Sejarah haminjon di Tanah Batak

Oleh Leonardo Simanjuntak, Mdp — Lundu Panjaitan semasa menjabat Bupati Tapanuli Utara menyebut Tapanuli Utara sebagai produsen kemenyan terbesar di dunia.

Haminjon (kemenyan), identik dengan Tano Batak. Kenapa. Karena komoditas yang satu ini konon sudah tumbuh di sana bersamaan dengan keberadaan Tano Batak. Jika perkiraan itu benar, berarti usia kemenyan yang ada di kawasan ini sudah sangat uzur. Tak jelas ceritanya bagaimana kemenyan tumbuh subur di Tano Batak. Apakah tumbuh secara alamiah bersamaan dengan terciptanya Tano Batak, ataukah dulunya sengaja ditanami para leluhur. Masih perlu pengkajian ilmiah berdimensi genealogis.

leo-juntak Sejarah haminjon di Tanah BatakHaminjon yang istilah kimiawinya disebut Styrax Benzoin, oleh para tetua Batak dianggap karunia dari Tuhan, karena tanaman ini tidak banyak tumbuh di daerah dan Negara lain. Dalam jumlah terbatas, kemenyan memang terdapat di Sumatera Selatan, dan lumayan banyak di Thailand, Kampuchea (Kamboja) dan Vietnam, yang disebut “Siam Benzoin”.

Mungkin melihat kenyataan itu, Lundu Panjaitan semasa menjabat Bupati Tapanuli Utara mengklaim bahwa Tano Batak (dalam hal ini dimaksudkan wilayah Tapanuli Utara), merupakan produsen kemenyan terbesar di dunia. Pada waktu Lundu menyatakan hal itu, wilayah Taput masih mencakup Toba, Samosir, Humbang Hasundutan, dan kabupaten induk Tapanuli Utara.

Data terakhir yang digunakan Pemkab Taput untuk keperluan presentasi daerah menyebut, luas tanaman haminjon di Taput pascapemekaran tercatat 16.283 ha. Luas areal kemenyan yang terdapat di Kabupaten Dairi (kabupaten yang pertama dimekarkan dari Taput pada 1964), Toba, Samosir, dan Humbang Hasundutan, tak berbeda jauh dari Taput sebagai kabupaten induk. Produksi akhir pada 2006 sebanyak 3.509 ton. Dengan harga Rp 70.000- Rp 75.000 perkilogram untuk jenis kemenyan mata kasar dan Rp 50.000-Rp 60.000 jenis mata kacang dewasa ini, wajar jika sebagian penduduk Taput menjadikan kemenyan sebagai mata pencaharian utama.

Menurut Bupati Taput Torang Lumbantobing, haminjon merupakan natural endowment dan kualitasnya terbaik di dunia. Komoditas ini tumbuh sempurna di Taput, Humbang Hasundutan, dan Dairi. Beberapa literatur menunjukkan, bahwa perdagangan haminjon dari Tano Batak sudah lama berlangsung, diperkirakan sejak tiga ratus tahun silam. Tidak mengherankan, sejak zaman dahulu, bangsa-bangsa Eropah yang berkepentingan dengan kemenyan telah mengenal nama Tano Batak (Taput) sebagai produsen terbesar.

Suratkabar Imanuel yang diterbitkan HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) edisi 24 Oktober 1920 (dokumentasi penulis), mengungkapkan sebuah grafik hasil bumi yang dikeluarkan dari Taput pada 1919. Di antaranya karet, kopi, kopra, kemenyan. Grafik itu menunjukkan produksi kemenyan Taput pada 1919 sebanyak 1.819.419 kilogram, dengan nilai jual 1.575.937 gulden, atau berkisar Rp 1,5 juta menurut kurs masa itu. Komoditas kemenyan menempati posisi ketiga pada bursa perdagangan hasil bumi ketika itu setelah karet, kopra dan kopi.

