Meski dana cekak, Harry Hutagaol nekat bikin audisi penyanyi berbakat usia sekolah di Kabupaten Toba Samosir. Blog Berita akan tayangkan video 12 peserta grand final.
JARAR SIAHAAN; BLOG BERITA; BALIGE
Sudah menjelang tengah malam, Sabtu kemarin, saat Harry Hutagaol datang bergabung dengan aku, seorang rekan wartawan, dan seorang PNS di sebuah kedai tuak di Balige. Wajahnya tampak kurang ceria meskipun dia baru saja mengikuti rapat di kantor partainya dan mengetahui namanya diajukan sebagai calon anggota legislatif.
“Masak ada yang bilang, ‘Rupanya Pemkab yang bikin Tobasa Idol.’ Padahal hampir semua instansi Pemkab menolak memberikan bantuan,” kata Harry, penggagas dan panitia pelaksana Tobasa Idol 2008. Blog Berita pun mengorek informasi darinya soal munculnya ide Tobasa Idol.
Harry, yang bekerja sebagai wartawan dan pemilik usaha rental VCD, juga pernah mengelola radio milik Pemkab Toba Samosir, Tobasa FM. Orangtuanya semasa hidup adalah pemilik Binter Jaya Musik, salah satu usaha penyewaan keperluan pesta terlengkap dan paling sukses di kawasan Tapanuli; usaha itu kini dikelola oleh saudaranya. Dengan latar belakang ini, dia memang tidak merasa asing lagi di dunia hiburan tarik-suara.
Dia bercerita, ide Tobasa Idol muncul ketika beberapa waktu lalu dia menggelar sebuah acara di rumahnya yang dihadiri sejumlah wartawan dan PNS. Saat itu dia menyediakan keyboard dan musik karaoke. Anak-anak pun bernyanyi. Di situlah muncul ide, “Bagaimana kalau kita bikin lomba menyanyi untuk anak sekolah.”
Kabag Humas Pemkab Tobasa Albert Sidabutar setuju dengan ide itu, dia pun langsung memberikan bantuan sekitar Rp1 juta. Tapi sampai di situ saja keterlibatan Pemkab Tobasa, selebihnya Harry Hutagaol dan beberapa wartawanlah yang bekerja. Mulai mencari dana dengan melobi sponsor, mengatur format acara, hingga mencari tim juri. Harry memasukkan proposal permintaan bantuan dana ke seluruh instansi pemerintah di Balige, tapi hanya satu-dua yang mau membantu.
Dinas Pendidikan Nasional dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tobasa, yang seharusnya “paling berkepentingan” dengan acara ini, ternyata tega tidak memberikan bantuan seperak pun. “Dinas Pendidikan bilang mereka tak punya dana. Dinas Pariwisata kabarnya mau membantu, tapi kadisnya lagi sibuk,” kata Harry Hutagaol.
Menurut Harry, hampir semua pejabat Tobasa yang ditemuinya tidak mendukung Tobasa Idol. Bupati Monang Sitorus sendiri tidak secara nyata mendukung lomba yang dikhususkan bagi pelajar berusia 13 tahun sampai 18 tahun ini; tidak ada bantuan dana resmi dari Pemkab untuk keperluan panitia.
Memang pada audisi ketiga sepekan lalu Bupati datang menonton, dan dia berjanji di hadapan penonton akan memberikan hadiah berupa tabungan bagi juara pertama, kedua, dan ketiga. “Tapi Pak Bupati tidak menyebutkan jumlahnya. Kita lihat sajalah nanti,” kata Harry, cenderung pesimis.
Panitia Tobasa Idol sendiri sebenarnya tidak punya dana yang jelas dan pasti; mereka mengandalkan partisipasi enam sponsor, itu pun umumnya tidak dalam bentuk uang. Yaitu Pro-XL yang memberikan nomor perdana bagi peserta audisi, toko baju Shopie Balige dan salon Bagas Trendy Balige yang menata penampilan peserta lomba, P Sound System yang menyediakan tata-suara, radio Karisma FM dan Tobasa FM yang membantu mengumumkan kegiatan ini.
Karena cekaknya dana, panitia cuma mampu memberikan honor Rp100 ribu bagi setiap juri per audisi. Ada tiga juri yang bekerja sejak pukul 7 malam hingga pukul 1 dini hari, yaitu Edwin Hutagaol, Beta Siahaan, dan Sri Tampubolon.
Minimnya dana itu pula yang membuat lomba digelar tanpa panggung dan efek lampu sorot. Sejak audisi pertama 21 Juni lalu para peserta lomba saat bernyanyi cuma berdiri di lantai di depan kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, di sebelah monumen D.I Panjaitan, Kota Balige, dengan penerangan lampu neon. Sangat sederhana, agak gelap, dengan penonton duduk di kursi plastik.
Tapi perhatian masyarakat sangat tinggi pada lomba ini. Peserta yang mendaftar pun semakin banyak di tiap audisi. Misalnya audisi ketiga Sabtu pekan lalu diikuti 37 orang, “Itu pun banyak yang kami tolak karena keterbatasan waktu.”
Audisi dilangsungkan sekali dua minggu, pada Sabtu malam, dimulai pukul 7 malam hingga pukul 1 tengah malam. Audisi terakhir pada 2 Agustus mendatang. Dari setiap audisi diambil tiga peserta terbaik. Jadi pada grand final 16 Agustus 2008 akan berlomba sebanyak 12 peserta.
