Ssst…, jangan ribut, aku lagi pikket anduhur

Ragam kesibukan manusia, ragam pula hobinya. Ada yang suka berendam berjam-jam di sungai menjala ikan, ada yang senang duduk di tanggul sungai memancing ikan, ada pula yang hobi melaga ayam.

Oleh Leonardo Simanjuntak, Mdp di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara

pak-dewi-si-pemburu-anduhur Ssst..., jangan ribut, aku lagi pikket anduhurPokoknya manusia punya kesukaan macam-macam, yang bisa menjadi bagian dari gaya hidupnya. Salah satu hobi yang disukai segelintir orang Batak adalah berburu anduhur (burung tekukur atau perkutut). Hobi ini memang tidak melibatkan banyak orang. Biasanya pemburu anduhur adalah pria yang suka tantangan, dan tahan menyendiri di tengah belantara hutan.

Ada juga yang menganggap berburu burung tekukur dan perkutut suatu kegiatan olahraga pembunuh stres. Namun ada juga yang menganggap hobi ini milik orang berjiwa seni, karena pekerjaan memburu anduhur memerlukan kehalusan jiwa dan insting seseorang.

Anduhur dalam bahasa Batak punya dua pengertian. Anduhur yang berarti burung tekukur yang sering dipelihara di sangkar terbuka, dan anduhur yang berarti perkutut, jenis burung yang kemerduan suaranya sering diperlombakan.

Di Tanah Batak, banyak tempat yang cocok berburu anduhur khususnya jenis tekukur. Di pulau Samosir misalnya, di pegunungan dataran tinggi Humbang, atau di kawasan hutan Parmonangan Taput. Para “anduhur maniac”, biasanya tahu betul mana lokasi yang cocok untuk berburu, dan mana yang kurang menguntungkan.

Berburu anduhur tidak menggunakan kekerasan sebagaimana lazimnya pengertian berburu. Berburu anduhur tidak menggunakan senapan angina atau ketapel, melainkan memakai perangkap khusus yang disebut pikket (Jaring). Seekor anduhur yang sudah “jadi” dipasang dalam sangkar terbuka sebagai pemacing anduhur lain untuk datang bertandang, dan di sekeliling sangkar sudah dipasang perangkap benang yang siap memerangkap anduhur pendatang saat terlibat laga dengan anduhur pemancing. Sang pemburu biasanya menyangkutkan picket di dahan pohon. Setelah itu si pemburu harus siap bertiarap di rimbunan semak belukar, sabar menunggu pikketnya mendapat mangsa.

Hotman Silitonga (53), biasa dipanggil Pak Dewi (lihat foto atas), salah seorang tukang pikket anduhur yang cukup piawai mengatakan kepada penulis, orang yang bukan penyabar, pasti tidak mampu berburu anduhur. Soalnya, kata Pak Dewi, lamanya pemburu tiarap di dalam semak bisa satu sampai dua jam, bahkan kadang lebih.

“Saat tiarap itu tak boleh ada suara, karena anduhur tamu pasti lari begitu tahu ada gerakan manusia di sekitarnya”, ujar Pak Dewi. Saat anduhur pemancing dalam piket memperdengarkan suaranya, biasanya anduhur tamu (anduhur yang akan diperangkap) akan datang, satu atau dua ekor.

Suara anduhur di pikket merupakan tantangan bagi burung sejenis di sekitar hutan. Perkelahian sengit segera terjadi begitu anduhur tamu datang ke sangkar perangkap, dan saat berlaga itulah kaki anduhur tamu terperangkap ke benang yang terpasang di sekitar pikket.

Di Tarutung ada sejumlah tukang pikket anduhur yang dikenal rajin bergerilya ke hutan, di antaranya Kiwa Simanjuntak, Bejo Simanjuntak, Indra Sitanggang, Sidabutar. Ada yang berburu kearah Sipahutar, Pangaribuan, atau ke Parmonangan. Di kawasan Sisordak Parmonangan terkenal sebagai habitat anduhur yang jingar (tekukur laga). Bila nasib lagi baik seperti kata Pak Dewi, sekali berburu dalam sehari bisa dapat dua sampai tiga ekor anduhur, tapi kalau lagi sial, satu minggu pun belum tentu dapat.

Di Samosir dikisahkan tentang Ama Berin Rumapea (48) yang lebih duapuluh tahun berburu anduhur. Memerangkap burung tekukur bahkan menjadi mata pencaharian Ama Berin Rumapea. Penduduk Desa Sipinggan Kecamatan Onan Runggu ini, konon sangat disegani dalam hal memburu anduhur.

Beberapa penggemar anduhur di Tarutung mengaku, hobi memelihara anduhur suatu keasyikan tersendiri. Bahkan memelihara anduhur menjadi ukuran, apakah seseorang pencinta anduhur atau bukan. Orang malas tidak mungkin menyayangi anduhur, karena anduhur memerlukan perawatan yang telaten agar bisa membuat anduhurnya “jadi”.

