Bupati: Senyum dan dekatkan diri pada Tuhan
Bupati Tobasa Monang Sitorus berbagi resep agar sehat dan sukses. ”T-O-G,” katanya, “Tuhan, orangtua, guru.” Dekat kepada Tuhan, ingat nasihat orangtua, patuh pada guru.
Pesan itu disampaikan Bupati Toba Samosir saat meresmikan gedung VIP dan poliklinik Rumah Sakit Umum Daerah Porsea belum lama ini seperti dikutip Blog Berita dari siaran pers Bagian Humas Pemkab.
Porsea; siaran pers Humas Pemkab Tobasa; Blog Berita
Kata Bupati, ada resep yang tidak perlu dibayar agar kita selalu hidup sehat, yaitu 2S, singkatan dari senyum dan sabar dalam menghadapi segala persoalan. “Selain itu juga perlu kita pedomani resep lainnya berupa T-O-G, yakni Tuhan-orangtua-guru, dekat kepada Tuhan, ingat nasihat orangtua, dan patuh kepada guru. Bila ini kita lakukan, niscaya keberhasilan akan selalu hadir dalam kehidupan kita.”
Peresmian gedung VIP dan poliklinik RSUD Porsea ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Bupati dan pengguntingan pita oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Toba Samosir Ny Intan Monang Sitorus boru Marpaung.
Bupati mengaku bangga atas prestasi RSUD Porsea yang pada tahun 2007 lalu meraih penghargaan sebagai rumah sakit tipe C berpenampilan terbaik III. Dia berpesan supaya RSUD meningkatkan mutu pelayanan khususnya terhadap warga miskin.
Direktur RSUD Porsea dr Pontas Batubara mengatakan, gedung VIP dan poliklinik ini dibangun dengan dana APBD Tobasa 2006. Pada tahun 2006 lalu RSUD Porsea mendapat sumbangan dari Wakil Presiden RI Jusuf Kalla berupa 10 buah tempat tidur elektrik. Gedung VIP terdiri dari empat ruang rawat inap, dengan fasilitas di dalamnya TV 21”, kulkas, dan sofa untuk penjaga pasien, 1 kamar dokter, dan 1 kamar perawat. Sementara gedung poliklinik terdiri dari poliklinik umum, anak, kebidanan, mata, penyakit dalam dan USG, rekam medis, dan loket.
Saat ini RSUD Porsea memiliki lima orang dokter spesialis, yaitu spesialis penyakit dalam, THT, mata, patologi klinik, kebidanan dan penyakit kandungan. Selain itu juga ada delapan orang dokter umum, 203 orang paramedis dan non-medis.
Hadir dalam acara peresmian ini Asisten Ekbang Krisostomus Siahaan, Kadis Kesbangtiban Madju Samosir, dan Kadis Pertanian Horas Silitonga. [BLOG BERITA]
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman
• Donasi • Hubungi Blog Berita

meningkatkan mutu pelayanan pada warga miskin..?
modar daaah………..!!!
pengalaman pribadi, cuman sebatas di bibir.
[reply to this comment]
Wilton Marbun reply on 16 July 2008:
@torasham
Saya setuju lae. Yang katanya untuk orang miskin itu semua omong kosong. Terlebih lagi di rumah sakit yang berada di Medan. Yang jelas di Indonesia ini tidak ada rumah sakit yang berjiwa sosial. Sebagai contoh, kalau ada yang masuk rumah sakit pasti diminta dulu uang deposit. Kalau tidak ada kita ditolak untuk dirawat dirumah sakit tersebut. Sebagai contoh kejadian yang ada di rumah sakit Pirngadi Medan. Ketika itu ada masyarakat kecil yang korban peperangan antara polisi dan tentara di Binjai beberapa tahun lalu. Dia kena peluru nyasar. Dan di bawa ke RS Pirngadi Medan. Di rumah sakit itu dia ditelantarkan. Tapi ketika Pangdam Bukit Barisan datang melihat dia, barulah para dokter dan perawat merawat dan mengurusinya. Padahal RS Pirngadi itu RS negeri. Kalo swasta masih bisa kita maklumi. Walaupun itu juga salah.