Blog Berita sendiri menawarkan sedikit partisipasi kepada panitia, yaitu — semoga tidak ada halangan — berupa liputan khusus dengan menayangkan 12 video peserta grand final di situs ini, dan Harry Hutagaol menyambutnya dengan senang hati. Setidaknya adik-adik pelajar Tobasa bisa muncul di Internet dan para perantau Batak bisa melihat potensi yang mereka miliki.

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















Koq jd gak jelas begini y, membahas Tobasa Idol aj sdh rumit dgn opini dr msg2,
Eh ada org yg gak penting, ngebahas ttg kafir, klo diri lo Kafir gak usah nuduh org Kafir. Jgn membawa sara dlm urusan begini, sensitif tau…
Gak pernah sekolah kali lo y…
Sakit Jiwaali lo, sini ke Jakarta Opname di Rumah Sakit Bumi Waras.. Asa unang miring2 hutok-hutok mi.
Aku cinta TOBASA, jd aku slalu berharap yg terbaik utk TOBASA..
Apapun kegiatan disana dan siapa panitianya gak masalah, yg penting utk kemajuan dan nama baik TOBASA.
Sai horas be ma hita…
Sorry klo ada yg tdk berkenan ate…
MAULIATEMA…
aduuuhh help…
acara akhir febuari,
awal febuari kami harus sdh publikasi besar”an…
tapi sampai detik ini belum ada dana yang nongol…
semuanya masih ditangguhkan…tutup buku katanya…
aku sebagai penanggung jawab sponsor plus dana kebingungan…ada solusi ga bang?
@Muslim Batak
Aneh ya si Muslim Batak ini. Kok jadi menyinggung masalah status, entah itu agama. Sekarang aku mengertilah apa yang diajari oleh agamanya itu. Merekalah yang terlebih dahulu mempermasalahkan status agama tapi sering memutarbalikkan kenyataan.
Yang salah pantas dipersalahkan, yang benar hendaknya ditiru.
Wallahualam Bissawwabb..
Na godang hata ni si Jarar on, na so dapotan do ho nian sian Pemkab kale, nga diboto hami modusmu kawan
@ Muslim Batak
untuk lae muslim batak, unang pola iri, late rohani lae to laetta si jarar…ai nadenggan do na binahen na i, daripada songon lae holan makritik ala i dang adong mambahen age aha to Tobasa……..ta kacca ma diritta !
Ok lah kawan, kafir pe ho, tong do huanggap jolma
Alahu akbar!
moga-moga dia dah berubah…untuk kebaikan…aku dah tau seh modusnya(mungkin UUD… klao salah maafin)
@Muslim Batak
Kita sebagai orang beriman, jangan menganggap orang lain rendah. Jangan menganggap karena kita sudah Islam, lebih tinggi derajatnya daripada nonIslam. Memangnya kamu sudah layak disebut Islam? Islam yang sejati adalah orang-orang yang menghormati orang lain. Apalagi yang nonIslam. Sekarang lihat dirimu. Apakah sikapmu sudah menunjukkan Islam yang sejati. Jangan islam KTP dong.
Wallahuallam Bissawwabb..
sebenarye bkn pelit pemkab tobasa alai cara brpikirna telmik
alias telat mikir,holan naeng mangahut hepeng do dipikir asa
godang dptna ate….? kami warbatsi ( warga batak singapore )
merasa malu mendengar, masa pemkab tobasa lepas tangan pd tobasa idol, mmg dasar parhuta huta .
marilah kita masyarakat batak dimanapun kita berada untuk membangun bonapasogot/tobasa dengan tdk saling menyalahkan akan tetapi dengan dos ni roha di hita sudena,,mari kita buang sifat-sifat TEAL,LATE, biar masyarakat atau suku-suku lain bisa hormat dan salut terhadap kita sbagai bangso batak..salam dami..
Salamt sejahtera…
selemat pada saudara Harry telah berbyat yang terbaik bagi saudara kita di bonanipasogit, lae harry tdk usah didengar suara- suara yang sumbang atupun kritik – kritik ynga tdk membangun, tp marilah kita buat sesuatu bagi bangso kita yang dibonapasogit yng bersifat positip…maju trus lae jangan pernah mundur…horrassssss
mantap tulang gaol semoga bisa lanjut terus usaha baik tulang dan juga semoga Tobasa Idol bisa eksis terus dan semakin mengembangkan bakat-bakat yang dimiliki oleh tanah batak.Horas
Salut aku melihat Lae Harry, dengan keterbatasan dana beliau bisa membuat suatu even yg sangat dibanggakan yang mana hasilnya dapat mengharumkan nama TOBASA, jangan diharapkan dana dari pemkab lae Harry, pemkab tobasa mau enaknya saja, giliran nama Tobasa terkenal baru mereka sibuk cari nama, Maju terus lae, semoga semangatnya tidak pudar, semoga di tahun mendatang lebih kreatif lagi dan lebih innovatif lagi lagi. HORAS…..S
Jadilah manusia yang “DEMOKRATIS” bukan “PRIMITIF”, mau mengkritik tetapi harus siap dikritik oleh orang lain. Bukan malah mengucilkan lawan tanding kita.
Selesaikanalah segala masalah dengan akal pikiran yang sehat bukan dengan cara MARSITUGANTUGANAN (bukan dengan adu saraf dan otot)