terus bertambah,” katanya. Seorang ibu rumah tangga di Buleleng, dua tahun lalu, bahkan terkesima ketika mendapati dirinya telah sendirian. Suami dan anaknya telah tewas karena bunuh diri. Dia benar-benar tak bisa melupakan peristiwa itu. Pertanyaan pun terus membuntutinya: mengapa suaminya tega membiarkan dia hidup seorang diri?
Tak sanggup menanggung duka, dia sempat mencoba melakukan hal yang sama: bunuh diri. Upayanya itu berhasil dicegah. Nyawanya terselamatkan. Yang terjadi di Kabupaten Karangasem, Bali, awal 2008 ini, adalah sebaliknya. Saat itu, seorang ibu rumah tangga juga memutuskan bunuh diri. Entah apa yang ada dipikirannya, dia mengajak serta anak-anaknya ke alam baka. Namun, anak sulungnya berhasil lolos dari maut.
Saat diberi racun, bocah berusia delapan tahun itu muntah dan berlari meninggalkan ibunya. Meski ditakdirkan berumur panjang, bocah itu mengalami trauma yang membekas. Dia sempat memeluk adiknya, sebelum sang adik meregang nyawa. Adapun ayahnya, merasa tak habis pikir mengapa istrinya nekat mengakhiri hidup hanya karena persoalan sepele.
Persoalan sepele pula yang belum lama ini membuat seorang ibu rumah tangga di Denpasar, Nuryani (32 tahun), tega menggorok Heriansyah, buah hatinya yang baru berusia 18 bulan, hingga tewas. Setelah melakukan perbuatan itu, dia berusaha bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangan dan menusuk ulu hatinya dengan pedang, namun berhasil diselamatkan suaminya.
Seperti orang-orang yang ditinggalkan sebelumnya, suami Nuryani, Herman, juga tak habis mengerti mengapa persoalannya berujung sebegitu ekstrem. Mulanya, Nuryani mengetahui Herman yang berprofesi sebagai sopir angkutan kota ini mempunyai utang sebesar Rp 400 ribu atau setoran dua pekan kepada bosnya. Nuryani kemudian meminta suaminya menjual televisi yang mereka miliki untuk melunasi utang dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun, permintaan ini ditolak Herman.
Tak lama kemudian, Herman meninggalkan rumah bersama anak sulungnya. Nuryani dan Heriansyah tetap di rumah. Saat kembali, Herman hanya bisa menangis dan menyesal. Mengapa orang membunuh diri? Dari kasus-kasus yang ditanganinya selama memberikan konsultasi kejiwaan, Prof Suryani mendapati penyebab terbanyak adalah ganguan jiwa kronis atau gila dan depresi berat; tidak sanggup menghadapi gangguan fisik seperti karena menderita sakit asma dan kencing manis; faktor gangguan komunikasi antara anak dengan orang tua, dengan teman, pacar, bahkan dengan guru sekolah; hingga faktor ekonomi. [Sumber: Republika]
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

Memang mencemaskan. Utamanya, pelaku (korban) bunuh diri makin muda usia. Tidak lagi terbatas pada usia remaja dan orang dewasa.
Dalam beberapa kasus, ada bahkan yang duduk di bangku Sekolah Dasar atau anak di bawah umur.
[reply to this comment]
Mengerikan… Mengerikan… Sungguh mengerikan! Bunuh diri sepertinya telah menjadi tren di masyarakat kita. Haduh!
[reply to this comment]
waspadalah….waspadalah…
[reply to this comment]