Dasar koruptor pukimak! Meski jaksa Urip sudah ketangkap basah terima suap, dan telepon kolusi Artalyta dengan dua Jaksa Agung Muda disadap KPK, tapi Urip dan Artalyta masih nekat mengatur kebohongan bagaimana menjawab hakim di pengadilan.
Tadi malam aku benar-benar tak bisa menahan amarah saat menonton berita di beberapa stasiun tivi swasta. “Pukimaklah kau!” kataku spontan.
Aku menonton berita terbaru bahwa jaksa Urip Tri Gunawan, yang ketangkap basah menerima suap Rp6 miliar dari Artalyta, ternyata masih berani bertelepon dengan Artalyta untuk mengatur kebohongan mereka selanjutnya. Meskipun keduanya secara terpisah sudah berada dalam tahanan Mabes Polri dan Brimob, tapi mereka masih bebas bercakap-cakap lewat handphone. Yang dibicarakan lewat telepon itu adalah skenario supaya mereka “ngotot dan sependapat” di pengadilan bahwa uang Rp6 miliar bukanlah suap melainkan pinjaman modal bagi usaha perbengkelan jaksa Urip.
Kutengok wajah Artalyta di tivi saat disidang kemarin; seperti biasanya dia tampil percaya diri, merasa tidak pernah menyuap jaksa Urip. Mungkin kalian masih ingat ketika dalam sidang sebelumnya Artalyta alias Ayin sempat menangis ketika mengatakan bahwa dirinya hanya ingin membantu sesama — meminjamkan uang untuk usaha bengkel jaksa Urip — tapi kok malah dituduh menyuap. Penampilan “pura-pura lugu” seperti itulah juga yang dia munculkan dalam sidang kemarin, dengan mengatakan bahwa selama dalam tahanan dia tidak pernah menelepon siapapun. “Trauma bicara di telepon,” katanya di depan hakim.
Namun saat JPU memutar rekaman pembicaraannya dengan jaksa Urip, “ratu suap” itu tanpa merasa malu menyahut, “Ya sudah, nggak usah diperdengarkan lagi, saya akui.” Dasar pukimak!
Di bawah ini adalah transkrip “telepon selingkuh” Ayin-jaksa Urip seperti dikutip Blog Berita dari Koran Tempo edisi hari ini, yang disadap Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK] pada 10 Juni 2008. Keduanya menyamar dengan saling menyapa sebagai “Pak guru” dan “Ibu guru”. Sedangkan majelis hakim disebut dengan istilah “rektor”.
Transkrip rekaman Artalyta ‘Ayin’-jaksa Urip hadapi “lima rektor”
Ayin: Halo, Pak Guru.
Urip: Iya, Ibu Guru.Ayin: Jadi gini, ya. Prinsipnya besok itu sesuai keterangan beliau-beliau sama yang itu. Kemarin kan beliau sudah membantu Anda itu. Dia menyatakan, “Pokoknya dari awal nggak ada indikasi.”
Urip: Terus?Ayin: Jadi besok seperti begitu saja. Seperti keterangan yang itu yang dibaca di BAP saya, itu bagus.
Urip: Ya.Ayin: Intinya, besok tetep konsisten pada jumlah itu. Pokoknya perbengkelan itu, kan. Sudah ada kan ininya…, apa itu?
Urip: Apa itu?Ayin: Ininya, proposal bengkelnya.
Urip: Ya…, ya….Ayin: Jadi, itu bengkel kan sudah logis. Saya bilang itu ada tanah di situ.
Urip: Ya.Ayin: Tapi kan nanti ditanyain, “Bagaimana Saudara terdakwa keterangannya?” Nanti saya bilang, “Udah cukup.” Ya, memang begitu ceritanya. Tapi, mesti yang diinget, besok yang satu itu, yang paling ujung…. Anda kan menghadap lima rektor [majelis hakim], nah itu yang paling kiri [tempat duduk hakim Andi Bachtiar]. Nanti dia pasti ngulitin. Biasa, yang namanya ujian, dia pasti keras.
Meski sudah ada rekaman, Artalyta berkeras bahwa uang yang diberikan kepada Urip adalah piutang untuk membuka usaha perbengkelan. Ia juga menyebut bahwa jaminan utang itu berupa tanah di Cikampek. Namun argumen Artalyta dipersoalkan hakim Andi Bachtiar, “Mengapa dalam 44 rekaman penyadapan tidak ditemukan adanya pembicaraan mengenai utang?”
Pertanyaan itu membuat Artalyta diam seribu bahasa. Dasar pukimak!

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















SANTET JAKSA SETAN URIP ANJ1NG BAb1 UR1P
@ Om Jalal
“Pukimaklah kau” atau maksudnya “Pukimak Kaulah”? Sudah ah..Jangan dibahas..ga sopan Lae..!
@Jahutur
Puki Kau malah….
Kuek… kek…. kek….
aduh Lae Jahutur…. sapa’an akrab ya mbok jangan ditulis di sini….
@Jahutur
Pukimaklah kau = artinya kau itu pukimak, bukan bangsat atau bodat.
Pukimak kaulah = artinya kau yang pukimak, bukan aku, bukan bang Rizieq, atau yang lain nya.
getuuu…..
Gantian saja “Ibu guru di sekolah jadi Ayin
Pak Guru jadi Urip”
ibu guru matematika = matematika Ayin
pak guru matematika = matematika Urip