Ilmu Dukun A.S dihilangkan sebelum ditembak

Posted by Jarar Siahaan on Jul 15th, 2008 and filed under Sumatera Utara. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Disaksikan pejabat-pejabat Sumut, pembunuh 42 wanita Ahmad Suradji sudah dieksekusi pada malam hari di kawasan kebun.

Ahmad Suradji atau yang lebih dikenal sebagai Dukun A.S alias Datuk alias Nasib Kelewang dipidana mati oleh Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, Sumut, pada 1998. Dia membunuh 42 perempuan di ladang tebu PT Perkebunan Nusantara II, Desa Aman Damai, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang, antara tahun 1984 dan 1997. Pembunuhan itu dilakukannya sebagai syarat menuntut ilmu hitam.

ahmad suradji dukun as Ilmu Dukun A.S dihilangkan sebelum ditembakBanyak koran terbitan Medan dan Jakarta maupun televisi nasional yang memberitakan eksekusi terhadap Ahmad Suradji pada 10 Juli 2008 lalu. Salah satu media yang menulisnya dengan informasi cukup lengkap adalah harian Sumut Pos, seperti dikutip Blog Berita di bawah ini.

Ujung laras senjata tim eksekutor rupanya tidak jauh dari tubuh Ahmad Suraji alias Dukun AS, ketika ditembak di pinggir rawa-rawa, Kamis (10/7) malam. Sejumlah jejak di lokasi, menguatkan Dukun AS ditembak dari jarak kira-kira tiga meter dari tempat tim eksekuyor berdiri. Empat selongsong dan satu proyektil juga ditemukan di lokasi. Pengamatan wartawan koran ini di lokasi, sejumlah jejak telapak sepatu PDL, tampak jelas. Kondisi tanah lembab dan sebagian basah karena gerimis, Jumat dinihari di kebun PT Medan Star, Desa Tanah Abang, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Jejak sepatu itu berbaris sejajar di atas tanah sekira 5×5 meter. Tampak bekas jejak sepatu sudah dibersihkan.

Dari pengamatan koran ini, Dukun AS disandarkan ke pohon sawit di dataran rendah dekat dengan rawa-rawa. Jarak antara posisi berdiri eksekutor ke titik pangkal pohon sawit, sekira 4 meter. Keseluruhan dataran rendah pinggir rawa itu, tidak lebih dari 75 meter persegi. Ada tiga bekas lubang saling berdekatan di pohon sawit itu. Tingginya dari atas tanah sekira 150 centimeter. Dari bekas lubang itu, wartawan koran ini menemukan proyektil peluru tajam kaliber 5,56 milimeter yang diperkirakan dimuntahkan dari Senapan Serbu generasi kedua atau SS-2 buatan PT Pindad. Sedangkan empat selongsong ditemukan di posisi berdiri jejak sepatu PDL itu.

Jika ditarik garis dan arah sesuai petunjuk jarum kompas, posisi regu tembak dari Timur Laut sedang Dukun AS (sasaran tembak) berposisi di Barat Daya. Di belakang Dukun AS, adalah permukaan tanah miring. Sehingga, dari sudut regu tembak, walaupun tembakan meleset, pelurunya tidak nyasar melainkan menancap ke tanah.

Barang sisa lainnya di lokasi eksekusi juga memberi petunjuk, seperti tali, kawat dan stiker dua sisi (hitam dan putih) yang berlubang hingga koyak tertembus peluru. Namun, lubang di stiker berbentuk lingkaran itu tidak persis di tengah. Stiker itu merupakan penunjuk fokus tembakan yang ditempelkan di tubuh Dukun AS. Di stiker itu masih ditemukan bercak darah. Lokasi eksekusi ini bercak darah tampak jelas di pohon sawit. Bahkan, sebagian darah itu mengalir ke permukaan tanah mengikuti batang sawit, menyerupai tirisan getah latex. Semut merah sudah datang mengeburungi, dan belum tercium bau amis.

Aduh…, takut, mungkin hantu Dukun A.S di sini

Wartawan media cetak dan elektronik hilir mudik memasuki daerah perkebunan itu kemarin. Hingga warga setempat merasa heran dan bertanya-tanya. Rupanya, lokasi eksekusi itu belum begitu jelas diketahui warga setempat. Demikian juga suara letusan Kamis malam dari pinggir rawa di kebun karet.