Pada suratkabar yang sama edisi 14 November 1920 dilaporkan, pada masa itu para pedagang besar telah mengeruk keuntungan besar dari perdagangan getah kemenyan. Harga perkilogram saat itu tercatat 70 cent (harga beli) dan 2,22 gulden (harga jual). Pada 1919, pedagang non pri membeli sebanyak 158.891 kilogram kemenyan dari Palembang dengan nilai beli 111.686 gulden. Tapi pada tahun yang sama dijual kembali ke Palembang sebanyak 47.719 kilogram dengan harga jual 105.959 gulden. Toke meraih keuntungan sebesar 72.532 gulden. Namun tak jelas dirinci dalam tulisan itu, apakah pola perdagangan kemenyan bisa seperti itu (antara Palembang ke Tapanuli bolak-balik), setelah melalui proses pengolahan di tempat tertentu.

Tungkot Simanungkalit seorang pemerhati kemenyan di Tarutung mengutip C.Van Keppel yang menulis buku “Landbow Indische Archipel” (1938), yang menggambarkan potensi haminjon di Tapanuli Utara (sebelum pemekaran) yang begitu besar, dan menjadi sumber penghidupan banyak orang Batak. Pusat kultur kemenyan berada di sebelah utara Toba, hamparannya dari Silindung sampai Naipospos, dan di sebelah timur Toba terhampar dari wilayah Habinsaran sampai Sipirok. Total produksi kemenyan Taput pada 1938 tercatat 5080 ton. Data ini diperoleh Lundu Panjaitan ketika berkunjung ke negeri Belanda pada 1992.

Produktivitas kemenyan dari Taput dan kabupaten mekarannya pada kurun waktu 20 tahun terakhir, ditengarai merosot tajam. Di Taput, kemenyan masih diusahai petani pada 9 kecamatan, yakni Tarutung, Adian Koting, Pahae Julu, Pahae Jae, Purbatua, Sipoholon, Sipahutar, Pangaribuan, Garoga, dan Parmonangan. Di Humbang Hasundutan kebun kemenyan terluas terdapat di Kecamatan Dolok Sanggul, Onan Ganjang, Parlilitan, dan Pakkat, sedangkan di wilayah Toba Samosir adalah kecamatan Habinsaran.

Kondisi pohon kemenyan yang sudah uzur dan produktivitasnya merosot, sejak lama sudah mendapat perhatian pemerintah daerah, bahkan pemerintah pusat. Pada tahun 60-an, terbentuk organisasi yang khusus mengurusi komoditas ini, yakni PERPEKI (Persatuan Pengusaha Kemenyan Indonesia) berpusat di Tarutung dan Dolok Sanggul. Kemudian pada 1978 didirikan asosiasi Perkumpulan Pedagang/Pengusaha Kemenyan Tapanuli Utara (The North Tapanuli Benzoin Traders Ascociation), disingkat BENTRAS. Bahkan almarhum Jenderal (Pur) Maraden Panggabean, mantan Menhankam/Pangab pernah memberi bantuan dana untuk digunakan membantu peremajaan kemenyan di Taput. Tapi penyaluran dana tersebut tak jelas rimbanya.

Demikian halnya pada periode bupati Lundu Panjaitan,SH, memberi perhatian khusus untuk mengangkat kembali trade value kemenyan, termasuk penjajakan mata rantai perdagangan kemenyan. Pada 2002, Djosman DP Nainggolan seorang pemerhati kemenyan menawarkan gagasan baru untuk mendongkrak citra komoditas langka di dunia itu. Gagasan Djosman langsung ditangkap bupati Taput RE Nainggolan, dengan terbentuknya Tim Kerja Pengembangan Komoditi Kemenyan Tapanuli Utara. Unsur pengurusnya mencakup birokrat, tokoh masyarakat, pengusaha, bahkan wartawan.

Tetapi apa mau dikata. Nasib tim kerja gagasan Djosman Nainggolan tersebut, setali tiga uang dengan berbagai gagasan sebelumnya. Berbagai gerakan untuk mengangkat kembali marwah haminjon, mandek di tengah jalan, tinggal nama dan arsip proposal.

