Dalam hal kecepatan berita, koran takkan mampu bersaing dengan radio, TV, dan situs Internet. Koran perlu melatih wartawannya agar lihai dan rajin menulis feature.
“Berita biasa” yang kita baca sehari-hari di suratkabar — istilah jurnalistiknya hard news atau straight news — mudah basi. Ada slogan terkenal dalam ilmu jurnalisme radio dan jurnalisme online: “Berita kemarin [yang dimuat koran edisi hari ini] adalah sejarah; peristiwa detik inilah berita.”
Oleh Jarar Siahaan di Balige, tepi Danau Toba
Ketika delapan tahun lalu bekerja sebagai redaktur koran harian milik Jawa Pos di Medan, aku sering menyimpan stok naskah feature untuk diterbitkan sewaktu-waktu, baik karyaku maupun karya rekan-rekan wartawan daerah. Feature berbeda dengan berita biasa yang tidak boleh ditahan karena keburu basi. Karya jurnalistik berbentuk feature tidak saja lebih enak dibaca, tapi juga abadi. Kalau berita biasa akan langsung usang besok hari, maka “feature berita” dan “feature human interest” bisa bertahan berhari-hari bahkan berbulan-bulan.
Feature berita dan feature human interest
Ada dua bentuk tulisan feature. Yang pertama, feature berita atau berita feature, kadang juga disebut sebagai semi-feature; ia merupakan artikel khas yang berkaitan dengan sebuah berita yang sedang hangat.
Misalnya hari ini koran menulis berita tentang upacara 17 Agustus yang dipimpin Presiden RI, lalu besoknya [atau hari ini juga] sebuah feature ditulis dengan judul “Susahnya memotret Bendera Pusaka” — berkisah seputar pengalaman para wartawan-foto saat berusaha, dengan lensa tele, menjepret Bendera Pusaka ketika beberapa detik berada di tangan Presiden. Salah satu contoh berita feature di situs Blog Berita adalah karya Rikardo Simamora berjudul Pendeta Jhon Hartman usir jin Jhon di Balige. Atau contoh lain, tiga seri berita feature karyaku yang terbit di koran pada 2006, yaitu mengenai kisah guru melahirkan bayinya dalam parit.
Jenis kedua, feature human interest, secara pribadi kusebut sebagai “feature tulen”. Ia tidak mengandung informasi penting yang harus segera dikabarkan kepada publik; melainkan cuma cerita ringan yang punya “nilai dan pesan-pesan khusus”. Sesuai namanya, feature human interest menyoroti tentang manusia dan kemanusiaan dari sisi yang paling dekat. Feature jenis ini tidak bercerita soal bupati yang diduga korupsi dana APBD, misalnya, tapi bagaimana seorang PNS berpangkat rendah berusaha untuk selalu bekerja dengan baik, jujur, eh, malah dia sering ketiban sial — baca di sini. Atau, contoh lain, kisah seorang wartawan “membunuh” bapaknya berkali-kali demi amplop.
Beberapa perbedaan feature dan berita menurut Blog Berita
Ciri dan sifat feature:
- Informasinya tidak begitu penting untuk publik, tapi menarik.
- Judulnya menggelitik, unik, bikin penasaran, lucu, atau aneh.
- Tidak harus mengandung semua unsur berita [5W+1H].
- Umumnya ditulis tidak dengan format piramida terbalik.
- Redaktur tidak boleh asal memotong feature; satu kalimat saja diubah letaknya bisa berpengaruh pada kualitas feature.
- Teknik penulisannya mengalir dan personal; gaya bahasanya ringan dan renyah dibaca.
- Memancing pembaca untuk tersenyum, menangis, marah, protes, atau kaget.
- Meninggalkan bekas mendalam pada benak pembaca.
Ciri dan sifat berita:
- Informasinya penting untuk segera diketahui masyarakat luas.
- Judulnya kaku, datar, cenderung formal.
- Wajib mengandung semua unsur berita [5W+1H].
- Harus ditulis dalam bentuk piramida terbalik.
- Redaktur bisa dengan mudah menghapus beberapa alinea bahkan lebih setengah dari isi berita.
- Teknik penulisannya kaku; gaya bahasa yang dipakai adalah “standar umum” pers.
- Sekadar membuat pembaca “menjadi tahu” tentang apa yang terjadi.
- Segera dilupakan pembaca setelah ada berita terbaru besok hari.
Salah satu koran harian di Indonesia yang sejak awal menyadari bahwa feature adalah senjata pamungkas melawan kecepatan media elektronik dan media Internet adalah Koran Tempo. Adik kandung majalah Tempo itu saban hari memuat feature. Harian Kompas, Jawa Pos, dan Media Indonesia juga sering menerbitkan feature. Tapi koran-koran terbitan daerah secara umum tidak memuat feature.
Majalah mingguan Tempo adalah pelopor penulisan feature di media cetak Indonesia, yaitu sejak terbit perdana tahun 1971. Hingga kini hampir semua berita dalam setiap edisi Tempo ditulis dengan gaya feature, karena itulah pula artikel Tempo enak dibaca dan tidak mudah basi.