Jarak titik eksekusi ke rumah paling pinggir Dusun VI, Desa Jaharun B, kurang lebih 500 meter jika ditarik garis lurus. Yang memisahkan adalah rawa-rawa, sawah dan sungai kecil sebagai batas desa. Tidak ada rerimbunan pohon sebagai penghalang resonansi suara.

Lima orang warga Dusun VI yang ditanyai terpisah, tidak mengetahui di dekat rumahnya ada eksekusi Dukun AS. Setahu mereka, tim gabungan anggota Brimob Poldasu sedang mengejar penjahat kelas ulung. “Jalan diblokir malam itu. Kami tidak bisa masuk dari Jalan Pandu ke Dusun VI ini, terpaksa kami mutar,” ujar seorang warga. Mereka tidak bersedia dikutip namanya. “Payah kami nanti,” ujarnya polos.

Pria berusia 30-an tahun melanjutkan, ketika ditanya kepada anggota Brimob yang memblokir jalan ,”Katanya mereka sedang mengejar penjahat kelas kakap. Diperkirakan lari ke Kebun Medan Star itu, jadi dikepung,” lanjutnya.

Warga lainnya, mengaku ada mendengar letusan satu kali, ada mengaku dengar dua kali. “Kami dengar letusan. Tapi ya biasa aja karena sering dengar suara tembakan latihan,” kata warga. Suara tembakan latihan dimaksud adalah ketika Batalyon Asam Kumbang berlatih yang tidak jauh dari pemukiman. Yang dikhawatirkan masyarakat justru yang berbau mistis setelah mereka tahu Dukun AS dieksekusi dekat rumahnya.

“Aduhh…, jadi takut. Mungkin hantunya di sini,” kata warga lainnya bertingkah merinding. Mereka bilang semakin takut keluar malam.

Jaksa minta kakak seperguruan Dukun A.S hilangkan ilmu-ilmu Ahmad Suradji

Hati-hati dan selalu memperhitungkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Prinsip inilah yang mengilhami tim eksekutor dalam menjalankan tugasnya untuk mengeksekusi terpidana mati Ahmad Suradji alias Dukun AS. “Kami tidak mau takabur dan gegabah dalam proses eksekusi ini, segala kemukinan kecil yang terjadi kami antisipasi,” kata Tengku Suhaimi Idris SH, Koordinator Tim Eksekusi Dukun AS saat ditemui di ruang kerjanya di Kantor Kejatisu Jalan AH Nasution. Salah satu antisipasi yang dilakukan Suhaimi adalah kemungkinan Dukun AS masih memiliki kekebalan tubuh. Pasalnya semua orang tahu bahwa Dukun AS adalah “orang hebat”.

Kemudian Suhami yang kini menjabat sebagai Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejatisu ini memerintahkan Kasi Pidum Kejari Lubuk Pakam Martinus SH untuk mencari penasehat spritual. Satu hari sebelum proses eksekusi Martinus bertemu dengan Drs H Ali Nafiah Nasution dari Yayasan Majelis Taklim Al Madani di LP Wanita Tanjung Gusta. Pertemuan itu bermaksud meminta tolong kepada Ali Nafiah untuk membuang semua ilmu yang dimiliki Dukun AS agar proses eksekusi nantinya berjalan dengan baik dan lancar.

“Bukan Pak Suhaimi takut, tapi beliau sangat berhati-hati dan mempertimbangkan hal sekecil apa pun yang akan terjadi,” kata Martinus. Kemudian dari pertemuan itu, Ali Nafiah yang masih kakak seperguruan Dukun AS langsung membuang semua ilmu yang dimiliki Dukun AS.

