Suami-isteri selebriti berdarah Batak Toba, Marcellius Kirana Hamonangan Siahaan dan Dewi Lestari Simangunsong, kini menjalani proses perceraian di pengadilan.
Penyanyi, pencipta lagu, dan penulis novel Dewi “Dee” Lestari menggugat cerai suaminya yang juga seorang penyanyi, Marcell Siahaan di Pengadilan Negeri Bale, Bandung. Menurut data di PN Bale Bandung, Rabu kemarin, sidang pertama perceraian kedua penyanyi yang telah dianugerahi satu anak tersebut berlangsung pada Selasa lalu. Hakim Ketua sidang perceraian Dewi-Marcell, Eka Kartika SH, membenarkan hal tersebut.
“Sidang perceraian telah berlangsung namun masih dalam proses mediasi yang ditangani oleh Hakim Mediasi, Baslin Sinaga SH,” ujar Eka. Menurut dia, dalam perkara perceraian selalu ada proses mediasi sebelum memasuki agenda persidangan. “Keduanya tidak hadir, namun diwakili oleh kuasa hukumnya masing-masing,” ujarnya.
Gugatan yang dilakukan Dewi Lestari dilayangkan pada 27 Juni dengan alasan pertengkaran di antara keduanya seringkali terjadi. Persidangan selanjutnya akan dilakukan dengan proses mediasi 15 Juli mendatang. [Sumber: Antara]
Blog Berita: Aku tak menyangka, gara-gara bertengkar, Dewi langsung minta cerai. Aku yakin, kalau disurvei 100 pasangan suami-isteri, akan didapati bahwa lebih setengah dari mereka sering bertengkar. Tapi kalau seandainya Marcell memukuli Dewi, kupikir barulah tepat dia menuntut cerai. Ataukah Marcell meninju Dewi?
Menurutku, percuma saja Dewi sering melakukan meditasi seperti beberapa kali dia ceritakan lewat pers maupun blognya. Dia pun kerap berkontemplasi bahkan “mencari Tuhan”. Selama ini aku kagum pada kelihaian Dewi menulis hal-hal remeh menjadi filosofis; isu sampah bekas bungkus rokok pun bisa diatulis menjadi masalah kemanusiaan. Lewat karya prosa dan cerpen, Dewi yang baru berusia 32 tahun mampu berpikir global “memecahkan” berbagai masalah besar manusia dengan cara yang cerdas dan sering tak terduga.
Hingga maestro penulis sekelas Pramoedya, Taufiq Ismail, dan Goenawan Mohamad pun “bertekuk lutut” mengakui betapa luar biasa caranya berpikir dan menulis. “Kesegaran baru dalam sastra Indonesia…. Penelusuran nilai lewat sains, spiritualitas, dan percintaan yang cerdas, unik dan mengguncang,” — Taufiq Ismail mengomentari novel Dewi, Supernova [2001].
Entah apa makna berkontemplasi seperti sering kaulakukan, Dewi, coba terangkan padaku yang tidak suka dengan kata “kontemplasi” ini. Merenung? Sehingga menjadi bijak bak sufi? Sehingga lebih kalem menghadapi persoalan hidup dan tidak emosional?

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















.Nobody is perfect,,,gitu jg DEE,kalo dia minta cere,,aku rasa wajar aja,,,tapi aku yakin,,,dee uda mikir mateng bgt,,so good luck buat dee,,karyamu slalu dinanti,ambil semua hikmah dari yg terjadi,,marcell,,ttp jaga silaturahmi demi sikecil,,,