Oleh Hotman J Lumban Gaol di Bekasi – wartawan & penggiat budaya.
Suatu hari Harmoko diwawancarai majalah Matra, 1989, pendapatnya tentang buku-buku Pramoedya Ananta Toer: “Terasa sekali sasarannya dibuat untuk membina (ideologi) pembacanya. Bahasa Indonesianya baik tetapi saya tidak memberikan penalaran dari segi sastranya. Setiap kali membaca buku, saya melihat dari segi isinya. Saya biasanya tidak peduli akan penulisnya atau bagaimana penulisnya. Sama juga kalau mendengar lagu-lagu yang saya simak isinya…” jawaban sinis dari mantan Menteri Penerangan ini karena perbedaan ideologi dengan Pramoedya Ananta Toer, yang sering disebutnya ber-ideologi kiri. Padahal belum tentu benarnya.
Apasih ideologi? Ideologi adalah paham yang dianut sebagai ide. Sebenarnya ideologi adalah sistem pemikiran abstrak yang tidak bisa dinilai permanen. Soal itu semua orang punya. Dan salah satu jualan para caleg sekarang ini adalah “ideologi”. Ada lagi kampaye “visi kebangsaan, visi kebebasaan beragama, visi membela agama” dan segala macan, tergantung apa yang disasar. Kredo politiknya bagaimana mendapatkan kursi di legislatif. Atas nama rakyat “memperjuangkan rakyat”, ide untuk memperjuangkan rakyat. Kampanye para caleg yang memamfaatkan “idelogi” tertentu sepertinya punya ideologi yang kuat tetapi sebenarnya tanpa ideologi dan rapuh.
Bila kita tarik benang merah atas berjubelnya orang menjadi caleg adalah karena keinginan berkuasa itu sangat kuat. Maka, kalau sudah demikiaan kata-kata Nietsche ada benarnya: “…kehidupan itu sendiri adalah instink untuk bertumbuh, untuk kesinambungan, untuk penumpukan kekuatan, untuk berkuasa: di mana kehendak berkuasa ada, maka datanglah kemunduran.”
Kesadaran berpolitik kita masih rendah. Politik sih tidak kotor. Politik secara umum adalah bagaimana mengelola hidup bersama. Oknum politisi yang tidak benar. Politik itu baik. Politik sebagai proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Tetapi di negeri ini pernyataan seperti itu perlu digali lebih dalam, karena realitas politik pemilu hanya untuk mencari kesempatan mendapatkan jabatan dengan menggunakan posisi yang telah ada, oleh segelintir orang, baik sebagai artis, keluarga politisi atau sebagai pimpinan organisasi massa.
Yang terjadi adalah segelintir orang telah memanfaatkan kekurangpengetahuan masyarakat untuk kepentingan diri sindiri. Jika para politikus hanya mengerti kuasa, maka para caleg, pendulum politik akan selalu memamfaatkan apa saja untuk mengejar kekuasaan tersebut. Semoga mereka, para caleg, jika sudah terpilih nanti bukan hanya mengejar kursi atau datang, duduk, diam dan uang. Sebenarnya para caleg “politisi karbitan” seperti tanaman yang tidak punya akar, berlahan akan layu sendiri. Para caleg manis di bibir, merekayasa kampanye untuk dipilih adalah narsis.

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