Waktu terus berjalan, seperti air sungai mengalir menuju muara. Sekian abad juga telah berlalu, dan haminjon di Tano Batak masih eksis. Seperti halnya hidup manusia dan makhluk lainnya, banyak di antara pohon kemenyan yang mati dimakan usia, banyak yang masih bertumbuh namun sudah letih berproduksi karena kondisi uzur.

Dan sementara itu, selalu saja ada benih baru kemenyan yang tumbuh di tengah hutan menjadi sebuah proses regenerasi secara alami. Dalam suatu perbincangan penulis dengan penderes getah kemenyan di Parlilitan, bisa disimpulkan bahwa rasa bangga terhadap komoditas “warisan” alam itu ada. Mereka, para penderes getah kemenyan juga telah mengalami regenerasi beberapa kali.

“Inilah hidup kami, dari moyang turun ke bapak, dan akhirnya kepada kami, dan seterusnya ke anak cucu kami”, kata Ama Marihot Sitohang, penduduk dusun Baringin Pusuk, Parlilitan. Suaranya datar, namun mencerminkan ketegaran.

Baginya, seperti juga bagi penderes kemenyan lainnya (mungkin), masalah utama kemenyan sesungguhnya adalah soal harga. Tetapi itu cuma masalah klasik, yang seakan tak perlu lagi diutak-atik. Tapi mereka selalu siap menyambut gembira, manakala mendengar masih ada orang, atau pihak tertentu, yang masih sudi membicarakan kemenyan dan prospeknya.

Haminjon, riwayatmu dari dulu, kini, dan esok, mungkin akan tetap sama. Bahwa engkau (haminjon), setia memberi kehidupan ribuan atau puluhan ribu jiwa manusia, yang juga masih setia menjaga dan memeliharamu. Dan bukankah, haminjon juga komoditas bernilai sejarah, ketika Yesus dilahirkan di kandang domba di Bethlehem, para parroha sian purba (musafir cerdik pandai dari Timur) datang membawa benda persembahan, dan salah satunya adalah haminjon? [Dari berbagai sumber otentik]

  • Artikel ini dikirim ke Blog Berita dari Tarutung oleh Leonardo Simanjuntak, Mdp, wartawan yang juga pemerhati sumber daya alam Tano Batak.
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

8 Responses to “Sejarah haminjon di Tanah Batak”

  1. halah…gak di sumatera gak di jawa…
    pemerintah selalu tidak menghiraukan nasib petani dan peladang…

    di jatim dulu terkenal dg penghasil gula dan bahkan penyumbang devisa negara yg lumayan besar…
    sekarang….?

    [reply to this comment]

  2. Apakah haminjon ini akan menyusul saudaranya, yaitu kamper/ kapur barus yang juga katanya hanya bisa tumbuh di daerah tertentu seperti di daerah tapanuli, tapi pada akhirnya harus punah? Semoga tidak, mudah-mudahan keprihatinan Pa Simanjuntak dan masyarakat Batak dapat ditangkap dan dikembangkan oleh masyarakat Batak sendiri.

    [reply to this comment]

  3. Selama haminjon masih digemari dunia,haminjon tidak akan punah.Tapi bila pemerintah melarang petani (peladang) haminjon di “harangan” haminjon pasti akan punah,sebab haminjon hanya bisa tumbuh dan berkembang serta menghasilkan hanya di hutan. Aku sudah pernah membudidayakan haminjon di lahan tidur pohonnya bisa tumbuh tapi getahnya tidak ada. Maka perlu perhatian pemerintah untuk tanaman haminjon sebab orang nanam haminjon tak lepas dari hutan yang saat ini sudah dikuasai pemerintah. Janganlah kepada investor asing pemerintah merelakan hutan ini digunduli, fikirkanlah nasib rakyat yang sebenarnya punya (sangat) berhak hidup dengan layak di daerah masing-masing.

    Semoga haminjon tidak punah akibat pemerintah yang salah mengkelola hutan ini.