Buktinya, saat pelaksanaan eksekusi, Martinus yang juga hadir dalam proses eksekusi menyaksikan bahwa penembakan Dukun AS berjalan lancar. Dengan waktu lebih kurang tiga menit setelah penembakan, Dukun AS meninggal dunia. Proses eksekusi itu juga disaksikan Kajatisu Gortap Marbun, Wakajatisu Dimas Sukadis MM, Kapolres Deli Serdang, Kajari Lubuk Pakam, Direktur Reskrim Poldasu, Komandan Brimob, dan jajaran pengamanan lainnya. [Sumut Pos/jab/dra/btr]

tafbutton blue16 Ilmu Dukun A.S dihilangkan sebelum ditembak

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

12 Responses for “Ilmu Dukun A.S dihilangkan sebelum ditembak”

  1. umar says:

    MAMPUSSSS LO
    ORANG MUSYRIK ……

  2. Escobar says:

    Inilah sebab nya aku ngga mau ngomong kasar, bisa ilang ilmu kebal ku.

  3. joshua t pasaribu says:

    polisi jg manusia bang, jgn2 utang ma2k di kampung wkt mau msk in ank nya jd polisi msh ada..kalo kita cerita polisi pasti gak ada hbs nya lah..kalo dukun AS dihukum mati itu wajar, tapi yg terasa kurang wajar adalah koq nyawa seseorang di tangan penembak, bukan di tangan malaikat pencabut nyawa..ato jgn2 malaikat pencabut nyawa lg nyamar jd penembak neh..ha ha ha..

    • torasham says:

      nah, di Surabaya sini, keluarga Sumiarsih di hukum mati tembak sekaligus….ada 4 orang bro…trus gmana tuh malaikat mautnya..?

  4. ngurah. tra says:

    POLRI secara institusi mungkin bersih, tapi secara oknum, nanti dulu. Dari bintang 4 sampai prajurit kecoak kroconya, dari Sabang sampai Jaya pura, hobbynya ngumpulin harta. Padahal gaji lebih besar dibandingkan buruh bangunan dan buruh pabrik atau buruh konstruksi, maupun karyawan swasta pada umumnya.
    Masih saja ngembat, ngga mau kerja yang bener.
    Kasihan pak..kasinan rakyat sudah bayar pajak mahal mahal.
    BTW,….angpao dari cukong-cukong pemilik casino dan meja judi
    di genting highland resort malaysia, bagaimana? lancar?
    Itu untuk POLRI institusi apa untuk private pursernya yang punya bintang sih? Malu dong makan duit haram jadah.
    Itu motto TO SERVE AND TO PROTECT / MELAYANI DAN MELINDUNGI nya
    mana? mana?
    Oooh!!!…gitu ya? kalo ada doku baru gerak ya?
    OH my GOD!!, neraka jahanamlah! kau oknum yang melakukan ini!!.

    • k0nt0l says:

      emank gampang jadi polisi? susah goblok !

      kalau lu bisa ngelaksanin tugas polisi dengan baik dan bener, serta sempurna, tak kasih duit dech loe

      • willy says:

        emang bukannya gampang jadi polisi apalagi jadi polisi yang idealis ditengah – tengah kebusukan

        tp jika itu dibiasakan mulai dari bawah maka sampe keatas pun akan baik dan sebaliknya jg gitu

    • Frans says:

      Sekarang begini ajalah, kita sudah tau kalo profesi sebagai polisi itu tidak mudah, ketika kita punya cita2 untuk jadi seorang polisi tolong dipikirkan matang2….kita sudah tau kalo polisi itu kerjaannya beresiko dilain hal gajinya kecil…..jadi jangan mau punya cita2 jadi polisi….cari profesi yang bisa menghasilkan banyak duit……pada dasarnya saya setuju sama NGURAH…

  5. rhy4nz46 says:

    APA KATA DUNIA?

  6. Fendi Sinaga says:

    Beritanya aja sampai ke Dubai sini. Aku baca di Gulf News minggu lalu.

  7. darmadi says:

    Seharusnya, Polda SUMUT malu pada diri sendiri.
    Mengapa Dukun AS bisa membantai 42 korban tanpa bisa di endus oleh Polisi. Bahkan, dengan rentang waktu yang begitu jauh.

    Padahal, keluarga korban umumnya melapor kepada Polisi, kehilangan anggota keluarga.

    Maklumlah, Polisi di SUMUT, jika tidak di kasih duit, penyidikan tidak jalan.

    • willy says:

      hahhaha
      benar sekali tuh bro

      itu tandanya moral dan keprofesionalan polisi di medan itu tidak ada
      masih memikirkan uang dan uang

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video

Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.