Rata terkapar, rata cinta kita

Petang merayu-rayu mendayu ringkih kelelahan. Kerdipan matahari sayu di barat sembab bagai musang terlilit duka. Pelangi remang menggayut di ujung samudra perlahan raib. Awan-awan kuning kapas bergerak lesu, lesu sekali. Semuanya sendu sesendu hatiku.

dian-sidauruk Rata terkapar, rata cinta kitaOleh DIAN SIDAURUK di Bali

“Sunguh indah, laut cinta”. Syair ini kucuri untukmu dari BIMBO, merah delima bila dia bertengger di bibir Parlina tetapi ketika kucuri darinya warnanya menjadi jingga retak-retak, melambai bergelombang memporakporandakan langit-langit kelabu.

Hari ini untuk kesekian kalinya engkau merasuki sukmaku. Wajah rembulanmu yang sejuk bagai sejuknya sungai hutan mengalir di mataku. “Kekasih, kemarilah. Tidakkah engkau tahu aku rindu padamu?”

“Sungguh perih, laut cinta”. Sekelabu langit-langit, yang ini kugubah untukmu. Kepada halilintar  kupesan: “Bisikkan ini padanya”. Telahkah engkau terima titipan itu?  Tahukah engkau bahwa cintaku padamu bagai onak mencabik-cabik dada?

Lamunanku usai sudah tetapi siapa yang berhak mengusaikan cintaku padamu? Malam ini kumohon agar segera aku tertidur, bermimpi tentang dirimu, dan bila itu terjadi, semoga aku tak bangun seabat. Tahukah kau mengapa begitu? Agar seluruh pembuluh darahmu kualiri, kubelai dan kubalut. Ah, aku bermimpi. Untuk keseribu kalinya aku tak dapat menghalau mimpi dari mimpiku. Tentang rinduku padamu akankah hanya mimpi di atas mimpi?

Ingatkah kau kisah ini? Adalah sekuntum bunga bertengger di ujung lungsuran naga itu, tersenyum menggodaku, kupetik dan kusematkan di atas kupingmu.  Ada desiran cinta pada setiap kelopaknya dan itu desiran cintaku. Adalah seuntai mawar di sisi tangga rumah kayu tua itu, menunduk malu berbisik di keningku: “Mengapa ada cinta?

Malam membentang menerpa-nerpa cakrawala. Sepi melanda tak kunjung sirna. Subuh menggeliat menapaki buaian bintang. Aku tak juga dapat tidur. Wajahmu melandaku lagi. Malam berlalu mimpipun tiada. Malam yang gelisah tak secuilpun memberiku waktu menari bersamamu, biarlah, apa pedulimu? Pagi ini telah enam kali kusebut namamu dan kali ketujuh aku berteriak memanggilmu. Kau diam. Aku merana lagi. Mimpi lagikah aku? Tidak. Ini lamunan kesengsaraan.

Wahai gunung dan lembah hentikan lamunan ini. Aduh, benciku membuncah-buncah. Tetapi ini hanya sekejap. Wajah, tawa dan senyummu datang lagi, seru, merambati jiwa menggantungku di angkasa rindu.

Seabad kemudian kutemukan kau berselimut akar-akar rumput, tersenyum seperti dulu ketika bola matamu memohonku menyentuh denyut nadimu. Kau berbaring di sampingku. Bersamamu aku hangat dan ini bukan mimpi. Jiwa-jiwa kita membisu. Tak ada lagi bunga, tak lagi mawar bicara, tak ada bintang dan matahari. Yang ada hanya tulang belulang melintang sepi. Kembali kuperdengarkan janjiku: padamu cintaku putih seputih tulang belulangku. Kau terkatup. Kau sepi. Kita bisu tetapi hangat berselimut akar-akar rumput. Yang tersisa: Abadi cinta kita berbaring di atas tulang belulang, rata terkapar. Rata, Tanah! [Bali, 15/08/08]

  • Artikel ini dikirim Dian Sidauruk dengan judul asli “Rata terkapar, rata tanah di keabadian, rata cinta kita”.
Koneksi Internetmu lambat? Tak sempat tiap hari membaca web? Ini solusinya. ©Diizinkan mengutip artikel Blog Berita ini dengan syarat membuat tautan-balik.
Kirim artikel ini ke teman Kirim artikel ini ke teman Donasi Hubungi Blog Berita

9 Responses to “Rata terkapar, rata cinta kita”

  1. Horas Pak Dian,
    Aku sangat menyukai tulisan2 yang puitis, tapi sayang aku kurang bisa memahami. Sudah kubaca 2X tapi aku tidak paham siapa cinta-nya pak Dian dalam tulisan ini. Tanah, air, udara, langit, hutan…. ? Entahlah.