Dan pada saat ini dokter2 juga begitu kalau pasiennya orang miskin dicuekin tapi kalo kaya baru diperhatikan. Itulah akibat dari biaya pendidikan atau kuliah kedokteran yang sangat mahal. Yang sekarang ini setiap mahasiswa kedokteran membayar uang kuliahnya sampai ratusan juta. Jadi untuk menutupi biaya kuliahnya dulu, ia membuat tarif mahal kepada masyarakat. Makanya banyak orang berobat ke Malaysia. Disana biaya perobatan murah dan dokternya bagus2 dan berterus terang kepada pasien mengenai penyakitnya. Bukan kaya’ di Indonesia ini, penyakit kita gak sembuh2 padahal sudah ratusan juta uang habis. Para dokter di Indonesia ini licik2. untuk penyakit tertentu dia akan memberikan obat yang biasa2. setelah beberapa lama pasien ini berobat sama dia dan tidak sembuh2 baru dia kasih obat yang benar2 ampuh. Jadi, ketika uang kita habis baru dia kasih yang mujarab. Makanya, saya benci dan muak melihat dokter2 di Indonesia walaupun tidak semua yang begitu.
[reply to this comment]
Praktisi reply on 16 July 2008:
Siapa bilang di Malaysia berobat bagus, itukan menurut lae toh, biar lae tahu faktor terbesar dari kesembuhan seorang pasien adalah sugesti dan keramahan dari para medis, nah baguspun obatnya apalagi kalo obatnya mahal tapi kalo si dokter mukanya kayak jerut purut, maka pasien tersebut tdk senang. Hanya itulah keunggulan dari Rumah Sakit di Penang, perawatnya ramah2, pelayanannya memuaskan, kalo obatnya sama aja tidak ada bedanya lae. dan satu keunggulan mereka alatnya canggih2 dan SDM yg bisa memakai atau menggunakan alat tsb ada, berbeda dengan kita, alatnya canggih tapi SDM yg bisa menggunakan alat tsb tdk ada, atau SDMnya ada tetapi alatnya tidak ada.
[reply to this comment]
kevin reply on 16 July 2008:
@ Torasham
“meningkatkan mutu pelayanan pada warga miskin..?”
warga miskin itu maksudnya warga indonesia secara keseluruhan karena indonesai termasuk salah satu negara termiskin di dunia..!
[reply to this comment]
Mudah2an senyum Pak Bupati menular ke para pelayan masyarakat di Rumah Sakit Porsea.
Saya sendiri memandang positif upaya Dinas Kesehatan Pemkab Tobasa dalam penyediaan Asuransi Kesehatan Toba Mas.
Bagaimana dengan asuransi atau jaminan terhadap akses pendidikan?
Mudah2an dapat merealisasikan pendidikan gratis dan berkualitas dengan mengelola sebaik2nya penerimaan daerah yang didukung oleh APBN (DAU dan DAK).
Horas Mauliate.
‘pesimis boleh, sekali2 kasih ruang untuk optimisme’ vise versa
[reply to this comment]
Suatu kemajuan yang patut disyukuri. Namun harapan kami masyarakat kecil ini, misi sosial pendirian rumah sakit tersebut harus benar-benar dilaksanakan.
Kita masih perlu belajar banyak dengan RS negeri tetangga, terutama dalam hal melayani. Secara kualitas keilmuan, mereka mengakui dokter di Indonesia sangat pintar-pintar (??), salah satu kepintaran (kekurangan) dokter kita, dalam melakukan diagnosa penyakit cukup didasarkan pada keterangan yang diberikan oleh pasien, tidak benar-benar melakukan analisa dan pemeriksaan yang mendalam, sehingga banyak kekeliruan dalam memberikan obat.