Bila kelak sebagian besar kecamatan dan desa di Tanah Air sudah tersambung koneksi Internet, tidak mustahil masyarakat akan enggan membeli koran, karena berita dari seluruh Nusantara dan penjuru dunia yang terjadi hari ini sudah bisa langsung dibaca hari ini juga di situs-situs Internet seperti Detik.com atau Kompas.com, selain lewat televisi dan radio.
Maka koran perlu mulai sering menulis feature. Bila tidak, sangat mungkin suatu saat nanti koran di kios-kios pengecer tidak lagi laku, dan akhirnya koran dijual “secara memaksa” ke instansi-instansi pemerintah. Sebenarnya saat ini pun banyak koran daerah yang tidak dicari masyarakat, dan hanya menumpuk di meja pejabat sebelum dijual ke tukang loak.
“Ada delapan koran harian yang kami langgani di kantor ini, tapi cuma dua yang aku baca. Terpaksa kami berlangganan, karena kalau tidak, wartawannya akan menulis berita yang tidak bagus tentang kami,” kata seorang pejabat Pemkab Tobasa beberapa tahun lalu. [www.blogberita.net]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















Silakan bila ingin mengkritik, tapi pakai etika, karena begitulah manusia beradab. Blogberita.net akan menghapus komen yang tidak berkaitan dengan topik artikel, dan komen spam. Untuk menanggapi komentar sebelumnya, klik [reply to this comment], dan untuk membatalkan, tekan “click to cancel reply” di bawah tombol “Kirim”. SILAKAN HAPUS SEMUA PESAN INI, DAN MULAILAH BERKOMENTAR.
horas bang!!!aku kok susah untuk memulai buat artikel berbentuk feature, bisa berikan contoh artikel bentuk feature lebih banyak gak bang? mauliate godang da bang…
Kompetensi wartawan sangat penting. Tentang ini, saya ingin menambahkan. Silakan kunjungi http://dahlandahi.blogspot.com/2008/07/kompentensi-wartawan.html. Di situ dijelaskan soal hard competence dan soft competence wartawan.
Artikelmu sangat bermanfaat buatku, Bang Jarar, salam kenal.
Saat ini kebanyakan Koran tidak terlampau memikirkan Feature atau apapun itu, karena kebayakan koran dalam memuat berita tujuannya hanya untuk kepentingan. Trennya sangat mudah kita lihat, misalnya Koran “A” beritanya seputar kejelekan pejabat ini, tanpa menulis kebaikannya, kebalikannya dapat kita lihat Koran “B”.
Banyak perusahaan penerbitan dibuka hanya untuk tujuan-tujuan tertentu, bukan untuk dijadikan sebagai salah satu alat control sosial, penyambung lidah dan sekaligus media informasi untuk memberitahukan apa sebenarnya yang terjadi, sehingga kita semua dapat memberikan penilaian. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh banyak orang sehingga tujuan daripada pemberitaan menjadi tidak jelas (topengan).
Berlangganan koran hanya untuk menghindari penulisan jelek itu sudah merupakan hal yang biasa dikalangan pejabat, kadang ordernya juga didampingi jatah bulanan (?). dan ini sudah terbukti sangat ampuh (khususnya di Tobasa). Saya lihat banyak wartawan (tempo), peliput berita dll di Balige, namun berita tentang Balige (Tobasa) sangat minim sekali, padahal media sangat berguna sebagai sumber informasi,kebenaran (fakta) dalam mengambil keputusan. Banyak hal yang dilaporkan “baik dan beres” oleh para pelaksana dilapangan (ABS), namun pada kenyataannya berbeda, disini pemberitaan di media tersebut dapat dijadikan sebagai pembanding untuk segera melakukan perbaikan.
Banyak kenyataan- kenyataan yang sebenarnya terjadi, dijadikan sebagai objek dengan alasan “wartawan tidak digaji”. Namun bagi sebagian orang yang masih punya idealis, mencari cara menulis melalui media lain (blog.berita – terima kasih) walaupun harus hidup pas-pasan.
@Lae Jarar…
Thank you berat udah transfer knowledgenye.
Hidup Lae………….
BLOG BERITA: terima kasih kembali, lae. prinsipku: ilmu pengetahuan harus murah, kalau bisa gratis, maka marilah kita semua berbagi ilmu sesuai kemampuan masing-masing.
Berbahasa Indonesia yg baik saja masih banyak wartawan yg tidak tahu, jangan-jangan rumus 5W+1H dan pola Piramida Terbalik juga masih banyak wartawan nggak ngerti.
Kok bisa diterima jadi wartawan yach? Bingung!
Untuk Bang Jarar, terima kasih atas artikelnya, saya menjadi lebih tahu apa perbedaan antara FEATURE dengan BERITA. Salam pers!
BLOG BERITA: sama-sama, bang didi.