    [reply to this comment]

    Dian Sidauruk reply on 22 August 2008:

    Prosa ini berceritera tentang CINTA KAMI yang tak lekang sampai ajal bahkan sampai terkubur (mati atau terkubur dipersonifikasikan dengan kata: ‘berselimut akar rumput’ dan ‘tulang belulang’). CINTA KAMI tak pernah terwujud dalam bentuk pernikahan dan atau perkawinan. Hal ini telah dijelaskan oleh banyak hal dalam ceritera ini dan ditegaskan oleh: ’seabad kemudian…..’

    ‘Seabad kemudian kutemukan kau …..’ Kalimat ini juga menegaskan bahwa si TOKOH tak pernah lelah mencari perempuan yang dia cintai dan yang mencintainya itu sekaligus sebagai penegasan bahwa TOKOH tsb. adalah ‘laki-laki yang pantang menyerah’ termasuk tak menyerah mengejar dan mencari (perempuan) yang dia cintai itu. Si TOKOH hanya mengenal SATU CINTA dan hanya untuk SATU PEREMPUAN. Cinta mereka baru bisa berpadu setelah berada di liang kubur. Kesetiaan, kebodohan, ketidakpercayaan diri ataukah keputusasaan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian timbul dan jawabnya ada di benak pembaca.
    Ceritera ini tidak bermaksud menceriterakan siapa dan oleh siapa, apa dan oleh apa. ‘Magis Cinta’ adalah nafas tulisan ini. CINTA MEREKA abadi sampai-sampai CINTA ITU sendiri ikut terkapar di atas tulang belulang mereka, rata dan abadi seperti abadinya tanah.

    TETAPI YANG SAYA HERANKAN ADALAH, MENGAPA ANDA TIDAK MEMBERITAHUKAN NAMA ANDA? Bila boleh menduga maka ANDA ADALAH MAKHLUK ANGKASA YANG TERSESAT DI BUMI DAN TERDAMPAR DI BLOGBERITA,semoga aku dugaanku keliru.

    [reply to this comment]

    Si_Cantik reply on 23 August 2008:

    Trimkasih untuk penjelasan nya Pak Dian.
    Pernah kubaca puisi yang bagus. Betapa cinta nya si penulis pada sang Dewi, tapi setelah dibaca berulang2, ternyata cintanya itu si Dewi Rimba alias hutan. Ach, ternyata si penulisnya pecinta alam…. dasar seniman.

    Alm ibuku pernah bilang bahwa aku cantik. Beliau satu2 orang yang paling kupercaya di muka bumi. Maka sejak itu, aku percaya bahwa aku CANTIK. Terserah kata orang, he..he..he..

    [reply to this comment]

    Dian Sidauruk reply on 23 August 2008:

    Ok! Tapi tunjukkanlah dirimu agar aku tahu seperti apa kau. Aku akan mengatakan yang sebenarnya, bila engkau cantik pasti kubilang cantik dan bila jelek pasti aku bilang kau jelek :)

  2. Bang, bolah aku koleksi tulisan-tulisan abang ya, aku mau belajar tutur bahasanya

    [reply to this comment]

  3. Maksud aku bang, ‘boleh’ bukan bolah :)

    [reply to this comment]

  4. @ Si Boru Anting Namera

    Tidak bolah, ya!
    Hehehehe….silahkan, tapi ojo lali insentipnya.
    Ngomong-ngomong kamu siapa? Kok pakai nama samaran? :)

    [reply to this comment]

  5. Tulisannya bagus and dalem banget ! Sangking dalemnya sampe nyaris kejeblos … hehehe …. Bersyukurlah diberi karunia menulis dan merangkai kata indah.

    Tahukah engkau bahwa cintaku padamu bagai onak mencabik-cabik dada? Wahhhh… bagian yg paling aku suka banget. Seandainya aku punya keberanian mengatakan ini pada dia ??????????????? hehehe

    Salam kenal ya …

    [reply to this comment]

    Dian Sidauruk reply on 30 October 2008:

    :) Lama aku tak mampir di blog ini.
    Trims atas komen dan salam perkenalannya.
    Salam hangat!

    [reply to this comment]

Tulis komentar pada kolom di bawah

Tampilkan artikelmu di Blog Berita: berbentuk opini, feature, berita, tips unik, atau cerpen.