Laris Naibaho adalah agen koran yang sukses; Wapres JK, Ketua DPR, dan duta-duta besar bersedia menghadiri acara pesta pengecer koran yang dia bikin. Media-media besar semacam Kompas dan Jawa Pos menyumbang miliaran uang untuk pesta ini. Kapan bos-bos media menggaji wartawannya dengan layak?
Yayasan Loper Indonesia (YLI) yang diketuai Laris Naibaho, kembali menggelar Loper’s Day (LD), Rabu 30 Juli besok. Pesta untuk rakyat jelata ini sengaja digelar di Pantai Carnaval Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), agar setelah berpesta, puluhan ribu loper yang hadir bisa sekalian berekreasi. Wapres Jusuf Kalla, Ketua DPR Agung Laksono, tiga menteri, Gubernur DKI Fauzi Bowo dan kelima walikota Jakarta sudah menyanggupi akan datang. Selain itu, diundang pula hampir semua dubes negara sahabat, dan bila tak ada halangan akan hadir.
50.000 lebih tiket masuk gratis sudah dibagikan kepada loper media cetak yang biasa beroperasi di Jakarta, Provinsi Banten, dan Jawa Barat. Dari Bandung, 25 bus akan membawa rombongan loper, lima di antaranya disediakan Walikota Bandung. Selain tiket masuk gratis, panitia juga menanggung transportasi setiap loper. Masing-masing akan mendapat kaos-topi, makan-minum, dan dihibur band Zorro, Indri Simanungkalit, dan puluhan artis dangdut ibukota. Tak hanya itu, YLI juga membuat door prize yang sangat menarik. Sudah disiapkan 30 unit sepedamotor, 100 sepeda (yang khusus didisain untuk loper), 1000 handphone dan hadiah lainnya untuk “diperebutkan” loper.
Selain berpesta sehari, YLI dan PMI juga membuat bakti sosial berupa donor darah. Ribuan loper antusias untuk menyumbangkan darah mereka, sayangnya PMI hanya mampu menangani sekitar 500 donor.
Pesta akbar berbiaya tujuh milyar rupiah itu seluruhnya didanai pihak sponsor. PT TIJA menyumbang dua milyar rupiah, KKG (Kompas Gramedia) juga dua milyar rupiah, sementara sisanya dibantu Suara Pembaruan, Investor Daily, Media Indonesia, Grup Jawa Pos, MNC, Cosmopolitan, dan hampir semua penerbitan pers di Jakarta. Depsos pun ikut menyumbang 150 juta rupiah. Sponsor lainnya adalah, United Bike, Smart, dan Aqua.
Untuk membantu YLI melayani puluhan ribu loper, 1000 lebih relawan sudah siap membantu. Para relawan berasal dari mahasiswa, karyawan, anggota milis, Komunitas Tobadream (membuat film dokumenter), pekerja pers, dan puluhan profesional dari berbagai bidang. Urusan keamanan, selain tenaga dari TIJA, dibantu Polres Jakarta Utara dan Kodam Jaya.
Semakin mendekati hari H, sekretariat YLI merangkap kantor Laris Naibaho di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan, siang malam dipadati panitia dan ratusan relawan. Wajah-wajah penuh semangat dipancarkan para relawan yang terdiri dari berbagai etnis dan agama itu. Semua relawan di bawah koordinasi Washinton Simbolon, seorang konsultan dan dosen, dibantu pengurus YLI.
“Suasana seperti inilah yang kita harapkan sering terjadi di Indonesia,” kata Suhunan Situmorang, praktisi hukum dan penulis novel Sordam yang tokoh novelnya, Paltibonar Nadeak, juga eks loper koran, kepada para relawan. Suhunan ditugaskan YLI menangani urusan komunikasi publik dan aspek hukum, terutama mereview perjanjian dengan pihak sponsor. “Kita harus tunjukkan bahwa diri kita tidak termasuk orang-orang picik yang egois dan selalu berpikir sektarian itu. Kita kagum sama orang-orang YLI yang terus berjuang untuk perbaikan nasib loper. Bukan cuma mengumbar slogan dan iklan untuk kepentingan dan kemegahan pribadi.”
Semua panitia dan relawan yang dalam dua bulan terakhir ini sudah bekerja keras dan tak dibayar sama sekali, bahkan harus mengeluarkan uang masing-masing. Dukungan untuk LD keempat ini memang terus mengalir dan tidak saja dari perusahaan pers. Barangkali karena selama ini mereka sudah tahu kinerja dan integritas YLI yang semata-mata berbuat dan berjuang untuk perbaikan nasib loper.
Untuk menghindari penyalahgunaan dana, Laris Naibaho, sengaja membuat mekanisme penyaluran bantuan tidak secara langsung ke kas YLI. Sponsor cukup diminta memenuhi permintaan YLI, misalnya, menyediakan transportasi loper, makan-minum, kaos-topi, hiburan dan door prize. Tak sepeser bantuan sponsor pun sempat mampir ke tangan orang-orang YLI.
“Berbahaya menyaksikan dana milyaran rupiah, mata kita bisa ijo..,” ujar Laris terkekeh. “Cara seperti itulah saya kira yang paling aman untuk menghindari penyalahgunaan bantuan. Kita tahu kan di negara ini, bantuan raskin pun masih tega disikat,” lanjut lelaki 49 tahun kelahiran Pangururan, Kabupaten Samosir, alumni Fakultas Publisistik IISP dan FH UKI yang sudah 32 tahun menggeluti bisnis penyaluran media cetak ini. [BLOG BERITA]
- Artikel ini — minus alinea pertama — dikirim dari Jakarta oleh Yayasan Loper Indonesia ke Blog Berita di Balige.

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















Yang patut di kasih apresiasi, ribuan tenaga kerja yang diserap oleh Agen koran.
Tanpa banyak omong, agen koran menyerap para penganggur jadi loper koran.
Indonesia butuh ratusan lagi orang seperti Laris Naibaho dan Suhunan Situmorang, baru bisa pulih…
buseet dah, pulih dari apaan bung?
siapa yang sakit?
aneh…koq ngga nyambung ya?
Laris Naibaho memang hebat! Hari gini masih mau mikirin nasib orang-orang kecil dan bukan utk kepentingan dirinya.
Salut juga untuk semua relawan dan sponsor-sponsor yang tlh mempedulikan loper. Tapi gw pun kagum banget sama Suhunan Situmorang! Pengacara yg ogah nanganin kasus-kasus korupsi, drugs, dan masih trs mempertahankan idealisme. Abis baca novelnya, gw sampe nangis bombay…
emang dana ga sempet masuk ke YLI tapi dana yang disalurkan kurang dari jumlah undangan (kupon) yang disebar
banyak yang ga kebagian amplop