    [reply to this comment]

    darmadi reply on 1 August 2008:

    Setuju. Saya kadang heran. Kalau, kepada rakyat desa di sekitar hutan, Polsus Kehutanan selalu tegas dan beringas.

    Padahal, fungsi hutan adalah untuk memberi manfaat sejahtera bagi penduduk sekitar area hutan.
    Di beberapa daerah pun, budi daya tanaman di sekitar hutan selalu menimbulkan gesekan antara aparat Polsus dengan Penduduk.

    Sementara dengan investor, yang jelas merusak hutan, Polsus dan aparat Hutan lainnya, tidak berkutik.

    [reply to this comment]

  4. Pemerintah memang tidak peduli dengan nasib petani haminjon ini. Disamping tidak memberikan penyuluhan tentang cara bertani yang baik, juga tidak peduli dengan harga yang berlaku dipasaran, dimana para tauke seenak udel menentukan harga, tanpa pernah memikirkan kesejahteraan para petani.

    Sampai sekarang saya tidak mengerti mengapa harga getah mata kasar berbeda dari mata kacang, dan halus, terutama dengan getah ‘tahir’ (yang kering di pohon)hampir separoh harga dari mata kasar. Baik itu utuh satu keping besar (mata kasar) maupun keping kecil (pecah akibat pemisahan getah dari laklak) getah itu tetaplah getah, tidak berbeda unsur kimianya.

    Sistim perdagangan sekarang sudah lebih baik jika dibandingkan dengan dulu walau masih sama sama tradisional. Dulu, para tauke kemenyaan yang membeli langsung dari petani membawa dagangan mereka ke Pematangsiantar tanpa memeiliki gudang di sana, tetapi dibawa langsung ke gudang si pembeli. Tauke tauke di Siantar ini bisa bertingkah, mau kasih untung kepada pedagang kecil atau tidak, bisa mereka atur sesuka hati, karena pedagang kecil tadi tidak memiliki gudang, sementara mereka sudah harus kembali lagi untuk mengumpulkan getah dari petani. Berapapun harga yang diberikan pedagang Siantar, terpaksa harus di terima.

    Belakangan ini mereka sudah membawa langsung ke pulau jawa.Tetapi itu masih tetap tradisioanal. Cara yang profesional adalah: Jangan membawa dagagan ke pulau jawa seakan hendak menjajakannya di sana. Bila perlu jajaki langsung ke pengguna di Luar Negeri, dan langsung di kirim dari Doloksanggul misalnya sesuai pesanan. Jangan bawa kemenyaannya ke LN untuk di jajakan.

    [reply to this comment]

  5. trims komen anda, tanaman langka seperti haminjon memang perlu dilestarikan, tapi harus dibuktikan, jangan hanya rencana-rencana tapi kenyataannya di lapangan, nol!!!

    [reply to this comment]

  6. Petani dan pemerintah harus ada kerjasama,pemarintah harus memperhatikan akses jalanan yang bagus juga perintah hars meneliti bgm cara mengembangbiakkan tanaman haminjon biar lebih cpat dan ada hasil yang bgs, pemerintah jg harus mencari tempat pemasaran yang baik serta memebuat harga yang bgs sehingga petani mkn tergerak dan semangat untk menanam lg haminjon di tanah mrk…peran pemerintah sangat di butuhkan sekali………..

    [reply to this comment]

  7. Perlu dari orang batak yang diperantau serta orang batak dipemerintahan ,untuk mau menyumbangkan tenaga , pikiran , dana , untuk mengembangakan tanaman kemenyan serta tanaman yang lain ,yang nantinya bisa merupakan pendapatan daerah di daerah Tano batak , khususnya Tarutung.
    Perlu Gerakan besar besar membangun tano batak dan mnagali potensi di tano batak.
    Jangan putus asa, maju terus…

    Horas

    [reply to this comment]

Tulis komentar pada kolom di bawah

Tampilkan artikelmu di Blog Berita: berbentuk opini, feature, berita, tips unik, atau cerpen.