80 persen wartawan tidak baca kode etik

Posted by Jarar Siahaan on Aug 6th, 2008 and filed under jurnalisme. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Sekitar 80 persen wartawan di Indonesia diduga tidak pernah membaca kode etik jurnalistik. “Banyak wartawan yang tidak tahu Undang-Undang Pers,” kata Ketua Komisi Pengaduan Dewan Pers Abdullah Alamudi.

Hal itu, menurut dia, sering kali menimbulkan pelanggaran jurnalistik. Masyarakat diminta menegur wartawan dan perusahaan media yang melanggar.

Abdullah mengaku komisinya menerima sekitar 20 pengaduan masyarakat setiap bulan. “Umumnya soal pencemaran nama baik.”Ke depan, seluruh wartawan Indonesia disertifikasi. “Mekanismenya sedang kami bahas,” katanya. [Koran Tempo edisi 4 Agustus 2008]

Berikut Blog Berita mengutip dari Dewan Pers isi kode etik wartawan [setelah direvisi] yang disepakati 29 organisasi profesi wartawan pada 14 Maret 2006. Kode etik ini berlaku secara umum bagi wartawan Indonesia. Sementara setiap organisasi wartawan juga punya kode etik masing-masing.

Kode Etik Jurnalistik

Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.

Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.

Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik:

Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Penafsiran
a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.
b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.
c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.
d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Pasal 2
Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

Penafsiran
Cara-cara yang profesional adalah:
a. menunjukkan identitas diri kepada narasumber;
b. menghormati hak privasi;
c. tidak menyuap;
d. menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya;
e. rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang;
f. menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara;
g. tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri;
h. penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Penafsiran
a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu.
b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.
c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.
d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.

Penafsiran
a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk.
c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi.
e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.

Pasal 5
Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

Penafsiran
a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.
b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah.

Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

Penafsiran
a. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi  atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.
b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.

Pasal 7
Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.

Penafsiran
a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya.
b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.
c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya.
d. “Off the record” adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.

Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Penafsiran
a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui secara jelas.
b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.

Pasal 9
Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

Penafsiran
a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati.
b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.

Pasal 10
Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

Penafsiran
a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.
b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok.

Pasal 11
Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Penafsiran
a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.
b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.
c. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki.

  • Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan Dewan Pers.
  • Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.

BLOG BERITA: Selain masalah amplop [suap], kasus pelanggaran etika yang paling sering dilakukan wartawan dan media adalah plagiat. Sering wartawan menjiplak bulat-bulat artikel hasil liputan wartawan lain dan mengirimkannya ke redaksi seolah-olah sebagai karyanya sendiri. Wartawan juga sering memakai foto hasil jepretan orang lain tanpa menuliskan kredit foto atau hak cipta si fotografer, bahkan tak jarang si wartawan berani membuatkan kredit foto atas namanya sendiri.

Redaktur media, terutama koran-koran daerah, hampir setiap hari mengutip berita dari situs Internet seperti Detikcom tanpa menuliskan sumber kutipannya Detikcom, melainkan cuma dibuat “Int” [singkatan dari Internet] atau “Dtc” [konon singkatan dari Detikcom] — padahal redaksi Detikcom sendiri sudah pernah menegaskan bahwa media online itu tidak pernah punya singkatan Dtc. Kasusnya berbeda dengan singkatan kantor berita AFP dan AP yang memang merupakan inisial resmi.

Khusus dalam hal kutip-mengutip ini aku melihat secara umum blogger lebih beretika ketimbang media konvensional; blogger biasanya patuh menuliskan sumber kutipan plus tautan ke media sumber bila ada tautan Internetnya.

tafbutton blue16 80 persen wartawan tidak baca kode etik

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

20 Responses for “80 persen wartawan tidak baca kode etik”

  1. anto says:

    Perjuangan itu berat bung..butuh tenaga fisik maupun mental yang kuat untuk menjalaninya.terkadang,perjuangan itu diberatkan oleh perasan cape,rumit,susah,payah. Belum lagi menghadapi syetan-syetan yang tidak menyukai perbuatan korupsinya diawasi.itulah tantangannya. Jadi,untuk wartawan/jurnalis,teruskan perjuanganmu yang sungguh mulia itu.jangan takut dengan syetan,takutlah pada tuhan…

  2. PARBECCA says:

    mau bongkar dugaan korupsi…? duh capeknya..rumit, susah,payah
    Saranku nih : Berantas caleg berwajah pastor,berbaju kantor,suka monitor seperti mandor, tdk peduli par betor, suka cakap kotor, selalu cari lobang lobang bocor karena itu semua ciri khas nya para KORUPTOR

  3. anto says:

    Mohon ma”af.Masih banyak yang perlu dikoreksi dari bangsa ini, seperti kasus KKN, Prostitusi,dsb.Kalau anda merasa benar benar bersih dalam melakukan tugas sebagai wartawan/jurnalis, Bongkar dugaan kasus-kasus besar yang ada di instansi Kepolisian, Kejaksaan, kejaksaan bahkan sampai tingkat presiden sekalipun dengan berkelanjutan atau tidak stagnasi. Saya pkir, pengaduan-pengaduan miring terhadap wartawan adalah tindakan melemahkan kinerja wartawan yang sangat mulia itu. Kita akui bahwa wartawan ada juga yang kurang faham terhadap kode etik jurnalistik,tetapi saya fikir sedikit.mungkin ,ada oknum yang profesinya bukan wartawan tetapi ngaku-ngaku wartawan.Nah, itu yang perlu diberantas..