Kawasan lahan hutan Sijambur di Kecamatan Parmonangan kini menjadi salah satu basis anduhur potensial yang sering dikunjungi pemburu. Biasanya mereka datang naik sepeda motor dari kota, lengkap membawa pikket dan anduhur pemancing. Karena berburu anduhur memerlukan waktu agak lama, mereka juga tak jarang membawa bekal makanan ke dalam hutan. Maka dalam kesunyian hutan, di antara desahan angin siang meniup dedaunan pohon-pohon alam, para penggemar perburuan ini siap bertiarap berjam-jam di rimbunan semak belukar. Mereka diam membisu seribu bahasa, menunggu dan menunggu sangkar pikketnya segera didatangi anduhur tamu yang didambakan.

Para tukang pikket anduhur kadang tak merasakan ilalang gatal menyergap sekujur tubuh. Sebab, gerakan sedikit saja akan membuyarkan harapan mendapatkan anduhur.

  • Gambar: Hotman Silitonga (Pak Dewi) menunjukkan seekor anduhur yang berhasil ditangkapnya di Sijambur, Kecamatan Parmonangan [Foto oleh Leonardo Simanjuntak].
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

5 Responses to “Ssst…, jangan ribut, aku lagi pikket anduhur”

  1. Wah.. Asyik juga ya.. berburu ” Anduhur”
    yang di perlukan cuma modal kesabaran dan ketenangan saja .
    Nanti kalau liburan kesana, mungkin bisa coba ikut
    ” Pikket Anduhur”
    Saya juga termasuk penggemar/ pemelihara burung.
    Cuma di jerman/ eropa, binatang ngak boleh di buru, jadi kita hanya dapat beli di toko.
    Saya ada beberapa jenis burung, ada Wellen sittich(Melopsitatacus Andulatus).
    Ada Nymphen Sittich dan Bouker Sittich. dan ini adalah sejenis kakatua yang berasal dari Australia.
    Entalah kalau burung anduhur/ perkutut masuk jenis / famili yang sama.
    Tapi semua jenis2 burung hanya dapat kita pelihara di dalam rumah atau di tempat tertutup yang dilengkapai pemanas dan kalau di summer/musim panas , adakalanya kita keluarkan .
    Pengen tanya ya ?..( bagi penggemar burung di Indonesia)
    Kalau burung kita agak terganggu kesehatannya, apa yang harus dilakukan atau diberi kan ? Mungkin ada solusi lain,, selain ke Dr hewan yang memerlukan biaya yang lumayan besar.
    Mauliate ma.

    [reply to this comment]

    darmadi reply on 24 July 2008:

    Hanna

    Hati2 ya mbak berburu anduhur.
    Seperti kata ‘burung’ dalam bahasa Indonesia, kata “anduhur’ dalam bahasa Batak, juga sering mengandung ‘penafsiran’ yang berbau (maaf) porno.

    Kalau burung terganggu kesehatannya, suruh istirahat dong. Misalnya, tiduran atau berbaring. Jangan suruh nyanyi dulu.
    He..he..he..

    [reply to this comment]

    Wilton Marbun reply on 25 July 2008:

    Ada lagunya : Burung…… bermacam2 burungggggg ada burung beo ada burung perkutut ada burung kakak tua ada ‘burung’….. he…he….

    [reply to this comment]

  2. Bung Leonardo

    Waktu kecil, di Siantar, gue masih sering melihat warga memelihara burung perkutut hasil tangkapan sendiri.

    Bahkan, tak jarang saya ikut ‘pikket’ anduhur di kampung Marihat- Pematang Siantar.

    Selain yang hobbi, memang ada juga yang menjadikannya mata pencaharian.

    Sayang, tahun2 belakangan ini di kampung Tomuan dan Marihat di Siantar udah jarang terlihat warga ‘memiket’ anduhur.
    ” Anduhur udah jarang ada terlihat” kata beberapa petani.
    Banyak yang mati karena penggunaan pestisida, kata mereka.

    Sekalian numpang tanya, nih bagi yang paham. Apa ada perbedaan perkutut (anduhur) di Sumatra dengan di Jawa.

    Soalnya, perkutut di Jawa bunyinya agak lain dengan yang di Sumatera.

    Terimakasih,tulisannya Bung.
    Bung, cerdas mengupas sisi lain di kampung halaman. Mengulas hal2 yang jarang di tulis orang lain.
    Perlu naluri jurnalistik yang kuat, untuk mengupas sisi lain kehidupan masyarakat di kampung halaman.

    [reply to this comment]

    jack@ reply on 24 July 2008:

    @ Bang Darmadi

    Dikalangan pengemar Perkutut yang sering dilombakan, dua-duanya tidak masuk kriteria yang dilombakan. Sehingga dari sisi harga ngga mahal. Dibudidaya juga mereka ngga tertarik.
    Kelebihannya hanya di kejernihan suara (satu dari lima kriteria yang dilombakan).

    Saya belum pernah dengar atau melihat perkutut Sumatera jadi ngga bisa memberikan perbandingan. Mereka yang suka melombakan, memasukan menggolongkan perkutut lokal. Ngga peduli darimana.

    he he… sedikit tahu ttg perkutut karena lapangan di kampung saya sering untuk lomba.

    [reply to this comment]

Tulis komentar pada kolom di bawah

Tampilkan artikelmu di Blog Berita: berbentuk opini, feature, berita, tips unik, atau cerpen.