Mudah-mudahan fasilitas tersebut benar-benar dapat bermanfaat bagi kepentingan masyarakat sebagaimana harapan kita semua, semoga hal ini bukan proyek gembar-gembor di bibir saja, seperti halnya (sejuta babi, jagung dll)
[reply to this comment]
iya…kita sering dikecewkan dengan program2 pemerintah yg tidak jelas. tapi gak ada juga gunanya kita pesimistis.
jadi apapun itu mari kita dukung sepenuhnya selagi masi program yang baik.. bilapun nantinya gak jelas juga. apa boleh buat. taik kambing bulat-bulat. oke teman2. kita liat aja perkembangannya.kita hanya bisa berharap.mauliate.
lae jarar… klo gak salah di tobasa balige ada lomba nyanyi cilik untuk anak SD. kebetulan pesertanya yang menang adalah bere saya. boru siahaan juga. bisa minta tolong klo ada liputannya..dikirim. mauliate parjolo.
BLOG BERITA: baik, lae, akan kuliput.
[reply to this comment]
mudah2an sesuai program …dan pak Bupati juga benar memakai resep tsb.2S & TOG tapi ada tambahan lagi kalau bisa …JUJUR
[reply to this comment]
Sitorus reply on 16 July 2008:
Betul itu lae, JUJUR sgt diperlukan di Tobasa khususnya dan Indonesia umumnya, jangan hanya ngomong TUHAN2 tetapi mencuri juga, korupsi juga, karna yg kulihat dari bupati tobasa si monang ini (walaupun satu marga denganku aku malu dibuatnya)setiap ada acara2 lagu wajibnya “PARTONDION” tapi korupsi juga, inilah yg dsbt “SERIGALA BERBULU DOMBA” atau dengan kata lain “SINTUA BANDIT BORNGIN”.
[reply to this comment]
marudut r napitupulu reply on 17 July 2008:
Lae Torus, kejam lagi istilah lae ini lah…
Sintua Bandit Borngin (Penatua Genit Mau Bobo) hehehehehe
Peace lae..
Gabe masihol iba tu Balige.
[reply to this comment]
Bung Blog Berita
Berbau ‘Press Release’ nih. Salam.
[reply to this comment]
Pos Yandu dan Puskesmas, program Orde Baru yang sudah diakui keberhasilannya WHO, UNICEF dan dunia.
Sayangnya, program ini dilanjutkan secara serius oleh pemerintahan sekarang.
Akibatnya, pemda tidak punya ujung tombak dalam program kesehatan rakyat pedesaan.Rakyat makin jauh dari pelayanan kesehatan yang murah.
[reply to this comment]
Simpatisan reply on 16 July 2008:
benar lae bilang bahwa Pos Yandu dan Puskesmas, program Orde Baru yang sudah diakui keberhasilannya WHO, UNICEF dan dunia, dan juga ujung tombak harus ada, namun disamping itu perlu juga diperhatikan kesejahteraan setiap petugas kesehatan yg ada di desa, seperti pemberian insentif kepada seluruh bidan desa dan dokter. Jadi kalau kesejahteraan mereka tdk diperhatikan gmn mereka mau memberikan perhatian penuh terhadap kesehatan masyarakat di Desa, bagaimana mereka mau menciptakan masyarakat pedesaan yg sejahtera sedangkan mereka saja belum sejahtera. Harus adalah timbal baliknya. Kita ambil contoh dahulu tidak ada atau sedikit sekali dokter PTT yg mau ditempatkan di desa2 terpencil, tapi sekarang setelah diadakan pemberian insentif kepada dokter PTT yg mau ditempatkan di daerah terpencil, yg saya kurang tahu pastinya berapa jumlahnya, maka banyak dokter2 PTT yg mau ditempatkan di daerah2 terpencil.
[reply to this comment]
Pak Bupati, anda gak usah deh bawa2 nama TUHAN segala, anda itu penipu, serigala berbulu domba, anda tidak ingat kasus korupsi sebesar 3 M yg ada lakukan ? anda itu penjahat, sok suci, andalah yg memporak porandakan tobasa ini, BERTOBATLAH ANDA, Cukuplah periode ini anda menjabat bupati, apabila periode mendatang anda mencalonkan diri lg, saya berani bersumpah dan menjamin anda tdk akan terpilih. Jangan Bermimpi bung, lunasi dulu hutangmu sama si DL.
[reply to this comment]