  4. anto says:

    Silakan bila ingin mengkritik, tapi pakai etika, karena begitulah manusia beradab. Blogberita.net akan menghapus komen yang tidak berkaitan dengan topik artikel, dan komen spam. Untuk menanggapi komentar sebelumnya, klik [reply to this comment], dan untuk membatalkan, tekan “click to cancel reply” di bawah tombol “Kirim”. SILAKAN HAPUS SEMUA PESAN INI, DAN MULAILAH BERKOMENTAR.

  5. anto says:

    Anda bisa membuktikan bahwa 80% watawan tidak memakai kode etik?jangan katanya? saya pikir prilaku masyarakat dan narasumber yang tidak mengerti tugas wartawan dan UU pers iu sendiri, sehingga bisa mengadu tanpa bisa membuktikan apakah benar wartawan tersebut tidak baca kode etik.Toh masyarakat bisa melapor ke kepolisian apabila ada wartawan melakukan pelanggaran. Terkadang, tugas wartawan dalam meliput di halang – halangi oleh pihak yang tidak senang keburukannya untuk dijadikan suatu berita,contohnya dugaan korupsi,limbah di dilingkungan,prostitusi dan perjudian di lingkungan,dsb. Sehingga para wartawan ngotot untuk mendapatkan hasil berita yang akurat dan berkualitas dan terjadilah bentrok. Tugas wartawan berat bung..ingat itu..

  6. parbecca says:

    lae saint dre, ai ido pe na tarpatupa lae, nunga hebat i, boha bahenon na cari makan on, barita pe holan “itus” do lae, goar na pe huta huta, ise be si hataan , holan na sa bolak ni anduri do tobasa lae,,,nga burju i angka wartawan i lae, alai holan ido, molo na naeng mambangun tobasa do unang gabe dohot antong angka wartawan i manegai. sepertiga masa depan tobasa ini ditangan saudara..

  7. T Junaidi says:

    Sori, aku tidak meremehkan wartawan, karena aku juga wartawan. Benar, banyak wartawan yang tidak memahami kode etik jurnalistik. Motivasi menjadi wartawan sepertinya memang bergeser, daripada nganggur lebih baik jadi wartawan. Inilah yang selama ini terjadi. Sehingga ketika mereka menjalankan tugas jurnalistik, yang muncul adalah egonya mentang-mentang wartawan. Tidak ada lagi kembanggaan menyajikan berita eksklusif, endapan, feature sosial, dll. Tidak ada lagi nilai juang seorang wartawan yang menyajikan berita yang dibutuhkan pembaca, melainkan berita-berita tendensius, titipan, berita lendir, dll. Banyak oknum wartawan yang terpaksa ‘melacurkan’ diri sebagai wartawan. Sekarang ini, bupati juga bisa menerbitkan koran, sehingga pada saat kampanye bisa menelanjangi lawan politiknya, menyebarkan berita bohong, dan mengorbankan wartawannya sebagai wartawan pembohong. Ini menyedihkan. Wartawan dilahirkan sebagai penyeimbang dan kontrol sosial, bukan cara preman. Kehadiran wartawan bukan untuk memperkeruh masalah, tapi mendudukan masalah. Mudah-mudahan masyarakat kita lekas pintar, sehingga bila ada koran yang kurang profesional, bisa cepat-cepat masukkan tong sampah.

  8. farith says:

    terserah aza apa kata orang tentang wartawan dan dunia jurnalistik kita.. tapi yang jelas tanpa wartawan, mustahil
    kita bisa tau.. cari donk solusi biar wartawan2 kita bisa hidup layak..soir bro gua juga wartawan kere..eeeeeeeeeee

  9. saint_dre says:

    lebih ngerinya lagi lae….banyak wartawan terutama di daerah share berita satu sama lain…jadi berita di koran A sama persis dengan berita di koran B….wartawan modal pargaulan seh..hihihihihihi

  10. Mamora says:

    HORAS lae,
    Salam BUAT Ketua Komisi Pengaduan Dewan Pers Abdullah Alamudi.

    “Saya mau tanya kalau boleh tunjukkan kepada semua pengunjung situs ini SIAPA DAN DIMANA WARTAWAN YANG TELAH MEMBACA, MEMAHAMI DAN MELAKUKAN SEMUA YANG ADA DI KODE ETIK JURNALISTIK DIATAS???????”

    JANGAN-JANGAN DIA JUGA TERMASUK YANG 80 % TERSEBUT.

    TERIMAKASIH.

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.